Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 12 ~ Informasi Tentang Vidrian


__ADS_3

Akhir pekan tiba.


Ruby benar-benar menepati perkataannya.


Pagi-pagi sekali, Ruby pergi ke kamar kedua putranya dan meminta agar mereka mengemas pakaian masing-masing. Ia berencana mengajak kedua putranya pergi ke vila. Dan Sabtu Minggu yang di habiskan di sana tentu memerlukan beberapa persiapan.


Berkendara menuju vila pinggir pantai, mereka berencana membuat akhir pekan kali ini menjadi penuh warna.


Melihat senyum tidak surut dari bibir Sean, Ruby juga tersenyum puas. Tetapi ketika menoleh dan melihat Xavier tidak banyak beraksi, ia hanya bisa menghela napas panjang.


Mengingat betapa tidak ekspresifnya putra sulungnya, Ruby tidak berharap banyak. Hanya perlu tidak mengeluh, itu sudah lebih dari cukup. Di samping itu, ia adalah orang kedua yang mampu memahami Xavier setelah Osvaldo. Bahkan kakek dan nenek dari mendiang ibu kandung Xavier dan nenek dari mendiang Osvaldo, masih kesulitan memahami Xavier yang tenang dan dewasa.


Bagi mereka, karakter Xavier tidak cocok untuk usianya.


Anak sepuluh tahun seharusnya lebih ceria dan banyak bermain, bukan bertingkah dewasa atau sok dewasa. Meski tertekan, namun di sisi lain mereka juga mengerti darimana karakter itu berasal.


Selain di turunkan oleh Osvaldo, rupanya masa kecil yang tidak bahagia juga menjadi faktor yang berperan penting dalam perkembangan Xavier. Itu sebabnya, agar Xavier lebih bahagia, para tetua amat sangat memanjakannya.


Ketika mobil tiba di halaman vila, Ruby segera turun dari mobil. Membuka pintu mobil untuk kedua putranya, ia berkata, "Selamat datang, kita akan bersenang-senang di sini." Ia mengajak mereka masuk ke dalam vila dan meninggalkan beberapa koper untuk di urus oleh penjaga vila.


"Tempat ini sangat hebat," Sean tidak bisa tidak mengagumi tempat ini. Pemandangan yang langsung mengarah ke laut, juga halaman yang luas, hanya dengan dua alasan itu, ia langsung setuju jika tempat ini di nobatkan menjadi salah satu keajaiban dunia.


Ruby mengulas senyum tipis. "Memang. Itu sebabnya aku mengajak kalian ke sini," timpalnya. Sebagai anak yang aktif, kegemaran Sean adalah melakukan aktifitas di luar rumah. Bermain basket, berenang, sepak bola, dan masih banyak lagi. Itu sebabnya ia yakin Sean sangat menyukai tempat ini.


"Ya. Sangat menyenangkan menghabiskan akhir pekan di sini." Dengan itu, Sean bergegas pergi berkeliling vila. Sementara Xavier, ia mendudukkan diri di sofa dan beristirahat sejenak sebelum mencari Sean.


Waktu demi waktu berlalu, mereka benar-benar melakukan banyak hal bersama. Memasak, bermain game, menonton film, berolahraga, dan beragam aktivitas lain yang menyenangkan.


Layaknya keluarga pada umumnya, bahkan tanpa Osvaldo, sebagai kepala rumah tangga, tidak ada halangan yang berarti. Mereka tertawa dan tetap menjadi keluarga yang bahagia. Setidaknya itu yang terlihat di permukaan. Kenyataannya tidak ada yang tahu.


Sementara itu, Vidrian juga menghabiskan akhir pekannya bersama Savana dengan pergi mengunjungi ibunya di pedesaan.


Karena keadaan ibunya tidak terlalu baik, wanita tua itu terpaksa tinggal di pedesaan dengan harapan keadaannya segera membaik. Namun sudah beberapa tahun berlalu, kenyataannya keadaannya masih sama.


Banyak dokter sudah di datangkan, banyak tenaga medis sudah memeriksa kondisinya, namun tetap saja tidak ada perbedaan.

__ADS_1


Vidrian gusar tiap kali memikirkannya.


Karena tidak bisa melakukan apapun, pada akhirnya ia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena gagal mencari dokter yang bisa menyembuhkannya.


Sungguh ironi.


Berkendara meninggalkan kota, Vidrian mengemudi dengan Savana duduk di sampingnya.


Hanya berdua, tidak ada yang lain. Kedua adiknya sibuk, jika bukan mereka yang membutuhkan sesuatu, mereka tidak akan menampakkan diri. Jadi, Vidrian sudah terbiasa pergi kemana pun hanya dengan putri kecilnya.


Sedangkan Savana, ia sangat antusias setiap kali mengunjungi neneknya. Apalagi nenek tinggal di desa. Ia bisa melihat domba yang digembalakan di padang rumput, burung-burung yang berterbangan di langit, hewan ternak, serta para petani yang pergi ke ladang dan memanen hasil pertanian.


Perlahan mobil memasuki area vila dan berhenti di halaman vila yang ibunya huni. Vidrian turun dari mobil lalu membuka pintu untuk Savana dan membantunya turun.


"Kita sudah sampai Savana," ucap Vidrian.


"Mm." Savana mengangguk.


"Kau masuk dan sapa nenekmu. Daddy akan mengurus barang-barangmu. Mengerti?"


"Bagus." Vidrian mengusap puncak kepala Savana. "Gadis baik."


Sementara Vidrian menurunkan koper milik Savana, Savana berlari memasuki rumah. "Nenek, aku datang," teriaknya. Segera pertemuan keluarga itu tidak hanya menjadi pertemuan yang mengharukan namun juga membahagiakan.


***


Dalam sekejap akhir pekan telah usai.


Ruby dan kedua putranya kembali ke kota dan tiba di kediaman pada malam hari. Sudah sangat lelah bagi mereka untuk melakukan apapun. Jadi mereka masuk ke kamar tidur dan beristirahat.


Hal yang sama juga berlaku bagi Vidrian.


Ia kelelahan dan hanya bisa menyeret tubuhnya untuk membawa Savana ke kamar tidurnya dan membaringkannya di ranjang. Setelah menutupi tubuh kecilnya menggunakan selimut, ia segera mematikan lampu dan bergegas pergi.


Pagi harinya, matahari bersinar cerah.

__ADS_1


Tubuh yang lelah karena aktifitas kemarin di akhir pekan, sirna setelah mengistirahatkan tubuh pada malam hari.


Karena hari ini tidak ada pertemuan penting yang mengharuskannya datang, Ruby tetap di rumah. Ia bahkan melewatkan sarapan karena masih terlelap dalam tidurnya.


Lily datang ke kediaman pada sore hari untuk menyerahkan dokumen yang Ruby minta. Penyelidikan tentang Vidrian dan perusahannya. Tidak sulit mengumpulkan semua itu. Mereka memiliki banyak orang cakap yang bekerja di bawah mereka. Hanya beberapa informasi, tidak sulit mendapatkannya.


Ruby sedang membuat cookies di dapur ketika Lily datang. Melihat dokumen di tangannya, Ruby langsung tahu dokumen apa itu.


"Nyonya, saya sudah mendapatkan apa yang Anda minta," ujar Lily ketika melihat Ruby sedang sibuk memecahkan beberapa butir telur. Tangan yang begitu berharga, sungguh di sayangkan menyentuh hal-hal seperti itu. Bagaimana jika dia terluka? Hatinya benar-benar sakit saat melihatnya.


"Letakan di atas meja. Aku akan memeriksanya nanti," jawab Ruby.


"Kalau begitu saya permisi." Lily hendak melangkah pergi ketika suara Ruby terdengar lagi.


"Tunggu!"


"Ya, Nyonya."


"Minta pertemuan dengan Rikas Adelard," ucap Ruby dengan nada serius. Sedangkan untuk SVN, ia menyingkirkannya ke samping. Lagipula, perusahaan Adelard jauh lebih bisa di andalkan dari SVN. Adelard adalah perusahaan yang sudah lama beroperasi. Di banding Adelard, SVN masih terhitung baru.


Lupakan tentang keuntungan.


Bekerja sama dengan Adelard jauh lebih menjanjikan.


Di samping itu, siapa yang mau berurusan dengan bajingan seperti Vidrian? Kalaupun berurusan, ia akan meletakannya di urutan paling bawah dan meminta Grissham untuk mengambil alih.


Kenyataannya dendam benar-benar sudah mendarah daging.


Apalagi ketika pria itu terlalu memaksakan diri pada pertemuan pertama mereka.


Sejujurnya ia tidak hanya ingin menenggelamkan wajah soknya ke laut, tetapi ia juga ingin menyaksikan dengan tenang saat tubuhnya di cabik hiu. Betapa menyenangkannya jika dapat menyaksikan pemandangan seperti itu.


Sebelum Lily bisa menjawab, Ruby kembali berkata, "Dan, aku ingin makan malam di luar dengan kedua putraku. Bisakah kau memesan tempat?"


"Tentu," jawab Lily. "Seperti yang Anda inginkan." Ia membungkukkan badan kemudian melangkah pergi. Meninggalkan Ruby yang masih sibuk dengan bahan-bahan kuenya di dapur.

__ADS_1


__ADS_2