
Perkataan Vidrian membuat Ruby melirik Savana.
Hanya sebentar.
Benar-benar sebentar.
Namun ia dapat dengan jelas melihat wajah yang sangat mirip dengan Vidrian.
Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang.
Ia tidak bisa menerimanya dengan tenang.
Ya, ia tidak akan pernah bisa mengubah fakta bahwa Vidrian adalah ayah dari anak itu. Jadi, lebih baik ia menerimanya. Namun saat melihat wajah itu, ia merasakan kebencian yang pekat di hatinya.
Apakah ia membenci anak itu?
Tidak.
Ia tidak benar-benar membencinya. Ia hanya tidak ingin melihatnya, tidak ingin mengenalnya, tidak ingin dekat dengannya, tidak ingin berurusan dengannya.
"Saya tidak meminta Anda atau putri Anda untuk membantu putra saya," jawab Ruby setelah beberapa saat mempertimbangkan jawaban apa yang sekiranya tepat. Ia tidak memiliki kesan yang baik sejak pertama kali bertemu Savana. Bahkan sampai detik ini, ia masih tidak memiliki kesan yang baik tentangnya.
Bukan karena Savana terlalu buruk atau karena apapun, terlepas dari itu ia hanya ingin menjauhinya sambil menutup mata. Berpura-pura tidak tahu, berpura-pura tidak mengenal, berpura-pura tidak melihat. Hanya itu yang ingin ia lakukan. Tidak. Hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membuat segala hal tetap sama.
Vidrian terkekeh, menertawakan dirinya sendiri. "Sebenarnya bukan itu intinya," ujarnya kemudian. Ia masih mempertahankan ketenangannya meski sebenarnya ia sangat marah. Karena ini tentang Savana, ia menjadi sangat sensitif. Dan ia benci perkataan Ruby barusan.
Seolah Ruby meremehkan bantuan Savana.
__ADS_1
Meski itu memang bantuan kecil yang mungkin tidak berarti bagi Ruby, namun berbeda bagi Savana. Savana jelas hanya seorang anak kecil yang polos. Tidak bisakah Ruby sedikit menghargainya meski itu hanya pura-pura?
Ia benar-benar sudah berharap terlalu banyak.
Ia lupa bahwa Ruby hanya hidup untuk dirinya sendiri dan keluarganya. Siapa ia, siapa Savana? Ia dan putrinya hanya orang asing yang tidak penting bagi Ruby. Sungguh konyol mengharapkan jawaban yang jelas bukan gaya Ruby. Sama seperti menggapai bintang di langit, mustahil.
Sebelah alis Ruby terangkat.
"Maksud saya, bagaimana pendapat Anda tentang putri saya?" Vidrian kembali berkata. Kali ini ia menegaskan maksud perkataannya dengan sangat jelas. Lupakan tentang 'keberanian dan bantuan yang Savana lakukan', ia hanya ingin tahu apa yang Ruby rasakan ketika melihat Savana. Apakah dia tersentuh? Apakah dia ingin menangis? Atau apa?
Ruby mengerutkan kening. "Mengapa Anda menanyakan pertanyaan ini?" Apakah Vidrian sungguh berharap ia masih orang yang sama, yang baik hati, naif dan bodoh? Apakah Vidrian berharap hatinya tersentuh dengan apa yang Savana lakukan? Bahkan kalau pun ia tersentuh, ia tidak mungkin menunjukkannya. Apalagi jika ia tidak?
Sekarang ia justru akan membalikkan pertanyaannya.
Untuk apa yang ia tersentuh?
Vidrian atau siapapun itu, tidak penting dalam hidupnya. Benar-benar tidak penting karena kehadiran mereka tidak akan mengubah apapun. Hati yang mati, sudah tidak bisa di hidupkan kembali. Semakin di siram, justru akan semakin mati.
"Karena saya hanya ingin tahu," jawab Vidrian.
"Jadi, jawaban apa yang ingin Anda dengar?" tanya Ruby. "Bukankah Anda bersikeras memaksa saya untuk mengatakan sesuatu yang baik? Jika saya tidak, apa yang akan Anda lakukan?"
"Apakah sangat sulit untuk menjawab?" tanya Vidrian. Hanya jawaban sederhana, namun sepertinya itu terlalu sulit bagi Ruby. Sekarang ia bahkan tidak tahu apa inti dari pembicaraan mereka. Sesuatu yang seharusnya padat dan ringkas mengapa menjadi begitu berbelit-belit? Mengapa?
"Bukan sulit, saya hanya tidak ingin mengatakan sesuatu yang tidak ingin saya katakan," jawab Ruby. Tidak. Sebenarnya ia tidak ingin menjawab pertanyaan ini karena takut mengatakan sesuatu yang salah tentang Savana. Ia takut melampiaskan amarahnya pada orang yang tidak seharusnya.
Musuhnya hanya Vidrian, hanya Vidrian yang ia benci, bagaimana jika pada akhirnya ia juga memusuhi Savana? Meski tidak dekat, namun ia tidak ingin memusuhi anak itu. Sungguh. Jadi bukankah diam masih lebih baik daripada salah bicara?
__ADS_1
Vidrian mengepalkan tangan. Ia tahu berbicara dengan Ruby bukan sesuatu yang mudah. Namun ia sudah bertekad untuk tidak menyerah. Jadi ia tidak akan berhenti hanya karena Ruby menginginkannya.
"Anda benar. Tidak perlu mengatakan sesuatu yang tidak ingin Anda katakan," sahut Vidrian pada akhirnya. "Jadi, Anda tidak perlu mengatakan apapun."
Ruby tercengang. Vidrian, si bodoh menyebalkan yang biasanya keras kepala, mengapa menjadi begitu lunak? Namun perkataan Vidrian selanjutkan menjatuhkan harapan Ruby.
"Saya hanya akan menceritakan sebuah kisah," kata Vidrian lagi.
Rahang Ruby jatuh. Sungguh melebih-lebihkan. Pada akhirnya Vidrian bukan menjadi lebih lunak, tetapi menjadi lebih bodoh.
Mengabaikan ekspresi kesal Ruby, Vidrian menghela napas panjang dan kesulitan berbicara, seolah kisah yang akan ia ceritakan sangat melukai hatinya.
Ruby tidak mengatakan apapun. Melihat Vidrian bertingkah seperti ini, hati, jantung dan limpanya terasa sakit. Ia tidak tahu mengapa di ciptakan manusia sebodoh ini, ini jelas bencana.
"Bukankah Anda juga berpikir Savana mirip dengan saya? Secara fisik? Ya, dia memang sangat mirip dengan saya, namun untuk beberapa alasan, saya berharap wajahnya mirip ibunya," Vidrian memulai kisahnya.
Ruby menatap Vidrian dengan jijik. Lucu sekali. Vidrian ingin Savana mirip ibunya? Darimana Vidrian mendapatkan keberanian untuk menyemburkan omong kosong itu? Kualifikasi apa yang Vidrian miliki untuk mengharapkan hal seperti itu?
"Mungkin karena saya tidak memiliki apapun lagi tentang mantan istri saya setelah kami bercerai, itu sebabnya jika Savana mirip ibunya, setidaknya ada sesuatu tentangnya yang tersisa," Vidrian kembali melanjutkan.
Ruby mengangguk kecil. "Baiklah, kisah Anda sangat menyentuh. Namun pernahkah Anda berpikir mengapa wajah putri Anda tidak mirip mantan istri Anda?"
Vidrian tercengang. Benar, ia tidak pernah sekali pun memikirkan ini. Kenapa Savana lebih mirip dirinya daripada mirip Rubika? Menurut dokter, memang betul ibu dan ayah menyumbang peranan dalam kondisi fisik dan kecerdasan anak, tapi sebagian besar perkembangan anak secara bawaan lebih banyak dipengaruhi oleh genetik ayah. Sebagian besar mutasi genetik dipengaruhi oleh DNA ayah. Tidak heran jika Savana mirip dirinya dari segi fisik atau fitur wajah.
Saat dokter memberikan penjelasan itu, Vidrian tidak pernah memikirkan alasan lain. Jadi, kenapa? Apa alasannya, apa masalahnya?
Sebelum Vidrian berhasil memikirkan apa dan mengapa, Ruby berbisik, "Entah dosa apa yang sudah Anda lakukan sampai Tuhan bahkan tidak membiarkan Anda memiliki apapun lagi tentangnya walau hanya satu hal."
__ADS_1