
Ketika Savana keluar dari kamar mandi, Vidrian sudah membuka mata. Savana berjalan menghampirinya dan berkata, "Kau sudah bangun, Dadd? Kau merebut ranjangku tadi malam. Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" Begitu masalah ini di angkat, tidak ada jalan untuk kembali. Savana tidak akan pernah melepaskannya.
Vidrian yang sedang memikirkan Ruby, lamunannya tersentak. Ia menatap ke arah sumber suara dan melihat Savana meletakkan tangan di pinggangnya dan menatapnya dengan gaya siap memarahi.
Namun bukannya takut, Vidrian justru merasa terhibur.
Putrinya ini memang sangat menggemaskan.
Vidrian memaksakan diri untuk duduk. "Maafkan aku," ucapnya. Ia tahu putrinya sedang marah, itu sebabnya sebagai seorang pria, bahkan jika itu bukan kesalahannya, ia siap di salahkan dan siap mendapatkan hukuman.
"Kau tampak tidak tulus?" Savana mengoreksi. Sejujurnya bukan hanya permintaan maaf yang ia butuhkan. Tetapi lebih dari itu.
"Aku sangat tulus. Tidak bisakah kau melihatnya?" Vidrian bertingkah bodoh meski tahu ada harga yang harus ia bayar. Entah itu makan pizza atau ayam tepung cepat saji, ia merasa lebih baik pura-pura tidak tahu.
"Untuk menunjukan ketulusanmu, kau yakin permintaan maaf saja cukup?" Savana mulai memasang umpan. Layaknya pemancing profesional, ia dengan sabar menunggu ikan menyambar umpannya.
Vidrian memutar bola matanya, berpura-pura berpikir. "Umm.. bagaimana jika aku mengantarmu ke sekolah hari ini? Penawaran itu tidak buruk, kan?"
"Tidak di butuhkan," jawab Savana, tegas. Setiap hari, memang Vidrian yang mengantarnya ke sekolah. Jadi untuk apa menawarkan penawaran basi itu kepadanya? Dia pikir ia mudah di bodohi?
"Bagaimana dengan memasak?"
"Tidak, tidak."
"Pergi ke taman hiburan?"
"Itu juga tidak. Kita sudah pergi dua minggu lalu dan aku sangat kelelahan setelahnya. Tidak bisakah kau memikirkan sesuatu yang sederhana dan tidak membuat lelah?" Layaknya profesional, Savana membimbing Vidrian menuju umpan yang ia sediakan. Tetapi jika hal itu tidak terjadi, ia akan memaksanya untuk datang dan bila perlu memaksanya menggigit umpannya juga.
Terkadang, pemaksaan adalah sesuatu yang tepat untuk menghadapi orang tidak tahu malu seperti ayahnya.
"Lalu, apa yang kau inginkan?" Vidrian belum menyerah. Ia hanya sedang melihat trik murahan apa yang sedang Savana gunakan.
"Daddy, kau sudah dewasa, bukankah sebagai pria dewasa kau harus selalu menghormati wanita? Kau akan sedih jika membuat seorang wanita tidak bahagia. Bukankah seharusnya kau memberikan sesuatu yang bisa membuatku bahagia?"
"Lalu, apa yang bisa membuatmu bahagia?"
"Mengajakku pergi ke suatu tempat misalnya."
__ADS_1
"Tempat seperti apa yang ingin kau kunjungi? Mal, pantai, salon kecantikan?"
Savana menggelengkan kepalanya. "Ish ish ish.. Daddy, kau benar-benar tidak mengerti wanita sedikit pun," ucapnya meremehkan.
"Baiklah, itu salahku. Aku minta maaf."
"Jika kau sudah tahu apa kesalahanmu, bisakah kau membawaku ke Pizza Hut sebagai permintaan maaf?" Karena Vidrian tidak juga mengambil umpan bahkan setelah ia menyodorkannya dengan gigih, ia hanya bisa menjejalkan umpan ke mulutnya.
Entah karena ayahnya terlalu bodoh atau tidak peka, lebih dari itu, mungkin ayah sengaja tidak menggigitnya karena enggan membawanya untuk makan junk food.
Sungguh orang tua yang payah.
Tidak mengerti kesenangan anak muda.
"Pizza Hut?" Vidrian pura-pura terkejut saat mendengar perkataan Savana. Seperti yang ia duga, Savana memerasnya agar bisa memakan makanan sampah. Sesuatu yang tidak mungkin ia ijinkan. Bahkan hanya untuk satu minggu sekali, ia tidak akan membiarkannya.
Savana harus menjaga pola makan sehat sesuai anjuran ahli gizi. Itu sebabnya semua makanan yang masuk ke perutnya sudah diatur sedemikian rupa, tidak boleh sembarangan, tidak boleh asal-asalan.
Apa yang ia lakukan juga demi kebaikannya.
Namun bagaimana mungkin Savana mau mengerti?
"Iya, Daddy. Aku ingin makan pizza. Semua teman-temanku datang bersama ayah dan ibunya untuk makan pizza. Bisakah kita juga melakukannya?" Savana memasang ekspresi sedih terbaiknya. Ekspresi yang biasanya berhasil dengan gemilang untuk meluluhkan hati ayahnya.
Jurus meluluhkan hati, seharusnya ini adalah yang paling ampuh. Itu sebabnya Savana tidak segan menggunakannya untuk membuat Vidrian terenyuh.
Vidrian tercengang sesaat sebelum berkata. "Hanya kali ini. Tidak lain kali." Ia bahkan tidak perlu berpikir dua kali untuk menyetujuinya. Menjadi orang tua tunggal, terkadang ia sedih jika Savana berkata ini dan itu tentang teman-temannya. Terutama jika itu tentang topik yang cukup sensitif, seorang ibu.
Sebagai pria yang tidak bisa memberikan Savana seorang ibu, kelemahan Vidrian hanya itu.
Ia kaya, muda, sehat dan terpandang. Sebagai anak, seharusnya Savana bangga dan puas memiliki ayah yang keren seperti dirinya.
Namun tetap saja, lingkungan yang sehat bagi seorang anak untuk tumbuh dan berkembang adalah dengan adanya orang tua yang lengkap. Ayah dan ibu, kemudian adik. Seberapa hebat pun ia, ia tidak mungkin bisa memegang posisi ganda sebagai ayah dan ibu. Dan seberapa keras pun ia berusaha menutupi kekurangan itu dengan memanjakan Savana dengan materi, tetap saja itu tidak cukup. Gadis itu tetap membutuhkan ibunya.
Itu yang membuatnya risau.
Terkadang ia bahkan berpikir bahwa ia gagal menjadi ayah karena ketidakmampuannya menjaga keluarganya. Jika tidak, ibu Savana tidak mungkin pergi. Sekarang setelah ibu Savana menjadi Nyonya Diedrich, betapa sulitnya untuk menariknya kembali ke sisinya.
__ADS_1
Besar kemungkinan, ia bahkan tidak akan pernah bisa melakukannya.
Jika sudah seperti ini, apa yang bisa ia lakukan? Apa yang harus ia lakukan?
Ia tidak tahu lagi.
Sungguh.
Savana tersenyum kecil ketika berhasil memperdaya ayahnya. Jika Vidrian tahu niat buruk Savana, Vidrian mungkin sudah melemparkan gadis sial itu ke kolong bus.
Sementara kebahagiaan mengalir di kediaman Christensen, hal sebaliknya terjadi di kediaman Diedrich.
Di kediaman Diedrich, suasana di meja makan terasa berbeda.
Entah karena ia terlalu sensitif atau apa, namun Ruby merasa pandangan Xavier tidak sehangat biasanya.
Ruby mematikan teleponnya sebelum berjalan menuju Xavier dan mencium keningnya, lalu berjalan menuju Sean dan melakukan hal serupa sebelum akhirnya mendudukkan diri di kursinya.
"Selamat pagi," sapa Ruby. Ia menatap kedua putranya lekat dan memang menemukan adanya perbedaan dari Xavier. Namun ia tidak mengeksposnya.
Bahkan satu malam mungkin tidak cukup untuk menerima kenyataan yang ada.
Ruby sendiri pun tahu jika ia salah. Itu sebabnya ia akan memberikan ruang, sebanyak apapun ruang yang di butuhkan serta waktu yang di perlukan, ia akan memberikannya tanpa ragu.
"Selamat pagi, Mom." Xavier dan Sean menjawab serempak.
"Apakah tidur kalian nyenyak?" tanya Ruby.
"Mm." Kali ini Sean yang menjawab.
Keadaan hening untuk sementara waktu.
"Mom," panggil Xavier.
"Ya?"
"Aku sudah memikirkan."
__ADS_1
Ruby mengangguk. "Katakan saja." Wajahnya santai. Ia siap mendengar apapun yang Xavier katakan. Entah sebuah permintaan atau apa, ia siap menurutinya, semuanya, apapun itu.
"Aku dan Sean akan kembali ke Amerika terlebih dahulu. Kami merindukan Daddy, jadi kami akan pergi menyebar bunga di sana."