Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 31 ~ Aku Akan Menolaknya Dengan Sopan


__ADS_3

"Namun Xavier, jika harus memilih, aku akan tetap memilihmu. Kami bersama dalam waktu yang lama. Ikatan yang kami miliki juga sangat dalam. Jadi, jangan khawatir dan jangan terlalu memikirkan. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Bahkan jika mereka mengetahui kebenaran ini dan datang padaku, aku akan menolak mereka dengan sopan," ujar Ruby panjang lebar. Ia tahu Xavier sedang berkonflik, jadi apa yang ia ucapkan bukan sekedar kalimat penghiburan, tetapi lebih dari itu.


Di samping itu, ia serius akan tetap memilih Xavier dan menolak Savana dengan sopan. Meski ia menginginkan anak perempuan ketika mengandung Sean, sekarang ia tidak lagi menginginkannya. Ia merasa anak laki-laki jauh lebih mandiri dan lebih bisa di andalkan. Jadi ia benar-benar tidak menginginkan Savana.


Biar saja Savana tetap bersama ayahnya.


Bukankah itu lebih baik?


Lagipula, mereka sudah terpisah selama delapan tahun, sedangkan ia sudah merawat Xavier sejak usia empat tahun, secara alami, hubungannya dengan Xavier jauh lebih dalam daripada hubungannya dengan putri kandungnya.


Secara teori, anggaplah dua bayi tertukar di rumah sakit. Pada akhirnya ikatan yang paling dalam di miliki jatuh pada anak yang di besarkan sejak kecil. Orang tua tidak mungkin tidak canggung terhadap anak yang tiba-tiba muncul meski ada ikatan darah di antara mereka.


Itu pula yang Ruby rasakan.


Namun bukan berarti ia tidak menyayangi Savana.


Ia menyayanginya, terlepas dari apapun ia sangat menyayanginya, lebih dari apapun, lebih dari siapapun. Hanya saja, ia benar-benar tidak bisa berperan sebagai ibu Savana meski ada hubungan darah di antara mereka.


Ia bukan ibu yang baik, itu adalah intinya.


Kata-kata Ruby tidak lantas membuat Xavier tenang. Itu justru membuatnya semakin merasa buruk. Mungkin karena ia hanya anak tiri, ia merasa tidak percaya diri. Lain halnya dengan Sean, jika Sean mengetahui ini, anak itu mungkin akan sangat senang karena memiliki saudara perempuan. Namun, benarkah demikian?


Jawaban itu hanya Sean yang tahu.


Namun tentu saja, baik Ruby atau Xavier, tidak ada yang berniat untuk memberitahunya. Biar saja. Biarkan anak itu tidak mengetahui apapun sampai nanti.


Butuh waktu lama bagi Xavier untuk menenangkan diri. Ia menatap Ruby dan bertanya, "Apakah Daddy mengetahui ini?"


 "Mm." Ruby mengangguk. "Dia tahu." Tidak mungkin ia menikah dengan Osvaldo tanpa pria itu tahu masa lalunya. Justru karena masa lalunya, pria itu bersikeras untuk menikahinya agar bisa membahagiakannya.

__ADS_1


Bukankah dia sangat romantis?


Tentu saja.


Alasan itu pula yang membuat Ruby jatuh hati pada Osvaldo. Pria itu sangat keren jika bertekad dan ya.. tidak ada yang bisa menghentikannya jika dia sudah bersikeras. Salah satu kelebihan yang membuat Ruby selalu mengingatnya.


Xavier menatap kosong ke depan, tenggelam dalam pikirannya.


Ayahnya mengetahuinya, jadi hanya ia yang tidak tahu?


Tahu apa yang Xavier pikirkan, Ruby kembali berkata, "Xavier, aku bukan dengan sengaja menyembunyikan ini darimu. Kau tahu, terkadang ada beberapa hal yang lebih baik tidak di katakan. Mengingat berapa usiamu, aku tidak ingin hal ini mengganggumu. Tapi satu hal, percayalah, apapun yang terjadi, aku akan tetap menjadi orang yang sama, dan hubungan kita tidak akan pernah berubah. Kau masih putraku dan selamanya akan tetap seperti itu."


***


Ruby termenung di kursi kerjanya untuk waktu yang lama.


Tidak hanya Xavier, sebenarnya perasaannya sendiri juga sangat rumit. Menelisik lagi percakapan yang tadi terjadi, juga kisah ringkas yang ia ceritakan, baik si pencerita atau yang mendengarkan, tidak akan ada yang masih baik-baik saja.


Masing-masing pihak jelas merasakan pergolakan.


Namun tidak ada yang bisa menggambarkan atau melampiaskannya. Masing-masing memilih untuk diam dan memendam kekacauan di dalam hati.


Bagaimanapun..


Kisah itu..


Kisah yang telah ia simpan untuk waktu yang lama, akhirnya Xavier mengetahuinya. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Menghibur Xavier? Bisakah? Tetapi.. bagaimana caranya?


Xavier jelas merasa terkhianati.

__ADS_1


Dan tidak banyak kata yang bisa di ucapkan untuk menghibur seorang pria yang terkhianati setelah menaruh kepercayaan penuh.


Ruby memutuskan untuk menyimpan gagasan itu dan menghela napas panjang. Tangannya terulur dan meraih sebuah dokumen di atas meja. Di saat seperti ini, ia harus mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Hal lain itu adalah bekerja. Lagipula ia ditakdirkan untuk tidak bisa tidur malam ini. Jadi tidak ada gunanya bahkan jika ia kembali ke kamar tidurnya.


Bekerja masih jauh lebih baik.


Setidaknya ia bisa menghasilkan banyak uang.


Sementara Ruby sudah di pastikan tidak akan bisa tidur, beberapa orang di takdirkan tidur dengan nyenyak malam ini.


Di kamar tidurnya, Vidrian berbaring dengan Savana di sampingnya.


Keduanya terlelap seolah gempa besar tidak akan bisa membangunkannya. Entah karena alasan apa, namun suasana hati yang baik membuat Vidrian tertidur dengan mudah padahal niatnya hanya untuk menemani Savana sampai tertidur. Pada akhirnya, ia justru tertidur pulas dan tidak bangun sampai keesokan harinya.


Pagi selanjutnya.


Savana kecil yang malang hanya bisa memandangi wajah ayahnya yang terlelap di sampingnya. Ia adalah gadis muda yang terbiasa bangun pagi. Jadi, hari ini ia juga sama. Namun saat menyadari ayahnya menguasai hampir seluruh ranjangnya dan hanya menyisakan sedikit ruang untuknya, ia hanya bisa menatapnya penuh kebencian.


Mengapa Daddy tidur di sini?


Meski tidak buruk tidur dengan Vidrian, namun ia sudah delapan tahun. Jika teman sekelasnya tahu ia masih tidur dengan orang tuanya di usianya sekarang, mungkin ia akan di ejek sampai mati.


Itu sebabnya ia membenci ayahnya lebih dari apapun.


Selesai melemparkan kebencian kepada Vidrian, Savana bangun dengan hati-hati. Terlepas dari ketidaksukaannya atas kehadiran Vidrian di sini, ia tetap tidak ingin membangunkan tidur pulas ayahnya. Jadi ia membuat gerakan seminimal mungkin agar tidak mengganggunya.


Setelah memastikan ayahnya tidak terbangun, Savana segera masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri tanpa menunggu pengasuh datang.


Meski ia putri semata wayang dan merupakan biji mata Vidrian, Vidrian selalu mengajarkan pola hidup mandiri. Menggosok gigi, mandi, hingga berpakaian, ia bisa melakukannya sendiri. Jadi ketika pengasuh datang nanti, ia sudah siap dengan seragam sekolahnya

__ADS_1


__ADS_2