
"Lalu, apa yang kau lakukan sekarang? Dimana Savana?" Bukannya menerima permintaan maaf Vidrian dan berdamai, Amelia justru mengibarkan bendera perang.
Vidrian terdiam.
Savana?
Tentu saja dia bersama ibunya.
Namun ia tidak berencana mengatakan perihal ini kepada wanita itu. Jika dia tahu, bukankah dia akan memintanya untuk menjemputnya?
Bukannya ia tidak ingin Savana kembali, namun ia baru saja ingin memperbaiki hubungan Savana dengan Ruby. Lebih tepatnya, hubungan mereka bertiga. Jika ibunya memintanya mengambil Savana sekarang, takutnya Ruby akan kembali asing dan acuh, seperti sebelumnya.
Ia tidak siap akan hal itu.
Benar-benar tidak siap.
"Mom, berhenti bertanya tentang Savana. Dia sudah besar. Biarkan dia menikmati dunianya sendiri," ucap Vidrian pada akhirnya. Ia menghampiri ibunya lalu mendudukkan diri di sampingnya. "Apa kau sudah makan malam?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. Ia tidak memiliki sisa energi untuk berdebat. Ia terlalu lelah. Sangat-sangat lelah.
Amelia meliriknya dan mencibir, "Kau yakin tidak sedang mengalihkan pembicaraan?"
"Mom, kumohon, aku sangat lelah," keluh Vidrian.
Melihat kelelahan putranya yang tampak nyata, Amelia mengalah. "Baiklah, kalau begitu istirahatlah. Kita akan membicarakan ini besok."
"Mom!" Suara Vidrian meninggi.
Amelia terkekeh. "Baiklah, kita tidak akan membahasnya jika kau tidak ingin." Ia menepuk punggung putranya dan tersenyum lembut. "Naik dan tidurlah!"
"Mm." Vidrian mengangguk. "Kau juga. Beristirahatlah lebih awal." Dengan kalimat itu, ia bangkit dari duduknya lalu berjalan meninggalkan ibunya menuju kamar tidurnya.
Melihat punggung putranya perlahan menjauh, Amelia menggelengkan kepalanya. "Anak itu benar-benar tidak berubah." Namun begitulah orang tua. Mereka tetap menyayangi dan mencoba mengerti meski kelakuan anaknya sedikit mengecewakan.
Malam ini, beberapa orang di takdirkan tidur dengan nyenyak, namun ada pula yang tidak bisa tidur sama sekali. Contohnya Vidrian.
Vidrian berusaha tidur dengan berbagai posisi.
Mulai dari menghadap ke kanan, ke kiri, telentang, juga tengkurap. Namun tetap saja hatinya tidak tenang dan pada akhirnya ia tidak bisa tidur sama sekali.
Kesal, Vidrian meninju bantal tetapi bantal itu melawan dan tidak membiarkan dirinya tidur. Ia merenggut bantal itu dari bawah kepala dan melemparkannya ke lantai sambil mengumpat.
Itu bukan salah si bantal.
Dan ia tahu itu.
Itu salah Ruby.
__ADS_1
Mereka bersama. Maksudnya Savana dan Ruby. Namun ia berbaring sendirian di sini. Para wanita menghabiskan waktu demi waktu dengan senyum tersungging, seolah waktu yang mereka habiskan sangat menyenangkan dan penuh kebahagian.
Dua malam tanpa tidur mengingatkan Vidrian pada semua alasan mengapa ia tidak boleh tertidur.
Ruby seolah mengejeknya setiap kali ia memejamkan mata. Ruby yang menatapnya sinis, Ruby yang berkata dengan dingin, Ruby yang arogan, angkuh, Ruby, Ruby, Ruby.. sekarang dunianya penuh dengan wanita itu.
Wanita itu membunuhnya.
Membuatnya gila.
Padahal Ruby nyaris tidak pernah berada di dekatnya. Membuatnya bertanya-tanya tentang alasan mengapa wanita itu selalu muncul dan memenuhi imajinasinya..
Mengapa?
Namun betapa sialnya ia tidak dapat menemukan jawaban.
Lelah berguling-guling, Vidrian memaksa tubuhnya untuk duduk dan menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Tangannya terulur dan meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja.
Menghidupkan ponselnya, hal pertama yang Vidrian cari adalah gambar seorang wanita dengan berbagai pose di galeri ponselnya. Siapa dia, tidak perlu ditanyakan lagi.
Ruby.
Benar, dia adalah wanita itu.
Wajah yang polos dan tenang, siapa sangka jika bangun dia seperti Alpha yang melindungi kawanannya? Tidak hanya kejam, tetapi juga ganas dan tanpa ampun. Benar-benar wanita yang tidak mudah di taklukan.
Meletakan ponselnya kembali di atas meja, Vidrian memutuskan bangun dari tempat tidur. Ia berjalan menuju lemari dan mengambil pakaian santai sebelum mengganti piyamanya dengan pakaian itu. Kemudian ia menyambar kunci mobil dan ponselnya sebelum melangkah pergi meninggalkan kamar tidurnya.
Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia berkendara menuju club milik Ken. Meski lelah dengan rutinitas yang ada, namun lebih lelah jika tidak bisa tidur. Itu sebabnya daripada semakin pusing, minum sedikit sebenarnya tidak buruk.
Namun sebelum mencapai tempat itu, ia terlebih dulu mampir ke suatu tempat. Ia menghentikan mobilnya ketika tiba di gedung apartemen yang Ruby tinggali. Ia turun dari mobil dan menatap gedung apartemen itu cukup lama.
Lampu unit yang Ruby tinggali sudah padam.
Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kehidupan seolah tempat itu sudah dikosongkan untuk waktu yang lama.
Ia melihat arlojinya dan waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Wajar jika kedua wanita itu sudah tidur.
Benar.
Hanya dirinya yang tidak bisa tidur.
Betapa menyedihkan.
Vidrian tinggal selama beberapa waktu dan baru pergi tiga puluh menit kemudian. Kali ini, ia benar-benar pergi ke tempat Ken. Namun begitu memasuki tempat itu, ia berpapasan dengan dua wajah yang familiar.
__ADS_1
Vidrian menatap pria dan wanita di depannya. "Lama tidak berjumpa," ucapnya. Teman-teman Ruby. Ya, bagaimana mungkin ia tidak mengenal teman baik mantan istrinya?
Maxen dan Veronica yang sedang sibuk saling mengolok-olok, ketika melihat orang itu, terdiam dan saling memandang. Merasakan gejolak emosi yang sama, Veronica mendengus, "Betapa sialnya bertemu orang ini." Niatnya pulang lebih awal dari club adalah karena kekasih kecilnya memintanya bertemu setelah kembali dari luar negeri.
Maxen yang sebenarnya belum ingin pulang, ia memaksanya pulang bersamanya karena ia tahu jika pria itu mabuk akan sangat merepotkan.
Namun siapa sangka jika mereka justru bertemu pria busuk itu di sini?
Betapa menjengkelkan.
Sementara itu, Maxen menatap Vidrian dengan dingin. "Apakah menurutmu dia tidak cukup sengsara dan kau masih ingin melempar batu ke arahnya?" Segera kata-kata yang terdengar kasar keluar dari mulutnya tanpa basa-basi. Orang ini, tidak, dia bukan orang, dia adalah binatang.
Binatang ini, betapa ia ingin mengambil nyawanya sekarang juga.
Seorang pria yang berani memperlakukan wanita dengan keji, seharusnya di musnahkan dari muka bumi. Apalagi jika wanita itu adalah sahabat baiknya. Dan benar, pertemuan dengan orang ini hanya akan memunculkan topik yang sama, tentang Ruby, dan selalu tentang wanita itu.
Tangan Vidrian ada di sakunya, wajahnya yang tampan sedingin biasanya. "Aku tidak punya waktu luang untuk melakukan itu."
"Kalau begitu aku harus berterima kasih untuk itu!" Maxen berkata dengan sinis. "Jangan muncul di depannya, lagi."
"Aku khawatir tidak bisa melakukan itu," jawab Vidrian.
Mata Maxen berubah tajam. "Apa maksudmu!"
Vidrian menoleh dan melihat Veronica berdiri di samping Maxen dengan tatapan yang sama. "Mengapa dia kembali?" tanyanya.
Veronica mencibir. "Apa yang dia lakukan sekarang tidak ada hubungannya denganmu sama sekali."
"Benar-benar?" Vidrian menatap Veronica, matanya dipenuhi dengan makna yang tidak jelas.
Veronica sangat kesal dengan mata itu. Ia selalu merasa bajingan ini menertawakannya dan merencanakan sesuatu yang buruk.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Maxen kembali berbicara, menatapnya dengan hati-hati. Saat itu, semua hal buruk yang menimpa Ruby terjadi tepat di bawah hidungnya. Tidak mungkin ia akan melihat pria ini sebagai pria yang baik.
Vidrian berkata dengan dingin, “Apa yang aku ingin lakukan adalah apa yang aku ingin lakukan. Jadi, beri tahu aku, apa yang seharusnya aku lakukan?"
Maxen terdiam. Bukankah ini sama saja dengan tidak menjawab? Dari dulu hingga sekarang, ia telah sering berbicara dengannya, tetapi setiap kali, ia tersedak oleh kata-katanya.
“Kau, aku tidak peduli apa yang kau lakukan, tetapi aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya.” Kali ini Veronica yang berbicara.
Vidrian berhenti dan menatap Veronica. "Apakah kau memberitahuku, bahwa aku masih penting di hatinya?"
"Tidak! Kau tidak!" Veronica memandang Vidrian dengan ironi dan mencibir. “Aku hanya tidak ingin kedua putranya berprasangka buruk padanya karena kau. Namun sebagai manusia, orang tidak bisa menghindari semua sampah.”
Senyum Vidrian langsung surut. Matanya menjadi lebih hitam, wajahnya juga lebih cemberut.
__ADS_1