Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku

Mantan Suamiku Kembali Tergila-gila Padaku
Bab 9 ~ Sambutan Di Perusahaan Diedrich


__ADS_3

"Nyonya, kita sudah sampai," ujar Lily ketika mobil berhenti di depan perusahaan. Suaranya yang pelan memecah keheningan. Ia melirik Ruby melalui spion dan hanya mendapati wajah lelah bosnya.


Ruby mengangguk kecil. Ia mencubit di antara alisnya dan tatapannya berpindah ke luar jendela. Melihat keramaian di depan perusahaan, ia menatap Lily, sedikit mengancam.


"Maaf, Nyonya. Ini kesalahan saya." Lily menundukkan kepalanya, merasa sangat bersalah atas keributan yang dilakukan oleh Grissham Gladwin. Padahal ia mengatakan dengan tegas agar tidak ada penyambutan. Namun lihat apa yang manusia terkutuk itu lakukan? Apa dia bosan hidup?


Ruby menatap Lily selama tiga detik sebelum berkata, "Ini terakhir kalinya. Tidak ada lain waktu." Meski ini adalah kesalahan besar, namun Ruby tahu ini bukan sepenuhnya kesalahan Lily. Ia tidak bisa menyalahkan Lily atas apa yang terjadi.


Lily tersenyum kecil. "Terima kasih, Nyonya."


Ruby mengangguk sebelum turun dari mobil.


Karpet merah membentang. Beberapa orang berbaris rapi menyambut kedatangan Ruby. Meski sedikit tidak nyaman, Ruby tetap mempertahankan wajah tenangnya.


Ruby mengangguk kecil kemudian berjalan menyusuri karpet merah dengan Lily di belakangnya. Wajahnya yang cantik sangat memabukkan. Pesonanya tak terbantahkan. Wanita berusia dua puluh sembilan tahun itu benar-benar cantik dan elegan. Rambutnya panjang dan di ikat tinggi di belakang. Pakaian formal yang melekat di tubuhnya serta tas mahal yang menggantung di tangannya, menunjukan betapa kaya dan berkuasanya seorang Ruby Diedrich.


Seolah dunia berada dalam genggamannya, beberapa orang memujinya di dalam hati. Berpikir bahwa pemilik Diedrich Group sangat mempesona. Namun siapa yang berani bermimpi tentang bos besar Diedrich Group? Mereka bahkan tidak berani bernafas karena takut menyinggung wanita itu.


Setelah mencapai ujung karpet merah, Grissham Gladwin menyambut Ruby dengan ramah. "Selamat datang, Nyonya. Apakah perjalanan Anda menyenangkan?" Grissham adalah seorang pria tua berusia lima puluh tahun. Namun jangan hanya melihat dari usianya, meski sudah tua, profesionalisme serta dedikasi Grissham dalam mengurus dan mengembangkan perusahaan patut di acungi jempol. Bukan satu jempol, tetapi beberapa jempol.


"Mm. Tidak terlalu buruk," jawab Ruby, singkat. Ruby sangat malas menanggapi basa basi orang lain. Jadi ia meminta agar Grissham segera menunjukkan dimana ruangannya.

__ADS_1


Melihat ketidaknyamanan Ruby, Grissham segera menawarkan diri untuk mengantar Ruby ke ruangannya. "Mari saya antar ke ruangan Anda." Ia segera membawa Ruby ke lantai tertinggi dengan lift khusus.


Selama ini, lantai tertinggi tidak pernah di gunakan oleh siapapun, bahkan dirinya yang selaku CEO pun tidak berani. Biasanya Tuan Osvaldo Diedrich yang akan menempati ruangan itu saat melakukan kunjungan ke London. Namun sejak Tuan Osvaldo meninggal, meski lantai tertinggi selalu di bersihkan, tidak ada yang benar-benar menempatinya sampai akhirnya Istri Osvaldo Diedrich, Ruby Diedrich datang.


Ruby masuk ke ruangannya dan sepuluh menit berlalu tanpa terasa. Dan dalam waktu sepuluh menit, Ruby sudah mulai terbiasa dengan ruangan itu. Ruangan yang ia tahu adalah milik Osvaldo, sekarang ia yang menempatinya. 


Betapa beruntungnya ia masih bisa menikmati dunia yang Osvaldo ciptakan. Berkat pria itu, Ruby sekali lagi mendapatkan kebahagiaan yang tidak bisa diberikan oleh siapapun di dunia ini.


Namun sayangnya, pria itu sudah tidak ada lagi.


Hanya ada potretnya yang tersisa, hanya ada kenangannya yang melekat.


Ruby duduk di kursinya sembari memandang foto Osvaldo di atas meja. Foto itu sengaja ia bawa dari Amerika karena ia takut akan merindukan Osvaldo jika tidak melihat wajahnya. Meski hanya gambar, pria itu serasa ada di depannya. Tersenyum manis kepadanya, serta menatap seolah ia adalah harta paling berharga milik pria itu.


Dokumen akuisisi.


Dari judulnya, sudah sangat menarik.


Ruby tahu betapa berkemampuannya seorang Grissham Gladwin. Di bawah kepemimpinannya, banyak perusahaan mulai dari yang kecil hingga yang besar berhasil dia taklukan. Tidak heran Osvaldo sangat menyukainya. Terlepas dari temperamennya yang lembut dan tenang, dia benar-benar ganas saat menyerang.


Untuk wanita ambisius seperti Ruby, memiliki Grissham sebagai pemimpin perusahaan London, benar-benar sebuah keberuntungan. Ia tidak perlu repot turun tangan sendiri. Semuanya berhasil di kendalikan dan di pimpin dengan sempurna.

__ADS_1


Lily mengetuk pintu dan masuk ke ruang kerja Ruby setelah tidak mendapatkan tanggapan dari dalam. Ia mendapati wanita itu sedang membaca dokumen. "Anda memiliki pertemuan dengan CEO perusahaan Adelard pada jam dua siang, Nyonya," Lily meletakan sebuah dokumen di atas meja. 


"Kau memberiku dokumen lagi, apa kau bosan hidup?" Ruby berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang sedang ia baca. Ada setumpuk dokumen yang bahkan belum ia periksa, namun Lily datang dan memberikan dokumen lagi. Satu saja belum selesai, lalu kapan ia akan menyelesaikan semuanya? Apakah ia harus tidak tidur lagi malam ini?


Lily tersenyum kecil. "Anda yang paling tahu saya bosan hidup atau tidak," Lily menjawab dengan berani. Ia merapikan meja kerja Ruby kemudian meletakan sebuah kotak kecil di sana.


Ruby melirik sekilas. "Apa itu?" 


Lily membuka kotaknya. "Ini adalah cincin yang Anda pesan." Merupakan cincin bertahtakan berlian lima belas karat yang di pesan olehnya atas permintaan Ruby beberapa hari sebelum kembali ke London. Mereka baru tiba beberapa saat yang lalu namun cincin ini sudah ada di sini. Velline, desainer perhiasan itu benar-benar tahu siapa bosnya.


Ruby tidak menanggapi perkataan Lily. Ia tahu Velline sangat bisa diandalkan. Dalam segala aspek, entah itu dari segi desain, kualitas atau harga, semua perhiasan yang orang itu rancang, sempurna.


Lily juga tidak bicara lagi. Diabaikan, adalah hal yang paling sering Lily dapatkan dari Ruby. Ia berbalik pergi. Namun sebelum mencapai pintu ia kembali menoleh, menatap Ruby. "Jangan lupa tentang pertemuan nanti, Nyonya. Anda memiliki sepuluh menit tersisa dari sekarang."


Ruby melirik jam tangannya yang tidak lagi melingkar pada pergelangan tangannya. Barang mahal itu tergeletak di atas meja setelah ia melepasnya karena terlalu mengganggu. "Masih ada empat puluh menit sebelum jam dua siang, Lily."


Suara Ruby membuat Lily yang hendak keluar, batal melakukannya. Ia berbalik dan berjalan kembali menuju Ruby. "Sepuluh menit yang saya maksud adalah persiapan Anda sebelum keberangkatan. Sedangkan tiga puluh menit tersisa adalah perjalanan menuju tempat pertemuan. Jika saya menghitungnya dengan benar, itu empat puluh menit. Kami, orang-orang yang bekerja untuk Diedrich Group, sangat menghargai waktu." 


Bibir Ruby melengkung secara alami. "Itu benar, kami yang mendedikasikan waktu dan tenaga untuk Diedrich Group sangat menghargai waktu. Tapi jika aku ingat dengan benar, bukankah kau mengatakan pertemuan akan di adakan di perusahaan ini?" Jadi untuk apa tiga puluh menit di habiskan di perjalanan? Hanya perlu beberapa menit untuk mencapai ruang pertemuan di gedung ini. 


"Tidak, Nyonya. Saya berkata pertemuan akan di adakan di luar," Lily menjawab dengan fasih, tidak ada sedikit pun jejak kebohongan di sana. Ia berkata di dalam mobil ketika meninggalkan restauran, dengan kondisi hati yang buruk, Ruby jelas tidak mendengar apa yang ia katakan.

__ADS_1


Ruby termenung sebentar sebelum mengangguk kecil. "Baiklah, itu kesalahanku. Sekarang mari kita bersiap."


__ADS_2