
Hari-hari yang dilalui terasa berat.
Namun tidak lagi terasa berat dengan kehadiran seorang putri yang selalu menemani.
Savana Veronica Christensen.
Merupakan seorang putri yang dilahirkan oleh mantan istrinya, Rubika Hills, delapan tahun lalu. Mengambil nama tengah dari ibunya dan mengambil nama belakang dari nama keluarga ayahnya, Vidrian sengaja menekankan nama keluarganya karena tradisi.
Kenyataannya, bukan hanya Savana, kedua adik perempuannya juga memiliki nama tengah dan nama belakang yang sama. Roxana Veronica Christensen dan Julie Veronica Christensen.
Mungkin karena sudah begitu tradisinya sehingga Vidrian hanya perlu memikirkan nama pertama untuk putrinya. Tanpa campur tangan mantan istrinya atau siapapun, ia memilih nama Savana. Dalam bahasa Spanyol, Savana berarti tidak mengenal rasa sakit, atau bisa pula di artikan sebagai dataran tak berpohon.
"Dadd, apa kau berbohong padaku? Aku melihatmu terus menatap mobil itu." Savana menggembungkan pipinya, bibirnya mengerucut saat menunjuk mobil yang perlahan pergi. Sebagai satu-satunya putri ayah, ia adalah tuan putri. Jika sedikit saja ayah memperhatikan hal lain, ia menjadi sangat kesal.
Suara lembut Savana menyentak Vidrian dari khayalannya. Ia menata pikirannya kemudian terkekeh. "Lihat, sekarang kau bahkan cemburu pada sebuah mobil. Apa kau sangat menyayangiku? Apa kau tidak mau kehilanganku? Hm? Jawab, hmm?"
"Siapa yang cemburu? Aku tidak." Savana menyangkal. Ia bukan cemburu, ia hanya merasa tidak senang.
"Kau hanya sedang menyangkalnya," ujar Vidrian. Ia senang Savana menyayanginya. Tidak. Ia senang Savana menempel dan mengandalkannya. Katanya cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Mengingat bagaimana Savana memperlakukannya, ia jelas cinta pertama bagi anak itu, dan itu membuatnya sangat puas.
"Aku tidak." Gadis berusia delapan tahun itu masih gigih menyangkal.
Vidrian mencubit hidung Savana. "Baiklah, kau adalah satu-satunya yang aku sayangi, oke?"
Savana mengangguk. "Aku mengerti." Savana tidak bertanya lagi. Ia dapat merasakan suasana hati ayahnya sedang tidak terlalu baik, itu sebabnya ia tidak berani membuat keributan.
"Dan aku ingin tahu, apa kau patuh hari ini?" tanya Vidrian. Meski hanya memiliki orang tua tunggal, Savana tidak kekurangan kasih sayang. Di banding materi, ia lebih mengutamakan kasih sayang di atas segalanya.
"Uh huh." Savana kembali mengangguk. "Aku sangat patuh, Dadd. Sangat, sangat, sangat patuh." Ulangnya sampai tiga kali.
Vidrian kembali mencubit hidung Savana. "Bagus. Kau akan mendapat hadiah atas kepatuhanmu."
__ADS_1
Savana tersenyum lebar. "Terima kasih, Dadd. Kau yang terbaik."
"Sama-sama, Sayang. Omong-omong, apa yang kau lakukan saat tidak bersamaku? Kau tidak menyulitkan Bibi pengasuh, bukan?"
"Aku tidak melakukan apapun. Tapi aku melihat seorang wanita cantik hari ini. Ia sangat cantik dan tinggi. Aku tidak sengaja menabraknya dan Bibi pengasuh memarahiku." Savana sengaja memasang ekspresi lugu terbaiknya. Ekspresi yang biasa ia andalkan ketika ia melakukan kesalahan. Ekspresi yang biasanya berhasil dengan gemilang.
Melihat wajah menyedihkan Savana, Vidrian menggeram. Kali ini ia tidak akan tertipu. Ia hafal betul seperti apa gadis itu ketika menghindar dari masalah, itu sebabnya ia menolak mentah-mentah untuk di pengaruhi. "Itu kesalahanmu, jangan harap aku simpati."
"Dadd, aku tidak sengaja. Sungguh. Lagipula dia sangat cantik."
"Tidak peduli apa, lain kali jangan lakukan lagi. Jika kau membuat ulah dan membuat Bibi pengasuh kesulitan, aku akan menghukummu." Sebagai seorang ayah, Vidrian adalah ayah yang penyayang namun tegas. Ia sangat menyayangi Savana, namun ia juga tidak terlalu memanjakan bocah kecil itu.
Savana cemberut. "Baik, aku mengerti."
"Bagus," ucap Vidrian. "Apa sekarang kau ingin makan sesuatu?"
"Ya, aku sangat lapar."
***
Melalui kaca jendela mobil, Ruby dapat melihat seorang anak perempuan berlari dan masuk ke dalam pelukan Vidrian.
Pada awalnya Ruby tidak ingin tahu, namun ketika melihat interaksi kedua orang itu, ia merasa tidak bisa mengabaikan keanehan ini. Ia meminta pengemudi untuk menghentikan mobilnya lalu mengawasi pergerakan Vidrian dan bocah perempuan itu dari jarak aman.
"Nyonya, apa ada masalah dengan mereka?" Lily bertanya dengan hati-hati saat melihat wajah tenang Ruby. Semakin tenang Ruby biasanya semakin rumit pikirannya. Itu sebabnya Lily tidak pernah menggunakan ekspresi wajah Ruby sebagai patokan. Ia hanya percaya pada instingnya sendiri.
"Wajahnya tampak tidak asing," ujar Ruby. Tatapannya masih fokus di titik yang sama. Melihat bagaimana Vidrian memperlakukan gadis kecil itu, hubungan mereka jelas tidak sederhana.
"Oh," mengerti apa maksud Ruby, Lily segera memperjelas, "Anak perempuan itu menabrak Anda di depan pintu restauran."
Ruby terdiam sejenak. Pantas, wajah gadis itu tampak tidak asing. Ternyata dia.
__ADS_1
"Apa saya perlu menyelidikinya?"
Ruby terdiam.
Menyelidikinya?
Kedengarannya cukup menarik. Tapi, untuk apa?
Bahkan tanpa penyelidikan, ia sudah tahu siapa dia.
Anak perempuan berusia delapan tahun, jika bukan dia, siapa lagi?
Itulah hal pertama yang ia simpulkan begitu melihat gadis kecil itu memeluk Vidrian. Mungkin karena baru pertama kali melihatnya, ia tidak mengenalinya ketika menabraknya. Sekarang setelah bersama pria itu, ia jelas tahu siapa dia lebih dari siapapun.
Namun tidak peduli hubungan seperti apa yang dimiliki Vidrian dan gadis kecil itu, tidak peduli siapa dia, sama sekali bukan urusannya dan tidak ada hubungannya dengan ia.
Namun saat melihat wajah bocah kecil itu dengan lebih teliti, tiba-tiba wajah kedua putranya terlintas di benaknya. Jika mereka bertemu, bukankah akan sangat merepotkan?
Dalam sekejap, Ruby berubah pikiran. "Ya, selidiki mereka, sedetail mungkin."
Lily mengangguk. "Baik, Nyonya. Saya akan menyerahkan informasinya dalam satu jam." Lily terbiasa melakukan penyelidikan menyeluruh untuk calon mitra bisnis mereka, itu sebabnya ia sudah tidak asing dengan perintah seperti ini.
Lagipula, sebelum bermitra dengan Diedrich Group, sebuah perusahaan harus dalam keadaan bersih. Tidak ada skandal, tidak ada pekerjaan ilegal. Jika sudah di selidiki dan hasilnya bersih, mereka bersedia menerima kerjasama tanpa ragu.
"Tidak perlu terburu-buru," ujar Ruby. "Penyelidikan tentang mereka bukan prioritas utama kita. Letakan di daftar terakhir."
Lily menyernyit, detik berikutnya ia mengangguk tanpa ragu. "Baik, Nyonya." Lily tidak bertanya lagi. Ia hanya berpikir keengganan Ruby untuk mengetahui tentang SVN karena Ruby tidak benar-benar tertarik dengan perusahaan itu.
Melihat Vidrian dan bocah perempuan kecil masuk ke dalam restauran, Ruby segera memberi instruksi. "Berkendara!"
Mobil segera melesat pergi kembali ke kediaman.
__ADS_1