Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 46 ~ Menjemput Maxen Dan Diikuti Oleh Vidrian


__ADS_3

"Bukankah sudah sangat jelas?" sahut Veronica.


"Kau pikir aku pengangguran?" Ruby tidak mau kalah. Perdebatan tidak masuk akal ini, sekalipun tidak masuk akal, bukankah ia harus tetap memenangkannya?


"Tentu saja bukan," jawabnya. "Tetapi apa yang kau lakukan sekarang membuktikan itu." Veronica benar-benar kesal sekarang. Kecuali Max, tidak pernah ada orang yang berani menduakannya. Namun sebenarnya, Ruby berani? Mengkhianatinya? Sial. Apakah wanita ini sangat senang mempermainkannya?


Ruby menaikan sebelah alisnya. "Hei, kau tidak mungkin cemburu, kan?" Suaranya sedikit melunak. Ia tahu ada yang tidak beres dengan Veronica, itu sebabnya ia melepaskan tali untuk membuat ketegangan sedikit mengendur.


Veronica melipat kedua tangannya di dada. "Kau tahu tapi kau masih menemui pria lain? Sudah ku katakan kau hanya boleh mencintaiku."


Belum sempat Ruby menimpali, suara seorang pria yang terdengar familiar menghentikan Ruby untuk berbicara.


"Hei, sayang. Apa yang sedang kalian lakukan? Aku kembali. Tidakkah kalian ingin memeluk dan mengucapkan 'selamat datang'?" Ia membentangkan tangan, siap memeluk siapa saja yang berlari ke arahnya terlebih dulu.


Tidak. Dua-duanya juga boleh.


Jika memang mereka berdua datang kepadanya secara bersamaan, ia tidak keberatan memeluk mereka berdua.


Tanpa perlu menoleh, Ruby dan Veronica langsung tahu siapa dia.


Wajah Veronica berubah jelek. Ia belum menyelesaikan skor dengan Ruby, namun si brengsek itu tiba-tiba muncul dan merusak rencananya. Benar-benar menjengkelkan.


Melihat Veronica menunjukkan wajah tidak senang, Ruby angkat bicara, "Haruskah kita pura-pura tidak mendengar?"


Veronica mengangguk. "Ya, itu ide yang bagus."


Dengan begitu, Veronica dan Ruby melangkah pergi dan sepenuhnya mengabaikan Maxen yang baru datang.


Maxen yang melihat ini, segera mengencangkan suara. "Hei hei hei, mau pergi kemana kalian? Bukankah kalian datang untuk menjemputku?" Melihat kedua wanita itu semakin cepat berjalan bahkan nyaris berlari, ia mengumpat. "Sial!" umpatnya sebelum bergegas mengejar kedua wanita sial itu.


Karena baik Ruby atau Veronica mengenakan sepatu hak tinggi, sangat mudah bagi Maxen untuk menyusul mereka. Dengan begitu, ia melingkarkan lengan kanannya di bahu Veronica dan lengan kirinya di bahu Ruby dan seketika melupakan kopernya.


"Sial! Kau menyentuh dadaku," keluh Veronica ketika tangan Maxen secara tidak sengaja menyentuh dadanya.


"Kau bilang itu dada? Bukankah itu terlalu datar?" Maxen menimpali.


"Jangan sembarangan bicara." erangnya. "Aku melakukan implan payudara beberapa bulan yang lalu di Bangkok."


"Sungguh?" Ruby bertanya dengan tidak percaya. Ia menoleh dan tanpa sadar menatap dada Veronica. Itu memang tampak jauh lebih besar dan kencang dari sebelumnya.


Veronica mengangguk. "Tentu saja."

__ADS_1


"Mengapa kau tidak melakukannya di Seoul?" tanya Ruby lagi. Berdasarkan apa yang ia ketahui, Korea terkenal akan reputasinya sebagai market operasi plastik terbesar dunia. Itu pula yang membuat Korea dijadikan sebagai destinasi utama bagi orang yang ingin melakukan operasi plastik.


"Hei, jangan salah. Thailand terkenal dengan industri bedah plastiknya yang sangat natural. Seluruh dokter bedah plastik di sana memiliki sertifikasi dari American Medical Council." Tanpa ragu, Veronica menjelaskan apa yang ia ketahui.


"Wah, kau tahu banyak rupanya." Kali ini Maxen yang menimpali.


"Tentu saja. Operasi adalah hal yang penting. Aku tidak boleh sembarangan. Kalian lihat kan hasilnya, ulala, besar dan kencang." Veronica memamerkan dadanya dengan bangga.


Ruby dan Maxen saling melirik, menyiratkan 'benar-benar sudah tidak tertolong.'


Ketika keluar dari bandara dan mencapai mobil, Maxen baru menyadari bahwa kopernya tidak ada padanya. Ia mencarinya kemana-mana dan ketika melihatnya tergeletak tidak jauh di sana, ia mengerang, "Sial, koperku masih di sana." Selesai mengatakan itu, ia pergi dengan cepat menghampiri kopernya.


Melihat ini, Ruby menggelengkan kepala. "Rupanya dia masih sebodoh sebelumnya."


Veronica mengangguk, setuju.


Ruby masuk ke mobilnya di susul oleh Veronica yang duduk di sampingnya. "Mengapa kau di sini? Bukankah kau membawa mobil?" tanyanya.


"Aku membawanya, tetapi tidak masalah aku ikut denganmu," balas Veronica.


Ruby mengangguk dan tidak berkata apapun lagi.


Tidak lama kemudian, Maxen masuk dan duduk di kursi samping pengemudi. Membiarkan koper kecilnya ikut bersamanya tanpa memasukkannya ke bagasi.


Di tengah perjalanan, Ruby buka suara, bertanya pada Veronica yang duduk di sampingnya. "Hei, apakah kau pernah melakukannya sendiri?" Teringat apa yang mungkin ia lakukan ketika mabuk, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


Veronica menoleh. "Melakukan apa?"


Maxen juga menoleh, menatap Ruby.


"Mas***basi," jawab Ruby.


Veronica tersentak. "Apa? Mas***basi?"


"Ya."


"Hei hei hei, mengapa kau menanyakan ini? Bukankah sudah sangat jelas?" Ia menatap Ruby kemudian beralih ke Maxen dan memasang ekspresi imut. "Apa aku terlihat seperti orang yang tidak akan melakukan hal seperti itu?"


Maxen mengangguk. "Veronica benar. Dia ahli mas***basi. Percaya atau tidak, dia memiliki banyak mainan **ks di rumahnya. Aku pernah melihatnya."


Veronica melakukan gerakan memukul namun tidak benar-benar memukul Maxen. "Bajingan! Bisakah kau membuatnya tidak begitu jelas? Aku seorang wanita. Orang sepertiku juga bisa malu, tahu!"

__ADS_1


"Omong kosong. Kau sudah tidak punya urat malu lagi," balas Maxen.


Mengabaikan dua orang yang sibuk bertengkar di sekitarnya, Ruby mengartikan maksud perkataan Veronica dengan hati-hati. Dan hasilnya, ia menyimpulkan bahwa mas***basi adalah hal yang wajar di lakukan.


Ia menghela napas lega.


Syukurlah. Ia pikir, ia aneh karena melakukan hal seperti itu. Tetapi, sepertinya tidak.


***


Tidak lama kemudian, mobil yang pengemudi kemudikan tiba di club malam. Sebelum Ruby turun dari mobil, ia berkata kepadanya, "Tidak perlu menungguku. Pulanglah naik taksi."


Pengemudi mengangguk. "Baik, Nyonya."


Dengan itu, Ruby dan kedua temannya turun dari mobil dan masuk ke club malam, sementara itu pengemudi kembali terlebih dahulu dengan taksi.


Karena sudah beberapa bulan tidak bertemu, Ruby, Veronica dan Maxen, ketiga orang itu, memiliki banyak hal untuk di bicarakan.


"Jadi, kau sudah bertemu dengan si brengsek itu?" tanya Maxen begitu masuk ke ruang pribadi. Berdasarkan apa yang Veronica katakan tadi, ia langsung menyimpulkan hal ini.


Veronica dan Ruby saling memandang, tidak ada satu pun yang berniat untuk menjawab.


"Aku tahu aku bereaksi berlebihan, tetapi aku takut," Maxen kembali berbicara.


“Apa menurutmu aku akan tetap gila saat melihatnya, seperti sebelumnya? Sekarang dia seperti orang asing yang paling ku kenal.” Ruby memandang Maxen dengan senyum masam. "Maaf, sudah membuatmu mengkhawatirkan ku sepanjang waktu."


"Jangan minta maaf!" Maxen menoleh dan berkata dengan lembut, “Kita sudah lama berteman. Jika aku tidak khawatir tentang dirimu, siapa yang harus aku khawatirkan?"


"Aku?" celetuk Veronica sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Aku juga mengkhawatirkan mu, bodoh," balas Maxen. "Justru kau yang paling mengkhawatirkan daripada Ruby."


Veronica merengut.


Perbincangan berlangsung lama hingga ketika waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, dan Maxen sepenuhnya di kuasai alkohol, Ruby dan Veronica bahu-membahu membawa Maxen pergi.


Setelah mengantar Maxen ke rumahnya, Ruby juga bertugas mengantar Veronica. Setelah memastikan Veronica masuk ke rumahnya, Ruby baru pergi dengan mobilnya.


Hampir jam tiga pagi ketika Ruby kembali ke kediaman. Ia tidak masuk tetapi menghentikan mobilnya di gerbang. Ia tahu ada mobil yang mengikutinya.


Ruby membuka jendela mobil dan melihat ke mobil yang berhenti di sebelahnya. “Mengapa kau mengikutiku?”

__ADS_1


Vidrian membuka pintu mobil dan turun. Ia memandang Ruby dan berkata, “Aku hanya ingin berbicara denganmu. Aku tidak punya kesempatan untuk menemuimu hari ini.”


__ADS_2