Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 16 ~ Undangan Untuk Makan Bersama


__ADS_3

Savana terkejut saat melihat wajah Ruby, lagi.


Seolah pertemuan ini adalah takdir, Savana ingat betul bibi itu adalah bibi cantik yang ia temui di depan restauran. Dan kesimpulannya adalah, jadi bibi cantik itu ibu Sean?


Tidak.


Sebenarnya itu masih tanda tanya, bukan kesimpulannya.


Karena kenyataannya Savana hanya mengasumsikan sesuatu yang tampak di depannya. Hanya sebatas itu.


Namun tetap saja ia merasa dunia ini benar-benar sempit.


Tidak mendapat jawaban, Ruby melambaikan tangan di depan Savana. "Hai, apa kau mendengarku?" Meski masih mempertahankan ekspresi yang sama, nada suaranya tidak setegas saat ia berbicara dengan Sean. Tidak bisa di katakan lembut, namun itu jauh lebih santai.


Mungkin ini yang di namakan insting.


Seperti kata pepatah, bahkan binatang buas tidak akan memangsa darah dagingnya sendiri. Dan agaknya pepatah itu juga berlaku untuk saat ini.


"Ah, maaf." Setelah bangun dari lamunannya, Savana segera meminta maaf lalu buru-buru memperkenalkan diri. "Aku Savana, Bibi." Ia membungkukkan sedikit badannya, mempraktekan pendidikan etiket yang selama ini ia pelajari.


"Baiklah, Savana. Jadi, kau sudah menyelamatkan Sean dari orang jahat?" tanyanya. Ia tahu Savana tidak berbohong. Meski Sean sedikit aktif, bocah itu tidak akan berani membuat masalah. Jadi jika sampai ada masalah, jelas pihak lain yang sudah mempersulitnya.


Namun bagian terburuk dan yang tidak Ruby suka dari situasi ini adalah pertemuan Sean dengan Savana. Tidak, bukan hanya itu, tetapi pertemuan mereka semua di sini. Kenapa harus? Kenapa harus Savana yang menyelematkan Sean? Dari sekian banyak orang, apa benar tidak ada orang lain yang bisa di andalkan?


Ruby benar-benar lelah dan tidak mau memikirkannya lagi. Namun bagaimana mungkin ia tidak memikirkannya?


Jangankan pertemuan, bahkan perjumpaan dengan gadis itu adalah sesuatu yang Ruby antisipasi, sesuatu yang tidak boleh terjadi, benar-benar tidak boleh.

__ADS_1


Tetapi apa ini?


Apakah takdir sedang mempermainkannya?


"Sebenarnya bukan aku, Bibi. Aku hanya membawa Sean pergi dari sana. Daddy yang mengurus semuanya." Suara kecil Savana terdengar penuh percaya diri.


Bibir Ruby melengkung secara alami. Lupakan kata 'Daddy', tangannya secara refleks mengusap puncak kepala Savana. Meski ingin mengabaikannya, pada akhirnya ia tidak bisa melakukannya.


Mau bagaimana lagi?


Ia pun tidak mengerti dengan apa yang ia lakukan saat ini. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan, kenapa tiba-tiba ia melakukannya? Tidak hanya aneh, tetapi juga menggelikan.


Savana tercengang sesaat saat merasakan belaian hangat tangan Ruby di kepalanya. Hanya sesaat, detik berikutnya ia tersenyum. Sudah ia duga keberadaan wanita ini nyata adanya. Dan ia tidak berbohong saat berkata pada pengasuhnya bahwa ia bertemu dengan seorang wanita cantik di depan restauran.


Sekarang, setelah bertemu lagi dan merasakan kehangatan tangannya, Savana semakin yakin dan semakin tidak ingin keadaan ini berakhir. Ia menyukainya, menyukai wanita ini, sangat.


Dibanding Xavier, Sean tampak jauh lebih tenang. Mungkin karena di dalam hatinya ia berharap Ruby menyukai Savana. Kalau pun tidak menyukainya, setidaknya jangan membenci. Untungnya apa yang ia harapkan benar-benar terjadi. Tidak hanya ramah, tetapi Ruby juga menunjukkan sedikit kasih sayang. Membuatnya lega.


"Meski hanya menyingkirkan Sean dari mereka, kau sudah menolong Sean. Artinya kau sudah membantu kami." Ruby berkata pelan. Gadis kecil di depannya ini tidak hanya cantik, tetapi juga sopan dan ramah tamah. Sebagai seseorang yang mungkin berhubungan dengan anak itu, ia merasakan gejolak aneh di hatinya.


Namun lagi-lagi ia menyangkalnya.


Apapun yang terjadi, mereka tidak boleh menjadi dekat lebih dari ini. Meski tubuhnya mengkhianati hatinya, setidaknya ia masih menggunakan logika dan berpikir rasional, tidak benar-benar di butakan sampai sungguh-sungguh buta.


"Bibi, kau terlalu berlebihan. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan," Savana menimpali dengan bijaksana.


Ruby mengulas senyum tipis. "Itu bagus." Kemudian ia menatap Xavier dan bertanya, "Bagaimana menurutmu, Xavier?" Hanya pertanyaan singkat yang terdiri dari beberapa patah kata, namun sudah menggambarkan banyak arti.

__ADS_1


Xavier membalas pertanyaan Ruby dengan anggukan samar.


Terlepas dari bagaimana perangai Xavier, Ruby tahu anak itu sangat bijaksana. Dia dapat dengan mudah mengambil keputusan yang sekiranya sesuai dengan apa yang seharusnya di ambil. Di usianya yang baru sepuluh tahun, dia berpikiran tajam dan ia yakin hanya perlu beberapa tahun lagi sampai anak itu mampu mengambil alih perusahaan untuk menggantikannya.


Jika saat itu tiba, Ruby ingin pensiun dari pekerjaannya dan menghabiskan hari-harinya berkeliling dunia. Berpindah dari satu negara ke negara lain, menghabiskan waktu ke waktu dengan bepergian ke tempat-tempat yang selalu ia impikan.


Meninggalkan semua orang dan hanya menyisakan dirinya sendiri untuk bersenang-senang. Bagus jika sampai saat itu tiba kehidupannya masih sedamai sekarang. Setidaknya tidak ada drama kemunculan mantan suami yang tiba-tiba mengejar mantan istrinya lagi atau drama seorang putri yang sudah bertahun-tahun kehilangan ibunya.


Drama murahan seperti itu benar-benar tidak cocok dan sangat memalukan seolah orang yang ditinggalkan benar-benar korban. Kenyataannya, kemungkinan besar yang ditinggalkan hanyalah pelaku yang berpura-pura menjadi korban sedangkan yang meninggalkan adalah korban yang sebenarnya namun justru dikambinghitamkan sebagai pelaku.


"Mom?" Melihat Ruby tidak mengatakan apapun, Sean memanggilnya.


Suara kecil Sean membuyarkan lamunan Ruby. Ruby tercengang sesaat sebelum menata pikirannya dengan gesit. Ia berkata, "Sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantu Sean, aku ingin mengundang Savana untuk makan malam bersama kita. Bagaimana menurutmu, Sean?" tanyanya. Karena Xavier sudah menyatakan persetujuannya, ia hanya perlu bertanya kepada Sean.


Pun Ruby tidak terburu-buru bertanya pada Savana.


Karena yang terpenting adalah izin dari kedua putranya. Tanpa itu, Ruby sungguh tidak bisa berbuat banyak.


Sean mengangguk cepat. "Aku setuju, Mom." Ia mengulurkan tangan dan memeluk Ruby. "Terima kasih, kau yang terbaik."


Karena kedua putranya sudah setuju, Ruby berkata kepada Savana. "Duduklah!" Kali ini ia sudah kembali ke fasadnya yang biasanya. Tegas di depan orang lain. Segala perasaan yang tidak perlu sudah ia bungkus dan singkirkan ke samping. Jadi segala rasa yang sebelumnya tumpang tindih sudah tidak ada lagi.


Savana terperanjat. "Apakah boleh?" ia bertanya dengan hati-hati. Ia adalah orang yang sangat ingin dekat dengan Ruby sejak pertama kali melihatnya. Sekarang ada kesempatan untuk menjadi lebih dekat dengannya, ia sungguh tidak ingin melewatkan kesempatan bagus ini.


"Tentu saja," jawab Ruby. "Duduklah!" Ia mengulangi perkataannya. Kemudian ia menatap Sean. "Kau juga, Sean, duduk di kursimu. Aku akan meminta pelayan untuk membawakan peralatan makan tambahan untuk Savana."


"Terima kasih, Bibi." Savana membungkukkan sedikit badannya sebelum bersama-sama dengan Sean duduk di kursi masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2