
Vidrian adalah orang yang rasional.
Bagaimanapun, bersikap rasional dan tenang adalah yang paling penting. Dalam keadaan apapun, ia lebih rasional dan kejam daripada orang lain. Namun baru-baru ini tembok itu sepertinya sudah mulai retak.
Itu bukan pertanda baik.
Suatu kali, karena kepengecutan dan ketidaktahuannya tentang hubungan, ia kehilangan banyak hal.
Rasa sakit karena penyesalan itu masih terukir di hatinya.
Sekarang, Ruby muncul lagi di depannya. Tidak peduli apa, ia harus berjuang untuk itu.
Benar. Ia sedang merayunya karena obsesi tidak bisa mendapatkannya. Ya, jika itu obsesi, ia pasti tidak akan menyerah. Tidak akan pernah.
"Ruby, apa yang Xavier ketahui?" Vidrian mengulangi pertanyaannya lagi dengan tidak sabar. Ia menggoncang ringan bahunya dan tidak berani melepaskan pandangan darinya, takut Ruby akan pergi jika ia menoleh sedikit saja.
Ruby berkedip. Perkataan Vidrian kembali membangkitkan rasa emosional di hatinya yang semula hampir mereda. Ia berkata, "Kau tahu, Xavier mengetahuinya. Dan mereka bertemu. Xavier dan Sean bertemu dengannya, dengan anak itu. Dia seorang perempuan, putriku. Anak yang aku lahirkan dengan mempertaruhkan seluruh hidupku." Meski bicaranya agar tumpang tindih dan tidak jelas, namun air mata benar-benar mengalir dari kedua matanya.
Mengingat penderitaan yang terjadi pada saat itu, ia tidak tahu apakah menangis karena rasa sakit atau penyesalan.
Namun, apapun itu, Ruby tidak lagi bisa menahannya hingga air mata berbondong-bondong jatuh tanpa diminta. Tetapi, hanya di depan Osvaldo, hanya di depan pria itu ia berani melakukan ini. Hanya di depannya ia berani menunjukkan sisi lemahnya.
Mendengar pengakuan kecil Ruby, Vidrian hanya bisa memeluk Ruby erat tanpa bisa mengatakan sepatah kata pun. Rasa lega tiba-tiba memenuhi hatinya, seperti sungai yang sudah lama kering tiba-tiba datang aliran air.
Benar. Putri yang Ruby bicarakan, pasti Savana. Pasti. Jika bukan, siapa lagi? Semua petunjuk sudah mengarah padanya. Sangat bodoh jika ia tidak menyadarinya.
Putri mereka.
Anak yang Ruby lahirkan dengan mempertaruhkan seluruh hidupnya.
Tidak salah lagi. Memang benar, anak itu adalah Savana.
Ia yakin, sangat yakin.
Dan seharusnya ia senang, seharusnya ia bahagia.
Ya, ia memang sangat senang, ia memang sangat bahagia. Kebahagiaan yang tidak dapat di ukur dengan apapun setelah mengetahui kebenaran yang sangat ingin ia ketahui. Namun anehnya, saat melihat Ruby seperti ini, pada akhirnya ia tidak bisa tersenyum walau hanya sedikit.
__ADS_1
Kebahagiaan ini, akan ia simpan untuk saat ini.
Tidak terlambat untuk merayakannya nanti.
Setidaknya, setelah Ruby sedikit lebih tenang.
Sementara Vidrian diliputi kebahagiaan, kesedihan benar-benar di rasakan oleh Ruby.
Dalam kesedihannya, Ruby kembali berkata, "Mengapa? Mengapa kami harus bertemu, Osvaldo? Jika aku tidak pernah melihatnya sejak aku meninggalkan sisinya, mungkin aku tidak akan pernah merasakan apapun. Atau bahkan aku akan menyembunyikan kenyataan ini dari Xavier. Tetapi begitu semua itu dilanggar, itu ditakdirkan menjadi seperti itu." Ruby menjeda sebentar kalimatnya sebelum kembali melanjutkan. "Melihat wajah yang sama persis dengan wajah pria itu, aku tidak bisa menerimanya dengan tenang. Ya, aku tidak bisa mengubah fakta bahwa pria itu adalah ayahnya. Jadi, aku berusaha untuk menerimanya. Bahkan dari sudut pandang lain, aku berterima kasih padanya karena telah mengajarinya dengan sangat baik dan karena telah memberikan lingkungan terbaik untuk tumbuh. Namun, tetap saja, aku tidak bisa kembali ke masa lalu, aku tidak mungkin menjadi ibunya." Ruby kembali menangis. Kali ini air matanya semakin deras mengalir.
Ia tidak tahu. Sungguh.
Ia hanya ingin mengatakan semua yang ingin ia katakan selagi Osvaldo berada di sisinya. Siapa tahu, mimpi indah bertemu dengannya akan berakhir begitu ia bangun?
Ia takut kehilangannya. Sangat takut.
Kehilangannya sekali membuatnya lebih dari hancur. Jika ia sampai kehilangannya lagi walau hanya dalam mimpi, ia pasti akan menangis selama dua puluh empat jam penuh.
Begitulah rasa cinta yang ia miliki untuk pria itu.
Sangat dalam, benar-benar dalam.
Ia bukan orang dengan imajinasi liar, dan ia biasanya bertindak berdasarkan logika daripada firasat. Tanpa bukti yang pasti, ia tidak akan seenaknya berspekulasi. Tetapi ketika masalah itu melibatkan Savana, sulit baginya untuk bersikap rasional dan tenang. Lagi pula, jika tebakannya benar, itu berarti Ruby masih mencintai Savana.
Sesuatu yang pasti akan membuat Savana bahagia.
Terlepas dari apakah Ruby bahagia atau tidak bertemu Savana, ia tidak peduli. Ia hanya ingin keluarganya kembali utuh. Bila perlu, ia akan menebus semua kesalahannya di masa lalu dengan mengabdikan diri sepenuhnya kepada Ruby.
"Savana," jawab Ruby. "Seharusnya itu namanya. Kau tahu, aku meninggalkannya begitu melahirkannya. Aku tidak tahu, dan tidak mau tahu. Namun kami bertemu dan pria itu menyebutkannya berkali-kali, " Ruby menjeda sebentar kalimatnya, sekedar mengambil nafas, sebelum kembali berkata, "Osvaldo, katakan, apa yang harus ku lakukan? Xavier bersikeras kembali ke Amerika dengan mengajak Sean serta, karena Savana. Juga, Vidrian brengsek itu, haruskah aku menghabisinya?"
Belum sempat Ruby menyelesaikan perkataannya, Vidrian lebih dulu membungkamnya dengan mulutnya.
Bau familiarnya memenuhi hidung Ruby dan Ruby merasa seperti akan segera mati lemas.
Sebuah tangan besar melingkari pinggangnya dengan erat. Tangannya juga diikat, seolah-olah dia takut ia akan melarikan diri.
Ruby menatap pria di depannya, membiarkan dia menciumnya.
__ADS_1
Setiap gadis muda ingin dicium oleh seseorang yang mereka sukai. Itu adalah perasaan manis yang membuat gadis-gadis itu merasa seperti mereka adalah putri dalam dongeng.
Ketika Osvaldo masih hidup, Osvaldo menciumnya hampir setiap hari, atau kapan pun ia mau. Pria itu membuatnya merasa bahwa ia sangat berarti dan di butuhkan.
Perasaan itu sangat luar biasa karena ia tidak pernah merasakan perasaan itu ketika pernikahannya dengan Vidrian.
Beda orang, benar-benar berbeda cerita.
Ruby menyukai Vidrian pada saat itu. Kadang-kadang, ia akan bermimpi Vidrian menciumnya. Setiap kali, ia akan bangun dengan senyum.
Tetapi ketika ia akhirnya menikah dengannya dan menjadi orang yang paling dekat dengannya, dia mengatakan kepadanya dengan dingin bahwa dongeng itu tidak nyata dan mimpi indah hanyalah mimpi.
Perkataannya sangat kejam.
Benar-benar kejam hingga membuatnya sakit.
Pernikahan bahagia yang seharusnya ada, tidak pernah ada.
Ruby merasakan aneh di tubuhnya dan ia menggeliat.
Vidrian menangkap gerakannya dan tidak ragu saat ia menekan bibirnya dengan lebih keras, dan tanpa ragu, ciuman itu menjadi semakin berapi-api dan penuh kegilaan.
Ruby membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi ditekan oleh Vidrian di bawahnya dan lidahnya yang terbakar terjerat dengan lidahnya.
Segalanya tampak tersedot keluar dari pikirannya, meninggalkan kehampaan kosong.
Dengan napasnya yang menyusup, itu menghancurkan tekadnya.
Rasa manis tertinggal di antara bibirnya. Dan Ruby bisa merasakan tubuhnya melemah, melunak menjadi genangan air.
Ken yang semula tidak terlalu memperhatikan, ketika menoleh dan melihat Vidrian begitu agresif mencium Ruby, ia memberikan isyarat agar segera membawa Ruby ke kamar tidur di lantai atas.
Vidrian tidak mengabaikan isyarat itu.
Ia melepaskan ciumannya lalu mengangkat Ruby dan menggendongku ke kamar tidur yang sudah Ken siapkan. Sungguh bodoh membuang-buang waktu. Lagipula, daripada menghabisinya, bukankah lebih baik menidurinya? Tidak pernah kah Ruby memikirkan hal itu?
Dalam perjalanan menuju lantai atas, Vidrian berbisik di telinga Ruby, "Kau bisa berpikir untuk menghabisiku, namun kita akan melihat, apakah kau memiliki kemampuan atau tidak."
__ADS_1
Ruby yang mabuk hanya berkedip, tidak mengerti maksud perkataan Vidrian. Jangankan memikirkan apa yang dia katakan, memikirkan siapa ia pun ia tidak bisa.
Andai ia tahu apa yang Vidrian lakukan, ia pasti akan membunuhnya dan mengirimnya langsung ke neraka.