
Setelah di tolak mentah-mentah oleh Ruby untuk bertemu, Vidrian meninggalkan perusahaan Diedrich dengan pikiran rumit.
Anehnya, ia tidak sekesal biasanya.
Jika biasanya ia akan memaksakan diri, kali ini tidak. Selain menerima, ia juga pergi dengan lapang dada.
Meninggalkan Carl di perusahaan Diedrich dengan beberapa perintah kecil, Vidrian mengemudikan lalu menepikan mobilnya di suatu tempat tidak jauh dari perusahaan Diedrich.
Niatnya, tentu bukan sesuatu yang baik.
Namun ia tidak peduli.
Ia juga bukan orang yang bersih.
Banyak hal buruk yang ia lakukan, dan melakukan satu kali lagi seharusnya bukan masalah besar. Lagipula, ia tidak akan merepotkan apalagi merugikan orang lain. Sungguh tidak. Kalau pun repot, ia akan repot sendiri. Kalau pun rugi, ia akan rugi sendiri. Benar-benar sendiri, tidak melibatkan orang lain.
Setelah setengah hari menunggu, Vidrian akhirnya melihat mobil Ruby meninggalkan perusahaan. Ia tidak terburu-buru. Sebaliknya, ia memastikan jarak yang aman sebelum diam-diam mengikuti di belakangnya.
Namun Ruby bukan orang bodoh.
Diikuti, tidak mungkin orang seperti Ruby tidak menyadarinya.
Vidrian terpaksa mundur satu langkah dan itu membuatnya kehilangan jejaknya. Tidak benar-benar kehilangan, ia hanya sedikit tertinggal ketika Ken mengirim pesan singkat dan berkata mantan istrinya ada di sana.
Mantan istrinya?
Jika bukan Ruby, siapa lagi?
Bahkan bajingan tengik seperti Ken, langsung tahu bahwa Ruby adalah Rubikanya hanya dengan sekilas lihat. Sungguh bebal jika ia tidak menyadarinya.
Dan begitulah ia bisa sampai di sini, di tempat ini, saat ini.
Dalam pelukan Ruby, ia merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Sebuah rasa yang membangkitkan kembali ingatan usang.
Walau hanya sekejap, kepingan-kepingan masa lalu itu benar-benar memenuhi ingatannya. Dan jejak kesedihan tiba-tiba terlintas di matanya.
Sayang sekali, sungguh di sayangkan, ia bukan orang yang Ruby maksud.
Ia menyadarinya, benar-benar menyadari jika bukan ia orangnya.
Ia mengabaikan Ruby. Ia tidak pernah mengulurkan tangan kepadanya. Ia tidak pernah memeluknya, dan tidak pernah berkata 'semua akan baik-baik saja'. Ia tidak pernah datang untuknya. Benar-benar tidak.
__ADS_1
Itu sebabnya, bukan ia orang yang Ruby maksud.
Mungkin dia adalah mantan suaminya yang hebat, Osvaldo Diedrich. Pria yang tidak pernah meninggalkan Ruby. Pria yang selalu mengulurkan tangan kepadanya, memeluknya, dan berkata 'semua akan baik-baik saja'. Pria yang sangat mencintai Ruby. Juga, satu-satunya pria yang Ruby cintai.
Bukan dirinya.
Sungguh menyedihkan.
Namun, meski tahu bukan ia yang Ruby harapkan, tetap saja ia menyukai perasaan di butuhkan oleh Ruby. Setidaknya, Ruby bersedia memeluknya walau hanya sebentar. Jika tidak, bagaimana mungkin Ruby bersedia memeluknya secara sukarela atas keinginannya sendiri? Tidak meludahinya saja sudah untung.
Vidrian membalas pelukan Ruby dan mengusap perlahan punggungnya. "Ya, semua akan baik-baik saja. Kau akan baik-baik saja. Percayalah padaku," ucapnya dengan suara rendah.
Melihat Ruby seperti ini, bahkan jika Ruby sangat kejam kepadanya di saat sadar, ia tetap merasa sedih untuknya. Ketika Ruby masih menjadi istrinya, Ruby tidak pernah menunjukkan sisi ini, itu sebabnya ia berpikir Ruby sangat kuat dan tidak membutuhkan siapapun untuk memeluknya.
Namun, sepertinya, ia sudah salah memahami sesuatu.
Ruby tidak sekuat itu.
Kenyataan bahwa dia sangat rapuh adalah fakta yang tidak pernah ia ketahui. Sesuatu yang seketika membuatnya merasa tidak berguna ketika masih menjadi suaminya.
Mengingat itu, wajar jika tidak ada ia lagi dalam ingatannya.
Sekarang, yang ada dan tersisa hanya Osvaldo dan selalu pria itu, tidak pernah ada dirinya, tidak pernah ada namanya. Bahkan mungkin dia sudah lupa akan keberadaannya.
Vidrian berantakan. Hatinya yang kacau semakin kacau.
Situasi ini, seperti deja vu.
Awal mula kemunculan Savana, kurang lebih sama dengan situasi saat ini. Ruby mabuk ketika mereka bertemu. Lalu mereka melakukan hubungan intim tanpa pengaman. Malam yang panas dan menggairahkan mereka habiskan dengan keganasan di atas ranjang.
Hasilnya, seperti yang di duga.
Ruby mengandung.
"Osvaldo, katakan, apa kau dan Thaya (Athaya, ibu kandung Xavier) tidak akan marah padaku? Aku berjanji akan menjaga Xavier tetap di sisiku sampai dia dewasa. Tetapi.. aku melakukan kesalahan. Bagaimana ini? Haruskah aku kembali ke Amerika dan bersujud di depan makam kalian sebagai permintaan maaf?" Ruby berkata dengan penuh penyesalan.
Athaya adalah istri pertama Osvaldo, ibu kandung Xavier, juga wanita yang sangat Osvaldo cintai. Setelah kematiannya, Osvaldo bertahan dalam kesendirian sampai akhirnya pria itu bertemu dengannya.
Saat itu, cinta belum tumbuh.
Namun mereka cukup sering bertemu hingga akhirnya cinta datang seiring berjalannya waktu. Dengan Xavier yang melekat padanya, menikahi Osvaldo seperti menemukan sesuatu lalu memasukkannya ke dalam saku, semudah itu, benar-benar mudah.
__ADS_1
Dan begitulah, awal mula pernikahan mereka.
Kisah yang cukup mengharukan jika di ingat-ingat lagi.
Tetapi sebenarnya intinya bukan itu.
Intinya adalah.. Osvaldo menyelamatkannya dari kehancuran. Jika tidak ada pria itu, ia mungkin masih mengkonsumsi obat anti depresan atau bahkan terjebak di rumah sakit selamanya karena sakitnya tidak kunjung sembuh.
Kehadiran Osvaldo dan Xavier, seperti oasis di tengah gurun. Tidak hanya memberikan secercah harap, tetapi juga memberikan kebahagiaan yang sebelumnya tidak berani ia impikan.
Sungguh beruntung bertemu mereka.
Itu sebabnya, bahkan jika harus memilih antara Savana atau Xavier, putri kandungnya atau putra tirinya, ia akan tetap memilih Xavier apapun yang terjadi.
Dengan membawa Savana lahir ke dunia dengan mempertaruhkan seluruh hidupnya, seharusnya itu sudah cukup. Sementara Xavier, Xavier membantunya bangkit dari keterpurukan, membuatnya berjanji akan selalu mendukungnya apapun yang terjadi.
Bahkan jika Xavier melakukan kejahatan besar yang tidak termaafkan, ia akan menjadi orang pertama yang berdiri di sampingnya. Sepenting itu Xavier baginya, benar-benar penting. Dan fakta itu tidak akan pernah berubah bahkan jika putri kandungnya kembali.
Mungkin itu terdengar egois.
Namun ia tidak peduli.
Tidak ada yang tahu apa yang ia rasakan. Rasa sakit, penderitaan, luka, bahkan resiko cacat atau yang terburuk kematian saat melahirkan Savana, ia tetap memilih untuk melahirkannya. Rasa sakit itu tidak mungkin hilang walau bertahun-tahun telah berlalu.
Semakin lama, rasa sakit itu justru semakin tajam.
Alasan itu pula yang membuatnya terjebak di rumah sakit untuk waktu yang lama dengan obat anti depresan. Ia harus menyembuhkan tubuh serta mentalnya. Sesuatu yang terasa berat bahkan membuatnya hampir mengakhiri hidup.
Jika orang lain mengetahui apa yang ia lalui selama ini, trauma fisik serta trauma psikis, seperti bagaimana Veronica dan Maxen posesif padanya, mereka mungkin akan mengerti bahwa hidupnya sebelum mencapai titik ini, sangat tidak mudah.
Perkataan Ruby menyentak lamunan Vidrian.
Sebelah alisnya terangkat. Osvaldo?
Mendengar nama Osvaldo di sebutkan, tubuhnya menegang. Meski sudah tahu bahwa Osvaldo yang Ruby pikirkan, namun tetap saja ia merasa aneh saat Ruby memanggil nama itu tepat di depannya.
Seperti sebongkah batu menghantam kepalanya, ia menjadi pusing. Namun ia buru-buru menepis rasa tidak menyenangkan itu. Ia berkata, "Apa yang terjadi, Ruby? Kenapa kau berkata seperti itu?" Ia bertanya dengan hati-hati, takut Ruby menyadari bahwa ia bukan Osvaldo.
"Dia mengetahui segalanya."
Jawaban Ruby membuat jantung Vidrian berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Firasatnya mengatakan ini tentang dirinya dan Savana. Bagus jika itu benar. Sejujurnya ia sangat mengharapkan ini.
__ADS_1
Vidrian melonggarkan pelukannya dan menatap Ruby lekat. "Katakan, apa yang dia ketahui?"