
Mendengar ini, wajah Vidrian menghitam. "Diam!"
Ken memandang Vidrian dengan agak tidak berdaya. Jika Vidrian begitu ceroboh tentang Ruby sebelumnya dan sekarang Vidrian ingin mendapatkannya kembali, tidak heran Ruby bahkan tidak mau berbicara dengannya. Jika Ruby benar-benar setuju, wanita itu akan mendapat masalah lagi dan lagi.
Memiliki hubungan dengan pria seperti itu, apalagi dalam sakralnya pernikahan, jelas bukan hal yang mudah. Sebenarnya sudah tepat bagi Ruby untuk meninggalkannya.
Tetapi Ken pasti tidak akan memberi tahu Vidrian secara langsung tentang apa yang ia pikirkan. Ia merenung sejenak dan berbicara, “Apakah kau pernah melakukan sesuatu yang romantis dengan mantan istrimu? Seharusnya ada hal yang berkesan, kan? Ya, maksudku, beberapa bulan, itu bukan waktu yang singkat. Sepanjang waktu itu, seharusnya ada satu atau beberapa hal yang tak terlupakan, bukan?"
Vidrian mengernyit. Sesuatu yang berkesan dan tak terlupakan?
Vidrian mencoba memikirkannya. Namun sebanyak apapun ia berpikir, sepertinya tidak ada hal besar atau hal gila saat mereka bersama. Saat itu, ketika Ruby berhenti mengganggunya di akhir pernikahan mereka, perasaan kosong semacam itu masih jauh di lubuk hatinya.
"Tidak ada apa-apa?" Melihat Vidrian berpikir namun pada akhirnya tidak mengatakan apapun, Ken langsung tahu bahwa tidak ada sesuatu yang berkesan dalam hubungan mereka.
“Aku sangat sibuk saat itu," timpal Vidrian.
"Hei, jika kau begitu sibuk, mengapa kau menikahinya? Kau menikahinya dan terus mengabaikannya? Itu buruk. Benar-benar buruk," balas Ken.
Vidrian terdiam.
Tahu apa yang Vidrian pikirkan, Ken kembali berkata, “Jadi bisakah kau memberi tahu ku, mengapa kau menikahinya saat itu? Tidak mungkin hanya karena dia mengandung bayimu, kan? Mustahil. Kau tidak terlihat seperti orang yang akan menikahi seseorang karena tanggung jawab. Apakah kau tidak menyukainya sedikit pun? Benar-benar?"
Vidrian mengerutkan kening. Apakah ia menyukainya?
Setelah diam beberapa saat, Vidrian berkata, "Memang karena dia hamil."
"Astaga, menikah karena bayi di perutnya?" Ken memekik. "Kau benar-benar melakukan itu?" Ken merasa tidak berdaya. Pria tak berperasaan di depannya ini begitu bodoh dan tidak bisa di andalkan. Tidak heran Ruby memilih pergi dan meninggalkan putrinya bersamanya.
"Tapi itu bukan hanya karena bayinya," ucap Vidrian lagi.
Ken menatap Vidrian dengan terkejut. "Apa maksudmu?" tanyanya.
Vidrian tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Menatap awan kelabu yang tampak di kejauhan.
Tahu isi pikiran Vidrian, Ken menaikan sebelah alisnya. “Jadi, itu yang kau pikirkan? Tetapi, apakah dia tahu?”
Vidrian menghela nafas berat, "Dia tidak mau mendengarkan."
__ADS_1
"Itu pasti karena kau tidak melakukan cukup. Jika kau berusaha sedikit saja, atau bertahan selama beberapa saat, apakah dia akan tetap keras kepala?"
Sebelum Vidrian menyahut, ketukan pintu terdengar dari luar.
Tahu siapa itu, Vidrian segera berkata, "Masuk."
Carl mendorong pintu hingga terbuka dan menatap Ken sekilas sebelum menoleh dan menatap Vidrian, “Tuan, Nona Phoebe ada di sini untuk menemui Anda. Dia ada di bawah sekarang. Apakah Anda ingin menemuinya?”
Vidrian menghela napas panjang. Sudah cukup sulit hanya dengan memikirkan Ruby, sekarang muncul satu masalah lagi yang bahkan tidak berani ia bayangkan. Ia menatap Carl dengan dingin. "Apa kau tidak tahu apa yang harus dilakukan tentang hal semacam ini?" Suaranya tenang namun ada segumpal emosi yang tersembunyi di balik fasadnya.
Carl merinding dan segera menjawab, “Ya, saya mengerti." Dengan itu, ia pamit undur diri.
Ken yang sedari tadi hanya memperhatikan, akhirnya buka suara, “Bukankah kau harus memperlakukan wanita dengan lembut? Kepribadianmu ini tidak disukai oleh para gadis."
"Kamu benar-benar tahu banyak," Vidrian membalas sinis.
"Tentu saja! Kau harus mengakui bahwa mantan istrimu tidak tahan dengan kepribadianmu dan menolak untuk menerimamu. Mengapa dia menerima seseorang yang membuat hidupnya sulit?"
Vidrian menatap Ken penuh kebencian.
Jika saja Damian masih hidup, ia tidak mungkin bersahabat dengan orang seperti ini. Namun sayangnya, sahabat terbaiknya tidak memiliki umur yang panjang dan harus meninggal bersama istrinya dalam usia yang relatif muda. Sungguh di sayangkan.
Mendapat tatapan tidak ramah, Ken menaikan kedua tangannya di udara. “Hei, aku mengatakan yang sebenarnya. Kenapa kau menatapku seperti itu? Jika aku jadi dia, aku akan mencari seseorang yang baik padaku, bukan pria hambar sepertimu."
Saat kata-kata ini keluar, suhu di dalam ruangan turun beberapa derajat. Ken menggigil. Ia mendongak dan melihat mata suram Vidrian kemudian memasang senyum canggung.
Sepertinya ia sudah menaruh garam di luka seseorang.
Sial.
***
Phoebe Purman, seorang wanita cantik dari keluarga Purman sudah menunggu lama di meja depan dan diberi tahu bahwa Vidrian tidak akan melihatnya.
Ia tidak mengerti mengapa pria itu memperlakukannya seperti ini.
Mereka adalah kekasih masa kecil.
__ADS_1
Semua orang tahu ia lah yang akan menikahi pria itu.
Tetapi, pria itu tidak pernah memandangnya bahkan setelah pembicaraan pertunangan. Apa yang kurang darinya?
Ia cantik, pintar, dan menarik. Beberapa pria bahkan masih mengejarnya meski tahu ia menyukai Vidrian. Tetapi, mengapa pria itu tidak tertarik padanya, sedikit pun? Bukankah karena mantan istrinya?
Haish.. sial.
Betapa tercelanya wanita itu.
Sekarang kepalanya menjadi pusing ketika memikirkannya.
Waktu berlalu, dan langit perlahan berubah sore.
Ruby keluar dari perusahaan dan mengemudi menuju sekolah untuk menjemput Savana. Karena ia sudah berkata akan merawat Savana selama beberapa hari, ia harus melakukan segala hal secara maksimal.
Berdiri di dekat mobilnya sambil menelepon seseorang, sosok Ruby yang indah dalam balutan setelan bisnis begitu mencolok dan mencuri perhatian. Beberapa pasang mata mengawasinya dan tidak bisa berhenti mengagumi sosoknya yang indah.
Ketika melihat Ruby berdiri di depan sekolahnya untuk menjemputnya, Savana merasa sangat senang. Ia bergegas menghampirinya dan memeluknya dengan posesif. "Mom, aku senang kau datang. Apa kau benar-benar datang untuk menjemputmu?"
Ruby menyimpan ponselnya lalu membalas pelukannya. "Apakah mungkin aku datang untuk menjemput temanmu?" Ia bertanya dengan sedikit bercanda. Putri barunya ini sungguh menggemaskan. Namun sayang sekali ia hanya bisa memeluknya, tidak bisa menggendongnya.
Dia sudah delapan tahun.
Mustahil bagi Ruby untuk mengangkatnya.
Pertama, ia tidak sekuat itu.
Dan yang kedua, ya.. tulangnya bisa patah.
Daripada menanggung resiko yang lebih besar, Ruby memilih untuk tidak melakukannya.
"Yeay," Savana bersorak. Ia sangat gembira sekarang.
"Apakah sangat menyenangkan?" tanya Ruby sembari menggenggam erat jemari Savana dan berjalan bersisian menuju mobilnya.
Savana mengangguk. "Tentu saja. Itu sangat luar biasa."
__ADS_1
Ruby membuka pintu mobil untuk Savana dan membiarkan gadis kecil itu duduk di kursi penumpang. Ketika ia selesai memasangkan sabuk pengaman dan menutup pintu, sebuah mobil yang familiar berhenti di samping mobilnya.
Ruby melirik sekilas dan langsung tahu siapa dia dan berniat mengabaikannya. Namun Vidrian turun dengan cepat dan berjalan tergesa menghampirinya. "Ruby," panggilnya.