Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 22 ~ Aku Pacar Resmi, Bukan Selingkuhan


__ADS_3

Adegan ini jelas merupakan adegan klasik untuk sinetron melodramatis. Namun, jika biasanya yang datang adalah protagonis pria dengan gaya romantis, karena ini adalah dunia nyata, yang datang justru antagonis dengan gaya yang penuh kontroversi.


Namun sejujurnya Ruby tidak menginginkan siapapun untuk datang. Entah itu protagonis atau antagonis, ia hanya ingin sendiri.


"Lama tidak bertemu," suara Veronica yang sedikit serak memecah keheningan. Ia adalah Veronica Linden, pemilik perusahaan sekaligus desainer perhiasan terkenal Velline. Wanita tidak tahu malu yang selalu meminta kucuran dana dari Ruby tanpa ada pengembalian.


Ruby mengangkat sebelah alisnya dan menatapnya dengan jijik. "Kenapa kau membuntutiku?"


Veronica tersenyum, dan itu terlihat jahat. "Omong kosong! Kenapa aku membuntutimu? Aku melihat mobilmu melaju kencang. Takut kau melakukan tindakan nekat, aku mengikutimu," jawabnya, enteng.


"Sungguh cara yang menyentuh untuk meludahkan omong kosong," cibirnya. Pertama, Ruby baru tiba di London siang ini. Dan kedua, baru pertama kali ia memakai mobil ini. Jika Veronica tidak menguntitnya, lalu apa?


Veronica mengabaikan perkataan dan tatapan mengejek Ruby. Sebagai wanita yang bermartabat dan murah hati, ia tidak mengambil hati apa yang Ruby katakan. Sebaliknya, ia menenggak anggurnya sebelum menyodorkannya kepada Ruby. "Mau minum?"


Ruby turun lalu berjalan menuju Veronica. Setelah menyambar botol anggur dari tangannya, ia meminumnya sedikit. "Kebiasanmu membawa anggur kemana pun kau pergi, sama sekali tidak berubah," ucapnya sembari meletakan sedikit pantatnya di bagian depan mobil Veronica.


Veronica menghisap rokoknya kemudian menghembuskannya perlahan. "Kebiasanmu meminum anggur yang kubawa juga tidak berubah."


Ruby diam sebentar. "Kau benar. Kebiasaan-kebiasaan itu, aku tidak bisa mengubahnya." Bahkan setelah delapan tahun berlalu, ia masih saja mengulangi kebiasaan meminum anggur yang Veronica bawa. Sebuah kebiasaan, benar-benar mengerikan.


"Kenapa kau harus mengubah kebiasaan itu?" tanya Veronica. "Selama aku tidak mencampurnya dengan racun, baik-baik saja maka." Sejak berusia dua belas tahun, Veronica tidak pernah punya teman lagi. Itu karena sejak berusia dua belas tahun wajahnya yang seperti iblis mulai menunjukkan tanda-tanda.


Ketika ia memasuki sekolah menengah, semua orang yang melihat ekspresinya seolah-olah ia adalah Medusa, jadi semakin tidak mungkin untuk berteman.


Sebagai satu-satunya wanita yang mau berbicara dan bahkan bermain dengannya, Veronica telah lama mengklasifikasikan Ruby sebagai saudara perempuan yang baik.


"Memang kau berencana mencampurnya dengan racun?" tanya Ruby.


"Um?" Veronica mengusap dagu. "Sedang kupikirkan."


"Sial," Ruby mengumpat. "Sepertinya kau benar-benar ingin melenyapkan nyawa sugar mommymu." Bahkan setelah Veronica bisa menghasilkan banyak uang, wanita itu masih saja meminta suntikan dana darinya tiap satu tahun sekali. Benar-benar penipuan berkedok persahabatan.

__ADS_1


Namun anehnya, ia tidak keberatan.


Bahkan jika Veronica menghisap habis semua uangnya, ia hanya akan pura-pura tidak mengetahuinya.


Bukan tanpa alasan.


Veronica adalah salah satu orang yang merencanakan rute pelariannya ke Amerika delapan tahun lalu sampai seorang Vidrian Christensen atas bantuan Damian Adelard, tidak dapat melacak keberadaannya.


Veronica menghisap rokoknya sekali lagi sebelum melemparkannya ke tanah. "Mana mungkin. Selama aku belum menemukan sugar daddy yang bersedia menikahiku, aku tidak mungkin melenyapkan sugar mommyku."


"Jika kau sudah menemukan sugar daddy, tak masalah untuk melenyapkan ku?"


"Tidak mungkin. Kau yang paling aku cintai, oke? Kau satu-satunya yang ada dalam hatiku. Ah tidak. Kalian berdua. Kau dan bajingan itu. Aku mencintai kalian berdua. Sama besar, sama rata. Adil, kan? Aku selalu mencintai kalian dengan takaran yang sama. Jadi, jangan merasa aku tidak mencintaimu." Ia berkata dengan tidak tahu malu.


Ruby terkekeh, "Hei, sejak kapan kita memiliki perasaan sedalam itu?"


"Eh, sejak kapan?" Veronica melotot. "Kau masih bertanya? Kau yakin tidak tahu jawabannya? Kau pura-pura tidak tahu atau pura-pura tidak ingat?"


Ruby mengangkat bahu. "Entahlah, aku tidak yakin."


Ruby tersenyum samar.


"Karena aku baik hati, baiklah, biar kuberitahu. Sejak kau menjadi selingkuhan pacarku, kita menjadi teman baik," jelasnya. "Kau mengerti sekarang?"


"Apa?" Ruby tersentak. "Tolong jangan bercanda denganku," ujarnya. "Aku pacar resmi. Kau yang selingkuhan," lanjutnya, memperbaiki kata-kata Veronica yang salah besar. Seperti yang ia katakan, awal mula persahabatannya dengan Veronica sebenarnya cukup lucu.


Tidak.


Itu kacau.


Sangat-sangat kacau.

__ADS_1


Bermula dari selingkuhan, lebih tepatnya, ia dan Veronica berkencan dengan bajingan yang sama.


Namun seiring waktu yang berlalu, setelah berdamai dengan keadaan dan menertawakan kebodohannya, tanpa di duga ia justru berteman baik dengan Veronica. Tidak hanya berteman dengan Veronica, tetapi dengan bajingan tukang selingkuh juga. Dan ya, seperti itulah awal mula persahabatan mereka.


"Sudah kukatakan aku berpacaran dengannya lebih dulu." Veronica bersikeras mengklaim bahwa dirinya bukan selingkuhan, padahal.. e.. entahlah.


Ruby menggeleng perlahan. "Ish ish ish. Jangan bicara omong kosong lagi."


"Itu fakta, bukan omong kosong."


"Veronica, dengar, faktanya aku berpacaran dengannya tanggal enam Januari, dan kau tanggal 16 Januari di bulan yang sama. Bukankah sudah jelas, siapa yang pacar, siapa yang selingkuhan?" Jika berbicara tentang fakta, dengan bukti nyata di depan mata, apa yang ia katakan, bukankah lebih tepat disebut fakta?


"Ah sial, kenapa kau masih ingat tanggalnya? Kau bilang tidak ingat? Kau tidak sedang mengerjaiku, kan? Ah, bajingan terkutuk itu. Aish.. aku sangat membencinya. Haruskah aku menghabisinya? Ah sial!" Veronica merasa buruk tiap kali memikirkan cinta pertamanya yang ternyata menjadikannya sebagai cadangan. Namun tidak peduli marah atau sedih, ia masih harus berterima kasih karena berkat itu, ia menemukan sahabat sejatinya.


Ruby tertawa. Ia menyerahkan botol anggurnya kepada Veronica lalu membaringkan tubuhnya di rerumputan.


Tidak hanya Veronica, kenyataannya ia juga membenci bajingan terkutuk itu pada saat itu. Sekarang, tidak ada kebencian yang tersisa. Semua kebencian lenyap seiring berjalannya waktu. Ia dan Veronica hanya berkata 'benci' dan akan mengutuk sepanjang waktu, namun mereka tidak benar-benar membenci pria itu.


Sungguh.


Ruby memandang langit malam yang indah.


Benar-benar indah.


Kegelapan malam tanpa bintang.


Malam ini begitu damai.


Sedamai itu sampai rasanya mencurigakan.


Badai apa yang akan terjadi setelah ini?

__ADS_1


Bisakah ia melaluinya?


Bisa atau tidak bisa ia memang harus melaluinya. Lagipula, bukankah badai semacam ini sudah sering terjadi? Benar, ini bukan hal yang baru. Seolah sudah terbiasa dengan segala jenis masalah. Pada akhirnya tidak hanya bisa melaluinya, tetapi ia juga bisa menyelesaikannya.


__ADS_2