
Begitu sampai di kediaman, Ruby segera masuk dan pergi ke ruang kerjanya. Niatnya tentu untuk melihat seberapa antusias Xavier tentang masalah ini.
Ia naik dengan hati-hati dan berharap Xavier sudah melupakan segalanya. Meski tidak masuk akal mengharapkan hal semacam itu, namun tetap saja ia masih berharap.
Mungkin karena ia takut putranya akan membencinya. Sehingga ia berdoa di dalam hati dan menyebut nama Tuhan hingga ia tidak bisa menghitungnya lagi.
Namun harapan hanya tinggal harapan.
Seberapa banyak pun ia berdoa, berapa banyak pun nama Tuhan yang ia sebut, segala hal masih saja tidak berjalan ke arah yang ia harapkan.
Begitu masuk ke ruang kerjanya, Ruby melihat Xavier duduk di sofa. Ia menghela napas tidak berdaya. Namun ia tidak menunjukkannya. "Kau di sini?" tanyanya.
Xavier mengangguk. "Ya."
Ruby meletakan tasnya di atas meja lalu berjalan menghampirinya. Setelah mencium dahinya, ia mendudukkan diri di seberangnya. "Dimana Sean?" tanyanya. Meski tampak tenang, jantungnya berdebar sangat kencang. Ia berpikir, bagaimana jika ia membohongi Xavier? Namun segera gagasan itu lenyap dari pikirannya.
Pertama, ia tidak bisa membohongi Xavier. Kedua, ia masih tidak bisa membohonginya. Dan ketiga, ia tetap tidak bisa membohonginya apapun alasannya.
Ia menyimpan rahasia itu selama ini karena tidak pernah ada yang menanyakan atau mengungkitnya, sehingga ia merasa tidak perlu mengatakan atau menceritakan kisah kelamnya kepada siapapun. Namun sekarang berbeda. Situasinya tidak lagi sama dan karena Xavier sudah bertanya, tidak mungkin ia menutupinya lagi.
Namun tetap saja ia merasa tidak nyaman.
Di satu sisi ia tidak ingin memberitahu mereka, namun di sisi yang lain ia bertekad untuk tidak memberikan beban kepada putranya yang masih kecil. Sejujurnya bagus Sean tidak di sini. Xavier mungkin mengupayakan banyak hal untuk mengusir Sean dari permasalahan ini.
"Dia sedang sibuk, jangan khawatirkan dia." Xavier menyiratkan agar Ruby tidak perlu khawatir anak itu akan menganggu. Masalah orang dewasa terlalu rumit, sedangkan Sean masih sangat kecil, ia hanya bisa menyingkirkannya untuk sementara waktu.
__ADS_1
Ruby melipat tangannya di dada. "Jadi, apa yang ingin kau tahu?" Ia menatap Xavier lekat. Bocah tampan itu memang sangat mirip dengan ibu kandungnya. Meski ia tidak pernah bertemu dengannya, namun dari foto yang menempel di dinding kamar tidur Xavier, ia dapat melihat banyak kemiripan di antara mereka.
Sungguh ironi kehilangan ibu di usia muda.
Ia merasa sedih untuk bocah kecil itu.
Mungkin ini yang Savana rasakan.
Itu sebabnya ia tidak bersikeras menutupinya lagi. Jika memang harus terkuak, maka terjadilah. Paling tidak, ia tidak akan merasa buruk jika orang lain menganggapnya tidak bertanggungjawab, asal Xavier tidak berpikir seperti itu, itu sudah cukup.
"Siapa pria itu?" tanya Xavier langsung ke intinya. Hanya pertanyaan singkat, tidak lebih dari tiga kata, namun mengandung banyak arti. Dan ia bertanya layaknya pria dewasa, seolah jawaban apapun yang akan terlontar dari mulut Ruby, ia dapat menerimanya.
Pertanyaan Xavier membuat suasana seketika berubah menjadi lima kali lipat lebih serius. Ketegangan serasa mampu membelah apa saja yang ada, menghempaskan lalu menghancurkan tanpa sisa.
Ruby menghela napas berat, seolah pertanyaan itu tak ubahnya menuangkan air dingin di kepalanya. Meski sulit, ia segera menjawab, "Dia Vidrian Christensen, CEO SVN. Pendiri sekaligus pemilik perusahaan yang baru didirikan beberapa tahun lalu atas bantuan Damian Adelard dari perusahaan Adelard yang saat ini di ambil alih oleh Rikas Adelard," jawab Ruby. Ia tahu seluk beluk SVN karena sebelum menemui Vidrian saat itu, Lily membacakan sekilas awal berdirinya SVN hingga berkembang pesat seperti sekarang.
Xavier mengangguk.
"Benar-benar?"
"Ya."
Ruby terdiam. Tatapannya berpindah, menatap ke luar jendela. Daripada tidak bisa menjawab, Ruby hanya tidak tahu darimana harus memulai. Ceritanya begitu panjang. Namun ia akan meringkasnya. Ia berkata, "Sebelum aku menikah dengan Daddymu, aku sudah pernah menikah. Pernikahan tanpa cinta yang berakhir menyedihkan."
Xavier tidak terkejut saat mendengar ini.
__ADS_1
Fakta bahwa Ruby pernah menikah sebelum menikah dengan ayahnya bukan lagi rahasia di keluarganya. Namun tidak ada yang pernah mempermasalahkannya. Juga tidak pernah ada yang peduli pria mana yang pernah Ruby nikahi. Masing-masing orang memiliki masa lalu, itu yang selalu mendiang ayahnya katakan kepadanya.
Di samping itu ia masih terlalu kecil untuk ikut campur masalah orang dewasa. Jadi ia tidak benar-benar memikirkannya. Ketika akhirnya topik ini di angkat lagi, mau tidak mau ia kembali memikirkannya.
Tentang mantan suami Ruby, tentang pernikahan Ruby sebelumnya, lalu apa hubungannya semua itu dengan orang-orang yang Ruby sebutkan?
Sebelum Xavier dapat menemukan jawaban untuk beberapa pertanyaannya, Ruby berbicara, "Dari pernikahan itu, aku melahirkan seorang putri."
Kali ini, perkataan Ruby berhasil membuat Xavier terkejut.
Layaknya tertimpa sesuatu yang berat, Xavier menatap Ruby penuh keterkejutan. Jika itu berita lain, bahkan jika ia terkejut, ia tidak akan menunjukannya dengan jelas. Tetapi ketika masalah itu melibatkan Ruby, sulit baginya untuk bersikap rasional dan tenang.
Xavier menatap Ruby dan sebongkah perasaan rumit menghampirinya. Ruby melahirkan seorang putri? Apakah mungkin..
Melihat wajah berkonflik Xavier, Ruby berkata, "Benar, Savana adalah putriku dari pernikahan ku dengan Vidrian. Aku melahirkannya delapan tahun lalu dengan mempertaruhkan seluruh hidupku."
Xavier terdiam dan tidak tahu harus berkata apa. Rasionalitasnya pecah berkeping-keping. Kepingannya bahkan menjadi serbuk dan jiwanya melayang jauh sampai ke luar wilayah.
Savana adalah putri Ruby dan Vidrian adalah mantan suaminya?
Xavier masih tidak percaya dengan ini. Bahkan jika bukti nyata di hadapkan di depannya, ia masih tidak dapat menerimanya. Ruby memiliki putri saja masih sulit di terima dengan akal sehat, di tambah Savana adalah putri yang dia lahirkan, ia semakin enggan menerima kenyataan itu.
Memang, Ruby hanya ibu tirinya.
Namun di dalam hatinya, dia sudah menjadi ibunya.
__ADS_1
Ia bahkan bertekad untuk mengambil alih perusahaan ketika ia tumbuh sedikit lebih besar hanya untuk memberikan kehidupan yang nyaman bagi Ruby dan Sean. Ia masih sepuluh tahun saat ini, beberapa tahun lagi seharusnya sudah cukup. Alasan yang sama mengapa ia bertingkah sangat dewasa, ia tidak ingin membuat Ruby khawatir.
Itu sebabnya ia marah tanpa alasan saat mengetahui Ruby memiliki anak lain. Entah karena cemburu atau apa, ia tidak punya waktu untuk mencari tahu nama perasaan ini.