
Bak di siram air dingin, tubuh Ruby membeku ketika mendengar apa yang Xavier katakan. Ia menatap Xavier dan berusaha mencari tahu apa yang baru saja ia dengar.
Mungkinkah Xavier salah bicara?
Tidak. Itu tidak mungkin.
Lalu, mungkinkah ia salah dengar?
Itu juga tidak mungkin.
Jarak duduknya dengan Xavier tidak memungkinkan untuk dua kemungkinan itu. Setidaknya, perkataan Xavier sangat jelas dan telinganya juga masih berfungsi dengan baik. Jadi, apa yang Xavier katakan dan apa yang ia dengar jelas tidak salah.
Lalu, apa yang terjadi?
Kenapa Xavier tiba-tiba berkata seperti itu?
Kembali ke Amerika terlebih dahulu? Merindukan Osvaldo? Bisakah hal itu benar-benar terjadi? Tidak. Sebenarnya hal itu sangat mungkin terjadi. Jangankan Xavier, ia bahkan merindukan Osvaldo setiap saat, setiap waktu. Hanya saja, menebar bunga di saat situasi seperti ini, benar-benar tidak masuk akal dan terdengar seperti alasan.
Lebih tepatnya, alasan untuk meninggalkannya.
Ruby memijit pelipisnya. Tiba-tiba ia sakit kepala. Membayangkan Xavier akan membawa serta Sean untuk meninggalkannya, ia yakin hanya perlu menunggu waktu sampai ia hancur berantakan.
Tahu apa yang Ruby pikirkan, Xavier kembali berkata, "Aku benar-benar merindukan Daddy. Tidak ada alasan untuk menunda mengunjunginya. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan tentang hal itu."
Ruby bahkan tidak tahu apa yang Xavier katakan.
Telinganya berdengung.
Merindukan Osvaldo, ia pikir semua tidak sesederhana merindukan Osvaldo. Lebih dari itu, Xavier ingin memberinya pelajaran atas kebohongan yang selama ini ia lakukan. Apakah karena berbohong atau karena ia memiliki putri, tidak perlu di tanya. Jawabannya sejelas hari.
Hanya saja, Ruby tidak berharap Xavier benar-benar berniat mengajak Sean untuk meninggalkannya. Setega itu?
__ADS_1
Dalam hal ini, ia jelas menjadi orang tua yang ditinggalkan.
Betapa menyedihkannya.
Di saat pikirannya sendiri kacau balau, di tambah permintaan konyol Xavier untuk pergi, ia seperti sudah jatuh tertimpa tangga.
Ia tenggelam, namun tidak ada yang menariknya keluar.
Jika Osvaldo masih ada, mungkinkah dia mengulurkan tangan kepadanya? Mungkinkah dia menariknya dan memeluknya? Mungkinkah dia mengusap punggungnya dan berkata, 'selama ada aku, semua akan baik-baik saja'?
Ruby memejamkan mata dan rasa takut perlahan merayap di setiap inci tubuhnya. Ia merasa sendirian tanpa siapapun yang peduli. Keluarga yang seharusnya berdiri di sisinya, satu persatu pergi. Jadi ia merasa tidak perlu mempertimbangkan apapun. Ia akan menolak permintaan Xavier dengan tegas. Ia tidak akan membiarkan kedua putranya pergi dari sisinya.
"Mom," panggil Xavier.
Ruby tersentak. "Ya?"
"Berhenti," kata Xavier lagi.
"Apapun yang kau pikirkan sekarang, hentikan," kata Xavier tegas. Lebih dari siapapun, ia tahu apa isi pikiran Ruby sekarang. Melarangnya pergi tentu saja. Namun sebanyak apapun Ruby melarang, ia tetap akan pergi, membawa Sean serta.
Ruby terdiam. Betapa hebatnya Xavier dapat membaca pikirannya. Bahkan dalam pikirannya sendiri, ia masih tidak dapat bersembunyi darinya.
Ruby tahu Xavier sangat cerdas, dan betapa mengerikan jika Xavier tumbuh sedikit lebih besar. Terkadang ia bahkan berpikir, betapa menyenangkannya jika Xavier bisa bertingkah seperti anak seusianya, yang tidak secerdas ini, yang setidaknya dapat ia bodohi untuk sementara.
"Mom, jangan pernah berpikir untuk menolak permintaanku," ucap Xavier lagi. Karena semua sudah seperti ini, maka biarlah. Yang seharusnya terjadi maka terjadilah.
Sebagai hasil terburuk, maka biarkan yang terburuk benar-benar terjadi. Lagipula, tidak ada yang bisa mencegahnya. Masalahnya sudah serumit ini, jadi tidak ada jalan untuk kembali.
Ruby pun seharusnya tahu ini bukan situasi yang tepat untuk mempertahankannya dan Sean untuk tinggal di sisinya. Bagaimanapun, dia memiliki putri yang sudah delapan tahun dia tinggalkan. Bukan hal yang mudah baginya dan Sean untuk menerima kenyataan ini. Untungnya, Sean belum tahu, dan ia tidak berencana untuk memberitahunya.
Selain itu, masing-masing dari mereka membutuhkan ruang untuk berpikir. Ia, Ruby, mantan suaminya, dan putrinya, semua orang membutuhkan ruang untuk memikirkan segalanya, untuk mencari tahu langkah apa yang harus di ambil selanjutnya.
__ADS_1
Jadi, dengan kembali ke Amerika dan membiarkan Ruby tinggal sendiri di sini, merupakan pilihan terbaik.
Ruby memejamkan mata lalu membukanya lagi dengan berat. Ia menatap Xavier dengan ekspresi rumit. "Xavier, sudah kah kau membicarakan ini dengan Sean? Kau tidak mungkin pergi dan membawanya serta jika Sean tidak setuju." Ini adalah satu-satunya dan kartu terakhir yang ia miliki. Ia melirik Sean yang sedang sibuk dengan game di ponselnya dan berharap Sean dapat sejalan dengan pikirannya.
Jika Sean tidak bersedia pergi, Ruby yakin Xavier akan bersedia tinggal seberapa enggan pun dia. Jadi, harapan terakhirnya hanya anak itu.
Semoga saja, semoga saja Sean berada di pihaknya.
Namun harapan hanya tinggal harapan.
Perkataan Xavier selanjutnya di tambah jawaban Sean, membuat pertahanan diri Ruby runtuh seketika.
"Dia setuju," jawab Xavier. "Aku sudah membicarakan ini dengannya. Benar, kan, Sean?" tanya Xavier kepada Sean.
Sean yang namanya di panggil, segera mengangguk. "Mm. Aku juga merindukan Daddy. Aku ingin pergi mengunjunginya dengan Kakak. Bukan ide yang bagus untuk pergi denganmu karena kau sibuk. Pergi berdua, sebenarnya bukan ide yang buruk," jawab Sean tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari ponselnya.
Sedari tadi Sean sibuk sendiri, jadi ia tidak tahu apa yang Ruby dan Xavier katakan. Kalau pun tahu, ia juga tidak peduli. Urusan orang tua benar-benar rumit dan tidak baik baginya untuk ikut campur.
Ketika makanan di sajikan, Ruby sudah kehilangan nafsu makannya. Perkataan kedua putranya layaknya belati yang mengiris pergelangan tangannya, menimbulkan rasa nyeri yang tak tertahankan.
Sekarang ia mengerti apa artinya tabur tuai.
Meskipun ia tidak sengaja menabur, pada akhirnya ini yang harus ia tuai. Akibat dari apa yang terjadi di masa mudanya yang menyedihkan.
Jika ada orang yang harus di salahkan, maka orang itu adalah dirinya sendiri. Jika ia lebih pandai menahan diri dan tidak tergoda akan godaan, ia tidak perlu mengandung Savana dan berakhir menyedihkan dengan menikahi Vidrian.
Namun beras yang sudah menjadi nasi tidak mungkin berubah menjadi beras kembali.
Inilah akibatnya dan mau tidak mau, suka tidak suka, bersedia atau tidak, ia harus menanggungnya.
Karena Savana sudah muncul di depannya bersama Vidrian, tidak ada cara untuk menghindar. Tetapi, tetap saja ia tidak ingin kedua putranya pergi dari sisinya. Jadi, bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan?
__ADS_1