Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 55 ~ Ayo Berhenti Berkelahi


__ADS_3

Ruby bahkan tidak menatapnya. "Mengapa kau di sini? Kau datang untuk Savana? Maka, ambillah!" Ia berkata untuk menjaganya selama beberapa hari, namun bajingan ini tiba-tiba muncul di sekolah Savana, dan ingin mengambilnya. Maka, ambil saja. Ia juga tidak berniat berdebat demi anak itu.


Mendengar ucapan sarkas mantan istrinya, Vidrian memandangnya dengan pikiran rumit dan berkata, “Aku hanya ingin berbicara denganmu. Bukan tentang Savana. Tentang kita.” Ia memperjelas maksud ucapannya.


Lagipula, sedari awal, kedatangannya ke sini memang bukan untuk Savana, tetapi untuk Ruby. Selain itu, Ruby yang bersedia menghabiskan waktu dengan Savana, tidak mungkin ia menolaknya.


Baginya, ini seperti tahap awal.


Tahap awal kembalinya hubungan mereka yang lama terputus.


Ruby balas menatapnya dan sedikit mengernyit. "Apakah aku pernah berkata bahwa tidak ada yang tersisa untuk dibicarakan di antara kita?"


"Tidak. Kau belum mengatakannya."


"Karena sekarang aku sudah mengatakannya. Maka seharusnya kau mengerti."


“Ruby, aku tahu aku benar-benar brengsek sebelumnya. Semua orang mengatakan itu kepadaku dan aku sendiri juga menyadarinya. Bisakah kau memberiku kesempatan lagi?” Vidrian menatap Ruby dan berkata dengan serius.


Ken benar.


Menjadi tidak tahu malu adalah kuncinya.


Jika ingin mendapatkan Ruby kembali, jika satu-satunya jalan untuk kembali hanya ini, maka ia bersedia melakukannya.


Ruby terkekeh. Ia menatapnya penuh ejekan. "Apakah kau demam atau semacamnya?"


Meskipun terang-terangan diejek oleh Ruby, Vidrian tidak marah. Ia melanjutkan, “Ruby, aku serius. Sebelumnya, aku tidak tahu bagaimana menjadi suami yang baik tetapi aku bersedia berubah sekarang. Aku akan melakukan apa pun yang kau suruh.”


Ruby mengalihkan pandangannya, menatap Savana yang duduk tenang di dalam mobil. Anak itu tidak merengek bahkan setelah menunggu cukup lama sendirian.

__ADS_1


Mungkin anak itu tahu kedatangan ayahnya dan berpikir hal seperti ini dapat mengembalikan hubungannya dengan ayahnya. Atau paling tidak, anak itu mungkin hanya ingin ia tidak bertengkar dengan Vidrian.


Jika memang begitu, bukankah ia hanya harus mengabulkan keinginannya? Untuk tidak bertengkar dengannya?


Masih dengan memandangi Savana, Ruby berkata, “Seorang suami yang baik tidak berarti dia harus melakukan apa pun yang dikatakan istrinya, tetapi dia tahu apa yang harus dilakukan sendiri.” Seperti bagaimana ia memilih Osvaldo untuk menjadi suaminya.


Pria itu melakukan perannya sebagai suami yang baik untuknya sekaligus ayah yang baik bagi kedua putranya. Alasan yang sama mengapa ia begitu mencintai dan terobsesi padanya.


Pris itu sangat baik.


Benar-benar baik.


Bahkan tanpa ia harus meminta, dia tahu apa yang harus di lakukan.


Ruby bernapas sedikit dan melihat ke depan. “Akhir-akhir ini aku sangat sibuk dan tidak ingin berbicara denganmu tentang masa lalu. Apa yang dilakukan sudah selesai. Aku tidak peduli siapa yang benar atau siapa yang salah. Aku hanya ingin melihat masa depanku sekarang."


Vidrian terdiam mendengar ini.


Namun perkataan Ruby dengan wajah lelah itu sudah menjawab semuanya.


Wanita itu tidak akan pernah memberinya kesempatan. Namun.. apakah ia harus menyerah? Tidak. Ia tidak akan pernah menyerah. Terlepas dari bagaimana hasilnya nanti, setidaknya ia pernah berjuang dan kalau pun gagal, ia dapat mati dengan tenang.


“Aku tahu sulit membuatmu menikah lagi denganku. Jadi biarkan aku mengejarmu, oke?” Vidrian berkata dengan percaya diri. Wajahnya yang dingin dipasangkan dengan kata-kata ini tampak agak lucu.


Pria ini memang seperti ini.


Bahkan saat dia mengungkapkan perasaannya pada seorang gadis, dia tetap dingin dan sombong.


Ruby menaikan sebelah alisnya. “Katakan, kenapa kau menyukaiku? Temperamen burukku atau aku mengabaikanmu? Apa kau memintaku untuk meneriakimu lagi? Mengutukmu sampai aku lupa betapa banyak kutukan yang sudah aku ludahkan?”

__ADS_1


Tatapan Vidrian melembut, “Jika kau meneriakiku, aku tidak akan berbicara balik. Saat itu, akulah yang bersalah padamu." Suaranya merendah seiring kata yang terlontar.


Ruby mencibir. “Apakah menurutmu semua yang telah kau lakukan padaku dapat dihapus dengan tidak membalas? Itu akan terlalu mudah."


Vidrian kehilangan semua kata-katanya.


Ia ingin menjawab namun ia menyadari bahwa ia salah dalam hal ini. Ia berkata, "Ruby, aku hanya.."


Belum sempat Vidrian menyelesaikan perkataannya, Ruby memotongnya, "Bagaimana mungkin itu bisa menjadi 'hanya'? Saat kepercayaanku kepadamu benar-benar hancur." Ia menjeda sebentar kalimatnya sebelum kembali melanjutkan. "Betapa nyaman hidupmu sampai kau berpikir dapat merubah perasaan orang lain sesuka hatimu? Apa kau berpikir jika sedikit saja menyenangkan ku maka aku akan kembali padamu? Ayolah, Vidrian, jangan bermimpi lagi. Tidak semua hal berada di bawah kendalimu selamanya."


Vidrian terdiam. Ia malu untuk menatapnya karena semua yang Ruby katakan benar. Namun ia memberanikan diri untuk menatapnya dan menjelaskan, “Saat itu aku tidak akan bertunangan dengan Phoebe. Itu semua diatur oleh ibuku dan aku tidak tahu. Tetapi pada saat itu, aku pikir kau tidak tahu, jadi aku tidak menjelaskannya. Dan kemudian kau bersikeras menceraikanku."


"Ah, benarkah?" Ruby menjawab dengan ceroboh.


Melihat sikap dingin Ruby, Vidrian mengerutkan kening dan berkata, “Jika kau memiliki dendam terhadapku, mari kita bicarakan satu per satu, oke? Ruby, bukankah menurutmu kita kurang komunikasi sebelumnya?”


Ruby tercengang. Kurang komunikasi?


Ia memikirkan ungkapan itu dan mengingat kehidupan saat mereka pertama kali menikah. Kurangnya komunikasi adalah pernyataan yang berlebihan.


Tidak ada.


Jawabannya adalah tidak ada komunikasi di antara mereka. Benar-benar tidak ada. Sekalipun tidak ada. Sama sekali tidak.


"Ruby, ayo berhenti berkelahi." Vidrian berkata dengan suara lemah.


"Ya, kau benar. Ayo berhenti berkelahi. Kebetulan aku juga sangat lelah." Dengan dua kalimat itu, Ruby berbalik dan masuk ke mobilnya, tidak memberi waktu bagi Vidrian untuk berbicara.


Melihat Ruby masuk ke dalam mobil dengan wajah menahan amarah dan wajah ayahnya tampak tidak senang, Savana buka suara, "Mommy, apa kau baik-baik saja? Apakah Daddy menyakitimu?" Ia sudah bukan anak kecil lagi. Perpisahan orang tuanya, ia sudah lama memahaminya.

__ADS_1


Hanya saja, ia tidak benar-benar tahu alasan perpisahan mereka. Jika itu karena ayah tidak memperlakukan ibu dengan baik, ia tidak akan tinggal diam. Setidaknya, ia harus memberikan pelajaran pada orang yang sudah menyakiti ibunya bahkan jika itu adalah ayahnya.


__ADS_2