
Ruby adalah wanita yang sederhana.
Ia selalu mengikuti prinsip untuk tidak menyusahkan dirinya sendiri.
Saat ini, ia punya uang, kecantikan dan keluarga yang bahagia. Dari atas ke bawah, ia dihiasi dengan sesuatu yang akan dimiliki oleh seorang pemenang dalam hidup. Mengapa mengaduk-aduk drama untuk dirinya sendiri, terutama jenis drama yang pahit?
Ia sungguh tidak mengerti.
Jika tahu hasilnya akan seperti ini, ia lebih memilih untuk tidak pernah kembali ke London. Mengapa? Ia menyukai kehidupan yang damai. Setidaknya, tidak ada drama menggelikan tentang mantan suami yang mengejar-ngejar mantan istri.
Itu terlalu konyol, bukan?
Baik Vidrian atau Savana, keduanya baik-baik saja. Kehidupan mereka juga tampak nyaman dan stabil. Intinya, mereka berkecukupan dan menjalani hari-hari yang bahagia.
Hal yang sama juga berlaku baginya. Ia juga menjalani kehidupan yang baik bersama keluarga barunya. Ia bahagia dan yang terpenting, ia sudah merasa puas dengan ini. Jika kembali mengungkit masa lalu, apa yang bisa di dapatkan dari itu? Selain rasa sakit dan penderitaan, tidak ada lagi yang tersisa.
Sungguh.
Jadi, bukankah lebih baik mengubur masa lalu dan melupakannya?
Setelah lelah berputar-putar tanpa tujuan yang jelas, Ruby menghentikan mobilnya. Ini bukan daerah yang ramai orang, bukan perumahan atau pusat perbelanjaan. Ini hanya pinggir jalan dengan tidak ada sedikit pun pemandangan.
Semua yang tampak terlihat membosankan.
Namun, bukankah itu sama?
Sama seperti dirinya?
Membosankan?
Jika tidak, bagaimana mungkin Xavier mengajak Sean serta untuk meninggalkannya?
Sungguh ironi.
Ruby mengambil rokok dari dalam tasnya lalu menyulutnya.
Ia bukan perokok berat. Namun tiap kali mengemudi atau dalam suasana hati yang buruk, ia harus merokok. Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan selama bertahun-tahun sehingga beberapa batang serta kepulan asap cukup untuk membuatnya gagal melakukan hal-hal nekat.
Setelah menghabiskan satu batang rokok, Ruby mengambil ponselnya untuk menjawab panggilan. "Halo," ucapnya.
"Jangan melakukan hal konyol," ucap seseorang dari balik panggilan.
Ruby terkekeh. "Ayolah, aku melakukan segala hal untuk bertahan hidup. Dan itu tidak mudah," sahutnya. "Apa kau sedang mengkhawatirkan ku?" imbuhnya.
__ADS_1
Seberapa penting kehidupan? Itu sangat penting. Katakanlah tidak ada yang lebih penting dari itu. Mengapa? Karena ia sudah pernah berada di ambang hidup dan mati. Kematian, benar-benar mengerikan.
Pria di balik panggilan tertawa.
"Max, jangan tertawa!" seru Ruby.
Ya, itu dia.
Max, atau Maxen.
Orang yang sama yang menghubunginya tempo hari. Seorang pria lajang berwajah tampan dan belum menikah meski berusia lebih dari kepala tiga. Juga, musuh abadinya dan Veronica, mantan pacar sampah yang berselingkuh.
"Aku tidak tertawa," sanggahnya penuh kebohongan. "Aku akan tiba di sana besok. Bisakah kau meluangkan waktu untuk menjemputku di bandara?"
Mendengar Maxen akan pulang, Ruby tidak terkejut lagi. Sebaliknya, ia mengerutkan kening. "Kau sudah menghubungi Veronica?"
"Untuk apa aku menghubunginya?"
"Hei, aku yakin kau sudah menghubunginya sebelum menghubungiku."
Pria di balik panggilan terkekeh. "Jangan cemburu. Aku hanya meneleponnya terlebih dahulu sebelum kau. Kami tidak tidur bersama."
"Astaga, kenapa otakmu hanya berisi tentang tidur dengan wanita?"
"Jika kau menyukainya, mengapa tidak? Apa perlu ku carikan seorang pria untukmu? Aku punya banyak pria tampan di sisiku. Kau bisa memilih siapapun yang kau suka."
"Tidak, terima kasih." Maxen menolak dengan cepat. Meski ia seorang bajingan, namun seleranya tetap wanita dan kenyataan itu tidak akan pernah berubah.
"Haish, lihat, kau sangat kolot."
"Apanya yang kolot? Aku pria normal, oke? Aku menyukai wanita."
"Jika kau menyukainya, kenapa kau tidak menikahi salah satu di antara mereka?"
"Aku takut kau cemburu. Sudah itu saja. Aku akan menutup panggilannya." Dengan begitu, Maxen mengakhiri panggilan.
Mendengar bunyi panggilan terputus, Ruby mendecak. "Tsk tsk tsk. Benar-benar payah," gumamnya pada dirinya sendiri. Melupakan tentang Maxen, Ruby menyimpan ponselnya dan kembali mengemudikan mobilnya membelah jalanan London.
Kali ini, ia tidak lagi tanpa tujuan.
Ia sudah punya satu tempat yang menjadi tujuannya.
Sebuah tempat yang.. cukup menyenangkan untuk menghabiskan malam. Seharusnya, iya.. seharusnya cukup menyenangkan. Tetapi kalau pun tidak, setidaknya tidak membosankan, itu sudah cukup.
__ADS_1
Tidak berselang lama, Ruby menghentikan mobilnya.
Di sebuah tempat yang tampak penuh kesenangan.
Club.
Memang apa lagi?
Taman hiburan?
Mustahil.
Ia bukan anak umur lima tahun. Pergi ke taman hiburan untuk mengantar Sean mungkin baik-baik saja. Namun jika ia pergi seorang diri, untuk apa?
Ruby turun dari mobilnya dan menyerahkan kuncinya kepada petugas valet sebelum melangkah memasuki club. Tempat yang ia tuju bukan cafe atau karaoke, bukan juga tempat untuk menginap apalagi diskotik, ia berencana untuk pergi ke bar.
Niatnya datang untuk duduk di depan bartender dan minum sampai mabuk. Selain itu, ia tidak menginginkan hal lain lagi. Jadi, tempat yang ia tuju adalah bar.
Karena tempat ini sangat luas, dan terbagi menjadi beberapa tempat, ia perlu berjalan cukup jauh untuk mencapainya. Dan begitu tiba, ia segera duduk di depan bartender.
"Beri aku wiski," ucapnya. Daripada ucapan, itu lebih terdengar seperti perintah. Suaranya tegas dan tanpa penolakan. Benar-benar membuat orang tidak bisa mengabaikan atau menolaknya.
Bartender segera mencari gelas yang sesuai lalu menuang wiski ke dalam gelas dan menambahkan sedikit air sebelum meletakannya di depan Ruby. "Silahkan," ujarnya.
Melihat bagaimana keadaan Ruby yang mana tidak tampak baik-baik saja, bartender yang peka tidak mungkin memberikan alkohol empat puluh persen kepadanya. Itu sebabnya, ia menambahkan beberapa tetes air. Tujuannya untuk mengubah alkohol empat puluh persen menjadi tiga puluh lima persen. Sehingga rasa wiski menjadi lebih light dan yang terpenting tidak mengubah rasa wiski, hanya mengubah 'kekuatannya' sedikit.
Ruby meraih gelasnya dan meminumnya sedikit.
Karena tidak ingin mabuk dengan cepat, ia meminumnya perlahan. Sembari menikmati aroma wiski, ia menatap bartender dan segera menyadari bahwa bartender tampak familiar.
Dimana ia pernah melihatnya?
Tidak.
Dunia ini begitu luas. Ada beberapa orang yang tampak mirip di dunia ini. Dan hanya karena mirip, bukan berarti dia orang yang ia kenal. Bukankah itu teori yang benar?
Di tatap oleh Ruby dengan tatapan menyelidik, bartender bertanya, "Nona, apa arti dari tatapan Anda? Apakah Anda tertarik kepada saya?" Suaranya yang ringan dan tenang tidak terdengar seperti kepercayaan diri, tetapi lebih seperti rendah diri.
"Apakah kau terlihat seperti orang yang menarik perhatianku?" Ruby balik bertanya. Meski tidak menghina, namun sedikit cemoohan terkandung dalam pertanyaannya.
Bartender mengulas senyum tipis. "Tentu saja tidak."
"Bagus untuk menjadi percaya diri, namun lebih baik untuk menjadi sadar diri," ucapnya. Ruby bukan orang dengan belas kasihan. Jadi apa yang ia pikirkan akan ia katakan tanpa ragu.
__ADS_1