Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 27 ~ Mensponsori Satu Anak Lagi


__ADS_3

Di arena, dua pria memutari satu sama lain.


Salah satunya tinggi, tubuhnya kuat dan berotot, rambutnya panjang dan di ikat di atas. Sementara pria yang satunya memiliki tubuh yang lebih kecil, wajahnya pucat, dan rambut cokelatnya cukup mencolok. Meski tidak kalah tinggi namun dia tidak sekekar pria pertama.


Namun saat si rambut cokelat menggerakkan tinjunya dengan cepat, serangan itu gagal di tangkap oleh pria berambut panjang. Itu mengenai tepat di wajahnya.


Ruby menyernyit. Ia yakin hidung pria itu baru saja patah.


Sorakan para pria di sekitar semakin keras. Namun Ruby mengabaikan itu. Entah kenapa ia merasa pria bertubuh kecil itu, memiliki potensi.


"Bukankah dia tampan dan kuat?" Suara Veronica bergema di telinga Ruby.


Ruby menoleh. Setelah memutar bola matanya, ia mengangguk. "Ya," jawabnya. Tidak di pungkiri, meski sedikit kurus, pucat dan tampak tidak berdaya, anak itu tidak hanya tampan tetapi juga berkemampuan. Seperti yang Veronica katakan, anak itu, kuat.


"Apa kau ingin menjadi sponsornya?" tanya Veronica sambil terang-terangan melihat pria muda yang sedang bertarung di arena. Tidak. Semua mata memang sedang memperhatikannya. Bukan hanya ia, tetapi Ruby, yang semula enggan, juga sedang memperhatikannya.


Ruby tertawa. "Bagaimana mungkin? Memiliki dirimu saja, aku pusing setengah mati." Ia tidak punya waktu untuk melirik Veronica karena fokusnya berada pada dua pria yang sedang menunjukan kebolehan. Ia tidak ingin melewatkan satu detail pun saat pria kedua mengalahkan pria pertama. Meski itu belum terjadi, ia yakin itu akan terjadi.

__ADS_1


"Jadi, kau tidak berniat mengadopsi satu anak lagi?" Kali ini Veronica bertanya dengan serius. Dan ia juga menunggu jawaban dari Ruby dengan sangat serius.


"Jangan bercanda."


Veronica menyipitkan mata. "Bukankah bajingan busuk itu juga anakmu? Kau mensponsori kami berdua, tidak masalah jika bertambah satu lagi, kan?"


"Semua tidak sesederhana itu, Veronica," ujarnya. Mensponsori seseorang tidak semudah mengancingkan kancing baju. Ia harus melihat seberapa dapat diandalkannya orang itu, dapat dipercaya atau tidak, memiliki kemampuan atau tidak, berapa tingkat kemampuannya.


Selain Veronica dan bajingan itu, Ruby tidak hanya bisa sekedar menyukainya lalu mensponsorinya. Ia tidak sebaik itu, ia tidak semurah hati ini.


"Bagaimana mungkin kau perhitungan seperti ini? Kau tidak mungkin membandingkan aku dengan pria busuk itu, kan? Aku ini kesayanganmu. Bukankah kau mencintaiku? Katakan kau mencintaiku, ayo cepat katakan!" Veronica menggoncang tubuh Ruby. Ia tersulut emosi saat Ruby menyanjung dan lebih memilih bajingan itu daripada dirinya. Baginya, itu sangat tidak adil.


"Hentikan! Kau harus menyadari bahwa tidak peduli siapa orangnya, tidak peduli bagaimana individunya, hanya keuntungan yang di cari oleh seorang pebisnis."


Veronica menggertakan gigi. "Terkadang aku kesal padamu saat kau berbicara seperti itu."


"Tetapi setidaknya kau tidak membencinya."

__ADS_1


"Hal itulah yang membuatku kesal saat mendengarnya."


Bersamaan dengan itu, sorak sorai semakin keras terdengar. Seorang pria tumbang di arena dan seorang pria mengangkat tangan menunjukkan kemenangannya.


Ruby tersenyum melihat ini. Mengabaikan kekesalan Veronica, ia berpikir untuk mempertimbangkan kembali perkataannya. Bagaimana jika ia menjadikan pria kecil itu sebagai anaknya? Bukan secara harfiah. Maksudnya, mungkin pria kecil itu bisa menjadi seseorang di Diedrich Group. Misalnya, menjadi pengawal Xavier, pengawal Sean atau yang lainnya.


Bagaimanapun, ia menyukai orang-orang yang berbakat dan memiliki potensi. Ia tidak keberatan mengeluarkan banyak uang asal hasilnya sepadan. Tidak. Ia memang selalu mengeluarkan banyak uang untuk mereka yang memiliki bakat.


Melihat senyum mengerikan kembali tersungging di wajah Ruby, Veronica berkomentar, "Hei, wajah tersenyummu sangat menakutkan." Ia yang mendapat julukan sebagai Medusa, terkadang masih kalah dari Ruby. Ruby yang sekarang, maksudnya Ruby di delapan tahun belakangan, terasa lebih menakutkan dari dirinya yang bergelar Medusa ini.


"Bagian mana dari wajahku yang terlihat sedang tersenyum?" Ruby menunjukkan wajah iblisnya. Tidak ada senyum namun itu tajam dan untuk beberapa orang mungkin itu cukup menakutkan.


Veronica menyentuh tengkuknya, merinding. "Aih, tolong jangan tunjukkan wajah seperti itu kepadaku. Gelar Medusa-ku bisa jatuh kepadamu." Dan ia benci mengetahui kenyataan bahwa Ruby jauh lebih menakutkan dari dirinya. Itu melukai harga dirinya yang sejak remaja menyandang gelar itu.


"Tsk." Ruby mendecak. "Apakah gelar itu sangat penting untukmu?" Ia mengalihkan pandangan, melihat ke arena dan ternyata sudah berganti dengan orang lain, sebelah alisnya terangkat. Pemuda itu sudah pergi, maka sudah waktunya untuk kembali. "Ayo pergi! Tidak ada gunanya lagi berada di tempat ini." Bersamaan dengan itu, ia bangkit dari duduknya.


"Eh." Namun Veronica memegang lengan Ruby. Menghentikannya dari pergerakannya. "Kenapa buru-buru sekali? Malam masih panjang dan kita masih punya banyak waktu."

__ADS_1


__ADS_2