
"Kau masih bertanya? Kau bisa menanyakan itu pada dirimu sendiri," sahut Ruby. "Aku yakin kau paling tahu tentang dirimu daripada orang lain."
"Hei!" Nada suara Veronica meninggi. Emosinya sedikit terangkat. Meski apa yang Ruby katakan tidak sepenuhnya salah, namun ia tetap marah.
"Itu sebabnya kau hanya menjadi selingkuhan," lanjut Ruby. Mengingat tentang bagaimana Veronica hanya menjadi yang kedua setelah dirinya, ia merasa wanita itu sedikit memprihatinkan. Terlepas dari wajahnya yang seperti Medusa, setelah mengenal wanita itu lebih dekat, hatinya selembut permen kapas.
Wajah Veronica menggelap. Satu demi satu perkataan Ruby menyudutkan dirinya. Tidak. Itu mengenai titik paling sakit di hatinya.
Untungnya sakit hati itu menghilang dalam sekejap saat tempat yang Veronica tuju sudah tampak di depan mata. Lagipula untuk seseorang dengan wajah kompleks, prinsip terpenting adalah kau cantik maka semua yang kau katakan itu benar.
Ruby membuka mata saat merasakan pergerakan mobil berhenti. Melihat ke sekeliling dan tampak tidak ada sesuatu yang menarik, ia menoleh. "Dimana kita?" tanyanya. Tidak ada restauran, tidak ada bar, dan juga bukan hunian yang memungkinkan Veronica tinggal di sini. Jadi, tempat macam apa ini?
Daripada wilayah dengan kehidupan malam yang menyenangkan, tempat ini lebih seperti jenis kesuraman yang tak terdeskripsikan. Tempat ini sepi, dan mustahil tempat ini mengandung jenis kehidupan malam yang biasa Veronica datangi. Kecuali, tempat itu tersembunyi dalam kegelapan.
"Turun!" Mengabaikan pertanyaan Ruby, Veronica membuka pintu mobil lalu melangkah turun. Siluetnya yang tinggi dan ramping, menyisakan aroma alkohol yang pekat setelah kepergiannya.
Ruby memperhatikan saat sosok itu keluar dari mobil. Melihat bagaimana situasi di sini tidak terlalu bagus, ia benar-benar tidak ingin pergi. Namun tampaknya, si wanita iblis, Medusa, tidak berniat membiarkan dirinya hidup dalam kedamaian.
Baru saja Ruby mengatur posisi yang nyaman untuk tidur, wanita itu berjalan menuju dirinya lalu membuka pintu mobilnya secara paksa.
Tidak cukup sampai di situ, wanita itu bahkan menyeretnya hanya agar ia mengikutinya. "Hei, lepaskan!" Ruby berusaha membebaskan cengkeraman tangan Veronica di pergelangan tangannya. Namun mengingat cukup banyak alkohol yang masuk ke tubuhnya, mustahil ia bisa melawan kekuatan orang normal bahkan jika itu hanya seorang wanita.
"Berisik!" Veronica membawa Ruby ke gang sempit yang terletak di antara satu gedung dengan gedung yang lain. Meski pencahayaan di sini tidak buruk, namun itu tidak seterang dimana seseorang tidak merasa takut saat melewatinya.
"Tunggu sampai aku menghentikan aliran dana ke akun bankmu." Ruby setengah mengancam setelah perkataannya di abaikan. Pertama, ia tidak suka di abaikan. Dan kedua, ia benci di abaikan.
"Aku cukup yakin kau tidak akan melakukannya," sahut Veronica. Ia sangat percaya diri dengan apa yang ia katakan.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kau begitu tak tahu malu."
"Berhenti mencibirku sebelum kau tahu betapa menyenangkannya tempat yang akan ku tunjukan." Dengan selesainya perkataannya, maka tempat yang menjadi tujuannya sudah tampak di depan mata.
Merupakan sebuah gedung lima tingkat yang terletak cukup tersembunyi di balik gedung-gedung tinggi. Ruby tidak tahu tempat apa itu, namun itu terlihat seperti tempat hiburan malam atau semacamnya.
"Jadi?" ucap Ruby malas. Ia enggan melihat sekeliling lagi untuk mencari tahu karena tempat ini begitu tidak menarik.
"Kita sudah sampai," ucap Veronica ketika tiba di depan sebuah bangunan yang tampak sederhana dan tertutup. Tempat macam apa itu, ia adalah yang paling tahu. Namun melihat seperti apa ekspresi Ruby, wanita itu tampak tidak senang. Tidak. Wanita itu sangat tidak senang. "Hei, tidak bisakah kau memberikan sedikit apresiasi? Maksudku, apapun itu jika aku yang merekomendasikan, selalu melebihi ekspektasi," ucapnya sembari mendorong pintu kemudian mempersilahkan Ruby masuk terlebih dulu.
Ruby terkekeh. "Kau yakin layak mendapat apresiasi dariku?" tanyanya sembari berjalan melewati Veronica kemudian wanita itu berjalan mengikuti di belakangnya. "Setiap kali kau rekomendasikan sesuatu, selalu mengecewakan ."
"Tolong jangan meremehkan ku," sahutnya. "Kali ini, aku yakin kau akan senang."
"Haruskah aku mempercayainya?"
"Ya, salah satu keahlianmu adalah mengetahui keahlian tersembunyimu," jawab Ruby, acuh. Namun meski acuh, itu sangat menyakiti Veronica.
Veronica menyentuh dadanya. Perkataan Ruby seperti belati yang memotong dagingnya perlahan. Tidak ada darah namun sakit sampai ke tulang. "Lupakan! Mari kita lihat apa yang bisa kita lihat di sini." Veronica membawa Ruby masuk semakin dalam.
Ruby mengawasi sekeliling.
Tempat ini terlihat seperti bar namun tidak begitu sesuai.
Tidak ada DJ.
Ini bukan tempat seperti itu.
__ADS_1
Bagian dalamnya remang-remang dengan aroma alkohol serta rokok yang pekat. Walau tampak tidak terawat, namun tempat ini penuh sesak, terutama oleh para pria yang minum-minum dan beberapa wanita yang duduk dan mabuk.
Saat melangkah perlahan dan semakin masuk ke dalam, Ruby merasakan tatapan yang tidak diinginkan terarah padanya.
Tempat macam apa ini?
Mungkin lebih buruk dari yang ia bayangkan. Ia dapat mendengar suara tinju beradu di depan sana. Yang itu berarti..
Veronica pasti gila membawanya ke tempat seperti ini. Lebih dari sekedar bar, ini adalah tempat para petarung mencari uang. Dua pria di adu di arena, kemudian yang berhasil menjatuhkan lawan berhak membawa hadiahnya.
"Mereka disebut petarung jalanan," ujar Veronica.
Benar. Seperti yang Ruby duga, ini memang tempat dimana petarung jalanan menunjukkan kemampuannya untuk memperebutkan hadiah. Tempat seperti ini, terkadang ia juga mengunjunginya. Hanya untuk mencari bakat-bakat muda yang mereka butuhkan.
Contohnya, Slade.
Pria itu, salah satu orang kepercayaannya, juga ditemukan Osvaldo di tempat seperti ini. Dan ya.. dia sama sekali tidak mengecewakan. Pria itu licik dan penuh perhitungan. Pengatur siasat yang sempurna, penjaga yang andal, dan semua bisa dia lakukan, apapun itu.
Melihat para petarung yang mungkin lebih dari siap untuk menghancurkan satu sama lain di arena, senyum iblis muncul dan menghiasi wajah cantiknya. Karena sudah di sini, kenapa tidak tinggal sedikit lebih lama?
Melihat senyum menakutkan Ruby, Veronica menduga Ruby sudah hafal dengan tempat semacam ini. Ia tersenyum sebelum melempar cibiran, "Sepertinya kau lebih menikmati tempat ini daripada aku?"
Ruby mengulas senyum tipis "Bagaimana menurutmu?"
"Kau menyukainya," ucapnya. Dan ia puas melihat wajah tersenyumnya. Itu sangat menggemaskan. Namun itu bukan waktu yang tepat untuk mengagumi keindahan yang Ruby tunjukkan. Lebih dari itu, seorang petarung yang selalu menduduki nomor pertama, sedang bertarung saat ini. Mereka harus bergegas atau mereka tidak mungkin bisa melihatnya lagi. "Ayo melihat lebih dekat."
Veronica membawa Ruby semakin dekat. Kemudian mereka mendudukkan diri di balik meja kosong yang terletak cukup dekat dari arena bertarung.
__ADS_1