Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 28 ~ Haruskah Ia Mengatakan Segalanya?


__ADS_3

Setelah melihat beberapa pertarungan lagi, Ruby dan Veronica memutuskan untuk kembali.


Tidak berselang lama, mobil yang Veronica kemudikan tiba di kediaman Diedrich. Saat ini pukul dua dini hari. Kediaman tampak gelap namun tidak menakutkan. Daripada menakutkan, itu lebih terlihat tenang.


"Aku akan mengirim mobilmu, segera. Tenang saja, aku tidak akan menjualnya," ucap Veronica setelah mobil yang ia kemudikan berhenti di halaman kediaman Ruby.


Ruby melepas sabuk pengamannya. "Mungkin kau tidak akan menjualnya, namun bukan hal yang mustahil kau mencurinya." Ia tahu betul karakter Veronica yang selalu mendambakan barang milik orang lain. Tidak. Lebih tepatnya barang miliknya. Wanita itu terobsesi dengan segala yang ia miliki, termasuk Xavier dan Sean.


Kedua anak tampannya yang berharga juga menjadi target incaran Veronica. Terlepas dari apakah Veronica ibu baptisnya atau tidak, Veronica tetap akan mencuri mereka jika ia lalai.


"Aku tidak seburuk itu, Ruby," Veronica membela diri.


"Percayalah, kau seburuk itu, Veronica."


Veronica cemberut. "Bagaimana jika aku menginap malam ini?" Mengatakan ini, ia sangat bersemangat. "Akan sangat menyenangkan jika kita tidur di ranjang yang sama. Kita bisa berkolaborasi sampai pagi. Menikmati malam yang indah dengan romantis. Tidakkah itu menyenangkan?" Bayangan mereka berdua menghabiskan malam yang menyenangkan bergulir di benaknya. Ia menyukai perasaan menghabiskan waktu berdua dengan Ruby.


"Dalam mimpimu." Dengan satu kalimat itu, Ruby turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumahnya, meninggalkan Veronica dengan raut wajah suram.


Ruby tahu jalan pikiran Veronica sedikit tidak bertanggung jawab. Namun ia tidak menduga wanita itu begitu berani mendambakan tidur dengannya.


Meski di masa lalu ia sering tidur dengan Veronica, secara harfiah, namun setelah dewasa, mereka tidak melakukannya lagi. Selain jarang bertemu, ia merasa tidur dengan wanita itu sedikit canggung. Meski tentu saja tidak ada yang mereka lakukan selain berbincang kemudian tidur, tetapi tetap saja terasa aneh setelah sekian lama tidak melakukannya.


Ruby menutup pintu dan melemparkan tasnya ke atas meja. Lalu ia berjalan ke jendela untuk menerima panggilan. Ia menggosok bagian tengah alisnya dan wajahnya sedikit tidak berdaya. "Apa ada masalah? Kenapa kau menghubungiku dini hari begini?" tanyanya pada seseorang di balik panggilan.


"..."


"Baiklah, di situ tidak dini hari, tapi di sini, iya. Sekarang katakan, hal penting apa yang ingin kau katakan padaku?"


"...."

__ADS_1


"Kenapa kau berbicara seperti Veronica? Aku akan mengurus semua ini sendiri."


"...."


"Seperti? Seperti apa?" Ruby menggeser telepon ke tangannya yang lain dan menatap bintang-bintang yang bersinar di langit. "Daripada berharap hubungan ilusi, aku merasa lebih baik melakukan sesuatu yang berarti. Max, bumi tidak akan berhenti berputar jika seseorang pergi," ucapnya enteng.


"...."


"Mari kita berkumpul ketika kau kembali. Aku harus mandi sekarang."


"...."


"Ya, jika kau berkata seperti itu, aku akan tinggal di sini sampai kau pulang. Lagipula, aku punya banyak pekerjaan yang aku tidak yakin dapat menyelesaikannya dalam dua minggu."


"...."


"Aku akan pergi tidur setelah mandi. Kau berhati-hati. Selamat tinggal." Ruby menutup telepon. Melihat cahaya terang lampu taman, matanya yang gelap menjadi emosional. Ia meraih tasnya dan naik ke lantai dua kemudian masuk ke kamar tidurnya.


Pagi harinya Ruby bangun sedikit terlambat.


Kemudian ia bersiap-siap berangkat ke perusahaan.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Anak-anak mungkin sudah sarapan sejak tadi. Ia bangun sedikit lebih siang jadi ia meminta kepala pelayan untuk tidak menunggunya sarapan.


Tetapi sepertinya semua tidak berjalan seperti yang diharapkan.


Kenyataannya, saat turun dan pergi ke ruang makan, ia melihat Xavier dan Sean masih berada di sana, menunggunya. Sebelah matanya menyipit. "Ada apa ini? Apakah kalian tidak menyukai sarapannya?" Ia berjalan menuju Xavier kemudian mencium keningnya. Lalu ia berjalan menuju Sean dan melakukan hal serupa. Setelah itu ia duduk di kursinya.


"Tidak. Kami menyukainya. Kami hanya.. menunggumu," jawab Xavier.

__ADS_1


Ruby terkejut. "Menungguku?" tanyanya. Ia sudah berkata pada kepala pelayan agar tidak menunggunya. Entah kepala pelayan tidak mengatakannya atau kedua putranya yang keras kepala, mungkin yang kedua. Xavier dan Sean jelas sangat keras kepala.


"Ini bukan salah kepala pelayan," ujar Xavier lagi.


Ruby mengangguk. "Baiklah, aku mengerti." Ia memang tidak berpikir kepala pelayan salah dalam hal ini. Paling-paling Xavier dan Sean yang membuat masalah. "Sekarang makan sarapan kalian. Guru akan segera datang. Kalian harus belajar dengan baik."


"Tapi, Mom."


"Ada apa, Xavier?"


"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?"


Ruby memutar bola matanya. "Tentang?"


"Semua yang terjadi?"


Ruby termenung. Ia lupa jika putranya sudah besar. Masalah seperti ini, mustahil mereka tidak menyadarinya. Namun, haruskah ia mengatakan segalanya kepada dua anak itu?


Ia berkonflik.


Memikirkan konsekuensi yang akan terjadi jika ia berkata jujur, ia merasa lebih baik menyembunyikan ini selamanya. Namun jika tidak, jika kedua putranya mengetahuinya dari orang lain, bahkan jika perasaan mereka tidak berubah setelah mengetahui ia memiliki anak lain selain mereka, ia yakin mereka akan sangat kecewa, marah dan mungkin membencinya.


Kekhawatiran itu yang membuatnya pada akhirnya ketakutan.


Namun di satu sisi, Ruby tahu tidak akan ada rahasia yang bertahan selamanya. Bahkan jika saat ini kebenaran itu tertutup rapat, bukan tidak mungkin besok akan terkuak.


"Mom."


Suara Xavier menyentak lamunan Ruby.

__ADS_1


Ruby menoleh kemudian buka suara, "Aku sibuk saat ini. Jika kau ingin tahu sesuatu, datang ke ruang kerjaku saat aku pulang nanti. Aku akan mengatakan apapun yang ingin kau ketahui setelah aku pulang kerja, em?" Bicara sekarang atau nanti, sebenarnya sama saja. Ia tidak mungkin menundanya lagi. Sejujurnya cukup baik mengatakan lebih awal. Lagipula semakin cepat mereka mengetahuinya, semakin cepat pula ia bisa membuat keputusan.


Xavier mengangguk. "Uh huh. Terima kasih, Mom."


__ADS_2