
Apa yang di harapkan benar-benar terjadi.
Ruby mabuk.
Namun ia masih memaksakan diri untuk meminum beberapa gelas lagi.
Bagaimanapun, menjadi bagian dari keluarga Diedrich, ia tidak di perbolehkan untuk mempermalukan dirinya sendiri. Jadi, ia selalu menjaga sikap dan tidak pernah bertingkah seperti ini. Namun sekarang, ia benar-benar kehilangan kendali atas dirinya. Dan ia tidak bisa menahannya.
Alasan pertama, ia tidak berada di Amerika.
Kedua, ia merasa London adalah kampung halamannya dan tidak banyak orang yang mengenalnya. Jadi sesekali bertingkah seperti ini, seharusnya bukan masalah besar.
Dan ketiga, ia tidak bisa mengendalikan diri lagi.
Lagipula, ia hanya manusia biasa.
Beberapa masalah mampu membangkitkan jiwa nekat seseorang.
Namun Ruby bukan orang seperti itu.
Ia tidak ingin mati. Jadi, lupakan tentang bunuh diri.
Ia tidak akan pernah melakukannya.
Ia menyukai kehidupannya. Apalagi kehidupannya saat ini. Seperti yang ia katakan, ia memiliki ciri-ciri pemenang dalam hidup. Ia cantik dan tidak kekurangan uang, ia juga memiliki kedua putra yang menyayanginya. Sangat bodoh jika ia melepaskan semua itu demi kematian yang menyakitkan. Padahal setelah mati, belum tentu Tuhan akan membawanya ke surga.
Mengingat berapa banyak dosa yang ia lakukan selama ini, tidak langsung di lempar ke neraka saja sudah untung, masih berharap masuk ke dalam surga? Sungguh pemikiran yang muluk-muluk.
"Beri aku satu gelas lagi!" perintahnya pada bartender. Ia masih cukup sadar untuk meminta alkohol kepada bartender. Namun ia sudah tidak sadar untuk memikirkan hidup dan kehidupan. Ia bahkan tidak tahu dimana ia berada dan siapa yang berada di dekatnya. Ia tidak bisa lagi menggunakan logikanya.
Ketika bartender mengulurkan gelas kepada Ruby, seseorang menangkapnya kemudian meminumnya dalam satu tegukan. "Dia sudah mabuk, jangan beri dia alkohol lagi, Ken," ucapnya sembari mengembalikan gelasnya kepada bartender.
Bartender bernama Ken itu menerima gelasnya dan menatapnya penuh cemoohan. "Yo, kau langsung datang rupanya? Apa arti wanita ini bagimu, bung? Seberapa penting dia? Apakah benar-benar penting?" tanyanya penuh cibiran.
Pria itu mengabaikan olok-olok bartender dan memeluk Ruby dengan posesif, seolah Ruby adalah miliknya. Tidak. Ruby memang miliknya, sejak awal, dan fakta itu tidak akan pernah berubah sampai kapan pun.
Diabaikan, Ken tidak tinggal diam. "Kau tahu berapa banyak pria yang mencoba mendekatinya? Tidak heran, dia masih sangat cantik. Bagus kau datang dengan cepat. Mereka benar-benar punya nyali." Ia berbicara dengan frustasi.
__ADS_1
Dalam ingatannya, istri Vidrian adalah wanita ini.
Tidak banyak orang yang tahu, namun ia mengetahuinya ketika secara tidak sengaja bertemu dengannya di suatu tempat. Bahkan hanya dengan sekilas lihat, ia langsung tahu itu dia. Jadi ketika Ruby datang dan meminta wiski, ia diam-diam mengirim pesan kepada Vidrian.
Dan, benar saja.
Vidrian datang tidak lama setelah pesan terkirim.
Namun entah Vidrian datang karena membaca pesannya, atau dia diam-diam membuntutinya, ia juga tidak tahu. Namun berdasarkan kemungkinan paling mungkin adalah jawaban nomor dua. Vidrian jelas membuntutinya.
Vidrian bukan pria baik, oke?
Dia sangat licik, ular berbisa berkepala dua.
Vidrian mengeluarkan setumpuk uang lalu menyodorkannya kepada Ken. "Tutup mulutmu!"
Ken mengerutkan kening. "Kau yakin ini cukup? Biaya tutup mulutku sangat mahal." Namun ia tetap mengambil uangnya dan menyimpannya di dalam sakunya tanpa malu-malu.
Vidrian menatapnya penuh ejekan.
Ken terkekeh, "Aku sudah menyiapkan kamar. Bawa dia ke sana. Jangan lupa sertakan uang tips yang berlipat ganda untukku."
"Ayolah, bung, tidak ada yang gratis di dunia ini."
Mengabaikan perampok berkedok bartender di depannya, Vidrian berbisik di telinga Ruby, "Mengapa kau mabuk?" tanyanya.
Merasakan seseorang berbicara padanya, Ruby menoleh. Pandangannya yang buram membuatnya tidak dapat melihat dengan jelas siapa dia. Satu yang pasti, dia seorang bajingan. Jika tidak, kenapa dia mendekatinya?
Ruby mendorong bajingan itu menjauh darinya. "Jangan bicara padaku, bajingan!" raungnya. Meski mabuk, ia masih tahu untuk bersikap waspada terhadap orang-orang di sekitarnya.
Vidrian terdiam. Bajingan? Ia?
Wanita ini, sebenarnya berani?
Mengatakan ia bajingan?
Sial.
__ADS_1
Ia merasa sangat di rugikan.
Lihat jika ia tidak datang, berapa banyak pria yang menatapnya dan menargetkannya untuk menghangatkan tempat tidur mereka? Betapa menyebalkan tatapan mendamba mereka. Membuatnya ingin mencungkil satu persatu mata mereka.
Apakah wanita ini tidak mengerti betapa menariknya dia hingga membangkitkan minat bagi para pria untuk menidurinya?
Sedangkan ia, ia melindunginya, oke?
Membuntuti mobilnya, menjaganya dari jauh dan membayar sejumlah besar uang kepada perampok itu agar para pria liar yang mendambakannya tidak berani membawanya pergi, namun.. betapa sulitnya untuk menjadi baik.
Menyebalkan.
Ruby mengibaskan tangan. "Enyah!" Namun ketika samar-samar mencium aroma yang familiar, pergerakannya terhenti. Sejenak ia terpaku. Bahkan dalam keadaan mabuk pun, hanya satu orang yang ia pikirkan.
Aroma ini..
Bukankah ini aroma Osvaldo?
Aroma yang ia rindukan.
Mengapa Osvaldo datang?
Apakah Osvaldo datang untuknya?
Merasakan emosi rumit di hatinya, Ruby mengulurkan tangan dan memeluk Vidrian. "Sayang, apakah itu kau?" Wajahnya yang merah karena mabuk, di tambah suara manis yang terdengar centil, menambah daya tariknya menjadi jauh lebih mempesona. Dewasa dan liar.
Mustahil orang tidak tergoda jika melihat wajah cantik dan perilaku genitnya. Belum lagi suara yang sensual. Seseorang yang mendengar pasti ingin mengantonginya dan membawanya pulang.
Vidrian tercengang. Sayang? Apakah Ruby baru saja memanggilnya sayang? Tidak hanya memanggil sayang, tetapi juga memeluknya erat.
Sial.
Apakah ini mimpi?
Tidak.
Apakah sesuatu terjadi?
__ADS_1
Kenapa tiba-tiba?
Belum sempat Vidrian menemukan jawaban atas beberapa pertanyaannya, Ruby kembali berkata, "Sayang, katakan, apa kau datang untukku? Sudah ku duga, kau satu-satunya orang yang tidak pernah meninggalkan aku sendiri. Aku bermimpi, kau datang, mengulurkan tangan kepadaku, memelukku, dan berkata 'semua akan baik-baik saja'. Dan sekarang, kau benar-benar datang? Untukku? Sungguh?" Ruby terkekeh. "Kau masih sama. Kau paling mencintaiku." Bahkan jika ini mimpi, Ruby sudah sangat bahagia. Hanya dengan ini, ia yakin akan merasa jauh lebih baik setelahnya.