
Sebagai orang yang sehat jasmani dan rohani, tidak mungkin Vidrian tidak mendengar pertanyaan Savana. Ia berjalan menuju putri kecilnya dan sudah menyiapkan banyak kata untuk memarahinya.
Sementara Ruby, meski tidak menoleh, seketika aktifitasnya terhenti. Ia tahu siapa itu tanpa harus menoleh. Suara yang familiar, aroma yang ia kenal.
Vidrian, Vidrian Christensen.
Sejujurnya Ruby tidak pernah berpikir untuk bertemu atau menemui pria itu lagi. Baginya, pria itu seperti wabah. Kapanpun ia bertemu dengannya, ia akan merasakan sakit di hati dan seluruh tubuhnya. Namun secara tidak terduga, ia justru bertemu pria itu, lagi. Dan parahnya, seperti yang ia duga, seperti yang ia takutkan, Savana memang putri pria itu.
Tidak. Sebenarnya ia sudah tahu.
Kecurigaan itu bahkan sudah ada sejak pertama kali Ruby melihat Savana, namun ia berusaha menutup mata, ia berusaha menekan kecurigaannya. Ia mencoba tidak peduli, ia mencoba tidak mengacaukan hubungan dengan pikiran yang tidak berguna. Dan yang terpenting, ia tidak ingin kehadiran mereka mempengaruhi hidupnya dan mempengaruhi keluarga kecilnya.
Namun ternyata ia keliru.
Siapa sangka jika apa yang ia lakukan yang ia pikir benar membuatnya tertampar di pipinya secara langsung? Bertemu dengan mereka, tak ubahnya seperti tertampar di wajah.
Namun sudah terlambat untuk menyesalinya.
Tidak ada lagi ruang untuk kembali. Sekarang ia sudah mendapat karmanya. Kenyataan bahwa Savana adalah putri orang itu, sudah jelas siapa ibunya. Dan itu sudah cukup menenggelamkannya sampai tidak bisa mengambil nafas di permukaan.
Ia hancur. Sangat-sangat hancur.
Namun, bukan Ruby namanya jika tidak bisa menutupi perasaannya.
Berusaha tidak terganggu dengan kedatangan Vidrian, Ruby kembali melanjutkan memotong daging di piringnya. Ia kehilangan selera makannya, namun ia tidak boleh terlihat lemah.
Setelah menyuapkan sepotong kecil ke mulutnya, Ruby meletakan pisau dan garpunya. Daging di mulutnya terasa seperti batu yang tidak akan halus meski sudah ia kunyah puluhan kali. Jika tidak sedang di tempat umum, mungkin ia sudah meludahkan nya. Namun untuk mempertahankan wibawanya, ia terpaksa mengunyah dagingnya dengan susah payah dan segera menelannya tanpa menunggu halus.
Savana menoleh. "Kau datang, Dad?" Savana mengubah pertanyaannya. Ia menatap Vidrian dengan tatapan rumit. Setelah mengantar Sean, ia tidak kembali, apa mungkin Vidrian marah? Bukan mungkin, tapi pasti. Ditambah ia tidak mencarinya, sudah pasti Vidrian akan meledak karena kemarahan.
__ADS_1
Namun beruntung bagi Savana karena fokus Vidrian tidak lagi pada Savana, fokusnya saat ini jatuh pada beberapa wajah yang tampak familiar. Salah satunya adalah anak laki-laki yang Savana selamatkan, dan yang lain adalah..
Ruby Diedrich.
Vidrian tercengang sesaat sebelum otaknya berhasil mengambil alih. Ruby adalah orang yang sangat ingin ia lihat. Benar-benar ingin. Wajah yang selalu ia rindukan, wajah yang selalu terlihat bahkan dalam mimpi, ia tahu bahwa ia bisa gila jika terus-menerus berpikir Ruby adalah Rubika. Namun saat ini ia benar-benar tidak peduli.
Ia sungguh merindukannya.
Dan kerinduan itu tanpa sadar mengubahnya menjadi orang buta. Buta warna, buta hati, buta segala-galanya.
Ketika Vidrian akhirnya tersadar kembali dan menyadari bahwa anak yang Savana selamatkan duduk di meja yang sama dengan Ruby, tangannya terkepal tanpa sadar.
Anak itu..
Jadi dia..
Sial.
Rupanya mereka adalah anak-anak Ruby. Anak-anak Ruby dengan Osvaldo.
Vidrian mengerang dalam hati. Membayangkan bagaimana proses pembuatan mereka, ia marah tanpa alasan. Ditambah keacuhan Ruby bahkan setelah tahu ia di sini, ia menjadi semakin kesal.
Sebenci itulah Ruby kepadanya?
Atau.. seburuk itulah ia di mata Ruby?
Pemikiran ini membuatnya merasa sedikit tidak percaya pada dirinya sendiri. Siapa itu Ruby? Itu adalah mimpi dan delusi paling sempurna di hati para pria. Lalu kenapa ia marah kepada wanita yang bukan miliknya? Perasaan macam apa ini?
Vidrian tidak memiliki cara untuk mengetahui nama perasaan ini. Ia berjalan menuju Ruby kemudian berkata, "Selamat malam. Sungguh kebetulan bertemu Anda di sini."
__ADS_1
Saat namanya disebut, Ruby menyelipkan rambutnya di belakang telinganya, memperlihatkan anting panjangnya sebelum menoleh. "Selamat malam, sungguh kebetulan yang mengejutkan," ucapnya. Siapa yang menduga akan melihat sampah bercecer di restoran mewah seperti ini? Tahu begitu, ia tidak akan datang ke tempat ini. Sungguh tidak akan datang.
Vidrian mengulas senyum tipis. Senyum yang jarang ia tunjukkan kepada orang lain itu agaknya tidak berguna untuk Ruby.
"Kalau boleh tahu, apa yang Anda lakukan di sini?" tanya Ruby kemudian. Sungguh pemandangan yang mengganggu dengan Vidrian di sekitar. Jika bisa, bukanlah lebih baik Vidrian menyingkir dari pandangannya? Hanya itu yang ia inginkan untuk saat ini.
"Saya datang untuk menjemput putri saya," jawab Vidrian.
"Putri Anda?" Meski tahu siapa yang Vidrian maksud, untuk saat ini Ruby memilih untuk pura-pura bodoh.
"Ya, putri saya," jawab Vidrian. Tatapannya mendarat pada Savana dan ia kembali berkata, "Savana adalah putri saya."
"Oh, begitu." Reaksi Ruby datar.
"Ya, dan sepertinya putra Anda baru saja mendapat masalah," ucap Vidrian.
"Saya tahu dan terima kasih sudah membantu Sean." Meski Ruby sudah meminta Lily untuk menyelidiki ini, namun nampaknya Vidrian sudah mengambil alih dan membereskannya.
Sedikit disayangkan karena ia tidak memiliki kesempatan untuk menunjukkan kekuasaannya. Namun tak apa, asal orang-orang itu hancur, perkara siapa yang memberi pelajaran, tidak masalah.
"Hanya masalah kecil, jangan sungkan," sahutnya. Ia hanya tidak sengaja membantu Sean. Jika bukan karena Savana, ia sudah meminta orang lain untuk melakukannya. Namun demi putri kecilnya, apapun akan ia lakukan. Dan kebetulan, anak yang ia bantu adalah Sean, putra Ruby.
Menatap wajah Ruby yang cantik dan tanpa cela, Vidrian merasakan gumpalan aneh di tenggorokannya dan ia sedikit mengerucutkan bibirnya. Begitu beberapa emosi terangsang, akan sulit untuk menekannya.
Terlepas dari itu, Vidrian juga tidak bisa mengambil kendali. Mungkin ini adalah sifatnya, sifatnya jika berhadapan dengan seseorang yang baginya cukup berarti.
Mendengar jawaban Vidrian, Ruby mengerutkan kening. Baginya, semua tentu tidak sesederhana itu. Ia bukan orang yang suka berhutang budi, jika ia tidak membalas kebaikan Vidrian sekarang, takutnya Vidrian akan mengungkit bahkan meminta pembayaran darinya di kemudian hari. Daripada mengobati, ia lebih suka mengantisipasi. Semudah mencegah daripada menanggulangi.
Rubi menyentuh dagunya. "Saya tidak berpikir demikian," ujarnya. "Saya tipe orang yang tidak suka menunda dan akan membayar lunas kebaikan yang sudah saya dapatkan." Sampai tidak ada celah bagi orang lain untuk mengungkitnya di kemudian hari. Lebih tepatnya, ia tidak akan membiarkan dirinya dimanfaatkan.
__ADS_1