Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 13 ~ Makan Malam


__ADS_3

Restauran tempat makan malam sudah di pilih.


Lily sudah mengirimkan detailnya dan Ruby segera menemui kedua putranya untuk mengatakan ini. Satu putranya sangat antusias sedang yang lain cukup antusias.


Perbedaan yang cukup besar.


Namun tak apa.


Kedua putranya lahir dari rahim yang berbeda, bahkan kalaupun lahir dari rahim yang sama, perbedaan akan selalu ada. Jadi itu benar-benar bukan masalah besar. Justru karena perbedaan ini, Ruby banyak belajar tentang pola pengasuhan anak.


Langit berubah gelap, malam telah tiba.


Selagi menunggu Xavier dan Sean bersiap-siap, Ruby duduk di balik meja kerjanya dengan tenang. Meski sudah mengatakan jika penyelidikan tentang Vidrian bukan prioritas utama, namun Lily sudah memberikan detail informasinya pada hari pertama setelah akhir pekan.


Namun alih-alih membuka dokumennya, Ruby justru menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Jari telunjuknya mengetuk pegangan kursi sementara wajahnya mendongak dan matanya menatap langit-langit ruangan.


Apa yang harus ia lakukan sekarang?


Pertanyaan itu sudah bergema di kepalanya lebih dari sepuluh kali.


Jumlah yang memenuhi batas maksimal.


Mengganggu dan terus mengganggu.


Ruby Diedrich yang hebat, yang selalu bisa mengatasi segala hal, yang selalu bisa menangani segala situasi, dilema karena pemikiran konyol itu.


Sangat berlebihan dan tidak seharusnya terjadi.


Lagipula, itu benar-benar murni hanya pemikiran konyol. Kenyataannya, apapun yang terjadi, ia tidak akan pernah membiarkan mereka bertemu dengannya dan keduanya putranya. Mereka akan tetap menjadi orang asing dan akan tetap seperti itu sampai kapanpun.


Suara ketukan pintu yang terdengar dari luar menyentak lamunan Ruby. Ia mengumpulkan akal sehatnya dan bertanya, "Siapa?"


"Saya, Nyonya." Adalah suara kepala pelayan di balik pintu.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Tuan Muda sudah siap. Mereka sudah menunggu Anda," ucapnya lagi.


"Aku akan turun sebentar lagi," ucap Ruby. Namun bukannya beranjak, ia justru memasukan dokumennya ke dalam laci dan mengambil cincin berlian yang tersimpan di sana. Segera ia memakainya di jari tengahnya.


Menatap dua cincin berlian yang bertengger bersisian di jari tangan kirinya, senyum kecil tersungging secara alami di bibirnya. Sudah ia duga, wanita iblis itu sangat tahu apa yang ia butuhkan. Tidak sia-sia menginvestasikan banyak uang untuk mendanai bisnis perhiasan Velline. Wanita tercela itu cukup berguna.


Setelah memastikan tidak ada kekurangan dalam penampilannya, Ruby berjalan keluar dari ruang kerja.


Melihat Ruby berjalan menuruni tangga, Sean berseru. "Mom, kau sangat cantik, benar-benar cantik," pujinya tanpa menyembunyikan rasa kekagumannya. Wanita yang sudah melahirkannya itu tidak tampak tua meski hampir kepala tiga. Bahkan baginya, wanita itu lebih cocok menjadi kakak perempuannya daripada menjadi ibunya.


"Terima kasih, Sean. Kau juga sangat tampan," sahut Ruby. Wajah Sean adalah salinan Osvaldo, sementara perangainya salinan dirinya. Itu sebabnya ia sangat senang memandangi wajah putranya, karena ia merasa sedang membesarkan Osvaldo kecil.


"Hanya Sean yang tampan, aku tidak?" Suara Xavier memenuhi indera pendengaran. Meski suaranya rendah, namun sulit bagi orang lain untuk mengabaikannya.


Ruby tertegun. Tidak menyangka Xavier akan mengatakan ini. Namun ia segera tersenyum. "Kau juga sangat tampan, Xavier," ujarnya. "Kau tahu, aku paling menyukaimu." Xavier juga salinan dari Osvaldo, namun bukan wajah tetapi perangainya. Wajah Xavier, daripada mirip Osvaldo, dia lebih mirip ibu kandungnya, Lathaya.


Xavier tersenyum puas. "Apa kau sudah siap, Mom?"


"Kalau begitu, mari kita berangkat."


Dengan begitu, keluarga kecil yang terdiri dari tiga orang itu keluar dari rumah dan berkendara menuju restauran yang sudah di pesan oleh Lily.


Sepanjang perjalanan, Sean terus mengoceh dan sesekali Xavier akan mengkritiknya. Namun anak laki-laki tampan berusia lima tahun itu begitu fasih berbicara. Sehingga setiap kata-kata yang Xavier lontarkan akan di kembalikan lagi kepadanya.


Xavier cemberut.


Namun semakin cemberut Xavier, semakin tertantang pula Sean untuk terus menggodanya.


Ruby tersenyum kecil. "Jangan bercanda lagi! Kita akan segera tiba." Meski itu hanya pertengkaran biasa antar saudara, namun sebagai seorang ibu, ia lebih suka melihat anak-anaknya rukun satu sama lain dan tidak saling mencibir.


"Baik, Mom."

__ADS_1


"Aku tahu."


Sean dan Xavier menjawab dengan jawaban yang berbeda.


Ruby mengangguk puas. "Kalian memang putraku," ujarnya.


Mobil berhenti tepat di depan sebuah restauran. Ruby dan kedua putranya segera turun dan melangkah masuk ke dalam.


Mengenakan gaun berwarna hitam yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, Ruby tampak dewasa dan seksi. Rambut panjangnya tergerai di punggungnya dan anting panjang berayun di telinganya. Kecantikannya benar-benar membuat orang terpana dan orang yang melihat tidak akan percaya jika ia sudah memiliki dua putra.


Sedangkan Xavier dan Sean, mereka mengenakan kemeja dan celana panjang. Mereka sangat rapi dengan rambut yang di sisir ke belakang. Wajah tampan serta aura yang mereka pancarkan mendominasi dan kedatangan tiga orang dengan wajah rupawan membuat pengunjung restauran menoleh ke arah kedatangan mereka.


Melihat tatapan mendamba beberapa pria yang menatap Ruby, Sean mengaitkan tangannya pada jemari Ruby. Ibunya yang luar biasa, ia tidak akan membiarkan siapapun mengambilnya. Hanya orang hebat seperti ayah yang pantas menjadi pendamping ibunya. Orang lain hanya sampah. Mereka tidak ada apa-apanya. Jadi, ia harus melindungi ibunya agar tidak ada yang berani memimpikannya.


"Mom, apa kau memesan ruang pribadi?" tanya Sean.


"Tidak," jawab Ruby. "Kita tidak memesan ruang pribadi. Kita akan makan di lantai pertama," lanjutnya. Ia sengaja tidak memesan ruang pribadi agar kedua putranya bisa membiasakan diri di tempat umum.


Meski bukan pertama kali kedua putranya datang ke London, namun biasanya mereka hanya tinggal selama satu atau dua hari, pun Osvaldo akan membawa mereka kemanapun dia pergi. Sedangkan sekarang, mungkin mereka akan menetap selama waktu yang tidak di tentukan, tergantung seberapa cepat urusannya berakhir.


"Benarkah?" Xavier bertanya dengan tidak percaya. "Kupikir kau tidak menyukainya?" Makan dengan orang asing di tempat umum, kapan Ruby menyukai hal-hal semacam itu? Kecuali di tempat perjamuan, biasanya Ruby tidak melakukannya.


"Sesekali melakukan hal ini, tidak masalah, Xavier. Apa kau tidak menyukainya?" tanya Ruby. Sejak kecil, Xavier dan Sean terbiasa makan di ruang pribadi jika datang ke restauran. Kalau dipikir-pikir, ini adalah kali pertama mereka melakukan hal semacam ini.


Ia berpikir mungkin Xavier tidak menyukainya.


Jika melihat bagaimana Sean berekspresi, bocah itu tampak tidak keberatan, hanya sedikit enggan. Namun Xavier berbeda. Xavier pendiam dan juga tertutup. Bocah itu tidak suka kebisingan dan berkerumun.


"Apapun keputusanmu, aku akan mengikuti pilihanmu, Mom," jawab Xavier. Yang itu berarti, meski ia tidak suka, ia tetap akan melakukannya demi menghormati Ruby.


Ruby tercengang. Anak nakal ini benar-benar tidak berguna. Rasanya seperti ia yang jahat di sini.


Ruby tahu persis betapa menyebalkan mulut Xavier jika sudah terbuka. Namun setelah enam tahun menjadi ibu tiri Xavier, Ruby mulai terbiasa dengan segala macam bentuk menyebalkan Xavier.

__ADS_1


Ruby hanya merasa lucu memiliki putra yang karakter dan tingkah lakunya sama seperti Osvaldo. Dan ia tidak pernah mengambil hati apa yang Xavier katakan. Karena memang sepedas itu mulut ayah dan anak itu. Sungguh buah yang jatuh tepat di bawah pohon.


__ADS_2