
Ruby memaksa tubuhnya untuk bangun.
Namun, ia terkejut ketika merasakan aneh di antara pahanya.
"Ah," ia memekik kemudian terduduk kembali. Matanya melebar sesaat sebelum bergumam. "Ada apa ini? Apa yang terjadi padaku? Kenapa terasa aneh seolah sesuatu baru saja memasuki?" Ia terdiam kembali dan sebuah pemikiran tiba-tiba muncul di benaknya.
Mungkinkah..
Ia melakukannya sendiri?
Dengan jarinya?
Ia menggeleng. Tidak mungkin.
Tidak mungkin ia menjadi orang cabul.
Ia menaikan tangan dan menatap jemarinya dengan tidak percaya. Tiba-tiba ekspresinya berubah jelek.
Sial.
Sejak kapan ia menjadi semesum ini?
Hanya karena sudah beberapa tahun menjadi janda, ia menjadi wanita cabul? Ah sial. Betapa memalukan. Jika Veronica tahu, iblis itu pasti akan mengejeknya sampai mati. Namun tentu saja ia tidak akan membiarkan Veronica atau siapapun mengetahuinya.
Sejarah kelam yang akan menghancurkan mental.
Untungnya, ia tipe orang yang tidak mau merepotkan diri sendiri. Masalah ini.. lupakan saja! Itu tidak penting.
Mengesampingkan itu, Ruby bangun lalu masuk ke kamar mandi.
Ketika ia keluar, beberapa kotak tergeletak di atas ranjang bersama kartu hitamnya. Ia berjalan mendekat lalu membuka kotaknya.
Kotak pertama berisi kemeja.
Ia membuka kotak kedua. Berisi tas.
Ia membuka kotak ketiga. Sepatu hak tinggi.
Kotak keempat, pakaian dalam.
Lalu kotak terakhir, blazer dan rok span.
Ruby duduk di kursi rias dan menatap kotak-kotak itu dengan ekspresi rumit. Siapa yang membelinya, tidak mungkin pelayan itu.
Mengapa ia menyimpulkan ini, sederhana, hanya dengan melihat merk, model serta kombinasi warna dari masing-masing barang, orang yang tidak terbiasa berbelanja barang-barang seperti itu, tidak mungkin bisa memilih dengan benar.
__ADS_1
Tetapi, siapa yang berbelanja, itu bukan urusannya.
Karena barang-barang ini di beli menggunakan uangnya, ia tidak perlu pusing memikirkan ini dan itu. Lagipula, barang-barang ini sudah di sini. Mengingat pakaiannya mungkin berbau alkohol, alangkah lebih baik jika ia mengenakan pakaian ini saja.
Sebelum mengganti kimono handuknya dengan pakaian itu, Ruby terlebih dahulu merias wajahnya. Karena tidak terbiasa membawa banyak make up di tasnya, Ruby hanya mengaplikasikan riasan sederhana.
Untungnya, ia terlahir dengan wajah cantik.
Sehingga hanya dengan riasan seadanya, tidak lantas membuatnya tidak menarik. Ia masih sama, memukau dan luar biasa.
Setelah menyelesaikan riasannya, Ruby melepas kimono handuk yang melilit tubuhnya kemudian menggantinya dengan pakaian dalam yang serasi, lalu kemeja dan rok span.
Sejujurnya Ruby tidak tahu mengapa pakaian dalamnya serasi. Merah terang dengan sedikit renda dan agak transparan. Pakaian dalam seperti itu, bukankah terlalu berani?
Siapa yang memilihnya?
Orang cabul macam apa dia?
Ia jadi penasaran, ingin melihat sosok mesum yang menyukai pakaian dalam seperti itu.
Di ruangannya, Vidrian bersin dua kali.
Ia menggosok hidungnya dan bergumam, "Siapa yang sedang membicarakan ku?"
Carl memutar bola matanya. Zaman apa ini, masih percaya jika bersin karena seseorang sedang membicarakannya? Itu jelas-jelas reaksi tubuh dalam merespons zat asing, oke? Jika memang dia bersin karena ada yang membicarakannya, mengingat berapa banyak orang yang membencinya dan mengutuknya diam-diam, bukankah dia akan bersin setiap saat, setiap waktu?
Namun ia tidak berniat untuk menguliahi bosnya. Mengingat bagaimana tabiatnya, bahkan jika ia benar, Vidrian hanya dan akan tetap menyalahkannya.
Carl berkata dengan hati-hati, "Haruskah saya mencari obat flu?"
Vidrian mengibaskan tangan. "Tidak di butuhkan."
Carl mengambil dokumen yang sudah Vidrian tandatangani lalu membungkukkan badan dan pamit undur diri. Meninggalkan Vidrian yang duduk dengan tenang di kursinya.
Setelah kepergian Carl, Vidrian menghela napas panjang.
Tadi malam, ketika mereka bercinta, ia memanggil nama Ruby dengan berbisik tanpa henti, "aku menyukaimu", "aku mencintaimu". Puncaknya juga dengan namanya.
“…Ruby…”
Malam yang indah, ketika kulit mereka bercampur menjadi satu, berkelebat dengan jelas di depan matanya dalam sekejap. Berciuman, berpegangan tangan, dan berbagi kehangatan selaput lendir yang paling rahasia.
Ketika memikirkan itu, ia sangat ingin melihatnya.
Apa yang sedang dia lakukan sekarang, ia ingin tahu.
__ADS_1
Namun, siapa yang bisa ia mintai tanya?
Sementara Vidrian sedang memikirkan Ruby, Ruby sedang sibuk memindahkan satu persatu barang-barang di tas sebelumnya ke tas baru. Ponsel, dompet, serta barang-barang kecil lainnya tidak luput dari perhatiannya.
Setelah selesai, Ruby melihat sekali lagi penampilannya di cermin sebelum melangkah pergi, keluar dari kamar tidur.
Di depan pintu, ia bertemu dengan pelayan yang tadi melayaninya. Membawa nampan di tangannya, sebelah alisnya terangkat saat memperhatikannya.
Sedangkan pelayan, ketika melihat Ruby keluar dari pintu, tampak bersikap pergi, ia segera membungkukkan badan. "Nyonya, saya membawa bubur untuk Anda. Apakah Anda ingin memakannya sebelum pergi?" tanyanya dengan hati-hati.
Ruby menaikan tangan. "Tidak." Dengan satu kata itu, Ruby kembali melanjutkan langkah.
Pelayan memperhatikan punggung Ruby perlahan menjauh kemudian memegang nampan dengan satu tangan sementara tangan yang lain mengambil ponsel. Ia mencari nomor seseorang dengan cepat, lalu memanggilnya.
Vidrian yang sedang pusing memikirkan Ruby, ketika mendapat panggilan dari wanita yang ia suap untuk melayani Ruby, segera menerima panggilannya. "Halo,"
"Nyonya baru saja pergi. Dia memakai pakaian yang Anda berikan, termasuk tas dan sepatu. Dia memakai semuanya." Pelayan memberikan informasi detail tentang Ruby kepada Vidrian.
Mendengar ini, bibir Vidrian meringkuk membentuk sebuah senyum.
Benar, Ruby baik-baik saja.
Benar-benar baik-baik saja hingga tidak mencurigai apapun.
Bagus. Sangat bagus.
"Baiklah, kau melakukan pekerjaanmu dengan baik." Dengan itu, Vidrian mengakhiri panggilan. Ia meletakan ponselnya di atas meja kerjanya lalu bangkit dari duduknya.
Berjalan menuju jendela, ia berdiri di sana dan menatap ke luar.
Melihat langit biru yang membentang, ia merasakan perasaan lega yang tak terdeskripsikan. Karena Ruby benar-benar Rubika, ibu kandung Savana, maka sudah saatnya bagi Savana untuk mengetahuinya. Dan ia akan mengirimkan Savana kepadanya cepat atau lambat.
***
Ruby mengendarai mobilnya menuju kediaman dengan kecepatan tinggi. Lalu lintas yang tidak terlalu padat, di sertai kecepatan mengemudinya, hanya perlu beberapa menit baginya untuk tiba di kediaman.
Ruby mengambil tasnya lalu turun dari mobil.
Orang pertama yang ia cari begitu memasuki rumah adalah Xavier.
Ia berjalan menuju kamar tidur bocah itu lalu mengetuk pintunya.
Xavier sedang menemani Sean bermain di kamar tidurnya ketika mendengar ketukan ringan dari luar. Tanpa mencari tahu siapa yang datang, ia berkata, "Masuk."
Mendapat instruksi masuk, Ruby membuka pintunya lalu melangkah masuk. Seketika, pandangannya menangkap sesosok kecil yang sedang bermain di atas karpet, serta sesosok yang lebih besar sedang sibuk dengan komputernya.
__ADS_1
Melihat kedatangan Ruby, Xavier menghentikan aktifitasnya. Ia menatapnya sesaat sebelum bertanya, "Mom, kau sudah kembali?"
Ruby mengangguk. "Ya," jawabnya. Sebelum Xavier mengatakan sesuatu, Ruby lebih dulu berkata, "Kemasi barang-barang kalian. Aku akan mengantar kalian ke bandara."