
Ruby menghela napas lega.
Kata maaf yang terlontar dari mulut pelayan, bagi Ruby sama saja seperti jawaban 'iya'. 'Iya' secara tidak langsung. Namun bagi pelayan, tentu saja berbeda arti. Baginya kata maaf tidak lebih karena ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada Ruby.
Namun tentu saja Ruby tidak mengetahuinya.
Jika tahu, sudah pasti ia akan mengobrak-abrik tempat ini untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ruby mengibaskan tangan. "Kau bisa pergi! Aku akan memanggilmu jika membutuhkan sesuatu," ucapnya kemudian. Untuk saat ini, ia sedang tidak ingin melakukan apapun. Tubuhnya lelah, otaknya kacau. Mandi atau bahkan makan, tidak terbersit dalam pikirannya.
Lagipula, ia merasa tubuhnya tidak terlalu lengket.
Mungkin pelayan itu tidak hanya melepas pakaiannya, tetapi juga menyekanya. Sesuatu yang tidak ia minta, namun dia melakukannya dengan cukup baik untuk melayaninya.
Benar-benar berdedikasi dan pantas mendapat apresiasi.
Pelayan membungkukkan badan kemudian undur diri.
Namun sebelum dia benar-benar pergi, Ruby kembali buka suara. "Tunggu!"
Pergerakan pelayan terhenti, ia membalikan badan. "Iya, Nyonya, ada yang bisa saya bantu?"
"Mendekat!"
Pelayan mendekat tanpa ragu lalu berdiri di samping ranjang dengan kepala tertunduk.
Ruby mengambil tasnya yang tergeletak di atas nakas dan mengeluarkan kartu hitam dari dompetnya. Kemudian ia juga mengambil selembar uang pecahan poundsterling dan menyodorkannya kepada pelayan bersama kartu hitamnya. "Ambil dan bayar tagihannya! Password-nya ...."
Pelayan tercengang sesaat sebelum menerima kartu dan uangnya dengan tangan gemetar. "Baik, Nyonya. Terima kasih."
"Mm."
Setelah itu, ia undur diri.
Begitu keluar, ia baru berani menghela napas.
Ia memandangi kartu hitam di tangannya selama beberapa saat sebelum akhirnya mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
•
•
Di ruang rapat, keadaan sangat sunyi.
Hanya terdengar suara seseorang yang sedang mempresentasikan sesuatu. Pun mendapat tatapan tajam dari Vidrian karena apa yang di presentasikan tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan.
Dalam keheningan, dering ponsel terdengar.
Semua orang yang mendengarnya tercengang sebelum mengutuk di dalam hati. Ponsel orang sial mana yang berdering? Sungguh sial. Apakah seseorang akan di pecat lagi hari ini?
Vidrian Christensen.
Siapa yang tidak tahu bagaimana tabiatnya?
Seorang bajingan gila penggila kerja, adalah seorang monster yang tidak mengizinkan siapapun menghidupkan ponsel ketika rapat. Itu adalah peraturan dasar yang harus di patuhi oleh setiap anggota rapat.
Satu dering yang terdengar, dapat mengantarkan seseorang pada pemecatan. Tidak. Bahkan jika hanya getar, itu sudah cukup menyulut kesabarannya.
Semua orang berkeringat dingin.
Takut mendapat masalah karena ulah satu orang sial ini.
Namun, belum sempat menemukan orang sial mana yang berani menyalakan ponsel saat rapat, Vidrian yang ponselnya berdering, ketika melihat nomor si pemanggil, ia menatap ponselnya selama beberapa saat, tenggelam dalam pikirannya.
__ADS_1
Sudah tengah hari.
Ia tidak bisa tenang selama periode itu.
Hanya untuk panggilan ini.
Ya, ia menunggu selama itu untuk panggilan ini.
Hingga ketika ia mendapat panggilan dari orang yang ia tunggu-tunggu, ia menjadi lega.
Ia mengambil ponselnya dan menerima panggilannya, "Halo," ucapnya.
Melihat Vidrian mengambil ponsel dan menjawab panggilan, semua orang menatap Vidrian dengan tidak percaya. Jangankan semua orang, Carl, selaku asisten khusus yang sudah melayani Vidrian selama bertahun-tahun pun tidak bisa tidak tercengang.
Seorang Vidrian, yang berpantang menghidupkan ponsel, sebenarnya sedang menjawab panggilan, di tengah rapat?
Apakah matahari terbit dari Barat?
Atau.. apakah mungkin otaknya bergeser setengah inci?
Setelah pulih dari keterkejutan, semua orang menatap Carl, meminta penjelasan.
Namun Carl mengabaikan tatapan semua orang dan sebaliknya, ia menajamkan pendengarannya untuk mendengarkan dengan siapa bosnya bertukar kata atau barangkali ada instruksi mendadak.
Di balik panggilan, pelayan yang bertugas menjaga Ruby, berkata, "Nyonya sudah meminum obatnya, Tuan."
Vidrian tersenyum samar. "Bagus," jawabnya.
Di banding yang lain, Ruby meminum obatnya adalah yang terpenting.
Pil kontrasepsi.
Ya, salah satu di antara obat yang pelayan berikan dan yang Ruby minum adalah pil kontrasepsi.
Meski cukup bagus jika Ruby hamil, mengingat betapa Ruby membencinya saat ini, dan juga betapa kejamnya Ruby jika sudah bertindak, ia memilih untuk tidak menghamilinya setelah semalaman menidurinya.
Alasannya sederhana, bukan hal yang sulit bagi Ruby untuk menggugurkan kandungannya jika dia ingin. Apalagi jika Ruby tahu itu adalah anaknya. Daripada bayi yang sudah ada dalam kandungan di gugurkan, lebih baik untuk tidak pernah memilikinya.
Itu bagus untuk semua orang.
Tidak. Itu bagus untuk Ruby.
"Lalu, apa yang dia katakan?" tanya Vidrian kemudian.
"Nyonya bertanya, apakah saya mengganti pakaiannya atau tidak. Saya tidak menjawab." Pelayan tidak cukup bodoh untuk tidak mengetahui apa yang terjadi. Dan ia juga tidak cukup bodoh untuk membeberkan apa yang tidak seharusnya di beberkan. Kehidupan orang kaya sangat rumit, salah sedikit saja, ia bisa berada dalam bahaya.
Vidrian mengangguk pelan. "Lalu?" tanyanya lagi.
"Nyonya memberikan kartu hitam untuk membayar tagihan, juga uang tips."
"Simpan saja kartunya, berikan padanya nanti," timpal Vidrian. Ia sudah membayar tagihannya. Jadi, tidak mungkin Ruby membayarnya lagi. Untuk itu, ia hanya bisa berpura-pura.
Lagipula, orang seperti Ruby tidak mungkin membaca setiap detail uang yang di keluarkan atau notifikasi bank di ponsel. Jadi, untuk masalah itu, bukan perkara besar.
Sedangkan untuk uang tips, lupakan saja!
Itu hanya titik air dari luasnya lautan.
"Baik."
"Lanjutkan pekerjaanmu. Aku akan memberikan uang tambahan setelah kau menyelesaikan tugasmu."
"Terima kasih, Tuan."
__ADS_1
Panggilan terputus.
Vidrian menyimpan ponselnya dan menatap satu persatu para pegawainya dengan ekspresi rumit.
Pada titik ini, segala hal berjalan ke arah yang seharusnya.
Ruby bersikap normal dan tidak mencurigai apapun.
Bagus. Sangat bagus.
Haruskah ia memberikan bonus kepada semua orang?
Bagaimanapun ia sedang bahagia.
Tidak mungkin ia menyimpan kebahagiaan ini untuk dirinya sendiri.
Di tatap seperti itu oleh Vidrian, semua orang merinding.
Bosnya ini, apa yang sedang dia rencanakan?
Itu bukan sesuatu yang buruk, kan?
Selagi semua orang ketakutan memikirkan kemungkin terburuk, Vidrian berkata, "Aku akan memberikan bonus untuk semua orang bulan ini." Suaranya yang rendah, membuyarkan ketakutan semua orang.
Dengan itu, mereka saling melirik. Memberikan bonus bulan ini?
Benar, kah?
Apakah ini nyata?
Sementara semua orang bahagia, Ruby terduduk di tempat yang sama untuk waktu lama. Ia menatap kosong ke depan dan tidak berkedip selama beberapa saat.
Ia tidak tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan, namun ia harus bersiap untuk pulang ke rumah. Ya, ia harus pulang dan bersiap pergi ke bandara.
Sebelum itu, ia menghubungi Lily.
Dengan satu panggilan, Lily menerima panggilannya. "Halo."
"Dimana kau?"
"Saya di perusahaan, Nyonya," jawab Lily. Ada sesuatu yang mendesak, karena Ruby tidak ada, ia yang mengambil alih.
"Ganti password kartu hitamku. Juga, datang ke bandara sore ini." Karena ia terlalu malas untuk pergi dan mengurus ini itu sendiri, ia hanya bisa mengatakan password kartu hitamnya kepada pelayan.
Namun bukan berarti ia akan diam saja dan tidak akan melakukan sesuatu ketika seseorang mengetahui sesuatu yang bersifat pribadi dan berharga. Jadi, ia hanya bisa meminta Lily untuk mengganti passwordnya.
"Ya?"
"Sudah itu saja. Aku akan menutup panggilannya." Dengan itu, Ruby mengakhiri panggilan tanpa memberikan waktu kepada Lily untuk mengatakan atau menanyakan sesuatu.
Lily tercengang. Mengganti password? Pergi ke bandara? Sore ini? Mengapa? Dan.. apa yang terjadi?
......................
...Jangan lupa, baca ceritaku yang lain ya.....
...Juga, jangan lupa like, komen, follow dan masukan pustaka....
...Thx.....
......................
__ADS_1