Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 19 ~ Bajingan Tetaplah Bajingan


__ADS_3

Vidrian tersenyum samar.


Seperti yang ia duga, Ruby memang wanita yang unik.


Wanita itu tidak akan membiarkan dirinya berhutang kepada orang lain untuk mencegah dirinya dimanfaatkan. Benar-benar layak menjadi pemimpin Diedrich Group.


Namun Vidrian benci wanita seperti itu.


Wanita mandiri yang kuat, hebat dan berkuasa, tidak membutuhkan seorang pria dalam hidupnya. Dia terlampau kuat sampai tidak membutuhkan orang lain lagi.


Dalam konteks ini, Vidrian merasa membuat Ruby berhutang budi padanya, sangat mustahil. Padahal dengan itu, ia memiliki banyak peluang untuk mendekati Ruby di kemudian hari. Bukan untuk memanfaatkan, hanya mengambil sedikit keuntungan. Sayangnya Ruby tidak memberinya akses untuk melakukannya.


"Jika memang demikian, mari kita makan malam bersama. Dengan itu, Anda tidak memiliki hutang kepada saya lagi," ucap Vidrian pada akhirnya. Setelah beberapa pertimbangan, hal yang paling sederhana menjadi pilihannya. Hanya makan malam, tidak mungkin Ruby menolaknya.


Namun ternyata dugaannya salah.


"Ah, sayang sekali. Saya sudah kehilangan selera makan saya. Mungkin, lain kali." Ruby menolaknya secara halus. Meminta uang, membayar kompensasi, tidak masalah. Namun untuk makan bersamanya, dalam mimpinya.


Rahang Vidrian jatuh seketika.


Vidrian mengerang di dalam hati. Ada antrean panjang wanita yang berharap mengundang ia untuk makan malam. Tetapi seperti sudah ditakdirkan, ia tertarik pada seseorang yang bukan bagian dari antrean itu.


"Kita tidak perlu makan malam kalau begitu, saya hanya akan duduk di sini sebentar." Dengan begitu, Vidrian mendudukan diri di kursi kosong yang letaknya tepat di samping Ruby. Ia sudah membuang harga dirinya pada tahap ini, jika Ruby masih bersikeras mengusirnya, ia tidak memiliki komentar lagi. Ia benar-benar akan membungkamnya dengan caranya sendiri.

__ADS_1


Ruby mengambil gelasnya kemudian menyesap sedikit anggurnya. "Karena Anda sudah terlanjur duduk, tidak ada lagi yang bisa saya lakukan." Ruby meletakan gelasnya kembali dengan elegan.


Vidrian tertawa kecil. Tidak sia-sia menjadi sedikit tidak tahu malu, batinnya. "Pada akhirnya Anda hanya perlu membayar saya dengan hal kecil ini. Bukankah itu yang Anda inginkan? Hal kecil yang tidak merepotkan?" ujarnya.


"Sepertinya Anda salah memahami sesuatu," ujar Ruby. "Saya tidak membenci hal-hal yang merepotkan, saya membenci orang-orang yang merepotkan."


"Baguslah. Untungnya, saya bukan orang yang merepotkan."


Bibir Ruby berkedut. Apakah pria ini bisa menjadi lebih tidak tahu malu lagi? Ia sudah melihat banyak orang tidak tahu malu sepanjang hidupnya, tapi Vidrian berada pada level dimana sudah tidak bisa diobati.


Melihat daging di piring Ruby hanya berkurang sedikit, Vidrian angkat bicara, "Kenapa Anda tidak melanjutkan makan? Saya hanya duduk, tidak akan menganggu."


Ruby menghela nafas panjang. "Saya tidak bisa memperbaiki selera makan yang sudah rusak." Sama dengan 'itu salahmu, dasar bedebah!'


"Apakah itu karena saya?" tanya Vidrian. Ia cukup sadar diri Ruby sedang menyindirnya. Tetapi karena sudah seperti ini, ia akan menjadi lebih tidak tahu malu lagi. Belum sempat Ruby menanggapi, ia kembali melanjutkan. "Tetapi itu tidak mungkin, kan? Saya pria yang beradab dan bermartabat. Apakah perlu saya menyuapi Anda?"


"Anda diam? Apakah Anda setuju saya menyuapi Anda?" Vidrian kembali buka suara, mendesak Ruby agar menjawab. Meski sudah tahu apa jawabannya, entah itu tamparan atau siraman air, namun hanya karena resiko itu, ia tidak akan mundur.


Ruby mengambil garpunya kemudian menekannya perlahan pada tangan Vidrian. Itu tidak keras, namun cukup menyakitkan. "Apakah saya sudah pernah mengatakan jika Anda bajingan?" bisiknya. Selain melakukan tindakannya di bawah meja, ia juga merendahkan suaranya. Ia tidak ingin Xavier dan Sean mengetahui apa yang ia lakukan dan mendengar apa yang ia katakan.


Vidrian termenung sesaat saat rasa sakit perlahan berkumpul di tangannya. Resiko seperti ini, tidak terpikir di benaknya. Ia mengira paling parah ia akan ditampar atau disiram air, namun dari dua kemungkinan itu, tidak ada satu pun yang terjadi. Yang ada justru ia mendapat tusukan dari garpu yang semula Ruby gunakan untuk menusuk daging di piringnya.


Wanita itu, sangat kejam.

__ADS_1


Benar-benar kejam.


Bahkan di depan anak-anak, meski mereka jelas tidak melihatnya, namun sebenarnya Ruby berani melakukannya.


Tetapi anehnya, Vidrian tidak berteriak, ekspresi wajahnya bahkan masih sama. Itu pula yang membuatnya berpikir jika ia sudah gila. Dilukai sampai separah ini namun tidak melawan? Lebih dari itu, ia justru sedikit menikmatinya.


Mungkin ia memang sudah gila. Tidak. Ia benar-benar gila. Tetapi, hal apa lagi yang bisa membuat ia berinteraksi sedikit lebih lama dengan Ruby? Jika dengan hal ini Ruby bersedia berbicara dengannya, ia bersedia dengan suka rela menyerahkan dirinya untuk di sakiti.


Beberapa saat kemudian Vidrian menimpali, "Saya memang bajingan. Tapi saya bukan bajingan gila. Saya bajingan yang serius."


Melihat bagaimana ekspresi Vidrian tidak berubah setelah apa yang ia lakukan, Ruby menarik garpunya kemudian menyingkirkannya. "Anda memang bajingan gila, tahu!" Ia melirik tangan Vidrian, dan bekas luka yang ia timbulkan mungkin cukup menyakitkan. Anehnya, apakah Vidrian selalu seperti ini jika dilukai wanita cantik? Tidak melawan? Dan selalu menahannya?


Sial.


Ruby lupa jika bajingan tetaplah bajingan.


Mau berapa lama pun waktu berlalu, mau berapa banyak pun peradaban berubah, karakter bawaan yang sudah melekat di pembuluh darah, tidak mungkin menghilang semudah menghapus noda di pakaian. Bahkan setelah delapan tahun berlalu, Vidrian tetap tidak berubah. Dia masih dan selalu menjadi pria tidak benar.


"Ya sudah kalau Anda mau menganggap saya seperti itu. Sekarang tidak penting apakah saya bajingan gila atau bajingan serius, saya hanya ingin bertanya, Anda sudah tahu jika Savana adalah putri saya, bagaimana pendapat Anda tentang dia? Bukankah dia gadis yang manis dan pemberani? Dia bersikeras membantu putra Anda yang sedang kesulitan," ucap Vidrian sambil menggerakkan tangannya yang mati rasa.


Ada titik-titik darah yang tersisa dari tusukan yang Ruby lakukan, dan kekuatan yang Ruby gunakan mungkin setara dengan daya gigit maksimum manusia, sekitar 170 psi. Cukup keras dan, ya.. itu menyakitkan. Namun, apakah ia harus mengeluh?


Kenapa ia harus?

__ADS_1


Ruby akan berpikir ia lemah jika begitu saja menggerutu.


Padahal jika itu orang lain, ia akan menyingkirkannya tanpa ampun. Namun lagi-lagi, berbeda cerita jika pelakunya adalah Ruby. Sebanyak apapun hal gila yang Ruby lakukan, sebanyak itu pula ia akan memberikan toleransi.


__ADS_2