
Mereka berdua berjalan bersisian keluar dari kamar pribadi. Berbincang ringan, mereka membicarakan tentang poin-poin penting yang ingin Ruby tekankan untuk berbisnis dengannya, terutama tentang pembagian keuntungan dan tidak boleh ada kegagalan.
Tepat ketika Ruby hendak mengatakan sesuatu, ponselnya tiba-tiba berdering. Ruby menatap Vidrian dengan meminta maaf sebelum menerimanya untuk menjawab panggilan. "Halo."
"Mom." Suara anak laki-laki tertangkap pendengaran Ruby. Dan ia gagal memahami ekspresi jelek Vidrian yang sangat tidak senang dengan panggilan 'mom' yang dilakukan oleh orang di ujung panggilan. Namun ia tidak punya waktu untuk memahami Vidrian, lebih tepatnya ia tidak peduli.
"Iya, Xavier, ada apa?" Ruby menoleh ke belakang dan melihat Lily juga sedang menerima panggilan. Berdasarkan tebakannya, mungkin panggilan dari Amerika. Dan benar saja, tidak lama kemudian Lily mendekat ke arahnya.
"Maaf, Nyonya, panggilan untuk Anda," ucap Lily sembari menyodorkan ponsel itu kepadanya.
Ruby menaikan tangan. "Tunggu sebentar! Aku akan berbicara dengan Xavier dulu." Setelah itu Ruby kembali fokus dengan panggilan dari Xavier. Saat ia mengalihkan pandangannya, tatapannya tidak sengaja bertemu dengan tatapan Vidrian. Namun karena tidak ingin melihat wajah menyebalkan itu, ia mengalihkan pandangannya lagi.
Ekspresi Vidrian yang awalnya jelek semakin jelek. Belum pernah ada orang yang berani mengabaikannya, namun wanita itu berani mengabaikannya, begitu? Hebat. Sangat hebat.
"Mom, apa kau sangat sibuk?" tanya Xavier dari balik panggilan. Ia dapat mendengar perbincangan singkat antara Ruby dan Lily, yang itu berarti Ruby sangat sibuk. Namun meski begitu, ia tahu Ruby lebih memprioritaskan dirinya di banding apapun.
"Tidak juga. Apa ada masalah?"
"Tidak ada masalah. Aku sangat patuh."
"Bagus. Aku akan segera pulang. Tunggu di rumah dan jangan membuat ulah."
"Uh huh. Aku mengerti."
"Baiklah. Jaga diri kalian baik-baik dan sampai bertemu di rumah." Dengan satu kalimat itu, Ruby mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Setelah menyimpan ponselnya, Ruby berbalik dan menerima panggilan di ponsel Lily. Merupakan panggilan dari Amerika, dari salah satu orang kepercayaannya, Slade. Katanya, ada beberapa kendala dalam pengiriman barang melalui jalur laut.
Sepuluh menit kemudian, panggilan berakhir. Ruby mengembalikan ponselnya kepada Lily sambil memijit pelipisnya. Tanpa menjelaskan, Ruby tahu Lily sudah memahami situasi yang terjadi. Namun itu bukan masalah besar. Ruby yakin Slade mampu menangani semuanya tanpa meninggalkan masalah. Pria itu kompeten dan berdedikasi. Hanya saja mungkin mereka akan kehilangan banyak uang.
Saat pandangannya beralih, ia melihat Vidrian masih berdiri di tempat yang sama, menatapnya. Ia pikir pria itu sudah pergi dan seharusnya pria itu memang sudah pergi, tapi kenapa orang itu masih di sini?
Menyadari sesuatu telah terjadi, Vidrian berinisiatif bertanya, "Apa ada masalah?"
Ruby menggeleng pelan. "Tidak. Mari lanjutkan langkah," jawabnya, acuh. Siapa Vidrian sampai berani menanyakan pertanyaan pribadi? Bodoh.
"Baiklah."
Mereka kembali melanjutkan langkah.
"Apakah Anda berbicara dengan putra Anda?" Suara maskulin Vidrian memecah keheningan. Sebelumnya ia mendengar jika Ruby dan mendiang suaminya memiliki dua orang putra. Namun setelah tahu Ruby sangat mirip dengan Rubika, saat mendengar Ruby berbicara dengan sangat lembut kepada putranya di telepon, ada perasaan tak terdeskripsikan di hatinya.
"Saya pernah mendengarnya," jawabnya. Wajahnya sedikit kaku. Ia tidak tahu perasaan apa yang sedang ia rasakan. Apakah itu marah, cemburu atau iri. Namun mungkin bukan ketiganya. Karena jika ia benar-benar marah, cemburu atau iri, ia tidak berada pada tempat dimana ia bisa merasakan ketiga emosi itu. Ia bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa bagi Ruby. Alasan dan identitas apa yang ia punya untuk merasakan tiga emosi tadi?
Sungguh konyol.
Keadaan menjadi hening dan tanpa terasa mereka sudah mencapai pintu masuk restauran. Vidrian membukakan pintu untuk Ruby. Dan sebelum Ruby masuk ke mobilnya, ia menatap Vidrian sekali lagi. "Terima kasih sudah mengantar." Ruby mengatakan ini sebagai basa-basi. Lagipula siapa yang ingin di antar oleh bajingan ini?
"Bukan masalah besar," jawab Vidrian.
Ruby masuk ke dalam mobil lalu duduk tenang di kursi belakang, pandangannya menatap ke luar jendela. Saat melihat Lily masih berbasa-basi dengan Vidrian dan Carl, ia menunggu dalam diam, tidak berniat mengganggu mereka.
__ADS_1
"Kalau begitu, saya permisi." Saat Lily menyelesaikan formalitasnya, ia terkejut saat melihat seorang anak perempuan datang entah dari mana dan tiba-tiba memeluk Vidrian. Melirik Vidrian tidak keberatan akan hal itu, ia berpikir mungkin itu keluarganya. Tidak lupa ia mengangguk kecil sebelum masuk ke dalam mobil. Detik berikutnya mobil bergerak pergi.
Melihat mobil Ruby perlahan menjauh, tatapan Vidrian menjadi rumit. Ada ketidakpuasan dalam hatinya karena instingnya berkata Ruby adalah Rubika, sedangkan bantahan Ruby membuatnya tidak berdaya.
Ia percaya tidak ada dua orang yang sangat mirip di dunia ini selain kembar identik. Ditambah penelitian tentang itu juga menyebutkan bahwa kemungkinan dua orang memiliki delapan ciri wajah yang sama adalah kurang satu dari satu triliun orang. Dan itu sama saja dengan dari tujuh koma empat miliar penduduk bumi, hanya satu dari seratus tiga puluh lima orang yang memiliki doppelganger.
Sedangkan Rubika, gadis itu memiliki wajah yang cantik dan baginya kecantikan seperti itu jarang sekali ditemukan. Selain itu, Rubika juga tidak memiliki saudara kembar. Gadis itu adalah putri tunggal keluarga Hills.
Sayangnya, keluarga Hills tiba-tiba menghilang. Dan menghilangkannya mereka sangat misterius.
Ia sudah meminta beberapa orang untuk mencari keberadaan mereka, namun mereka lenyap bak di telan bumi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka di manapun. Dan sejak saat itu ia berhenti mencari mereka lagi.
Sedangkan sekarang, berkat kemunculan Ruby, Vidrian mulai memikirkan beberapa hal. Salah satunya berkaitan dengan hilangnya keluarga Hills. Jika Ruby adalah orang di balik semua ini, bukan hal mustahil jika keluarga Hills tidak meninggalkan sedikit pun jejak setelah menghilang.
Mengingat betapa kuatnya keluarga Diedrich, menghilangkan nyawa orang sama seperti membunuh seekor semut, apalagi hanya untuk menyembunyikan sebuah keluarga, itu semudah membalikkan telapak tangan.
Jadi, apakah ia masih punya harapan? Tidak, yang benar adalah apakah ia sudah tidak punya harapan?
Ia menghela nafas gusar.
Yang ia inginkan hanyalah Ruby melihatnya, mengenalnya dan berkata dia adalah Rubika. Namun hal semacam itu sepertinya sangat mustahil mengingat betapa buruk Ruby memperlakukannya.
Sekarang apa yang harus ia lakukan?
"Daddy, Daddy, apa yang kau lihat? Cepat angkat aku!"
__ADS_1
Suara kecil yang terdengar menyentak Vidrian dari lamunannya. Ia menunduk dan melihat seorang anak perempuan cantik sedang memeluk dan tersenyum manis kepadanya. Ia mengangkat tubuh gadis itu kemudian menggendongnya. "Memang siapa lagi yang bisa Daddy lihat selain Savana? Savana yang paling cantik, bagaimana Daddy bisa berpaling?"