Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 51 ~ Menelepon Pria Itu


__ADS_3

Waktu berlalu dan tidak banyak hal yang di lakukan.


Juga, tidak banyak yang di bicarakan.


Meski tidak sedingin sebelumnya, namun hubungan keduanya sedikit canggung. Tidak lagi berada pada titik beku, namun juga tidak sehangat itu.


Ketika Ruby membuka koper yang Vidrian bawa, ia melihat apa yang ada di dalamnya, ia berpikir, apakah Vidrian memindahkan seluruh barang-barangnya ke sini?


Pria itu mengepak gantungan baju dan kotak makan siang, bahkan buku catatan yang mengatakan apa yang disukai dan tidak disukai oleh Savana, serta kombinasi pakaiannya dan jumlah susu dan makanan yang masuk ke perutnya.


Ada beberapa halaman yang diisi dengan tulisan tangan Vidrian yang jelas. Dan itu tidak mungkin lebih perhatian.


Ruby belum pernah melihat sisi lain Vidrian yang seperti ini. Belum sekalipun. Saking tidak pernahnya ia bahkan sempat berpikir bahwa karakter pria itu seperti logam yang mengekalkan, yang tidak akan berubah meski di makan usia.


Namun nampaknya tidak seperti itu.


Kedinginan yang ia lihat selama ini mungkin karena pria itu tidak ingin menampakkannya padanya. Sederhananya, pria itu tidak menyukainya.


Buktinya, Savana mampu mengubahnya.


Sesuatu yang tak terduga dan ia pikir tidak mungkin.


Ruby tidak berencana untuk mengatur apapun untuk Savana karena Vidrian akan menjemputnya besok. Tetapi, ketika melihat Savana tertidur di sebelahnya, anak itu benar-benar pendiam, dan tidak berisik sama sekali, seperti anak kucing yang lembut. Satu-satunya saat dia berbicara dengan keras adalah memanggilnya, dengan suara yang renyah dan merdu, seperti lonceng.


Ruby ragu untuk sejenak.


Ia berpikir, haruskah ia menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak yang baru ia temukan ini?


Sepertinya bukan ide yang buruk.


Ruby meraih ponselnya dan memasukkan nomor.


Ia ragu-ragu, tetapi pada akhirnya ia masih memanggil nomornya.


Ia tidak tahu apakah pria itu telah mengubah nomor ponselnya atau tidak. Ini sudah delapan tahun. Kalaupun dia mengubahnya, itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Jika ia bisa, ia tentu akan menghindari nomor ini selamanya dalam hidupnya.


Tetapi, mengapa ia masih ingat?


Mungkin karena rasa sakitnya begitu nyata dan tak terlupakan.


Nada dering berdering berulang kali. Saat Ruby hendak menutup telepon, suara berat seorang pria datang. "Halo," ucapnya dari balik panggilan.


Duduk di ruang konferensi, Vidrian sedang menangani beberapa pekerjaan yang mendesak. Karena mendadak dan tidak bisa menundanya, ia terpaksa menunda kepergiannya ke desa dan mengirim Savana kepada Ruby lebih awal.


Ia pikir, itu rencana yang sempurna.

__ADS_1


Ketika nomor asing muncul di ponselnya, ia tidak tahu mengapa ia menerimanya tanpa ragu. Mungkin karena ia selalu berharap seseorang yang memanggilnya adalah wanita yang paling ia rindukan. Sehingga ia tidak ragu untuk menerimanya bahkan di tengah konferensi.


Ruby berbaring di ranjang, memegang ponsel di telinganya, dan tidak berkata apa-apa. Juga, tidak ada suara yang terdengar dari sisi lain telepon, seolah-olah jawaban pria tadi adalah ilusi.


Setelah beberapa lama, Ruby memecah kesunyian. "Ini aku."


"Aku tahu." Suara Vidrian datang tepat setelahnya, dengan nada yang membosankan. Tidak ada emosi dalam suara itu. Namun tidak ada yang tahu jika dalam hati, ia sangat terkejut.


Sudah berapa lama waktu berlalu?


Sudah delapan tahun lebih.


Waktu yang panjang.


Namun ia tidak pernah lelah menunggu panggilan yang selalu ia tunggu. Alasan yang sama mengapa ia tidak pernah menganti nomor ponselnya.


Ia tahu Ruby akan memanggilnya, suatu hari nanti.


Kepercayaan itu tidak sedikit pun memudar walau ia mulai putus asa, hingga akhirnya panggilan itu benar-benar datang.


Ruby menghela napas panjang sebelum melanjutkan, "Kapan kau akan mengambil anak ini?" tanyanya.


Vidrian tidak langsung menjawab. "Aku tidak tahu. Mungkin harus menunggu sampai aku menyelesaikan semua pekerjaanku." Juga, ia masih harus menjemput ibunya di desa setelah menyelesaikan semua pekerjaannya.


Satu malam seharusnya tidak cukup, namun ia tetap harus menjemput Savana besok untuk mengindari amarah Ruby meledak lagi.


Vidrian terkejut. "Mengapa?" tanyanya. Suaranya masih tanpa emosi. Namun ekspresi wajahnya berubah sangat banyak. Merasa semua ini tidak nyata, ia menggenggam ponselnya erat.


Semoga ini bukan mimpi, itu yang ia harapkan.


Ruby menggigit bibirnya tanpa berkata apa-apa.


"Aku ingat belum lama ini kau bahkan tidak ingin melihatnya." Vidrian kembali berbicara, mengingatkannya tentang penolakannya terhadap Savana sebelumnya.


Tanpa mengatakan apapun, Ruby menutup panggilan dengan cepat.


Ia memegang ponselnya dengan erat dan tetap berbaring di ranjang, menatap Savana. Apakah ia tidak ingin melihatnya? Ia pikir dia tidak akan pernah muncul di depannya. Itu sebabnya ia tidak berani melihatnya. Tetapi sekarang, ia menjadi gegabah hanya karena dia memanggilnya mommy. Ya, ia pasti sudah gila!


Sejak perceraiannya dengan Vidrian, ia tidak pernah bisa muncul di hadapannya.


Ruby memegang kepala Savana dan melihat wajah tidurnya yang tenang. Setelah beberapa hari, ia tidak akan bisa melihatnya lagi, tidak bisa memeluknya seperti ini. Jadi, menghabiskan sejenak waktu bersamanya seharusnya tidak apa-apa.


Lagipula, ia bukan orang yang serakah.


Hanya dengan menggenggamnya, tidak akan membuatnya menginginkannya.

__ADS_1


Di ruang konferensi, Vidrian menatap ponselnya.


Tidak ada yang tahu apa yang ia pikirkan.


Semua manajemen senior SVN memandang wajah serius Vidrian dengan bingung. Pria gila itu telah melamun selama sepuluh menit sekarang setelah dia menerima telepon.


Ini adalah pertama kalinya mereka melihat bos kebingungan.


Entah apa yang membuatnya bingung.


Apakah mungkin karena seorang wanita?


Karena pria gila itu berbicara dengan lebih banyak emosi dibandingkan nada bicaranya dengan mereka. Di samping itu, bos tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Mungkin kah barusan benar-benar panggilan dari pacar bos?


"Sial!" Seseorang menjatuhkan botol air secara tidak sengaja saat mengambil air. Dan itu membuatnya ketakutan. Takut di pecat di tempat.


Vidrian kembali ke dirinya sendiri. Ia menundukkan kepala, melihat dokumennya. Semua orang mengumpulkan pikiran mereka dan mulai melihat laporan di tangan mereka.


“Terus laporkan!” Vidrian meletakkan ponselnya dan mulai membaca dokumen di atas meja.


Hati semua orang menjadi tenang, seolah beban berat terangkat sepenuhnya. Meskipun mereka terkejut bahwa bos benar-benar melakukan pertemuan karena terjadi beberapa masalah, tampaknya dia dalam suasana hati yang baik karena dia tidak membentak atau memecat siapa pun.


Sementara itu, Ruby bangun dari ranjang ketika mendengar suara bising dari arah pintu. Ia keluar dari kamar tidur setelah terlebih dahulu menyelimuti tubuh kecil Savana dan melihat Veronica masuk bersama Maxen.


Bodoh, batinnya.


Veronica atau Maxen tidak akan menekan bel untuk masuk ke sini. Masing-masing dari mereka memiliki kartu akses. Lalu, mengapa ia masih membuka pintu ketika ada yang menekan bel padahal sudah jelas itu bukan Veronica atau Maxen?


Jawabannya sudah jelas.


Bukan kah itu karena kebiasaan?


Kebiasaannya sejak dulu?


Melihat Veronica dan Maxen berjalan menuju dirinya, Ruby berkata, "Hei, kalian memintaku memasak, jika aku melakukannya, bukankah kalian tidak akan memakannya?" Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam saat ini. Jeda waktu yang panjang ketika Veronica terakhir kali meneleponnya dan mengatakan agar mereka bertemu di apartemen.


"Maaf, bercinta membutuhkan banyak waktu," Maxen berkata sembari meletakan beberapa botol alkohol di atas meja.


Mendengar ini, Veronica mengaum, "Bodoh! Siapa yang bercinta denganmu? Haish, memang tidak ada pria lain." Ia berkata meremehkan.


Maxen terkekeh. Tidak marah meski kata-kata yang Veronica katakan sedikit kasar.


Ruby melipat tangannya di dada sembari menatap Veronica dan Maxen dengan ekspresi mengejek. "Bukankah kalian bisa mempersingkat durasinya?"


"Ruby!" Veronica berteriak. "Kami tidak bercinta. Bahkan jika hanya ada Max yang tersisa di dunia ini, aku tidak akan pernah tidur dengannya. Cuih.."

__ADS_1


"Ya ya ya," Maxen mengangguk. "Kau tentu lebih senang menggunakan mainan **ks mu daripada **nis asli, kan?"


__ADS_2