
Veronica melakukan gerakan memukul dan kali ini benar-benar memukuli Maxen. "Bajingan, sudah ku katakan jangan di perjelas! Lagipula, daripada milikmu, mainan **ks ku jauh lebih memuaskan," raungnya sembari terus memukulinya. Tidak benar-benar keras. Hanya pukulan main-main untuk meluapkan emosinya.
"Hentikan!" Bukan Maxen yang berkata, tetapi Ruby.
"Jangan ikut campur, kau tidak tahu apapun," Veronica menimpali.
"Kau bisa membunuhnya," Ruby kembali berkata.
"Hal sekecil ini tidak akan membunuhnya," balas Veronica.
Wajah bersemangat Veronica berbanding terbalik dengan wajah pasrah Maxen. Ia yang selalu menghormati kedua teman wanitanya ini, selalu menjadi samsak tinju bagi mereka. Entah sudah berapa lama sejak hal itu terjadi, namun itu sudah sangat lama dan ya.. ia benar-benar sudah terbiasa.
"Kau bisa membangunkan Savana," kata Ruby.
"Apa?" Veronica dan Maxen berkata serempak. Veronica menghentikan apa yang sedang ia lakukan dan menatap Ruby. Hal yang sama juga di lakukan oleh Maxen. Ia menatap Ruby dengan tatapan meminta penjelasan .
Jika yang Ruby sebutkan adalah Xavier atau Sean, mereka tidak akan seterkejut ini. Namun, siapa yang Ruby sebutkan tadi? Savana? Savana siapa, Savana yang mana?
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" Di tatap seperti itu oleh Veronica dan Maxen, Ruby menyentuh tengkuknya, merinding.
Veronica dan Maxen saling memandang, dan setelah mendapatkan pemikiran yang sama di otak mereka, mereka berdua mengangguk secara bersamaan.
Ruby menatapnya bingung.
Apa yang mereka pikirkan?
Tidak. Bukan.
Pertanyaan yang tepat adalah, apa yang akan mereka lakukan?
Firasatnya buruk dalam ini.
Benar saja, Veronica berjalan menuju Ruby lalu mendorongnya menuju sofa hingga dia terduduk. Kemudian dia mendudukkan diri di samping kanannya sementara Maxen di samping kirinya. "Katakan, Savana mana yang kau maksud?" Veronica kembali melanjutkan perkataannya.
"Benar. Hanya satu Savana yang ku tahu. Seharusnya bukan yang itu, kan?" Maxen turut berbicara. Bahkan hanya sekedar nama, Ruby tidak mengetahuinya. Baik ia atau Veronica, tidak ada satu pun yang memberitahukan perihal anak itu. Jadi, tidak mungkin Savana yang itu, kan?
"Sayangnya, apa yang kau pikirkan itu benar," Ruby berkata tenang sembari mengangguk kecil menatap Maxen.
"Apa?" Veronica dan Maxen terkejut dan berkata secara bersamaan.
"Stt." Ruby membuat isyarat agar Veronica dan Maxen sedikit merendahkan suaranya. Ada Savana yang tidur di kamar tidurnya, dengan suara mereka yang keras, mereka mungkin bisa membangunkannya.
"Kau gila!" Meski kesal, suara Veronica merendah secara otomatis.
Ruby menatap Veronica. "Ya, aku juga berpikir begitu," balasnya.
__ADS_1
"Bahwa kau gila?"
Ruby mengangguk. "Ya."
"Max, lihat, betapa bodohnya dia," keluh Veronica. Sedari awal, ia berpikir tidak baik bagi Ruby untuk kembali ke sini. Dan ternyata benar, tidak ada yang baik dari tempat ini untuk wanita itu.
"Hei, bukan hanya dia yang bodoh, kau juga," Maxen membalas.
"Aku? Mengapa aku?" Di salahkan oleh Maxen, Veronica menjadi bingung.
"Karena kau membiarkannya pulang," sahutnya.
"Kau pikir itu salahku?"
"Berhenti berdebat!" ujar Ruby. "Kalian sungguh kekanak-kanakan."
"Memang karena siapa kami berdebat?" Veronica membalas perkataan Ruby.
"Itu sebabnya, hanya karena aku, kalian tidak boleh seperti ini," Kata Ruby. "Sekarang kalian dengar, bagaimanapun dia adalah anakku. Kalian ingat bagaimana aku melahirkannya? Aku mempertaruhkan segala hal, bahkan seluruh hidupku. Tetapi, hanya karena si brengsek itu mengantarkan Savana padaku, bukan berarti aku menginginkannya. Satu lagi, faktanya adalah bahwa aku adalah wanita dengan hubungan yang gagal. Aku juga menempatkan alasan di atas perasaan," lanjutnya.
Lagipula, sedari awal, ia tidak pernah menginginkan Savana untuk dirinya sendiri. Jika iya, ia tidak akan menyerahkannya pada pria itu. Tetapi kenyataannya, ia menyerahkannya padanya tanpa ragu. Bahkan perceraian mereka juga di lakukan secara bersih. Ia tidak meminta apapun. Tidak sepeser pun.
Ia pergi karena ia memang menginginkannya.
Itu sebabnya ia selalu berpikir bahwa masa lalu akan selalu ia biarkan terkubur di dalam tanah. Bahkan jika tidak membusuk, itu masih tersingkir dan tidak terlihat.
"Oh Ruby-ku yang malang." Veronica bergerak memeluk Ruby. "Aku tahu kau orang yang masuk akal."
"Ya, aku juga berpikir seperti itu," Maxen juga memeluknya.
Ruby tersenyum. "Itu terdengar seperti pujian," ucapnya sembari membalas pelukan Veronica dan Maxen.
Seperti remaja kecil yang saling menguatkan ketika ada masalah, mereka bahkan melupakan berapa usia mereka sekarang.
Setelah sesi berpelukan berakhir, Maxen angkat bicara, "Katakan, mengapa anak itu di sini? Tunggu! Jangan bilang bajingan itu mengirimnya padamu?"
Ruby mengangguk. "Kau benar. Dia mengirimnya padaku."
"Bajingan!" Veronica meremas botol alkoholnya dan hampir membantingnya ke lantai. Namun Maxen buru-buru menghentikannya dan mengambil botol alkohol darinya untuk mencegah sesuatu yang buruk terjadi.
"Ya, dia benar-benar bajingan," Ruby mengiyakan. Tidak membantah karena tidak ada yang perlu di bantah. Orang itu memang bajingan paling gila sepanjang sejarah.
"Dia tidak berani datang ke rumahmu dan memilih untuk membuntutimu diam-diam. Sungguh tercela," ucap Maxen. Sehingga ketika Ruby berkendara ke sini, bajingan itu memanfaatkan kesempatan. Benar-benar pria tidak berguna. "Haruskah aku datang dan membuat perhitungan dengannya?" tanyanya penuh tekad. Meski tidak begitu pandai bertarung, namun ia cukup pandai berdebat. Jadi, ia hanya akan berbicara dengannya, tidak bertarung dengannya.
"Setidaknya kau harus mengajakku jika ingin melakukannya," Veronica menimpali. Ia setuju untuk membuat perhitungan dengannya. Bagaimanapun, orang yang tidak tahu malu, jika dibiarkan akan semakin tidak tahu malu.
__ADS_1
"Hei, berhentilah berpikir seperti itu. Tidak ada gunanya berbicara dengannya," ucap Ruby.
"Astaga, inilah alasan mengapa kau terus di sakiti," jawab Veronica. "Kau terlalu baik," lanjutnya.
Ruby terkekeh. "Apa aku terlihat seperti orang baik di matamu?" Sungguh konyol. Sejak bergabung dengan keluarga Diedrich dan menjadi salah satu orang penting di Diedrich Group, banyak hal telah terjadi.
Meski bisnis keluarga Diedrich tampak bersih di permukaan, namun kenyataannya tidak sebersih itu. Banyak hal kotor cenderung tersembunyi dengan baik di balik fasad bersih yang di tunjukan.
Namun entah mengapa ia menikmatinya.
Sangat menikmatinya.
"Ya, kau benar-benar baik," Veronica menjawab tanpa ragu.
"Kalau itu menurutmu, teruslah berpikir seperti itu," balas Ruby sembari mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Beberapa orang benar-benar teguh pada pendiriannya meski sudah jelas itu salah dan mereka mengetahuinya.
Benar-benar dunia dengan keanekaragamannya.
***
Dini hari ketika Veronica dan Maxen pergi.
Waktu menunjukkan hampir pukul tiga.
Karena kelelahan, Ruby pergi tidur.
Dalam beberapa saat, matanya terasa gatal seolah-olah ada sesuatu yang bergerak di sekitarnya. Ia mengerutkan kening dan membuka matanya perlahan. Wajah dingin Vidrian mulai terlihat. Ia berlumuran darah dan memohon padanya untuk menyelamatkannya. Tetapi pria itu berbicara dengan beberapa wanita, bahkan tidak memandangnya.
Ia menangis keras.
Tetapi yang tersisa hanyalah pengabaian serta keputusasaan tanpa akhir. Hatinya sangat sakit sehingga ia bahkan tidak bisa bernafas.
Di tempat tidur, Ruby membuka matanya dan duduk dengan kaget. Ia melihat sekeliling dan langit sudah mulai terang.
Itu adalah mimpi.
"Mom, ada apa?" Suara lembut Savana datang dari samping.
Jantung Ruby melonjak. Ia memiringkan kepalanya dan melihat wajah yang persis seperti wajah Vidrian, wajahnya langsung berubah pucat. Ia bangun dari tempat tidur dan langsung berlari ke kamar mandi.
Ruby melihat dirinya di cermin, merasa dingin di sekujur tubuhnya.
Jadi, Vidrian masih menjadi mimpi buruk baginya.
Ia menghela napas panjang. Ia menyadari bahwa ia terlalu emosional sekarang. Ia membasuh mukanya dan terus mengingatkan dirinya sendiri bahwa semua itu hanya masa lalu, sesuatu yang sudah sangat usang dan berdebu. Sesuatu yang tidak layak di pikirkan lagi.
__ADS_1