Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 49 ~ Permintaan Dari Mantan Suami


__ADS_3

Pria itu mengenakan setelan bisnis hitam.


Rambutnya agak acak-acakan, bahkan wajahnya yang dalam tidak bisa menutupi tanda-tanda kelelahan dalam dirinya. Namun semua itu tidak mempengaruhi ketampanannya.


Beberapa pria lahir dengan baik.


Mereka akan selalu terlihat lebih baik dari yang lain.


Mata gelapnya menatapnya, bersama dengan wajah datar, Sebuah koper berukuran kecil tergeletak di samping kakinya.


Ruby terkejut saat melihatnya. Ia tidak pernah berpikir bahwa ia akan melihat pria itu di depan pintu apartemennya. Ia tidak pernah mempersiapkan dirinya untuk pertemuan seperti itu. Tentu saja, ia juga tidak mau bersiap. Ia tidak mau bertemu dengannya, lagi, sungguh.


Ruby segera mundur.


Tanpa ragu-ragu, ia siap untuk menutup pintu.


Tetapi pintu itu diblokir oleh tangan besar yang mengerahkan kekuatannya, menahan Ruby dari pergerakannya.


"Apakah kau selalu seperti ini, membuka pintu tanpa memeriksa siapa itu?" Suara pria itu mengalir perlahan, tenang, tanpa emosi. Menatap Ruby, ia menyembunyikan emosinya dengan baik.


Benar saja, wanita itu masih sama.


Tidak sedikit pun berubah.


Kebiasaan membuka pintu tanpa melihat terlebih dahulu siapa yang datang. Dulu ketika mereka masih tinggal bersama, dia selalu seperti itu. Sekarang pun tampaknya tidak ada perbedaan.


Ruby menatap wajah datar Vidrian dan berkata dengan dingin, "Sekarang aku telah melihat dengan jelas siapa kau dan aku ingin menutup pintu." Dan itulah yang sangat ingin ia lakukan. Namun Vidrian menahan pintunya dan tampak tidak akan melepaskannya.


"Kau tidak ingin melihatku?" tanya Vidrian. Matanya menatapnya dengan tenang. Meski tahu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Ruby, namun ia masih menanyakannya.


Ruby menaikan sebelah alisnya. Menatapnya penuh ejekan. "Bukankah sudah jelas?"


Mendengar kata-katanya yang kejam, Vidrian tidak menunjukkan keterkejutan di wajahnya, seolah hal seperti ini adalah hal yang lumrah terjadi. Atau lebih tepatnya, belakangan ini ia lebih sering mendengarnya.


Meski bukan kata-kata yang baik, namun itu tidak terdengar buruk. Daripada tidak mendengar suaranya sama sekali, bahkan jika itu adalah umpatan, ia akan mendengarkannya tanpa mengeluh.


Vidrian menguraikan emosinya dan berkata dengan dingin, "Aku harus pergi mengurus beberapa hal. Savana akan menemanimu hari ini.”

__ADS_1


"Apa katamu?" Ruby terkejut. Ia memandang Vidrian dan mengira ia salah dengar.


Vidrian menatap Ruby dan mata hitamnya begitu gelap dan agresif. "Aku sangat sibuk dan tidak bisa mengurus Savana untuk sementara. Aku akan menjemputnya besok. Bisakah kau menjaganya, untukku?" Nada suaranya melembut seiring kata yang terlontar.


Meski tahu Ruby tidak akan menerimanya dengan mudah, bahkan mungkin langsung menolaknya, namun ia tidak mungkin menyerah. Lebih tepatnya, tidak akan. Sudah sejauh ini, selama ia bisa menyodorkan Savana kepadanya, ia yakin Ruby akan menerimanya meski terpaksa.


"Kau pikir hanya kau yang sibuk? Kau pikir aku tidak?" Suara Ruby meninggi. Enak saja, memang ia jasa penitipan anak? Sembarangan memintanya untuk menjaga anaknya? Ia juga sibuk. Sangat sibuk.


Ia bahkan sangat lelah hari ini sampai tidak bisa melakukan apapun lagi. Masih menyuruhnya menjaga anak? Apakah pria itu kehilangan otaknya di suatu tempat?


"Ruby." Vidrian memandang Ruby dan mengerutkan kening. "Jangan bilang kau lupa siapa Savana." Ia berusaha mengingatkan kembali bahwa Savana adalah putrinya. Anak yang lahir darinya. Juga, hubungan biologis yang tidak akan pernah bisa berubah.


Ruby mengepalkan tinjunya dan memelototi pria brengsek itu. Ia mencoba mengendalikan amarahnya di dalam dan berkata, "Vidrian, aku ingat kita membuatnya sangat jelas, anak itu ..."


"Aku ingat, oleh karena itu aku hanya membiarkan dia tinggal di tempatmu selama satu malam." Vidrian berkata dengan suara rendah. "Tidak bisakah kau melakukannya?"


“Vidrian, jangan melewati batas!” Ruby berteriak. Ia tidak setuju anak itu tinggal di tempatnya dan pria itu seharusnya tidak sembarangan membuat keputusan.


"Aku, melewati batas?" Vidrian menatap Ruby dengan dingin. Tekanan dari tubuhnya turun. Ia menjadi kesal. Tidak. Daripada kesal, sebenarnya ia kecewa.


Vidrian tidak mengatakan apapun lagi tetapi Ruby tahu apa artinya.


Memintanya untuk merawatnya, bahkan jika hanya untuk satu malam, ia masih tidak bisa menerimanya. Tidak akan pernah.


"Jadi, kau ingin ini menjadi bisnis?" Nada bicara Vidrian melemah. Sinar kecil harapan di hatinya segera layu. Tentu saja, ia benar-benar tidak berharap Ruby mengatakan hal seperti ini.


Tetapi suara dingin itu sepertinya memperingatkannya untuk tidak mengharapkan hal lain. Itu saja sudah cukup sulit.


Itu artinya perjalanannya masih jauh dan ia harus bersabar, kan? Setelah mengusahakannya secara perlahan, ia kira ia sudah dekat. Tetapi ternyata tangan yang berhasil ia genggam hanya bayangan.


Apakah ia harus hidup dalam kecemasan tidak bisa memilikinya seumur hidup seperti ini?


Sungguh menyedihkan.


Ruby mencibir. "Apakah aku seharusnya tidak seperti itu denganmu?" Ini adalah permainan yang Vidrian ciptakan, dan ia hanya bermain bersamanya.


Wajah Vidrian semakin cemberut dan amarah muncul dari matanya. “Ruby.."

__ADS_1


"Dadd." Suara manis dan lembut terdengar dari arah belakang.


Vidrian menoleh dan kelembutan mengambil alih matanya tiba-tiba. Kegelapan hilang sama sekali. Amarah serta kesedihan yang tadi hampir menenggelamkannya, hilang dalam sekejap. Berganti menjadi senyum lembut yang penuh kasih sayang.


Ruby belum pernah melihat tatapan lembut dari Vidrian sebelumnya, bahkan sepanjang pernikahan mereka. Ia menoleh tanpa sadar dan mengikuti pandangannya.


Sesosok kecil berada tepat di belakang Vidrian, menatap pria itu dengan tatapan sedih.


Wajahnya dan wajah Vidrian seolah-olah diukir dari cetakan yang sama. Itu putih dan lembut, dan sangat cantik.


Itu Savana?


Ya. Ia juga pernah bertemu dengannya secara kebetulan beberapa kali. Namun tetap saja ketika melihatnya lagi, insting keibuannya tidak bisa menolaknya. Dan ia benci perasaan ini.


Sementara Ruby bersikeras menolak perasaannya, Savana menatap Vidrian dengan sedih. Ia hampir menangis. Awalnya ia sangat senang ketika mengetahui bahwa ia benar-benar memiliki seorang ibu dan ayah akan mengantarkannya padanya.


Ia telah memimpikan ini sepanjang hidupnya.


Ia bahkan sudah berkhayal memakan sarapan yang di buat ibunya juga mendapat bekal makan siang yang di buat olehnya penuh cinta.


Namun ketika pada akhirnya Vidrian mengantarkannya padanya, dan mendengar perbincangan yang di lakukan oleh ayah dan ibu yang baru di temukannya ini, ia menyadari bahwa ia sudah di tolak bahkan sebelum ia memperkenalkan diri.


Rupanya, ibu tidak menginginkannya.


Benar-benar tidak menginginkannya.


Itu adalah kesimpulan yang ia tangkap dari perdebatan mereka.


Melihat Savana sekali lagi, Ruby mengepalkan tinjunya lagi. Ia menoleh ke Vidrian. "Bawa dia pergi!" Suaranya tegas, penuh penekanan namun tanpa penolakan.


Mendengar ini, Savana mengangkat wajahnya dan menatap wanita yang baru saja meminta ayahnya untuk membawanya pergi, dan ia terperanjat.


Apa yang ia lihat di depannya sungguh mencengangkan.


Ibu Sean?


Bukankah dia ibu Sean? Wanita anggun yang membuatnya iri ingin memiliki ibu seperti itu?

__ADS_1


Tidak. Bukan itu. Mengapa dia di sini dan berdebat dengan ayahnya?


Mungkinkah..


__ADS_2