Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 35 ~ Ruby Kembali Kepadanya


__ADS_3

Vidrian tiba-tiba sakit kepala.


Ia memijit ruang di antara alisnya dan tidak tahu harus berbuat apa.


Penolakan itu..


Sial.


Kenapa Ruby menolak bertemu dengannya? Kenapa dia tidak mau bertemu dengannya? Ada banyak hal yang ingin ia katakan, begitu banyak penjelasan yang harus Ruby dengar. Sungguh. Namun tampaknya semua tidak semudah itu. Betapa sialnya.


Tunggu!


Tidak. Bukankah itu bagus?


Satu-satunya alasan mengapa Ruby enggan bertemu dengannya, juga satu-satunya alasan yang paling mungkin, adalah Ruby memang Rubika.


Hanya karena ia sudah mengetahui segalanya, bahkan tanpa tes DNA atau apapun itu, melalui hanya secuil informasi, Ruby mulai kehilangan kepercayaan dirinya.


Bukankah begitu?


Benar. Pasti begitu.


Itu sebabnya Ruby enggan menemuinya, karena Ruby tahu ia sudah mengantongi identitasnya.


Kalau tidak, apa lagi, coba?


Tidak ada alasan lain. Setidaknya, yang paling mungkin dan masuk akal hanya ini. Dan ia pun meyakininya. Sangat meyakininya dengan tingkat keyakinan di atas sembilan puluh persen. Hanya beberapa persen yang membuatnya kurang yakin. Kurang, bukan tidak. Selebihnya, ia amat sangat yakin.


Sekarang ia bahkan bersyukur Ruby tidak bersedia menemuinya. Karena jika iya, ia tidak akan seyakin ini. Semakin Ruby menjauh, semakin meyakinkannya. Jadi, ia tidak akan keberatan meski sejujurnya ia tidak menyukai perasaan di abaikan apa lagi di tolak.


Namun, tak apa.

__ADS_1


Sekarang semua sejelas hari.


Bahkan jika Ruby bersikeras menolaknya, lagi dan lagi, menyangkalnya, atau tidak mengakui ia dan Savana sebagai bagian dari masa lalunya, wanita itu tidak akan pernah bisa menghindar. Dia tidak lagi memiliki ruang untuk mundur atau bersembunyi.


Yang itu berarti, semakin besar peluangnya untuk menyudutkannya. Jika sudah tersudut namun masih tidak mengakuinya, ia akan memaksanya sampai dia mengakuinya.


Semudah itu.


Dan.. semuanya selesai.


Ruby kembali kepadanya dan Savana tidak hanya memiliki ibu, tetapi juga memiliki dua saudara laki-laki. Mereka, dengan tiga orang anak, akan hidup damai dan bahagia selamanya.


Jika sudah seperti itu, tidak ada lagi yang perlu di khawatirkan. Keluarga lengkap, kondisi ekonomi baik, pendidikan terjamin, kasih sayang berlimpah, benar-benar kebahagiaan yang mampu membuat orang lain iri.


Bagus sekali. Sangat bagus.


Memikirkan ini, Vidrian tertawa.


Udara terasa begitu menyegarkan dan tubuhnya seringan kapas. Benar-benar ringan hingga rasanya angin mampu menerbangkannya.


Delapan tahun..


Delapan tahun penantiannya akhirnya membuahkan hasil. Penantiannya, tidak sia-sia. Pada akhirnya, bunga yang layu perlahan mekar.


Perasaan ini, sungguh menyenangkan.


Melihat Vidrian tiba-tiba tertawa, Carl mengerutkan dahi. Bosnya ini, apakah sudah gila? Mungkinkah penolakan Ruby membuatnya kehilangan akal?


Mungkin saja.


Lagipula justru aneh jika bosnya tidak menjadi gila setelah di tolak mentah-mentah oleh seorang wanita. Hanya menjadi gila, itu masih lebih baik. Setidaknya gajinya aman dan nyawanya tidak melayang. Di banding apapun, itu adalah yang terbaik.

__ADS_1


Kenyataannya, tatapan heran tidak hanya datang dari Carl, tetapi juga dari gadis resepsionis. Ia menatap Vidrian dengan prihatin. Pantas Ruby tidak mau menemuinya, rupanya CEO SVN ini, sedikit gila.


Tetapi, mengapa orang gila bisa menjadi CEO di sebuah perusahaan yang terhitung besar? Mungkinkah keberhasilannya saat ini karena dukungan atau katakan lah menjadi simpanan tante-tante mesum?


Memikirkan ini, ia menyentuh tengkuknya, merinding. Tidak heran dia begitu sukses di usia muda, rupanya dia pandai menyenangkan wanita tua yang lebih pantas menjadi neneknya di ranjang.


Iuh.. betapa kotor dan menjijikkan.


Tidak tahu pikiran negatif macam apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya, Vidrian berkata, "Atur ulang jadwalku untuk hari ini. Aku memiliki sesuatu yang harus ku lakukan." Dengan dua kalimat itu, Vidrian melangkah pergi menuju mobilnya. Setelah itu, ia masuk dan meninggalkan Carl yang masih tercengang.


Menatap mobil yang perlahan menjauh, Carl tidak bisa memikirkan apapun selain makian. Dalam hati, tentu ia mengutuk Vidrian sampai mati. Namun untuk menunjukkan dedikasinya, ia tidak mungkin mengutuknya secara terang-terangan atau menunjukkan kebenciannya dengan jelas.


Biarkan saja, toh ini bukan pertama kalinya ia di perlakukan seperti ini. Namun tetap saja ia ingin membunuhnya. Ah sial. Orang itu benar-benar bukan manusia.


......................


...Hai gaes, sorry, segitu dulu ya untuk hari ini....


...Cuma mau nanya, kalian ingin akhir kisah yang bagaimana?...


...Apakah kalian ingin Ruby dan Vidrian rujuk? Atau.. sebaliknya?...


...Tulis di kolom komentar ya.....


...Juga.....


...Jangan lupa baca ceritaku yang lain.....


...Thanks.. ...


......................

__ADS_1



__ADS_2