Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 42 ~ Mimpi Erotis Yang Kacau


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Vidrian terbangun dengan Ruby dalam pelukannya.


Ia tahu sebentar lagi sinar ke abu-abuan fajar akan memasuki celah tirai. Malam itu begitu panjang dan penuh kenikmatan fisik. Ia tahu ia harus segera pergi. Sungguh gila ia masih di sini. Namun wanita ini begitu hangat dan rileks dalam pelukannya, sehingga Ia berpikir hanya beberapa menit lagi.


Kemudian Ruby bergerak.


Vidrian menarik wanita itu erat-erat ke tubuhnya, menekan bibirnya ke rambut Ruby. Wanita itu tidak menanggapi karena masih terlelap dalam mimpi indah.


Jika Ruby bangun dan tahu ia di sini, ia tidak tahu apakah masih bisa mempertahankan nyawanya atau tidak. Mengingat betapa Ruby membencinya, tidak mungkin Ruby akan menahan diri sedangkan ia tidak mungkin melawan.


Keterasingan yang aneh.


Tadi malam, setelah menyeka tubuh Ruby dan mengenakan kimono handuk di tubuhnya, ia berjanji akan pergi. Namun kenyataannya, ia melanggar janji itu.


Selesai menyeka dan mengenakannya handuk, ia justru berbaring di sisinya dan tertidur sambil memeluknya. Mungkin ini adalah karakternya, ia menyukai perasaan segala hal berada di bawah kendalinya. Ia menyukai Ruby dalam pelukannya.


Setelah beberapa saat berlalu, Vidrian mencium bibir Ruby sekali lagi. Setelah itu ia melepaskan Ruby dengan hati-hati sebelum akhirnya memaksa tubuhnya untuk bangun.


Meski tadi malam kurang tidur, namun tidak ada tanda-tanda lesu dalam dirinya. Ia bersemangat bahkan sangat bersemangat. Mungkin karena sudah lama ia tidak berhubungan ****, sehingga ketika akhirnya ia melakukannya dengan wanita yang menjadi obsesinya, ia merasa seluruh dunia berada dalam genggamannya, membuatnya sangat puas dan senang.


Vidrian yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana panjang, menarik kursi ke samping ranjang lalu mendudukkan diri di sana. Ia menatap wanita yang terbaring di atas ranjang dan menatapnya untuk waktu yang lama.


Tidak cukup hanya dengan menatap, pada akhirnya ia meraih tangannya lalu menggenggamnya dan tenggelam dalam pikirannya.


Dalam mimpi pun, Vidrian tidak pernah bermimpi tentang Ruby. Tidak sekalipun. Apalagi dalam dunia nyata. Tetapi sebenarnya, tidak hanya menciumnya, ia bahkan menghabiskan malam dengannya.


Perasaan itu sangat luar biasa.


Sesuatu yang melegakan. Juga.. mengharukan.


***


Ketika Ruby membuka mata, hari sudah siang.


Ia memaksa tubuhnya untuk duduk ketika menyadari kepalanya terasa pusing. Ia menyentuh kepalanya dan bergumam, "Sial." Sepertinya ia benar-benar mabuk tadi malam. Tidak. Ia sangat-sangat mabuk hingga tidak mengingat apapun lagi.


Ingatan terakhirnya, ia meminta wiski kepada bartender. Setelah itu tidak ada satu pun ingatan yang tersisa.

__ADS_1


Ia hanya bermimpi.


Mimpi yang sangat panjang.


Dalam mimpinya, ia bertemu dengan Osvaldo.


Dalam mimpinya, ia terjerat dengan pria itu dalam pelukan satu sama lain. Pria itu menahannya lagi dan lagi untuk meminta lebih. Itu tanpa henti.


Pria itu menelanjangi dan memasukinya dengan tidak sabar.


Tidak lagi bisa menerimanya, ia memohon belas kasihan.


Namun apa yang ia dapatkan sebagai balasannya adalah pria itu menghancurkan tubuhnya dengan kejam.


Pada akhirnya ia seperti perahu tunggal di tengah lautan. Mengendarai ombak yang bergejolak dan tidak tahu kapan dan bagaimana semua itu berakhir.


Ketika memikirkan itu, ia tersenyum kecil.


Bahkan dalam tidur pun, ia memimpikannya.


Mimpi erotis, sebenarnya ia tidak pernah memimpikan hal semacam itu. Kalau pun bermimpi bertemu dengannya, ia hanya akan melihatnya, tidak benar-benar berbincang apalagi berhubungan ****. Tetapi, tidak hanya berbincang, tadi malam ia bahkan bermimpi tidur dengannya dan dia menyiksanya tanpa henti.


Benar-benar memalukan.


Apakah karena sudah terlalu lama ia tidak tidur dengan pria hingga nalurinya ketika bertemu dengan hal semacam itu menjadi liar dan tak terkendali? Tidak. Ia tidak pernah seagresif ini. Terkadang ia hanya akan berinisiatif. Dan kalau pun berinisiatif, Osvaldo akan melanjutkan dan menyelesaikannya. Pun hanya beberapa ronde. Tidak sampai berulang kali hingga ia memohon belas kasihan.


Setelah di pikir lagi, menjadi lajang benar-benar bukan sesuatu yang bagus. Namun tidur dengan sembarang pria lebih tidak bagus lagi. Bagaimanapun, ia penganut aliran cinta sejati. Singkatnya, ia hanya akan tidur dengan seseorang yang ia suka. Tidak bisa hanya karena dia pria dan memiliki pe**s, ia bersedia membuka pahanya untuknya.


Tidak. Tidak seperti itu.


Itu konsep hidup yang berantakan.


Tenggelam dalam pikirannya, Ruby tidak menyadari ketika seseorang menerobos masuk ke kamar tidurnya.


"Selamat siang, Nyonya. Anda sudah bangun?"


Ruby tersentak. Lamunannya berhamburan. Ia menoleh ke arah sumber suara dan melihat seorang pelayan berdiri tidak jauh darinya. Ia menghela napas panjang. Melihat orang itu, baru ia menyadari bahwa ia masih berada di club.

__ADS_1


Keuntungan memilih club malam besar adalah untuk menjamin keselamatan andai seseorang benar-benar mabuk. Sebuah club yang juga ada hotel di sampingnya, petugas club hanya akan melempar seorang pemabuk ke dalam hotel kemudian meminta tagihan keesokan harinya.


Lagipula, mustahil orang biasa masuk ke area ini.


Orang yang datang sudah pasti berasal dari kalangan menengah ke atas. Jika bukan orang kaya, pasti orang yang sangat kaya.


Namun, apakah ia masih di bar atau di hotel, ia tidak tahu. Yang utama dan yang terpenting, seseorang tidak membawanya pulang, itu sudah lebih dari cukup. Di saat seperti ini, dengan kondisinya yang tidak benar, tidak memungkinkan bagi kedua putranya untuk melihatnya. Setidaknya, bagus ia masih di sini.


Tidak mendapat jawaban, pelayan berjalan mendekat. "Nyonya, saya membawa sup serta obat yang Anda butuhkan. Anda bisa meminumnya untuk membuat tubuh Anda merasa lebih baik," ucapnya sembari meletakan nampan yang berisi sup, air putih dan obat di atas nakas. Kemudian ia mundur dengan hati-hati.


Sebelum Ruby mengambil obatnya, pelayan kembali berkata, "Sebaiknya Anda meminum supnya terlebih dahulu. Itu akan membuat perut Anda lebih nyaman."


"Tidak di butuhkan," jawab Ruby sembari mengambil obatnya dan dengan cepat meminumnya. Ia tidak mencurigai apapun karena selain obat pengar, tidak mungkin pelayan ini memberikan racun kepadanya.


Selain tidak memiliki dendam, seorang pelayan yang bekerja di club besar, sudah melalui uji kelayakan sebelum benar-benar bekerja melayani orang. Jika dia tidak bersertifikasi, tidak mungkin orang ini diterima bekerja di sini. Apalagi jika para pengunjung adalah orang kaya. Melayani orang kaya, jelas harus lebih berhati-hati.


Melihat Ruby meminum obatnya tanpa meminum supnya terlebih dahulu, pelayan menghela napas panjang. Cukup sulit melayani orang kaya. Apalagi orang yang benar-benar kaya. Selain berlaku sesuka hati, mereka tidak mengerti apakah orang sepertinya kesulitan atau tidak karena masalah sepele ini.


Huft, sungguh hidup yang tidak mudah.


Menyingkirkan keluhannya sedikit ke samping, pelayan kembali berkata, "Apakah Anda ingin memakan sesuatu, atau mandi terlebih dahulu?"


"Tidak," jawab Ruby.


Pelayan hendak undur diri ketika suara Ruby kembali terdengar, "Katakan, apa kau mengganti pakaianku?" tanyanya. Ia tidak mengingat apapun. Benar-benar tidak ingat. Jadi, ia hanya ingin tahu. Bukan untuk memarahi, hanya sekedar ingin tahu saja.


Pelayan mengurungkan niatnya untuk pergi. Sebaliknya, ia menundukkan kepalanya. "Maaf, Nyonya." Ia berkata dengan sangat menyesal. Maksudnya, tentu ia tidak bisa mengatakannya kepada Ruby. Ia hanya ditugaskan untuk menjaganya dan memberinya obat jika dia bangun. Intinya, ia ditugaskan untuk melayaninya.


Pun ketika ia datang tadi pagi, Ruby sudah dalam keadaan bersih dengan kimono handuk yang melilit tubuhnya. Siapa yang mengganti pakaiannya, mungkin pria itu. Pria yang sama yang memintanya untuk menjaganya.


...----------------...


...Jangan lupa, baca ceritaku yang lain ya gaes..thx.....



...----------------...

__ADS_1


__ADS_2