Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 36 ~ Ada Yang Membuntutinya


__ADS_3

Setelah langit berubah gelap, Ruby perlahan membuka matanya.


Pandangan buram karena terlalu lama memejamkan mata seburam suasana hatinya saat ini. Benar-benar buram, seburam itu, buram sekali, buram sangat, atau apapun sebutannya, intinya seperti itu.


Bahkan setelah memejamkan mata dan mencoba berpikir positif, ia tetap gagal melakukannya. Di saat seperti ini, ketika situasinya sekacau ini, jika melibatkan keluarga, bagaimana mungkin seseorang masih bisa berpikir positif?


Kecuali Osvaldo, ia tidak bisa melakukannya.


Meskipun bagian dari keluarga Diedrich, ia bukan Osvaldo, ia hanya manusia biasa dan memiliki karakternya sendiri. Ia seorang wanita, punya hati dan perasaan. Untuk hal lain seperti pekerjaan atau segala hal yang berhubungan dengan pekerjaan, oke, ia tidak akan sefrustasi ini. Setidaknya, ia hanya perlu duduk dan memikirkannya dengan benar.


Tetapi, sekarang lain cerita.


Tentang kedua putranya yang bersiap meninggalkannya, bisakah ia tetap waras?


Tidak. Tidak mungkin.


Kelemahannya, hanya kedua putranya.


Bahkan ketika Osvaldo meninggal tepat di depan matanya, ia tidak sehancur ini. Ia hanya menangis selama dua puluh empat jam penuh hingga air matanya kering lalu dua puluh empat jam setelahnya ia gunakan untuk merenung dan memikirkan segala hal.


Hanya dua hari.


Benar-benar dua hari yang ia habiskan seperti orang gila. Hancur, maka biarlah hancur semuanya, tidak perlu menyisakan apapun lagi. Dan ia benar-benar menikmatinya, merayakan kehancurannya, seolah dunia tidak akan ada lagi, seolah tidak akan ada lagi kehidupan.


Baru kemudian hari selanjutnya, ia sudah bisa menemui kedua putranya dan menghibur mereka.


Sungguh tangguh.


Seorang wanita yang kehilangan suami, harus tetap melanjutkan hidup bahkan jika tidak mau. Apalagi, Osvaldo memiliki banyak musuh semasa hidupnya. Kepergiannya meninggalkan keluarga Diedrich dalam kekacauan. Jika ia tidak segera bangkit sepeninggalannya, tidak hanya ia, kedua putranya, keluarga Diedrich dan Diedrich Group juga akan hancur.


Kembali ke kedua putranya, ia sudah berjanji pada Osvaldo akan menjaga mereka. Namun ia lupa Xavier sudah sepuluh tahun, dia sudah bisa mengambil keputusan atas beberapa permasalahan.


Mengekangnya hanya akan membuatnya semakin liar. Namun ia juga tidak bisa melepaskannya. Jadi, apa yang harus ia lakukan?

__ADS_1


Ruby menekan interkom. "Lily, masuk!"


Dengan satu kalimat itu, Lily bergegas masuk. Berjalan menuju meja kerja Ruby, ia bertanya, "Apakah Anda membutuhkan sesuatu?"


"Siapkan mobil. Aku perlu pergi ke suatu tempat." Sebelum Lily mengatakan sesuatu, Ruby lebih dulu berkata, "Hanya sendirian, tidak perlu orang lain."


Lily menutup mulut dan tidak jadi mengatakan apapun. Karena Ruby bersikeras pergi sendiri, tidak ada yang bisa di lakukan lagi.


"Kau pergilah ke rumah dan jaga kedua putraku. Jika mereka bertanya, katakan aku perlu memikirkannya." Setelah mengatakan ini, Ruby bangkit dari duduknya. Tangannya terulur mengambil tasnya sebelum melangkah pergi.


Lily membungkukkan badan. Setelah kepergian Ruby, ia mengambil ponselnya. "Siapkan mobil, secepatnya!" perintahnya pada seseorang di balik panggilan. Sebelum Ruby tiba di lantai bawah, mobil harus sudah siap, jika tidak, jangan heran jika gaji seseorang akan di potong tanpa belas kasihan.


Tetapi, bicara tentang Ruby, kemana wanita itu akan pergi? Dan.. apa yang harus dia pikirkan? Apa masalahnya? Mungkinkah ada sesuatu yang tidak ia ketahui?


Melihat bagaimana tingkah laku Ruby, pastilah ada sesuatu yang tidak ia ketahui. Tetapi, apa? Sepenting apa? Segenting apa?


Enggan memikirkannya atau lebih tepatnya tidak mau pusing memikirkannya, Lily meninggalkan ruang kerja Ruby dan bergegas kembali ke kediaman Diedrich untuk menjaga Xavier dan Sean sesuai instruksi.


Dan benar saja, begitu Lily tiba di kediaman Diedrich, pertanyaan seperti yang Ruby katakan terlontar dari mulut Xavier.


Lily yang sudah tahu harus menjawab apa, segera menjawab. "Dia sedang memikirkannya." Masalahnya, ia juga tidak tahu dimana dan apa yang sedang Ruby lakukan, juga apa yang dia pikirkan. Ia benar-benar tidak tahu.


Xavier memutar bola matanya. Jadi, dia masih memikirkannya? Benar-benar? Apakah perlu waktu selama itu untuk berpikir? Ia tidak tahu. Namun sepertinya iya.


Tidak mudah.


Benar-benar tidak mudah.


Meski dalam hati mengeluh, namun Xavier tidak mengatakan keluhannya. Sebaliknya, ia hanya menatap Sean dan mengulurkan tangan untuk membelai kepalanya.


Sean tersenyum manis sebagai balasan.


Hati Xavier berdenyut. Anak sekecil ini, mengapa? Mengapa sulit sekali untuk mendapatkan kedamaian? Jika Sean tahu yang sebenarnya, apa yang akan terjadi padanya? Apakah dia bahagia? Atau, apakah dia akan sedih, sama sepertinya?

__ADS_1


Jika benar, tidak, Ruby jelas memiliki anak lain selain mereka, lalu bagaimana dengan mereka? Bagaimana dengan ia? Bagaimana dengan Sean?


Daripada terjebak dalam permasalahan orang dewasa yang rumit dan menyebalkan, akan lebih baik baginya dan Sean untuk menghindar barang sejenak.


Jika Ruby sudah menyelesaikan masalahnya, atau memilih apa yang terbaik untuk semua orang, mereka bisa memikirkan untuk kembali tinggal bersama.


Kembali ke Amerika, tentu saja Xavier akan pulang ke rumah nenek, bersama Sean. Jika ia tinggal di kediaman, bukan hal mustahil Ruby akan menyusul mereka.


Namun jika mereka tinggal di rumah nenek, kalau pun Ruby datang, Ruby masih tidak bisa menentang otoritas nenek.


Jadi, ya.. ia sudah memikirkannya.


Memikirkan dua langkah ke depan sebagai antisipasi atas kemungkinan terburuk. Ia sudah membuat rencana atas segala hal yang akan ia lakukan di masa depan. Lagi pula, bersama Sean, tidak mungkin ia sembarangan mengambil langkah. Terlalu beresiko dan itu berbahaya.


Sementara Xavier terjebak dalam pikiran rumit, Ruby berkendara dengan supercarnya tanpa arah tujuan.


Ia tidak tahu kemana harus pergi, ia tidak punya tujuan. Satu yang pasti, ia tidak bisa pulang ke rumah.


Mengapa?


Ia takut Xavier akan memintanya segera untuk mengirimnya kembali ke Amerika. Ia tidak mau. Maksudnya, tidak secepat ini. Ini terlalu cepat dan ia belum siap melepas mereka.


Apalagi, ia yakin sembilan puluh sembilan persen Xavier akan tinggal di rumah neneknya begitu tiba di Amerika. Tinggal di kediaman? Mustahil. Xavier tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Dia tidak sebodoh itu. Dan jika hal itu benar-benar terjadi, akan sulit baginya untuk meminta anak-anaknya kembali.


Ruby menghela nafas panjang. "Sungguh menyebalkan," gumamnya. Ia menoleh dan sekilas melihat sebuah mobil seperti membuntuti di belakang mobilnya.


Apakah ia sedang berhalusinasi?


Tidak. Ia jelas-jelas melihat mobil itu mengikuti di belakangnya.


Ia melihat spion lagi, namun anehnya mobil itu sudah tidak ada. "Aneh," ujarnya. Ia sangat yakin mobil di belakangnya sangat mencurigakan, seolah sedang membuntutinya. Namun sebenarnya mobil sial itu sudah tidak ada?


Ruby memijit ruang di antara alisnya. Mungkinkah ia menjadi sangat sensitif karena masalah ini?

__ADS_1


Ah, sial.


Benar-benar sial.


__ADS_2