
...Mon maap kalo banyak typo belum di preview....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Benar.
Wanita itu adalah ibunya.
Juga.. ibu Sean.
Ia dan Sean nampaknya memiliki ibu yang sama, namun tidak memiliki ayah yang sama. Besar kemungkinan, ibu memilikinya terlebih dahulu sebelum pergi dan memiliki Sean.
Jadi, secara garis besar, ia dan Sean adalah saudara, hubungan kakak beradik.
Jika begitu, wajar wanita itu tidak begitu menyukainya. Dia sudah memiliki anak laki-laki yang lebih lucu dan menggemaskan. Di banding ia, ia jelas bukan apa-apa. Ia tidak lucu, ia juga tidak menggemaskan, ia benar-benar tidak memiliki kualifikasi untuk di sukai oleh wanita itu.
Mengabaikan Ruby, Vidrian berjongkok di depan Savana. Mengetahui kesedihan macam apa yang sedang di rasakan oleh putri kecilnya, Vidrian mencubit kecil pipinya sebelum berkata, "Savana, tinggal lah sebentar dengan mommy mu. Ingat untuk bersikap baik dan jangan membuat mommy marah. Kau anak yang baik."
Savana diam, tidak menjawab.
Melihat pemandangan yang terjadi di depan matanya, juga perkataan Vidrian, Ruby mengerutkan kening. Ia dengan jelas telah memintanya untuk membawa anak itu pergi.
Karena ia benar-benar tidak ingin melihatnya.
Tetapi, lihat apa yang Vidrian lakukan?
Vidrian bangkit lalu mendorong anak itu ke dalam pelukannya, dan pergi tanpa melihat ke belakang.
"Hei, kau! Berhenti! Beraninya kau!" Ruby memanggil Vidrian, namun pria itu terus berjalan tanpa sedikit pun menoleh. Kini ia memiliki perasaan campur aduk. Kesal, marah, juga beberapa perasaan asing yang tidak ia ketahui namanya.
Ruby menundukkan kepala dan melihat Savana sekali lagi. Anak perempuan kecil dalam pelukannya, sekarang adalah anaknya?
Apakah ia merasa asing?
__ADS_1
Ya.
Setelah perceraiannya dengan Vidrian, ia tidak pernah menunjukkan wajahnya di depannya. Tidak sedikit pun, tidak sekalipun.
Namun tiba-tiba anak ini muncul di depannya, dan kini masuk ke dalam pelukannya. Sebenarnya, ia tidak tahu jenis perasaan apa ini.
"Mom." Suara kecil Savana memecah keheningan. "Apa benar kau ibuku?" tanyanya hati-hati. Ia masih memeluk Ruby, enggan melepaskannya, karena ia merasakan kehangatan yang tidak pernah ia rasakan. Namun di sisi, ia takut. Ia takut Ruby akan menolaknya, ia takut Ruby tidak menginginkannya. Jika hal seperti itu terjadi, apa yang harus ia lakukan?
Ruby tercengang. Pertanyaan itu, ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia diam untuk sementara waktu dan tidak bicara sampai suara Savana kembali terdengar.
"Apa begitu sulit untuk menjawab?" tanya Savana lagi. "Apa karena.. kau membenciku?"
Ruby terdiam. Ia menatap Savana lekat. Wajah itu, memang mengingatkannya akan masa lalu yang menyakitkan. Namun, apakah ia membencinya? Tidak. Tidak sama sekali. Tidak ada seorang ibu yang membenci anaknya, setidaknya ia seperti itu. Ia tidak membenci Savana. Ia hanya, hanya tidak ingin dekat dengannya.
"Mom." Suara Savana kembali terdengar.
Ruby tersadar dari lamunannya. Ia menatapnya dan menggeleng pelan. "Tidak," jawabnya singkat.
"Mm. Ayo kita masuk," ucapnya pada akhirnya. Karena Savana sudah di sini, bukankah aneh jika ia mengirimnya pergi? Pada akhirnya, Vidrian sengaja melakukan ini, bukan? Sengaja menyodorkan kepadanya karena pria itu tahu ia tidak mungkin bisa menolaknya.
Sungguh trik murahan yang menjengkelkan.
Ruby menarik koper yang Vidrian tinggalkan dan membawa Savana masuk ke dalam lalu membantunya melepas sepatu sebelum menggantinya dengan sandal rumahan yang selalu Veronica siapkan kalau-kalau ia kembali.
Meski sandal itu kebesaran, namun Savana tidak keberatan memakainya. Ia justru merasakan hangat di hatinya. Meski tampak dingin, acuh dan terkesan tidak peduli, namun ia tahu jauh di dalam hatinya, Ruby tidak membencinya. Dan itu sudah cukup.
"Kau duduklah dulu, aku harus melakukan sesuatu," ucap Ruby sembari berjalan menuju dapur untuk kemudian melihat air di ketelnya yang sudah mendidih dan otomatis berhenti.
Ia menatap kosong ketelnya dan tenggelam dalam pikirannya.
Tidak mudah.
Benar-benar tidak mudah.
__ADS_1
Sejauh ini, ia menyangkal keberadaan Savana, lagi dan lagi. Ia terus mengatakan pada dirinya sendiri bahwa semua yang terjadi di masa lalu hanya ilusi, tidak nyata dan tidak layak mendapat perhatiannya.
Dengan keyakinan itu pula ia bertahan hidup, sampai sejauh ini, sampai sekarang. Namun keyakinan itu runtuh dengan kemunculan anak itu di depannya.
Rasa benci yang sejujurnya tidak pernah ada sejak awal, ia takut tidak bisa meninggalkannya jika sudah menghabiskan beberapa saat bersamanya.
Ia benar-benar tidak bisa terus di sini.
Cepat atau lambat ia harus kembali.
Kembali ke Amerika. Kembali ke kehidupannya yang biasanya, bersama kedua putranya.
Jika saat itu tiba, ia takut perasaannya akan semakin dalam dan tidak terarah. Sesuatu yang tidak mungkin bisa ia kendalikan.
Ruby menghela napas panjang.
Setelah menata pikirannya sejenak, ia berjalan menuju ruang tamu dan melihat Savana duduk di sofa dengan patuh. Ia berjalan menghampirinya dan duduk di sampingnya. "Jadi, namamu Savana?" tanyanya kemudian.
Savana mengangguk. "Iya, kau bisa memanggilku Savana." Ia ragu sejenak sebelum akhirnya berkata, "Lalu, Mom, boleh aku memanggilmu seperti itu?" Ia bertanya dengan hati-hati, takut menyinggung perasaannya.
Ia baru saja mengingat pesan ayahnya sepanjang perjalanan menuju ke sini. Berkata bahwa ibu adalah wanita yang cerdas namun pendiam. Dia tidak menyukai anak nakal yang berisik. Jadi, sebisa mungkin, ia melakukan apa yang Vidrian katakan agar ibu tidak membencinya.
Ruby terdiam. Hanya Xavier dan Sean yang memanggilnya seperti itu. Panggilan yang paling ia sukai. Namun, jika Savana yang melakukannya, apakah ia tidak akan terganggu?
Entahlah.
Seharusnya bukan masalah besar jika Savana juga melakukannya. Ya, seharusnya begitu.
Sudah mendapatkan jawaban, Ruby menatap Savana dan berkata, "Ya, kau bisa melakukannya."
Bibir Savana melengkung secara alami, mencegah dirinya yang ingin melompat kegirangan. "Terima kasih, Mom. Aku sangat senang. Benar-benar senang memiliki ibu sepertimu," ucapnya, gagal menahan senyum.
Ketika mimpi itu akhirnya menjadi nyata, mustahil ia tidak senang. Ia bahkan ingin segera memamerkan Ruby kepada teman-temannya. Ruby yang cantik, pasti akan membuat teman-teman yang dulu sering mengejeknya menjadi iri.
__ADS_1