
Sementara itu, sarapan pagi di kediaman Christensen terasa ceria dan menyenangkan. Entah apa yang membuatnya berbeda, namun nyaris tidak ada perbedaan.
Meski hanya dua orang, Vidrian dan Savana, namun kehangatan yang tercipta tampak seperti keluarga yang utuh. Benar-benar membahagiakan dan penuh tawa.
Melihat putrinya makan dengan lahap, Vidrian tersenyum puas. Meski tubuhnya kecil, gadis itu memiliki selera makan yang baik. Jadi ia tidak pernah pusing memikirkan tentang makanannya.
"Sayang," panggil Vidrian di tengah makan.
"Ya?" Savana menyahut tanpa menoleh
"Sebentar lagi ulang tahun nenekmu yang ke enam puluh," ucap Vidrian lagi.
Savana mendongak. "Aku tahu," jawabnya. "Jadi kau ingin kami semua merayakannya di desa?" tanyanya, langsung mengerti apa maksud ayahnya.
Ulang tahun nenek, selalu sama, setiap tahunnya di rayakan di desa bersama keluarga kecil mereka. Tidak pernah ada perayaan khusus mengingat betapa sederhananya hidup yang selama ini wanita tua itu jalani.
"Tidak," jawab Vidrian. "Aku akan menjemputnya dan kami akan merayakannya bersama di sini," imbuhnya.
"Benarkah?" tanya Savana, tidak percaya.
"Mm. Aku sudah membicarakan ini dengan kedua bibimu."
"Sungguh?" Savana bertanya sekali lagi, seolah jawaban tadi masih tidak cukup.
"Tentu saja," timpalnya. "Kau tidak percaya?"
Savana tersenyum. "Aku percaya, Dadd," jawabnya pada akhirnya. "Kau ingin aku menemanimu menjemputnya?" tanyanya sembari mengedipkan mata dengan genit.
Biasanya, mereka akan pergi bersama ke desa, bersama kedua bibinya dengan ayah yang menyetir. Tetapi karena ulang tahun nenek akan di rayakan di sini dan ayah bertugas menjemputnya, bukankah wajar jika ia ikut pergi menjemput?
"Tidak," Vidrian menjawab cepat.
Senyum surut di bibir Savana. Dengan cemberut ia bertanya "Mengapa? Kau ingin meninggalkan aku sendirian di rumah?" Sebenarnya bukan masalah besar tinggal sendirian di rumah atau tidak. Toh, ia tidak benar-benar sendirian. Masih ada pengasuh, pengurus rumah tangga dan supir. Namun, ratu drama akan memulai aktingnya. Jadi demi totalitas, ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk meluluhkan hati ayahnya agar mengizinkannya ikut dengannya.
"Mana mungkin? Aku tidak pernah meninggalkanmu."
"Kau lupa, kau selalu meninggalkanku sendirian." Savana tidak mau kalah.
"Aku akan mengantarmu ke ibumu. Bukankah itu penawaran yang adil?" Vidrian berkata dengan tenang seolah apa yang ia ucapkan adalah hal yang wajar. Melupakan fakta bahwa topik 'ibu' cukup tabu di keluarga mereka, apalagi karena Savana tidak memilikinya.
__ADS_1
Savana terperanjat. "Ibu?" gumamnya. Ia menatap Vidrian dan tersenyum masam. "Kau lupa, aku tidak punya ibu." Membahas tentang 'ibu' sama seperti mengoleskan garam di lukanya. Meski tampak biasa saja, namun ia sangat sedih di dalam hatinya.
"Kau memilikinya."
"Jangan bercanda. Aku tidak memilikinya."
"Sekarang kau memilikinya."
Savana terdiam. Sekarang ia memiliknya? Seorang ibu? Apakah ayahnya sedang berbohong? Apakah menurutnya membohonginya adalah hal yang menyenangkan?
Menyebalkan.
Savana cemberut dan enggan menatapnya lagi.
Pandangan Vidrian yang tidak lepas dari Savana, tidak mungkin tidak menangkap perubahan ekspresi putri kecilnya. Namun ia tidak sedih, ia justru tersenyum kecil.
Karena sekarang Savana benar-benar memiliki ibu, maka baik-baik saja dengan mengangkat topik ini. Selain itu, cepat atau lambat Savana akan bertemu dengan Ruby. Hanya menunggu waktu sampai hal itu benar-benar terjadi.
"Aku serius, Savana," ucap Vidrian setelah cukup lama melihat wajah tenggelam putrinya. "Kau benar-benar memiliki seorang ibu. Dan aku akan mengantarmu padanya." Kali ini ia tidak ingin mempermainkan Savana lagi.
Pandangan Savana terangkat. Ia mengamati ekspresi wajah Vidrian untuk mencari tahu trik apa yang sedang pria itu mainkan. Namun selain wajah yang serius dengan tatapan hangat, ia tidak dapat menemukan hal lain.
Bahwa ia memiliki seorang ibu?
Bahwa Vidrian akan mengantarkannya padanya?
Tidak. Tidak mungkin.
Ia tidak memiliki ibu. Dan fakta itu tidak akan pernah berubah. Ia bahkan sudah lelah berharap dan ia tidak mau berharap lagi.
***
Langit berangsur gelap.
Ruby menutup dokumennya dan memanggil Julius agar menyiapkan mobil untuknya.
Setelah mobil siap, Ruby keluar dari ruang kerjanya dan turun ke lantai bawah. Ia mengambil alih kunci dari Julius dan berkata, “Pulang dan istirahatlah. Kau sudah bekerja keras hari ini. Aku aku menyetir sendiri ke rumah.” Ruby membuka pintu mobil sambil berbicara kemudian melemparkan tasnya ke kursi penumpang, melompat ke kursi pengemudi, dan pergi.
Ketika mobil sampai di persimpangan, lampu lalu lintas menyala merah. Ruby mendongak dan kebetulan melihat berita di layar di bagian atas gedung di depan. Itu tentang perusahaan keuangan yang dibeli oleh SVN.
__ADS_1
Pria dalam berita itu mengenakan jas hitam. Dia memiliki rambut yang disisir rapi ke belakang. Matanya tajam dan seluruh tubuhnya memancarkan aura elit.
Ruby tidak menyangka bahwa perusahaan milik pria itu telah berkembang pesat. Sekarang, kerajaan bisnis pria itu menguasai beberapa sektor. Dan itu membuktikan bahwa kehidupan putrinya sejauh ini baik-baik saja, bahkan mungkin lebih baik dari yang ia pikirkan. Dia mungkin bisa hidup seperti putri di dongeng, penuh kebahagiaan dan cinta.
Ding!
Itu adalah notifikasi dari pesan singkat.
Ruby melihat ke ponselnya dan mendapat pesan singkat dari Veronica. “Aku bersama Maxen sekarang. Ayo pergi ke apartemenmu dan ingatlah untuk membuatkan kami makan malam!”
Ruby termenung. Ia meletakkan ponselnya, mendongak, dan menyalakan mobilnya ketika lampu berubah menjadi hijau.
Mobil itu masuk ke komunitas kelas atas. Di kota-kota seperti ini, di mana setiap jengkal tanahnya sama mahalnya dengan emas, apartemen biasa sudah sangat mahal, belum lagi apartemen kelas atas.
Ia hanya seorang gadis yang terlahir dari keluarga biasa. Tidak terlalu kaya tetapi cukup untuk membiarkannya memiliki satu unit apartemen kelas atas di daerah ini. Tidak hanya itu, orang tuanya bahkan tidak menjualnya saat kejatuhan mereka. Entah karena alasan apa, mereka memilih untuk mempertahankan apartemen ini daripada rumah mereka sendiri.
Sungguh orang tua yang menyayangi putrinya.
Ruby keluar dari lift dan mengeluarkan kuncinya.
Lalu ia pergi ke pintunya dan membukanya.
Tempat itu memiliki dua kamar tidur dengan ruang tamu berukuran sedang. Itu hampir kosong. Hanya ada meja, beberapa kursi, dan sofa. Tema dekorasi yang gelap membuatnya terasa lebih dingin.
Bahkan Veronica yang sering datang ke sini sepanjang ia di Amerika, mengatakan itu tidak terlihat seperti tempat untuk seorang wanita dan dia berulang kali berkata tidak menyukai seleranya.
Benar. Tempat ini begitu kosong dan dingin. Tampak hambar dan menyedihkan. Namun ia menyukainya tidak peduli apapun yang terjadi.
Ruby menjatuhkan tasnya dan pergi ke dapur.
Ia menyalakan ketel air dan pergi ke ruang tamu untuk duduk di sofa. Menatap ke luar jendela, ia tidak tahu mengapa Veronica dan Maxen ingin bertemu di tempat ini.
Mungkin karena tempat ini memiliki sejarah panjang tentang persahabatan mereka, sehingga bahkan tanpa ia pun, Veronica dan Maxen sering datang ke tempat ini lalu memanggilnya melalui panggilan video untuk kemudian bernostalgia bersama.
Sungguh persahabatan yang manis.
Ketika Ruby masih tenggelam dalam pikirannya, ia mendengar bel pintu berbunyi. Ia bangkit dan pergi untuk membuka pintu. “Aku sedikit lelah hari ini. Jika kalian ingin makan malam, mengapa kalian tidak memasak sendiri?"
Begitu pintu terbuka, bayangan tinggi menutupi pintu masuk.
__ADS_1
Ruby mendongak dan melihat orang di depannya. Dan matanya berkontraksi.