Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 29 ~ Vidrian Yakin Ruby Adalah Rubika


__ADS_3

Di dalam kantor CEO, Vidrian bersandar di kursi kulitnya yang mewah di belakang meja kayu besar. Interior kantor sangat maskulin dengan kombinasi estetika tradisional dan modern. Seluruh kantor meneriakan kekayaan.


Sosoknya yang bagus ditambah postur duduknya yang sempurna, semakin menonjolkan ketampanannya. Ia mendengarkan laporan Carl dengan ekspresi dingin, tangannya terlipat di dadanya.


Kepalanya menunduk dan tiba-tiba ia tidak bisa memproses kata-kata Carl lagi.


Bukan masalah besar untuk membesarkan anak orang lain. Ia terbiasa mengurus Savana, jadi bukan hal yang sulit untuk membesarkan beberapa anak lagi. Namun ia selalu menjadi pria yang dingin dan tidak berperasaan, ia tidak tahu kenapa justru menemukan hubungan yang sangat merepotkan.


Menumbuhkan perasaan dengan wanita itu sudah cukup merepotkan, jika ia menambahkan dua putra tambahan di dalamnya..


Tunggu!


Kapan ia setuju untuk memupuk perasaan dengan wanita itu?


Tidak, bukan, maksudnya, kapan ia menjadi begitu menginginkan wanita itu sampai memikirkan untuk menerima kedua putranya?


Matanya yang selalu dingin, rasional, terkendali dan bijaksana tampak bingung saat ini.


Apakah Ruby punya anak atau tidak dan apakah ia telah membuat kesalahan di masa mudanya, ada hubungannya dengan ini?


Yang harus ia lakukan hanyalah menemukan bukti nyata bahwa Ruby adalah Rubika, tidak untuk memikirkan bagaimana ia menerima kedua putra Ruby atau bagaimana mereka bisa menumbuhkan perasaan.


Menyadari betapa konyolnya pemikirannya, ia tertawa terbahak-bahak, ia merasa seolah-olah ia khawatir tanpa alasan. Padahal belum tentu juga wanita itu bersedia menjalin hubungan dengannya.


Melihat Vidrian tiba-tiba tertawa, Carl menghentikan kata-katanya. Ia tidak tahu apa yang lucu, namun jelas bukan laporannya.


Belakangan ini bosnya bertindak sedikit aneh. Selain luka ditangannya yang dibiarkan tanpa di obati atau ditutup perban, pria itu sering melamun atau tiba-tiba tertawa seperti orang gila.


Sebagai asisten, Carl sudah berusaha mengingatkan, namun seperti sudah ditakdirkan, ia memiliki bos yang tidak mendengarkan orang lain. Sebanyak apapun ia berkata, semua masuk ke telinga kanannya lalu keluar melalui telinga kirinya.


Sungguh sulit bekerja dengan orang seperti itu.


Daripada terjebak dengan orang gila, Carl memutuskan menutup dokumennya lalu undur diri, meninggalkan Vidrian yang masih sibuk berkutat dengan pikirannya.

__ADS_1


Namun, baru dua langkah ia keluar dari pintu, denting yang menandakan adanya email masuk, membuatnya kembali masuk ke dalam ruangan. Langkahnya cepat dan ia nyaris tersandung kakinya sendiri. Tetapi itu tidak menghalanginya untuk menyampaikan informasi penting yang bisa menyelamatkan gaji dua bulannya yang sudah siap di potong.


"Tuan," Carl terengah saat mencapai Vidrian.


Vidrian menoleh dengan enggan. "Ada apa lagi?" tanyanya.


Carl berusaha mengatur nafas, namun itu masih tidak membuat hembusannya stabil. "Mereka sudah mendapatkan informasinya, saya sudah mengirimnya ke email Anda," ucapnya.


Vidrian tercengang sesaat sebelum membuka email di komputernya. Kemudian, beberapa informasi dan foto-foto Ruby muncul di layar. Itu di awali dengan hari ulang tahunnya, lalu melompat hingga dia berusia dua puluh dua tahun. Kemudian berisi kisah asmara antara Ruby dan Osvaldo. Bagaimana mereka bertemu, bagaimana mereka mendapatkan Sean, dan bagaimana Ruby menganggap Xavier seperti putranya sendiri.


Saat Vidrian menggulirnya, sudah tidak ada informasi apapun lagi. Kemana perginya informasi tentang keluarga atau kehidupan masa kecilnya? Atau mantan suaminya, atau apapun itu?


Sebelum Vidrian bereaksi atas terbatasnya informasi, Carl lebih dulu menjelaskan. "Untuk saat ini mereka hanya bisa mendapatkan itu. Seharusnya itu sudah cukup. Maksudnya, Anda tahu persis kesulitan yang kami hadapi untuk mendapatkannya," ia berkata terputus-putus. Bukan karena nafasnya masih tersengal, tetapi karena ia takut Vidrian memarahinya, lagi.


Vidrian menyentuh dagu kemudian mengusapnya. Keterbatasan informasi bukan masalah besar. Hanya dengan melihat ini, ia yakin seribu persen Ruby adalah Rubika-nya.


Benar-benar, wanita itu memang Rubika.


Rubikanya yang berharga.


Karena yang paling mencurigakan adalah mengapa semua itu di mulai saat Ruby berusia dua puluh dua tahun? Kenapa tidak dari dia kecil? Atau kemana atau dimana kehidupannya selama dua puluh dua tahun terakhir? Ah tidak, itu terlalu banyak, ia hanya ingin tahu di antara dua puluh satu tahun awal hingga dua puluh dua tahun, dimana dia dan apa yang dia lakukan?


Pertanyaan itu benar-benar membingungkannya.


Wanita itu bercerai dengannya ketika awal usia dua puluh satu tahun. Namun enam tahun yang lalu dia menikah dengan Osvaldo. Xavier berusia empat tahun pada saat itu, lalu satu tahun kemudian Sean lahir. Perbedaan usianya sekitar lima tahun.


Jika melihat bagaimana rentang usia dihitung sejak kemunculannya, kemana dia setelah bercerai dengannya dan sebelum bertemu Osvaldo? Di antara perpisahan dengannya dan pertemuan dengan Osvaldo, itu seperti labirin, segala spekulasi bisa menyesatkannya.


Satu yang pasti, Ruby memang Rubika.


Tidakkah fakta itu cukup?


Tidak. Itu tidak cukup. Ia tidak hanya membutuhkan fakta itu, tetapi ia juga penasaran bagaimana wanita itu menjalani kehidupan setelah bercerai dengannya. Apakah dia baik-baik saja, apakah dia menjalani kehidupan yang baik, apakah dia bahagia, semua itu, ia ingin tahu semuanya.

__ADS_1


Sementara Vidrian dalam suasana hati yang baik, Ruby sebaliknya. Wanita berparas cantik itu sangat terganggu dengan fakta bahwa Xavier akan segera menginterogasinya. Suasana hatinya sangat buruk dan ia nyaris menjatuhkan dirinya ke lantai bawah.


Jika bisa, ia berharap tidak pulang hari ini.


Ia ingin pergi untuk bersembunyi.


Namun, begitu cepat pagi berganti sore.


Ruby memejamkan mata di mobilnya saat mobil melaju kembali ke kediamannya. Di kursi depan, Lily sedang menjelaskan tentang laporan bulanan selama enam bulan terakhir. Tetapi fokusnya tidak berada di sana. Penjelasan Lily seperti benang yang semakin ia mendengarkan semakin kusut.


Bertemu dengan Savana, hal semacam itu tidak pernah sekalipun terbersit dalam benaknya. Penemuan itu justru membuatnya sangat tidak senang.


Ternyata dari awal hingga akhir ia lah yang menyanjung dirinya sendiri dalam hubungan ini.


Perasaan senang dan sedih bercampur untuk saat ini.


Ia senang bahwa sebenarnya ada ikatan seperti itu di antara mereka berdua dan juga senang bahwa ia benar-benar memiliki seorang putri. Tetapi pada saat penemuan sebuah pemikiran juga tiba-tiba terbentuk di benaknya, ia lebih suka tidak menemukan kebenaran.


Ia secara sadar berpura-pura tidak tahu siapa Savana dan telah memasang pertunjukan di depan kedua putranya untuk mengelabuhi mereka. Tetapi pada akhirnya mereka tetap mengetahuinya. Mereka bahkan bertanya dan meminta ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Tentu ia bisa menceritakannya.


Tetapi masalahnya, ada beberapa bagian yang sangat tidak ingin ia ingat lagi. Ia sendiri bahkan sudah menguburnya, tidak mungkin ia menceritakannya hanya untuk mengobati rasa ingin tahu mereka.


Tetap harus ada bagian yang dipotong, atau ada bagian yang tidak mungkin ia ceritakan. Namun ia tidak tahu apakah itu bagian tentang Savana atau bagian tentang Vidrian. Keduanya saling terhubung dan sangat aneh jika salah satu di antara mereka harus dihilangkan.


"Nyonya, kita sudah sampai."


Suara Lily membuyarkan lamunan Ruby. Ia membuka mata lalu menoleh ke luar jendela. Di lantai dua di ruang kerjanya, apakah Xavier sudah menunggu?


Jika bertemu dengannya, apa yang harus ia katakan?


Mengatakan yang sebenarnya, apakah Xavier tidak akan membencinya?

__ADS_1


Daripada di benci Savana, ia lebih tidak rela di benci Xavier. Mungkin karena Xavier sudah bersamanya untuk waktu yang lama, hingga ikatan di antara mereka terasa jauh lebih dalam. Namun itu tidak berarti ia membenci Savana. Ia hanya tidak menginginkannya.


__ADS_2