Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 45 ~ Mengantar Xavier Dan Sean Ke Bandara


__ADS_3

Xavier adalah anak yang sangat bijaksana.


Ia lahir dengan sendok perak dan sudah menang di garis start.


Namun, keterampilan berpikir kritis dan kemampuannya untuk mempertimbangkan berbagai hal dari sudut pandang orang lain sudah berada di luar jangkauan anak kecil lainnya.


Ketika mendengar apa yang Ruby katakan, Xavier tercengang. Ia menatap Ruby dengan tidak percaya.


Jelas ia tidak percaya.


Seorang Ruby, wanita yang anggun namun keras kepala, mengalah dengan mudah? Tidak. Tidak mungkin. Ini pasti tidak benar.


Mendapat tatapan ragu dari Xavier, Ruby mengerutkan kening. "Mengapa kau menatapku seperti itu?" tanyanya.


"Bisakah kau mengulangi apa yang tadi kau katakan?" Xavier balik bertanya. Bukankah aneh? Orang yang sebelumnya begitu keras, ketika pulang setelah semalaman tidur di luar, tiba-tiba melunak? Tidak hanya aneh, tetapi juga mencurigakan. Mungkinkah dia merencanakan sesuatu di luar sepengetahuannya?


"Apakah tadi kau tidak mendengarnya?"


"Aku mendengar," jawab Xavier. "Aku hanya ingin memastikan."


"Apa yang ingin kau pastikan?" tanya Ruby. "Memastikan bahwa pendengaranmu tidak bermasalah?" Ia sedikit menggoda. "Ayolah Xavier, jika kau tidak senang, kau bisa memilih untuk tetap tinggal di sini bersamaku. Aku tidak keberatan. Sungguh." Daripada berjauhan, tetap bersama adalah pilihan terbaik. Namun di saat semuanya sekacau ini, bisakah pilihan seperti itu di buat?


Jawabannya, tidak.


Mereka tidak bisa tetap bersama.


Tidak untuk saat ini.


Lagipula, sebelum semuanya selesai, ia tidak memiliki muka untuk menatap kedua putranya. Ia terlalu tidak berguna dan memalukan. Jadi, mengirim mereka pergi adalah pilihan terbaik. Tidak. Sebenarnya itu bukan pilihan. Ia hanya kehabisan pilihan, sehingga mau tidak mau ia menyetujuinya.


Xavier menaikan sebelah alisnya. Tinggal di sini bersamanya? "Tidak. Lupakan saja!" timpalnya, menolak gagasan itu dengan cepat.


Ruby tersenyum tipis. "Kalau begitu, kemasi pakaian kalian. Jangan merepotkan orang lain." Sebenarnya Ruby tidak banyak berpikir tadi malam. Ia bahkan tidak memikirkan apapun selain suaminya yang sudah meninggal. Namun ia bukan orang bodoh yang tidak mengerti apa maksud Xavier.


Pria kecil itu melakukan ini demi kebaikannya, demi kebaikan semua orang. Agar baik ia, Savana, Sean atau Xavier, tidak ada yang merasakan rasa sakit lagi. Setidaknya, Xavier berniat baik kepada Savana.


Mungkin karena Xavier di tinggalkan oleh ibunya ketika di lahirkan, sehingga dia tahu betapa sakitnya hidup kesepian tanpa seorang ibu. Gagasan itu pula yang mungkin memberinya motifasi untuk membuat orang lain tidak merasakan apa yang dia rasakan.


Alasan itu pula yang membuat Ruby tidak lagi menutupi apapun dan membiarkan semuanya berjalan ke arah yang seharusnya.

__ADS_1


Jika memang ketahuan, maka biarkan saja seperti itu.


Jika Savana datang mencarinya, ia akan mengakuinya, namun ia juga akan menolaknya dengan sopan.


"Mm." Xavier mengangguk. Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju Sean dan mengatakan sesuatu kepadanya.


Sementara Ruby, ia keluar dari kamar tidur Xavier lalu pergi ke ruang kerjanya dan tidak keluar sampai sore hari.


***


Sore harinya, setelah Ruby menyelesaikan beberapa pekerjaan, ia menutup dokumennya dan keluar dari ruang kerjanya untuk melihat bagaimana kondisi berkemas kedua putranya.


Namun tidak ada kesulitan yang berarti.


Masing-masing dari mereka hanya mengemas satu koper sedang.


Melihat ini, Ruby buka suara, "Hanya itu?" tanyanya kepada kedua putranya yang sudah menunggu di ruang tamu. Keduanya sudah siap seolah hanya tinggal menunggunya saja sebelum berangkat ke bandara.


"Ya," Xavier dan Sean menjawab serempak.


Ruby mengangguk kecil. "Kalau begitu, mari kita berangkat."


Tidak butuh waktu lama sampai mobil tiba di bandara.


Sebelum turun, Ruby buka suara, "Jangan menyusahkan nenekmu. Kalian bisa tinggal di mansion. Aku tidak akan pulang dalam waktu dekat."


Xavier tercengang. Jadi, Ruby mengetahuinya, rencananya?


Tahu apa yang Xavier pikirkan, Ruby berkata, "Jangan menyusahkan dirimu, Xavier, dan jangan mengkhawatirkan apapun. Kau bisa tinggal di rumah, lalu kembali bersekolah. Begitu juga dengan Sean. Kalian bisa menjalani kehidupan yang biasa kalian jalani tanpa merepotkan diri sendiri." Meski tinggal bersama wanita tua itu sama sekali tidak merepotkan, namun otoritasnya tidak bisa di tentang. Dia menginginkan anak laki-laki, itu sebabnya dia sangat menyukai putranya, Osvaldo.


Ketika Osvaldo memiliki dua putra laki-laki, dia sangat menyukainya sampai bersikeras mencuri mereka untuk dia besarkan.


Sungguh lucu memiliki pemikiran seperti itu.


Namun, meski begitu, ia bisa mengerti.


Bagaimanapun dia adalah neneknya. Merupakan hal yang wajar untuk menyayangi cucunya. Justru aneh jika dia tidak menyukainya.


Xavier terdiam sesaat sebelum menjawab, "Aku mengerti."

__ADS_1


"Bagus," timpal Ruby. "Sekarang, turun! Kita akan melihat apakah Lily sudah datang atau belum." Ia hanya mengatakan pada Lily untuk datang sore hari. Tidak mengatakan waktu spesifiknya.


Namun mengingat betapa cerdasnya Lily, gadis itu tidak akan tinggal diam tanpa mencari tahu.


Entah sudah mengecek waktu penerbangan atau belum, namun ia yakin gadis itu pasti sudah menemukan sesuatu.


Mereka turun dari mobil dan begitu masuk, mereka melihat Lily menunggu di sana, dengan sebuah koper kecil di sampingnya. Karena Ruby menginstruksikan ia untuk datang ke bandara pada sore hari, ia langsung tahu bahwa ada sesuatu yang Ruby rencanakan.


Satu hal yang terbersit dalam benaknya, bepergian.


Tetapi pertanyaannya, siapa yang akan berpergian?


Mungkinkah Ruby?


Tidak. Tidak mungkin.


Selain memiliki begitu banyak pekerjaan, Ruby tidak bisa meninggalkan London dalam waktu dekat. Entah dua atau tiga minggu, namun Ruby harus tetap di sini selama periode itu. Jadi, jika bukan Xavier dan Sean, ia tidak dapat memikirkan orang lain.


Hal itu lah yang pada akhirnya membuat Lily berpikir bahwa Sean dan Xavier akan kembali ke Amerika terlebih dulu, dengan ia yang di tugaskan untuk mengawal mereka. Dan begitu ia melihat jadwal penerbangan, ia menemukan bahwa ada penerbangan ke Amerika sore ini.


Dengan begitu, ia berkemas tanpa ragu.


Benar saja, apa yang ia lihat begitu Ruby tiba di bandara adalah seorang pengawal yang menyeret dua koper berukuran sedang. Dan ia tahu persis milik siapa koper-koper itu. Satu milik Xavier, dan yang lain milik Sean.


Setelah mencapai Lily, Ruby segera memberikan instruksi. "Jaga kedua putraku. Dan segera kembali setelah kau memastikan mereka selamat sampai kediaman." Ruby melirik ke belakang, melihat sekilas pengawal yang berdiri tidak jauh darinya . "Dia akan menemanimu."


Lily membungkukkan badan. "Baik."


Segera Lily membawa Xavier dan Sean pergi, menyisakan Ruby seorang diri yang termenung menatap punggung kedua putranya yang perlahan menjauh. Untungnya tidak ada kalimat perpisahan yang terlontar. Jika ada, ia tidak yakin apakah masih akan membiarkan mereka pergi atau tidak.


Mungkin ini yang di namakan naluri seorang ibu.


Ia menyukai perasaan kedua putranya berada di dalam jangkauannya. Sehingga ia tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Namun, apalah daya, beberapa hal benar-benar tidak memperbolehkan ia untuk menjaga kedua putranya tetap di sisinya.


Selesai mengantar Xavier dan Sean, Ruby pergi untuk mencari makanan sembari menunggu teman lamanya yang seharusnya tiba sebentar lagi.


Dalam perjalanan, ia bertemu Veronica.


Wanita dangkal bersumbu pendek itu menatap Ruby dengan sedikit cibiran. "Wah, apa kau menginap di sini semalaman untuk menunggu Max? Hanya pria itu, dan kau benar-benar melakukannya?" celetuknya begitu mencapai Ruby.

__ADS_1


"Apa yang kau bicarakan?" Ruby menimpali dengan tenang. Ia tidak tahu darimana pemikiran konyol Veronica berasal. Menunggu Max semalaman? Apakah ia terlihat seperti orang yang kekurangan pekerjaan? Sayangnya, ia tidak seluang itu.


__ADS_2