Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 17 ~ Menyelesaikan Masalah Dan Mencari Savana


__ADS_3

Di waktu yang sama di sisi yang lain.


Setelah kepergian Savana, Vidrian menghela napas lega.


Di tempat ini, meski tanpa dirinya, kecil kemungkinan sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu. Jadi untuk sementara waktu, ia mengganggap bahwa kedua anak itu aman.


Namun saat memikirkan apa yang tadi terjadi, ia menjadi kesal. Ia benci orang yang menggertak anak-anak. Sangat benci. Mungkin karena Dorothy belum punya anak, jadi wanita itu tidak mengerti seperti apa rasanya saat anak yang dibesarkan sepenuh hati digertak oleh orang lain.


Jika begitu kasusnya, mengapa ia tidak membantu Dorothy memiliki anak dalam sekejap? Sebenarnya membuat Dorothy merasakan karmanya sendiri merupakan ide yang cukup brilian.


"Siapa kau? Berani sekali kau ikut campur? Apa kau tidak tahu siapa aku?" Dorothy yang sebelumnya sudah kesal, ketika melihat Vidrian membantu Sean, menjadi semakin kesal.


Di lingkaran ini, siapa yang tidak mengenal dirinya?


Orang yang pintar seharusnya tahu untuk tidak memprovokasinya. Dan bagi orang-orang yang sudah memprovokasinya, seharusnya mereka tahu apa konsekuensinya.


"Dorothy Dawson, kau tidak layak mengetahui siapa aku," sahut Vidrian. Ia berjalan menuju Dorothy kemudian menendang kakinya. "Benar-benar tidak layak," lanjutnya.


"Ah!!" Dorothy terperanjat. Namun sudah terlambat untuk menghindar, lututnya jatuh dilantai dengan suara keras. "Bajingan, beraninya kau!" Ia meraung. Berusaha untuk bangun, namun gagal. Melihat tidak ada yang datang membantunya, ia memelototi para pengawalnya. "Kenapa kalian diam saja? Apa kalian dungu? Aku disakiti bajingan ini, apa kalian hanya akan melihat? Bantu aku bangun, dan kau, tangkap dia!" Tidak cukup hanya dengan memaki Vidrian, ia ingin Vidrian di tangkap.


Namun sebelum para pengawal Dorothy mendekat, pihak keamanan restauran tiba-tiba datang dan langsung membekuk mereka. Gerakan mereka cepat dan terlatih. Jauh lebih unggul dari para pengawal Dorothy. Dalam sekejap, mereka semua berhasil di taklukan.


Wajah Dorothy menghitam. Pengawal yang Jeffrey berikan adalah yang terbaik, tetapi mereka berhasil dikalahkan dalam hitungan detik. Ia menatap Vidrian dengan tatapan rumit. Pria ini, siapa sebenarnya dia? Kenapa pihak keamanan restauran berpihak kepadanya?


Rasa takut perlahan datang menghampiri Dorothy. Untuk beberapa alasan, ia merasa identitas Vidrian tidak sederhana. Namun sudah terlambat untuk menyesal karena tidak lama kemudian manager restauran bergegas datang dan membungkuk kecil kepada Vidrian. "Maaf, Tuan, saya lalai."


Manager restauran adalah seorang pria tua yang mungkin berusia lima puluhan. Ia di percaya untuk mengelola restauran ini selagi pemilik yang sebenarnya bersembunyi di balik bayang-bayang.

__ADS_1


Benar. Pemilik sebenarnya adalah Vidrian Christensen.


Namun karena alasan yang tidak di ketahui, Vidrian tidak pernah menunjukkan dirinya. Bahkan sangat sedikit orang yang mengetahui bahwa Vidrian adalah pemilik yang sebenarnya.


Vidrian menatapnya dengan dingin. "Masukan mereka ke daftar hitam," ucapnya. "Aku paling benci mereka yang mengarahkan cakarnya kepada anak kecil."


"Baik. Seperti yang Anda minta." Segera ia memberikan isyarat agar Dorothy di bawa pergi.


Tahu apa yang akan terjadi selanjutnya padanya jika ia di seret pergi, Dorothy berteriak, "Beraninya kau! Keluarga Dawson tidak akan tinggal diam atas apa yang kalian lakukan."


Vidrian terkekeh, merasa perkataan Dorothy sangat lucu. "Oh, benarkah? Aku tidak sabar melihat apa yang akan keluarga Dawson lakukan padaku." Selesai mengatakan ini, ia melangkah pergi. Meninggalkan semua orang dengan perasaan rumit, meninggalkan Dorothy dengan amarah tinggi.


Sementara itu, Vidrian berjalan tanpa menoleh ke belakang. Tidak ada jejak ketakutan dalam dirinya. Baginya, keluarga Dawson hanya semut kecil yang bisa ia injak sesuka hati.


Juga, jangan pikir semua akan berakhir di sini.


Hanya karena mereka yang membuat kekacauan sudah di masukan ke daftar hitam, bukan berarti permasalahan sudah selesai. Karena ia sudah berkata akan membuat Dorothy merasakan bagaimana rasanya memiliki anak, ia tentu harus membantunya mewujudkannya.


Ketika saatnya tiba, ia akan meminta asistennya untuk menanganinya.


Vidrian mencari keberadaan Savana melalui kamera pengawas. Begitu melihat gadis itu duduk di salah satu kursi di sudut yang cukup terpencil bersama keluarga lain dan tertawa bahagia, matanya menyipit. Anak nakal itu, bukannya mencari dirinya, justru bersenang-senang dengan keluarga lain?


Hebat. Sangat hebat.


Tunggu dan lihat apa yang akan ia lakukan untuk memberinya pelajaran.


Vidrian menggeretakan gigi sebelum berjalan cepat menuju ke tempat dimana Savana berada.

__ADS_1


Sementara itu, pembicaraan yang menyenangkan terjadi di meja Ruby. Meski Ruby dan Xavier tidak banyak bicara, namun Savana dan Sean sudah cukup menghidupkan suasana.


Tanpa di duga, kedua anak itu sangat cocok dan perbincangan mengalir begitu saja. Untuk beberapa alasan, Ruby bersyukur karakter Sean seperti dirinya. Ceria, ramah, banyak bicara dan mudah berteman. Tetapi jika Sean benar-benar seperti dirinya, lalu kenapa sekarang ia menjadi seperti ini?


Jawabannya adalah waktu.


Waktu yang sudah mengikis keceriaannya, waktu yang sudah mengubah ia menjadi dirinya yang sekarang.


Rasa sakit, luka, kekecewaan serta keputusasaan di masa lalu, berhasil mengubah dirinya menjadi pribadi yang acuh dan dingin. Beberapa orang yang mengenalnya di masa lalu juga tercengang dengan perubahannya. Namun mereka yang mengetahui kisah pilunya di masa lalu, bisa mengerti, memahami dan tidak menghakiminya.


"Savana, apa Daddy mu tidak akan memarahimu?"


Suara kecil Sean berhasil mencuri perhatian Ruby. Bukan suaranya tetapi pertanyaannya. Pertanyaan itu adalah yang ingin Ruby tanyakan sedari tadi, namun karena beberapa alasan ia memilih untuk memendam pertanyaan itu. Bukan karena ia tidak menyukai Savana, ia hanya tidak ingin dekat dengan gadis kecil itu. Benar-benar tidak ingin dekat.


"Tidak akan," jawab Savana. "Daddy pasti sedang sibuk sekarang." Daripada bersama ayahnya, sejujurnya Savana lebih bahagia bergabung dengan keluarga ini. Meski ibu dan kakak laki-laki Sean tidak banyak bicara, namun untuk beberapa alasan yang tidak di ketahui, ia merasa nyaman bersama mereka.


"Benarkah?" tanya Sean.


Savana ragu untuk sesaat sebelum mengangguk. "Kurasa."


"Apakah dia tidak mengkhawatirkan mu jika kau berlama-lama di sini bersama kami?"


"Tidak akan."


"Kau yakin?"


"Tentu saja. Aku pemberani dan mandiri."

__ADS_1


Belum sempat Savana menutup mulut, suara berat seorang pria terdengar memanggil namanya. "Savana Veronica Christensen." Jika sudah memanggil dengan nama lengkap, artinya sudah sangat jelas. orang itu akan memarahi Savana, segera.


Savana terperanjat. Mendengar suara yang familiar, ia menoleh ke arah sumber suara. Melihat Vidrian berjalan mendekat ke arahnya, Savana mengerutkan kening. "Daddy, kenapa kau di sini?" Pertanyaan ini terlontar begitu saja dari mulutnya hingga ketika ia menyadarinya, ia segera menutup mulutnya. Upss.. ia salah bicara.


__ADS_2