Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 41 ~ Mendorong Miliknya Ke Dalam Ruby


__ADS_3

Meski mereka masih di perjalanan, gerakan sensual tidak berhenti.


Itu dingin dan magnetis saat menari di udara, merampas akal sehat.


Ruby melingkarkan tungkainya ke tubuh Vidrian dan membiarkan Vidrian menciumnya sepanjang perjalanan.


Ciuman itu manis, namun intens dan menggairahkan.


"Bukankah itu manis?" bisik Vidrian di sela-sela ciumannya. Ia menatap Ruby dan wajahnya yang memerah membuatnya begitu menginginkan.


Entah sejak kapan ia tidak melakukannya.


Mungkin karena terlalu sibuk bekerja dan mengurus Savana hingga ia tidak lagi memikirkan wanita atau tidur dengan wanita. Meski ada beberapa yang bersikeras memaksakan diri kepadanya, mengingat ia memiliki seorang putri, pada akhirnya ia tidak menerima pemaksaan itu.


Bukan sesuatu yang mudah.


Bagi orang lain mungkin iya, namun baginya tidak.


Bahkan jika ia tidak tidur dengan wanita, ia bisa melakukannya sendiri. Dengan menjadikan Ruby sebagai objek fantasi *****alnya, bukan hal yang sulit untuk melakukannya sendiri.


Sungguh memalukan.


Namun daripada tidur dengan sembarang wanita, bukankah lebih baik menyelesaikannya sendiri? Bukan hal yang memalukan jika mengingat betapa banyak kerugian yang mungkin terjadi jika tidur dengan banyak wanita tanpa pengaman.


Ruby tidak menjawab.


Ia terlalu mabuk untuk mengerti.


Namun ia masih cukup tahu untuk membalas ciuman Vidrian atas dorongan hati, atas keinginan tubuhnya.


Setelah mencapai kamar tidur yang Ken maksud, Vidrian segera membuka pintunya. Setelah itu ia meletakan Ruby di tempat tidur dengan hati-hati sambil terus menciumnya.


Jantung Ruby berdebar amat sangat kencang. Darahnya mendesis di bawah tekanan pembuluh darah. Sebelum ia berhasil membetulkan posisi tubuhnya, lidah Vidrian kembali mencapai lidahnya sehingga bibir dan lidahnya penuh dengan aroma pria itu.


Ruby mendesah dalam ciuman dan tidak menduga ciuman bisa menjadi begitu menyenangkan. Namun hanya sebentar karena Vidrian segera menarik diri. Ia menyapukan ibu jarinya di bibir Ruby dan berkata, "Kau tidak berubah, Ruby. Kau masih sangat cantik."


Ruby tidak menjawab. Ia hanya menatap pria di atasnya dengan pandangan buram. Tidak terlalu tahu siapa dia, namun ia pikir itu Osvaldo.


Merasakan tatapan aneh Ruby, Vidrian kembali berkata, "Kau tidak ingin melakukannya denganku? Tidak mungkin. Tubuhmu jelas menginginkannya."

__ADS_1


Tubuh Ruby menegang. Seringai pria itu tiba-tiba membuatnya merinding. Ia tidak tahu apa yang salah, namun sebelum ia dapat memikirkan sesuatu, Vidrian lebih dulu menekannya di atas ranjang.


Wajahnya yang sebelumnya dingin kini di penuhi kelembutan. Menikmati kecantikan Ruby dengan penuh kerinduan, ia bergumam, "Aku merindukanmu, Ruby. Sangat merindukanmu sampai nyaris gila." Ia terengah seolah mengatakan itu menguras semua energinya. "Tapi aku menyadari kau tidak ingin bertemu denganku." Seolah menyesal dengan semua yang terjadi selama pernikahan mereka yang berantakan, ia berjanji akan menebus semuanya di masa depan.


"Kau mencintaiku?" tanya Ruby ketika merasakan emosi pria di atasnya. Ia tidak tahu mengapa menanyakan ini ketika semuanya begitu jelas.


Osvaldo jelas mencintainya.


Sangat mencintainya.


Sama besar dengan rasa cintanya untuknya.


Vidrian terdiam sesaat sebelum menjawab, "Ya, dan selalu seperti itu," jawabnya. "Kau pikir tidak?" Ia membelai helaian rambut Ruby dan merapikannya di bawah telinganya.


Ruby terdiam.


Apa pernyataan cinta paling menyentuh di dunia? Itu akan terjadi ketika keduanya berdiri pada posisi yang sama, menggunakan kata-kata paling sederhana untuk mengungkapkan rasa yang menghangatkan. Dan tampaknya, Ruby merasakan itu sekarang.


Pengakuan pria ini cukup manis, dan ia sangat tersentuh.


Tidak mendapat tanggapan dari Ruby, Vidrian mengangkat tubuh Ruby dan memposisikannya pada posisi yang nyaman sebelum membelai bibirnya dan menatapnya tanpa kedip.


Sekarang, sulit untuk mengasosiasikan penampilannya yang serius dengan pria gila yang bersemangat di depannya.


Jadi biasanya ada dua individu yang hidup dalam tubuh pria yang sama. Yang satu serius dan serius, yang lain jahat dan vulgar. Apakah pria ini yang mengatur sisi lain dari dirinya dan sengaja membebaskannya?


Ruby tidak punya waktu untuk memikirkannya.


Ciuman Vidrian panas dan memabukkan.


Ruby merasakan tekanan yang keras dan merasakan tubuhnya terdesak di atas ranjang. Namun ia sangat menyukai dan menikmatinya. Dada keras Vidrian menempel di dadanya. Ia tahu tidak ada tempat lain untuk pergi, tidak ada tempat untuk melarikan diri, bahkan jika ia memiliki setengah niatan untuk melakukan itu, ia tidak akan berlari kemanapun, tidak ketika Vidrian membuatnya merasa seperti ini, terlempar dan tenggelam dalam lautan sensasi.


Vidrian menekannya begitu dekat hingga Ruby bisa merasakan tubuh bergairah Vidrian sementara lidah pria itu mencurahkan keajaiban di mulutnya.


Ini sungguh menyenangkan dan memukau.


Ruby merintih di bawah kendali Vidrian dan Vidrian menangkap dadanya yang penuh, kemudian ia membenamkan kepalanya dalam gairah tanpa di halangi apapun.


"Kau berkeringat dan lengket," ujar Vidrian. "Aku harus melepaskan baju ini dari tubuhmu." Vidrian ingin merobek baju itu sekarang, ia sangat ingin menemukan sosok luar biasa yang ia duga mengintai di balik pakaian itu sepanjang waktu. Namun ini bukan waktu yang tepat untuk melakukannya.

__ADS_1


Dengan sabar Vidrian melucuti satu persatu pakaian Ruby, kemudian berseru. "Astaga, Ruby, kau luar biasa." Ia tahu lebih dari siapapun bagaimana tubuh Ruby, sebaik apa, sebesar apa, kurang lebih ia mengingatnya dengan baik. Namun setelah delapan tahun lebih tidak melihatnya, ia merasa wanita ini menjadi jauh lebih menarik.


"Apa kau menyukainya?" tanya Ruby.


Vidrian melirik ke arahnya dengan ekspresi penuh cinta. "Aku menyukainya. Sangat." Ia membawa Ruby ke posisi yang lebih nyaman sebelum dengan lembut melakukan pemanasan.


Setelah cukup lama waktu berlalu, dan merasa milik Ruby sudah siap untuk di masuki, Vidrian melucuti pakaiannya sendiri dan dengan hati-hati mencoba mendorong miliknya ke dalam Ruby saat ia menciumnya secara bersamaan.


"Oh!" Ruby tersentak dan langsung mengerutkan kening. Ukuran tubuh Vidrian bukanlah sesuatu yang bisa ia terima dengan mudah. Ini bukan pertama kalinya dia melakukannya, tapi itu masih sedikit mengejutkan. Namun karena menginginkannya, ia menyambut pria itu dengan senang hati.


Vidrian berhenti, memeluk Ruby tanpa bergerak lalu menciumnya ringan di bibir. Ia menahan diri untuk tidak melompat kegirangan setelah berhasil menembus garis pertahanan Ruby.


Ruby yang sombong, jika tahu ia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, apa yang akan dia lakukan? Apakah dia akan membunuhnya? Bukan tidak mungkin, Ruby selalu melakukan apapun yang dia inginkan. Namun tentu saja ia tidak akan mengatakan telah meniduri Ruby secara lantang.


Ia tidak cukup bodoh untuk membeberkan sesuatu yang tidak boleh ia beberkan. Di samping itu, hal-hal sensitif seperti ini ada baiknya di simpan untuk diri sendiri.


Perlahan-lahan ketika Ruby menjadi rileks karena ciuman lembutnya, Vidrian mulai bergerak. Lambat, lalu berubah menjadi lebih cepat dan lebih cepat lagi.


Jemari Ruby meremas kepala Vidrian. Sebuah kebutuhan meliuk-liuk di dalam dirinya, bangkit dan panas seakan membakar dan mengonsumsi dirinya dalam kobaran api yang menyala-nyala.


Ciumannya lembut, namun tubuhnya liar.


Di ruangan yang remang-remang, suara pelan dan terengah-engah dari pasangan itu muncul sedikit demi sedikit.


Kenikmatan datang dalam intensitas nyata. Tubuh bertemu tubuh, bereksperimen dengan otot yang sudah lama tidak di temukan. Ruby menempel di tubuh Vidrian ketika pria itu mempercepat tempo.


Membutuhkan tumpuan untuk menahan dirinya tetap stabil. Sementara sensasi demi sensasi bangkit dan mengancam akan membawanya pergi. Namun tidak ada tempat untuk melarikan diri, tidak ada tempat untuk bersembunyi sewaktu Vidrian membawanya lebih tinggi.


Tekanan luar biasa kuat berkembang menjadi pusaran demam sewaktu pria itu terus mendesak.


Ruby melenguh saat cairan Vidrian datang. Sebuah dorongan yang mengerikan menggoyang tubuhnya. Listrik menyentak di antara pahanya ke atas kepalanya. Bahkan saat Vidrian mencapai puncaknya, milik pria itu terus masuk ke dalam dirinya, mendesak lebih dalam.


Daging dalamnya yang lembut didera rasa sakit dan kenikmatan saat pria itu memukulnya, liar dan agresif. Ia sangat menyukainya, ia merasa seolah-olah ia melayang, seolah-olah ia akan jatuh. Lebih banyak erangan saat ia berjuang tanpa daya, takut akan sensasi yang mengamuk ini, dan satu-satunya hal yang dapat ia andalkan adalah pria di depannya.


Setelah berhasil melepas benih bayi yang selama ini ia simpan, Vidrian memeluk tubuh Ruby lalu mencium dahinya. "Terima kasih, Ruby." Kemudian ia menjatuhkan tubuhnya di samping wanita itu lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang mereka.


Percintaan selesai.


Tidak. Itu masih belum selesai.

__ADS_1


Vidrian menginginkannya, lagi dan lagi.


__ADS_2