Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 11 ~ Memulai Penyelidikan


__ADS_3

Kediaman Christensen.


Vidrian tidak kembali ke perusahaan.


Sebaliknya, ia membawa Savana kembali ke rumah lalu membiarkan anak perempuan itu bermain dengan mainannya.


Sementara Savana bermain, Vidrian duduk di sofa dengan ponsel di tangannya. Ia baru saja menelepon Carl dan meminta pria itu untuk menyelidiki masa lalu Ruby, atau apapun tentangnya. Sedetail mungkin. Semakin detail semakin bagus. Ia ingin tahu semuanya tentang wanita itu, dari yang kecil hingga yang besar, dari yang biasa sampai yang tidak biasa.


Sesekali ia menoleh untuk melihat apa yang sedang Savana lakukan. Setelah itu ia akan kembali sibuk dengan pikirannya.


Vidrian menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan mulai menganalisa apa yang terjadi seharian ini. Mulai dari pertemuannya dengan Ruby hingga perbincangan sengit di antara mereka.


Tidak tahu kenapa Ruby sangat membencinya.


Entah apa alasannya, namun tidak mungkin tanpa alasan.


"Ruby, siapa sebenarnya kau?" gumamnya.


Mengingat wajah cantiknya, fokusnya tidak bisa berada hanya di satu tempat. Pikirannya melayang-layang dan pada akhirnya pikirannya jatuh pada satu gadis di masa lalu. Kembali ke masa-masa saat ia membangun rumah tangga dengan Rubika.


Pada saat itu, ia adalah bajingan yang cukup brengsek. Karena kebrengsekan nya, ia tidak bisa lagi membedakan mana yang baik dan mana yang tidak.


Suatu hari Rubika datang dan mengatakan dia hamil anaknya.


Sebagai pria muda yang tampan, Vidrian tertekan.


Ia masih muda, tapi harus menjadi seorang ayah?


Maaf, ia tidak siap untuk itu.


Ia menolak dengan tegas.


Namun mempertimbangkan betapa Rubika sangat ingin melahirkan anak itu, ia tidak punya pilihan lain. Ia tersudut dan benar-benar datang ke Biro Urusan Sipil untuk mendapatkan sertifikat pernikahan.


Terlepas dari seberapa brengsek ia sebelum menikah, setelah menikah, perlahan ia mulai berubah.

__ADS_1


Meski tidak bisa di katakan sebagai suami yang baik, meski ia selalu sibuk dengan urusannya sendiri dan selalu mengabaikan Rubika, namun ia tidak pernah sekalipun mengkhianatinya. Lalu entah apa yang terjadi, entah karena alasan apa, Rubika meminta cerai setelah melahirkan Savana secara prematur. Hak asuh Savana jatuh padanya. Dan setelah itu Rubika pergi entah kemana.


Mengasuh anak seorang diri, ia tidak berdaya.


Ia mempekerjakan dua pengasuh namun itu masih tidak cukup. Savana membutuhkan seorang ibu.


Pada akhirnya ia mulai mencari Rubika. Namun keberadaannya tidak di ketahui. Ia pergi ke rumah keluarga Hills, namun keluarga Hills juga hilang bak ditelan bumi.


Sekali lagi ia jatuh pada ketidakberdayaan.


"Daddy, lihat, aku bisa menyusun ini menjadi Piramida." Savana memperlihatkan tumpukan lego yang sudah tersusun membentuk Piramida. Senyumnya yang menawan dengan dua lesung pipit dan mata membentuk bulan sabit semakin memperindah fitur wajahnya.


Gadis cantik berusia delapan tahun itu belum pernah melihat ibunya setelah di lahirkan. Bahkan mungkin ibunya sudah lupa memiliki ia sebagai putrinya. Namun meski di besarkan tanpa sosok ibu, ia tidak pernah mengeluh. Ia menjalani hari-harinya dengan ceria dan energik. Tidak peduli apa, ia masih punya ayah yang menyayanginya. Begitu pikirnya.


Lamunan Vidrian tersentak. Ia menoleh dan melihat tumpukan Lego membentuk Piramida yang di susun rapi dan tinggi oleh Savana. Ia bangkit lalu berjalan menghampirinya. "Wah, bukankah kau sangat hebat? Darimana kau mempelajarinya? Bisakah kau mengajariku?" Vidrian bertanya dengan antusias.


"Tentu saja," jawab Savana. "Aku memiliki Daddy yang luar biasa dan aku menuruni sifatnya. Lalu aku akan mengajarimu menyusunnya." Savana tersenyum lebar, memamerkan bakatnya yang luar biasa.


Vidrian tersenyum. "Kau memang putriku," ucapnya sembari mengusap puncak kepala Savana.


***


Seperti biasa, Ruby memulai hari yang melelahkan dengan bekerja. Duduk di balik meja kerjanya, ia sedang memeriksa beberapa dokumen penting yang dikirim oleh Slade.


Dampak yang ditimbulkan karena masalah yang terjadi kemarin tidak cukup untuk mempengaruhi citranya. Namun ia harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk mengatasinya.


Ruby menutup matanya dan menghela napas panjang.


Pada akhirnya ia kehilangan uang-uang itu.


Sungguh di sayangkan.


Padahal ia bisa membeli Supercar menggunakan uang itu.


Namun tidak ada yang perlu di sesali. Semua sudah terjadi. Jika ada sesuatu yang lebih penting, tentu saja lebih berhati-hati di masa depan agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.

__ADS_1


Lily mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Tidak ada jawaban, ia membuka pintu dan menerobos masuk. "Nyonya, seseorang sedang mencari tahu tentang Anda," ucapnya. Ia menghentikan langkah di depan meja Ruby dan menatap wanita itu dengan serius, menunggu instruksi.


Mata terpejam Ruby perlahan terbuka. Ia mengutak-atik cincin berlian di jari manisnya dan berkata, "Lepaskan seperlunya." Karena perjumpaan dengan Vidrian sudah terjadi, beberapa hal tidak perlu di tutupi lagi. Tetapi hanya hal-hal yang mendasar. Sesuatu yang penting, tidak perlu.


Lily tersentak. Ia tidak menduga akan mendapat jawaban seperti ini dari Ruby. Ia pikir wanita itu akan memukul mundur mereka yang berani mengusiknya, namun siapa sangka jawaban Ruby benar-benar mengejutkan?


Namun Lily tidak berani meragukan perkataan Ruby.


Sesuatu yang Ruby lakukan, jelas sudah diperhitungkan.


Lily segera menjawab, "Baik, Nyonya. Seperti yang Anda perintahkan." Ia membungkuk kemudian melangkah pergi.


Melihat kepergian Lily, Ruby mendesah kasar. Pria itu benar-benar merepotkan. Setelah membuatnya kehilangan segalanya, sekarang dia datang kembali dan mengusiknya?


Ruby menyeringai.


Mari lihat seberapa mampu dia.


Sementara itu di perusahaan SVN, Carl memberanikan diri untuk berbicara dengan Vidrian tentang berita yang baru saja ia dapatkan. "Kami masih berusaha, Tuan," ujarnya. Hanya beberapa kata, namun ia tahu kata-kata itu lebih dari mampu untuk menyulut emosi bosnya.


Carl tahu ini bukan kabar yang baik. Namun ia juga tidak bisa berbuat banyak. Bahkan orang kepercayaan mereka belum berhasil mendapatkan informasi apapun tentang Ruby, selain informasi dasar yang tertulis di internet.


Bukan karena mereka tidak mampu, bukan juga karena mereka tidak kompeten, hanya saja Ruby terlalu kuat. Mengingat betapa mendominasinya Ruby, akan sulit bagi mereka untuk memuaskan bosnya. Tapi, apa mau dikata? Itulah kenyataannya.


Vidrian menatap Carl dengan dingin. Melihatnya datang tergesa-gesa dan menyampaikan informasi tidak berguna itu, kepalanya mengeluarkan asap. Amarah perlahan-lahan membakarnya dan sekarang ia sangat ingin menghukum orang-orang itu.


Hanya informasi tentang seorang wanita, dan mereka gagal mendapatkannya? Rupanya ia hanya membayar sekelompok sampah. Tunggu sampai ia memotong gaji semua orang atas ketidakmampuannya menangani masalah sepele.


Belum sempat Vidrian merealisasikan keinginan di hatinya untuk melampiaskan amarahnya, ponsel Carl berdering. Carl menatap Vidrian dengan meminta maaf sebelum bergerak cepat menerima panggilan.


Begitu mendengar pihak lain berbicara, ekspresi wajah Carl seketika berubah. Kesuraman di wajahnya segera berganti menjadi cerah dan cerah, sangat cerah. Ia mendengarkan pihak lain berbicara tanpa memotongnya. Ia mendengarkan dengan seksama tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Setelah panggilan berakhir, Carl menyimpan ponselnya dan menatap Vidrian dengan lebih berani. "Secepatnya, Anda akan mendapatkan hasilnya," ucapnya. Entah malaikat mana yang sudah membantunya, tidak, Tuhan pasti sudah membantunya.


Vidrian menaikan sebelah alisnya. Ia menatap Carl sebentar sebelum mengibaskan tangan memintanya pergi.

__ADS_1


Carl membungkukkan badan dan pamit undur diri. Setelah berhasil keluar dari ruang kerja Vidrian, ia baru berani menghela napas.


Tidak lupa ia meletakan kelima jari tangan kanan di dahi dan mengucapkan, "Atas nama Bapa." Kemudian ia menyentuh dada sambil mengucapkan, "Putera." Setelah itu ia menyentuh bahu kiri sambil mengucapkan, "Dan Roh Kudus." Terakhir ia menyentuh bahu kanan sambil mengucapkan, "Amin." Lalu ia mengatupkan kembali tangannya dengan penuh syukur seolah baru saja terhindar dari marabahaya.


__ADS_2