
Veronica berjalan menuju Ruby lalu mendudukkan diri di sampingnya di rerumputan. "Apa yang kau pikirkan barusan?" tanyanya memecah keheningan. Ia meletakan botol anggurnya lalu kembali berkata, "Kenapa kau begitu terganggu?"
"Aku sedang memikirkan banyak hal," jawab Ruby. "Katakan padaku, mengapa ada begitu banyak kekhawatiran dalam hidup? Akan sangat bagus jika bisa selalu tetap damai." Ia melihat langit malam yang membentang sejauh mata memandang dan membuatnya menyadari bahwa keberadaannya di sini begitu kecil. Terlampau kecil hingga mungkin saja tidak terlihat jika dilihat dari atas sana.
Betapa kecilnya?
Tetapi kenapa ada begitu banyak kekhawatiran yang dirasakan?
Kenapa hidup tidak bisa selalu damai?
Pertanyaan itu berputar-putar seperti komedi putar. Semakin ia memikirkan, semakin cepat perputarannya. Namun tetap saja tidak ada jawaban yang bisa ia temukan.
Setelah mendengar kata-kata Ruby yang naif dan ambisius, Veronica terkekeh dan menoleh ke arahnya. "Oh Rubyku sayang, dengar, manusia lahir dari rasa lelah dan cinta. Dalam hidup, manusia pasti akan mengalami kesulitan dan kebahagiaan. Kita akan mengalami semua jenis rasa sakit dan kesengsaraan. Setelah mengalami perubahan hidup, kita akan menjadi lebih kuat dan tangguh. Pada saat itu, tidak ada bahaya yang dapat menyakiti kita dengan mudah. Mungkin ini adalah jenis siksaan paling menyakitkan, namun setelah rasa sakit, kita akan mengalami manis yang menyegarkan."
Ruby tercengang. Ia hanya asal bicara, pertanyaannya pun acak, namun jawaban Veronica seolah wanita itu sudah hidup ratusan tahun. Saking terkejutnya, ia sempat berpikir wanita iblis di sampingnya bukan Veronica.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Veronica pada akhirnya. Ia menatap Ruby lekat, menunggu jawaban, meminta penjelasan. Pertama, tempat ini adalah ia yang menunjukannya pada Ruby. Dan kedua, jika bukan karena sedang punya masalah, mustahil Ruby jauh-jauh datang ke tempat ini.
"Bagaimana menurutmu?" Bukannya menjawab, Ruby justru membalikan pertanyaannya.
"Jika kau bertanya padaku, aku bertanya pada siapa?" Suara Veronica meninggi seiring kata yang terlontar.
__ADS_1
Ruby terkekeh. Melihat bagaimana Veronica terpancing emosi hanya karena hal sepele, itu cukup lucu dan menghibur.
"Hei, kau tertawa? Kau pikir aku lucu?" Veronica menggeleng. "Tidak, maksudku, aku memang lucu. Bukankah begitu?" Ia suka saat seseorang berkata ia lucu, bagaimanapun, Medusa, bagian mana yang lucu? Tidak membuat orang takut saja untung. Jadi ia cukup terhibur saat ada yang berkata demikian.
Ruby mengangguk. "Iya, kau lucu. Kau yang paling lucu."
Veronica merasa bangga dengan pujian Ruby. Namun, "Tunggu, hei, bukan itu. Kita sedang membahas apa yang terjadi padamu. Kenapa kau begitu cepat mengalihkan pembicaraan?"
"Lihat, sekarang kau menyalahkan ku? Kau lupa, kau yang mengalihkan pembicaraan?" Ruby tidak mau kalah.
Veronica berpikir sejenak. "Lupakan. Sekarang katakan, apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ini tentang pria tercela itu, lagi?" Tiba-tiba pemikiran Veronica sampai ke sana.
Lagipula, jika bukan karena bajingan tercela itu, Ruby tidak mungkin sesedih ini. Alasan kesedihan paling nyata baginya sejak delapan tahun lalu, hanya orang itu, dan ya.. selalu bajingan itu. Tidak. Sebenarnya masih ada yang lain. Tapi, lupakan saja! Itu bukan sesuatu yang penting.
Veronica menghela nafas panjang. "Tidak heran kau seperti ini. Ternyata kau sudah bertemu anak itu." Melihat Ruby diam dan tampak tidak akan menjawab, ia melanjutkan, "Itu sebabnya aku tidak pernah memberitahukan ini kepadamu." Karena seorang anak bisa menjadi titik lemah bagi orang tuanya. Dan ia yakin itu juga berlaku untuk Ruby.
Sekejam apapun Ruby, bahkan jika Ruby terbiasa membunuh orang tanpa mengedipkan mata, dia tetap seorang ibu yang sangat mencintai anaknya.
Bahkan jika Ruby sudah memiliki dua putra, tetap saja itu berbeda. Ini anak pertamanya, putri kecil yang dia lahirkan dengan mempertaruhkan seluruh hidupnya. Kemudian setelah dilahirkan, hak asuhnya di ambil begitu saja. Situasi seperti itu, siapa yang tidak kehilangan kewarasannya? Jika itu terjadi padanya, mungkin ia sudah mengakhiri hidupnya.
"Tidak. Kau salah. Tanpa kau memberitahu, aku tetap akan mencari tahu sendiri jika aku mau. Tapi, kenyataannya aku tidak melakukannya." Daripada membuang waktunya untuk masa lalu, Ruby memilih untuk sepenuhnya mengabaikannya. Dengan begitu, hidupnya menjadi lebih tenang. Namun sayangnya, ketenangan itu hanya sebentar, karena sekembalinya ia ke sini, badai kembali datang.
__ADS_1
"Ya, kau benar. Kau punya dua putra yang sangat berharga. Mereka sudah cukup. Kau tidak perlu memikirkan anak lain lagi, oke?"
Ruby mengangguk.
"Lalu katakan, apakah kau masih mencintainya?"
Ruby sedikit melengkungkan bibirnya. Mengapa orang di sekitarnya suka menanyakan pertanyaan ini?
"Hidup bukan hanya tentang cinta," jawab Ruby. Ketika ia masih muda, ia tidak mengerti ini, karena ia hanya bisa menemukan cinta. Kecuali cinta, ia tidak berdaya dalam menjalin persahabatan atau hubungan dengan anggota keluarga yang ada. Atau lebih tepatnya, ia tidak ingin berusaha, karena ia tidak bisa menahan perasaan kecewa setelah melihat esensi dari banyak hal.
Ini juga menjadi alasan mengapa ia menyerah pada cinta, karena cinta yang ia harapkan tidak sebaik yang ia bayangkan. Tidak. Ia pernah menyerah, namun Osvaldo mengubah segalanya. Terlepas dari apapun, ia berhasil mencintai Osvaldo dan memberikan seluruh hatinya untuknya.
Namun kemungkinan besar cintanya juga sudah lenyap bersama kepergian pria itu. Jika tidak dengan pria itu, mustahil ia bisa merasakan perasaan itu lagi, mustahil ia bisa mencintai lagi. Jadi, pemberhentian hatinya yang terakhir adalah pria itu, Osvaldo.
"Kau yakin?"
Ruby mengerutkan kening dan berkata. "Kau terlalu banyak berpikir."
"Hei, dia ayah putrimu. Maksudku, aku hanya tidak ingin kau membuat keputusan yang salah. Bagaimana pria tercela itu memperlakukan mu saat itu? Aku harap kau tidak lupa." Vidrian, jika bukan karena bajingan itu, Ruby tidak mungkin menderita dan merasakan rasa sakit yang hampir membunuhnya. Berkat itu, Veronica membencinya sampai ke tahap ingin menghancurkannya sampai ke tulang.
Ruby terdiam sebentar sebelum menjawab. "Veronica, sebenarnya lebih baik melupakan. Lupakan kebencian, rasa sakit, ingatan, dan kita akhirnya bisa melupakan orang itu. Bahkan dia lebih seperti mimpi dalam ingatanku. Ketika aku bangun, semuanya hilang." Dan itulah mimpi buruk yang terus menghantuinya, Vidrian, bukan Osvaldo. Karena Osvaldo adalah pemberi mimpi indah sedangkan Vidrian adalah pemberi mimpi buruk. Seperti dua sisi yang diciptakan untuk saling berbenturan.
__ADS_1
"Bagaimana jika kau kembali ke Amerika?" usul Veronica. Bukan karena ia tidak menyukai Ruby kembali ke sini, namun ia tidak mau melihat Ruby menderita lagi. Sudah cukup ia melihat Ruby sekarat, saat Ruby berhasil selamat, ia tidak rela melihat hal semacam itu terulang untuk kedua kalinya.
Lagipula, ia bisa datang ke Amerika kapan pun ia mau. Ia bisa datang jika ingin, dan ia bisa tinggal selama yang ia inginkan di istana besar tempat Ruby tinggal. Dan di sana, kebahagiaan Ruby bukan hanya sekedar impian belaka tetapi benar-benar nyata.