Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 14 ~ Tidak Sengaja Menimbulkan Masalah


__ADS_3

Restauran yang menjadi pilihan Ruby adalah jenis restauran bintang lima.


Atas rekomendasi Lily, Ruby tidak pernah meragukannya. Bukan karena Lily adalah orang kepercayaannya, terlepas dari itu, Lily adalah orang yang sangat kompeten dan berdedikasi. Kinerjanya sebanding dengan orang yang sudah berpuluh-puluh tahun bekerja dengannya, padahal kenyataannya baru beberapa tahun sejak wanita itu mendampinginya.


Segala pilihannya tidak hanya melihat dari aspek 'harga', tetapi lebih dari itu. Keamanan, fasilitas, kinerja, stabilitas, kualitas, segala aspek menjadi penentu mengapa dia merekomendasikan tempat ini.


Tidak hanya tamu yang berasal dari lingkaran kelas atas, tetapi hanya dengan melihat konsep serta bangunan gedung saja seseorang yang tidak buta pasti tahu bahwa jika ingin memasuki tempat ini seseorang harus mengeluarkan sedikitnya beberapa ratus pound untuk yang termurah dan ribuan pound untuk yang terbaik.


Melihat kedatangan Ruby dengan dua pria kecil di sampingnya, pelayan segera mengenali bahwa mereka adalah tamu terhormat yang berasal dari keluarga terpandang.


Dia dengan hati-hati datang dan menyambut dengan ramah. "Selamat datang, Nyonya, Tuan Muda." Ia membungkukkan badan dengan hormat, menundukkan diri serendah mungkin.


Ruby mengangguk kecil.


"Ada yang bisa kami bantu?"


"Reservasi atas nama Ruby Diedrich."


Pelayan tercengang sesaat sebelum berkata, "Mari saya antar ke meja Anda."


Ruby mengikuti pelayan bersama kedua putranya ke sudut yang sedikit terpencil dan tiba di sebuah meja yang terletak di dekat jendela. Dengan pemandangan yang sangat indah, Ruby dapat dengan jelas melihat halaman samping yang luas dengan beberapa kursi yang tertata rapi.


Ruby mendudukkan diri dan segera putranya juga melakukan hal yang sama atas bantuan pelayan.


Melihat kedua putranya duduk dengan tenang, ekspresi Ruby tidak terbaca. Meski ekspresi Xavier tidak tampak baik, namun ekspresinya tidak terlalu buruk. Ruby merasa jika Xavier adalah anak yang cukup mudah di bujuk. Sama seperti Osvaldo. Meski tampak dingin, sebenarnya mereka tipe yang lembut dan penyayang.


Beberapa saat kemudian pelayan datang dan menuang anggur ke gelas Ruby serta jus di gelas Xavier dan Sean. Mereka bertiga larut akan perbicangan saat seorang pelayan datang dan menyerahkan buku menu.


Selesai memilih, pelayan undur diri.


Sebagai anak yang luar biasa aktif, Sean adalah orang yang paling gelisah. Ia mulai menjadi tidak sabar. Apalagi ia tahu waktu akan sangat lama sampai hidangannya datang. Ia tidak tahan ingin segera pergi. Namun ia tidak tahu bagaimana cara meminta izin kepada ibunya.


Sean mencuri pandang ke arah Ruby dan setelah menata sejenak pikirannya, ia memberanikan diri untuk berkata, "Mom, aku ingin pergi ke toilet, bolehkah?"

__ADS_1


Mendengar suara penuh antisipasi Sean, Ruby menaikan sebelah alisnya. "Ke toilet?" tanyanya. Entah kenapa ia berpikir 'ke toilet' yang Sean katakan tidak sesederhana itu.


"Aku hanya sebentar, Mom. Tidak lama. Sungguh." Sean menjelaskan dirinya dengan cepat. "Boleh, kan?" Sean memasang ekspresi lugu terbaiknya. Ekspresi yang biasa ia andalkan ketika meminta sesuatu yang tidak ingin Ruby berikan. Ekspresi yang biasanya berhasil dengan gemilang.


Meski sudah menolak mentah-mentah untuk di pengaruhi, pada akhirnya Ruby tetap terpengaruh. "Pergilah!" ucapnya. "Hanya ke toilet. Jika sampai ke luar dan seseorang menculikmu, aku tidak akan mencarimu," lanjutnya, sedikit mengancam.


"Uh huh." Sean mengangguk cepat. "Aku janji tidak akan membiarkan diriku di culik." Setelah itu Sean bangkit dari duduknya dan berjalan pergi.


Ruby tercengang. Sial, bukan itu intinya! Bocah iblis itu pasti salah memahami maksud perkataannya. Namun Ruby hanya bisa diam dan menekan amarahnya. Bukan karena ia tidak ingin menjelaskan, tapi anak sial itu sudah terlanjur pergi.


Xavier menundukkan kepalanya. Menyembunyikan tawa.


Sedangkan Ruby, ia susah payah menahan diri untuk tidak memarahi Sean. Ia mendesah kasar sambil memijit pelipisnya


Seanggun apapun Ruby, ia tetap ibu rumah tangga biasa. Ia punya hati dan perasaan. Meski tidak terlalu galak, ia sedikit tegas. Namun untuk menghadapi keaktifan Sean, terkadang ia harus menunjukkan taringnya untuk membuat anak nakal itu diam dan duduk patuh di kursinya.


Melihat Xavier menyembunyikan tawa, Ruby tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya. "Hei, kau sungguh berpikir itu lucu?"


"Sedikit," jawab Xavier.


***


Kenyataannya, Sean tidak pergi ke toilet.


Sebaliknya, ia berjalan dengan santai dan melihat-lihat.


Kebetulan restauran ini sangat luas, sehingga cukup menarik minatnya untuk melihat lebih banyak lagi. Apalagi ia tipe anak penjelajah, hanya duduk bisa membuat ia bosan sampai rasanya mau mati.


Saat sedang fokus mengawasi, secara tidak sengaja, Sean bertabrakan dengan seorang wanita.


"Ah.." suara lengkingan wanita itu terdengar seperti hewan yang di sembelih. Kemudian di susul oleh hantaman keras saat pantatnya mendarat di lantai. Bukan wanita itu yang jatuh, tetapi Sean yang terpental dan jatuh.


Ditabrak oleh orang dewasa yang beratnya berkali-kali lipat dari dirinya, mustahil Sean tidak jatuh. Ia bangkit sembari memegangi pantatnya yang terasa sakit.

__ADS_1


Belum sempat Sean buka suara untuk mengeluh, makian lebih dulu terlontar dari mulut wanita itu, "Hei, apa kau buta? Orang sebesar ini kau tidak melihat?" Suaranya keras, menggelegar. Tangannya memberikan instruksi agar para pengawalnya mengepung bocah pendosa yang berani menabraknya.


Sean membeku untuk sesaat. Wanita ini, apa sudah gila? Pertama, ia yang ditabrak. Kedua, ia yang jatuh. Ketiga, ia yang sakit. Tapi kenapa wanita itu memakinya? Apa posisi mereka tidak terbalik?


Diamnya Sean ditambah tubuh kecilnya memberikan akses yang mudah bagi wanita itu memaki lebih banyak.


Wanita itu adalah nyonya muda dari keluarga Dawson. Wajahnya cantik, namun yang membuatnya terkenal bukan paras cantiknya, melainkan kelakuan buruknya.


Dorothy adalah seorang aktris kecil tanpa nama. Namun sejak menikah dengan Jeffrey Dawson, namanya melejit memenuhi industri hiburan. Tetapi semakin melambung namanya, perilaku buruknya juga makin menjadi. Berkat keluarga Dawson yang cukup berpengaruh, tidak ada yang berani mengkritik keburukannya. Pada akhirnya, kebanyakan dari mereka lebih memilih mengalah daripada menyinggung wanita itu.


Melihat Dorothy memarahi seorang anak kecil, orang-orang yang berada di sana memberikan tatapan simpati. Betapa sialnya anak itu bertemu Dorothy. Mereka ingin membantu, namun mengingat kebrutalan Dorothy, pada akhirnya tidak ada yang berani mendekat.


Mereka hanya berharap seseorang segera datang dan menghentikan wanita itu sebelum melakukan sesuatu yang lebih buruk.


Savana dan Vidrian baru saja melangkah masuk melalui pintu masuk restauran saat melihat kekacauan yang terjadi. Mereka berjalan mendekat dan pemandangan yang tampak di depan mata cukup mengejutkan.


Seorang anak kecil yang mungkin berusia sekitar lima atau enam tahun di kelilingi oleh beberapa pria besar. Sementara itu, seorang wanita yang berdiri di depannya tampak memarahi bocah kecil itu.


Melihat ini, kemarahan Savana terpancing. "Daddy, kenapa mereka mengganggu anak itu?" Savana menunjuk Sean yang tampak tidak berdaya karena diintimidasi.


Vidrian menghela napas panjang. Ia tahu putrinya memiliki jiwa penolong yang tinggi. Melihat kejadian ini, tangannya pasti gatal ingin menolong. Ia juga tidak akan melarang putrinya menolong orang yang kesulitan. Namun masalahnya, ini tempat umum. Banyak orang berada di sini, dan ia tidak ingin Savana menonjolkan dirinya.


Tidak mendapat respons dari Vidrian, Savana menyentuh tangannya. "Daddy."


"Em?"


"Kenapa mereka mengganggunya?" Savana mengulangi pertanyaannya.


"Ada banyak masalah yang terjadi dalam hidup ini, Savana. Kita tidak bisa mengendalikan segala hal."


"Lalu, bolehkah aku menolongnya?" tanyanya hati-hati.


"Bukan tidak boleh menolong, kau tidak bisa menonjolkan dirimu," sahut Vidrian.

__ADS_1


"Tapi apa yang akan terjadi dengan anak itu? Apa dia akan di sakiti?" Melihat bagaimana orang-orang jahat itu mengepung, jika tidak di selamatkan, Sean pasti akan di siksa habis-habisan oleh mereka. Namun di sisi lain ia juga mengerti alasan kenapa Vidrian melarangnya menonjolkan diri. Terlalu berbahaya. Itu sebabnya ia bingung, tidak tahu harus bagaimana.


Savana tahu betapa kejamnya orang dewasa. Karena bukan pertama kali ia melihat kejadian seperti ini, ia sudah terbiasa. Namun ia tidak bisa membiarkan mereka menyakiti anak kecil yang baru bisa melihat dunia. Itu terlalu kejam.


__ADS_2