
Ketika keluar dari kamar mandi, Ruby merasa lebih baik.
Pikirannya kembali jernih dan tubuhnya mulai menghangat.
Namun tanpa ia sadari, ada seseorang yang sangat mengkhawatirkannya.
Ya, dia adalah Savana.
Tanpa Ruby tahu, Savana begitu khawatir saat melihat Ruby berkeringat sangat banyak dengan wajah pucat. Ia menunggunya di depan pintu kamar mandi dan saat melihatnya keluar, ia langsung memeluknya, "Mom, apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?" Ia hampir saja menangis. Namun ia menahan air matanya karena berpikir Ruby mungkin tidak akan menyukainya jika ia menangis.
Melihat anak perempuan kecil menempel padanya, Ruby menghela napas panjang. "Aku baik-baik saja. Aku hanya mengalami mimpi buruk." Ia berkata dengan hati-hati, takut membuatnya khawatir.
"Tapi kau tidak tampak baik, Mom," Savana berkata lagi.
Ruby mengulas senyum tipis. Ia belum pernah membesarkan anak perempuan sebelumnya. Ia pikir, jika memilikinya dengan Osvaldo, akan sangat menarik. Namun mereka memiliki Sean. Dan kemudian Osvaldo tidak berumur panjang.
Pada akhirnya, kesempatan untuk memiliki anak perempuan, tidak ada lagi. Namun ia tidak kecewa. Baginya, anak laki-laki atau perempuan, asalkan anak itu baik dan bertingkah sewajarnya, ia tidak keberatan, ia bahkan bersyukur.
Hingga hari ini, ketika ada anak perempuan di depannya yang memeluknya karena begitu mengkhawatirkannya, itu terasa lucu di matanya.
Meski kedua putranya cukup peka, namun laki-laki tetaplah laki-laki, mau besar atau kecil, mereka tidak akan pernah bertingkah imut atau bertanya dengan ekspresi dan nada suara seperti itu.
Ini merupakan hal yang baru baginya.
Savana melonggarkan pelukannya dan kepalanya sedikit mendongak. "Mom, kenapa kau tertawa?"
"Tidak. Aku tidak tertawa." Ruby membantah dengan begitu mudah tanpa mengedipkan mata.
"Bohong!" Savana cemberut. "Jelas-jelas kau tertawa."
Ruby tersenyum. Putri yang baru di temukannya ini benar-benar manis. Ia mengusap puncak kepalanya dan bertanya, "Jadi, kau membawa bekal ke sekolah?" Ia mengalihkan pembicaraan dengan cepat.
"Ya." Savana begitu antusias menjawab sampai melupakan hal penting tadi. Lagipula ia adalah anak yang mudah di bujuk. Dengan sesuatu yang manis, ia bisa melupakan segalanya dalam hitungan detik.
Jangankan melupakan, ia bahkan tidak ragu untuk mengkhianati ayahnya bila di perlukan. Jika Vidrian tahu betapa kejam putrinya, pria itu pasti akan menggelitikinya sampai anak itu berlutut meminta ampun.
"Jadi, kau ingin aku membuat bekal makan siang untukmu?" tanya Ruby lagi.
__ADS_1
Mata Savana berkedip. "Bisakah?"
"Mm." Ruby mengangguk. "Tentu saja."
"Wah, hebat!" Soraknya. "Bukankah itu luar biasa?"
"Tidak ada yang luar biasa. Hanya bekal makan siang," sahutnya. Ruby terbiasa membuat bekal makan siang untuk kedua putranya jika memiliki waktu. Jika tidak, kedua putranya memilih untuk makan siang di cafetaria karena tidak suka bekal yang di buat oleh orang lain.
"Mom, jangan bercanda. Itu sangat luar biasa," balasnya. "Kau tahu, bekal yang Daddy buat sangat payah. Bekal milik teman-temanku sangat cantik dan indah, tetapi milikku bahkan lebih buruk dari makanan yang tersedia di cafetaria," Savana berkata dengan sedih. Sebenarnya bekal yang Vidrian buat tidak seburuk itu. Rasanya pun cukup enak. Hanya saja, bentuk kepala kelinci yang tidak simetris, wortel yang di potong tidak sama besar, potongan daging yang dipotong secara sembarangan, juga tatanan yang seenak dahi.
Jika di bandingkan dengan milik teman-temannya, miliknya sangat jelek, tidak estetik, dan tidak memiliki sedikit pun nilai keindahan.
Bagi gadis kecil seperti Savana, ia tentu menginginkan hal yang manis serta indah. Itu sebabnya ia tidak ragu mengadu tentang bagaimana Vidrian menyiapkan bekalnya selama ini.
Ruby terkejut sesaat ketika mendengar bagaimana Savana mengadu tentang Vidrian. Namun ia berusaha untuk tidak menunjukannya di depan gadis kecil ini. "Kalau begitu, katakan, makanan apa yang kau suka? Biarkan aku membuatnya untukmu."
"Wow, mommy, aku menyukai apapun yang kau buat. Sungguh. Bahkan jika hanya air putih, aku akan sangat senang."
"Hei," Ruby mencubit pelan hidung Savana dan berkata dengan bercanda, "Kau pembicara yang manis, bukan? Apa kau seorang penjilat?"
Bibir Ruby melengkung secara alami. "Gadis pintar," pujinya. "Sekarang bersihkan dirimu dan aku akan meminta seseorang untuk membeli bahan makanan."
"Baik, Mommy." Dengan patuh, Savana pergi ke kamar mandi. Sementara Ruby, ia menelepon Julius dan memintanya untuk membeli beberapa bahan yang akan ia gunakan untuk membuat sarapan serta bekal untuk Savana.
***
Bekal yang Ruby buat, Savana sangat menyukainya.
Bentuk yang lucu dengan warna-warna cerah dan rasa yang enak, ia benar-benar ingin Ruby membuat bekal makan siang untuknya setiap hari.
Namun saat mengetahui bahwa Ruby sibuk bekerja dan tidak mempunyai banyak waktu luang, Savana segera melupakan gagasan itu. Lupakan tentang bekal yang menarik, tinggal bersama Ruby saja sudah lebih dari cukup.
Dan lagi-lagi ia memarahi ayahnya.
Berkat ayahnya yang tidak berguna, ibu harus bekerja keras mencari uang. Jika orang itu sedikit saja bisa di andalkan, ibu pasti tidak akan sesibuk ini dan pasti memiliki banyak waktu luang untuk bermain bersamanya.
Sungguh pria yang payah.
__ADS_1
Setelah mengantar Savana pergi ke sekolah, Ruby juga pergi ke perusahaan. Sementara itu, di ruang CEO di SVN, Vidrian mendengar ketukan di pintu. Ia tidak melihat ke atas dan hanya berkata dengan tenang, "Masuk." Wajahnya yang tampan tidak bisa menyembunyikan kelelahan dalam dirinya.
Ia berkendara menuju desa kemudian membawa ibunya kembali malam itu juga. Begitu sampai di kota dan belum sempat beristirahat, ia sudah pergi ke perusahaan untuk bekerja.
Benar-benar kehidupan yang sibuk.
Ken si pemilik club, menjulurkan kepalanya dan melihat pria yang sedang duduk di depan meja membaca file.
Tangan Vidrian yang sedang menandatangani berkas berhenti sejenak. Ia menatap pria yang bergerak diam-diam di pintu dan berkata dengan dingin, “Kenapa? Apakah kau tidak ingin masuk atau tidak berani masuk?"
Mendengar ini, Ken segera memenuhi wajahnya dengan senyuman. Ia mendorong pintu terbuka dan melangkah masuk. Ia berkata kepada Vidrian sambil tersenyum, "Kupikir tidak ada orang di dalam, jadi aku tidak ingin menerobos masuk."
"Jadi sekarang kau sudah yakin?" Vidrian menutup file itu dan menatap pria di seberangnya.
Ken tersenyum dan berjalan mengitari kantor. Ia melihat ke sana kemari, dan menyentuh ini dan itu. “Wah, wah, tidak heran ini adalah markas Grup SVN. Semuanya begitu indah. Ha ha…"
"Jadi, kau ke sini hari ini hanya untuk mengagumi kantorku?" Vidrian memandangnya dan berkata dengan sedikit meremehkan.
Senyum di wajah Ken membeku. Kemudian ia memasang senyum canggung. “Tentu saja aku di sini karena aku bosan. Tetapi, aku tidak berharap bahwa dia mantan istrimu. Sungguh wanita yang menarik," pujinya.
Vidrian mengerutkan kening. "Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
Ken terdiam. "Aku bertekad untuk membantumu mendapatkannya kembali. Dia terlalu menarik. Sangat di sayangkan jika dia jatuh ke tangan orang lain."
Vidrian meliriknya dan mengerutkan kening. “Dengan ide-ide bodohmu itu?”
Ken merasa ia dipermalukan dan berkata dengan tidak menyenangkan, “Mengapa kau menyebut itu ide bodoh? Ini semua dibuktikan oleh pengalamanku sendiri dengan wanita dan semuanya bekerja dengan sangat baik. Pasti kau yang melakukan kesalahan.”
Wajah Vidrian tidak terlihat baik. "Kau pikir aku akan membuat kesalahan bodoh seperti itu?"
Ken terdiam. Siapa tahu? Dengan EQ-nya, pria itu bisa dengan mudah mengusir wanita itu.
“Jadi aku ingin tahu mengapa kau mengikutinya secara diam-diam? Kau harus mengejarnya secara terbuka meski harus menjadi tidak tahu malu." Ken berkata ringan pada Vidrian “Pasti mantan istrimu mengira kau tidak cukup tulus.”
Wajah Vidrian langsung menjadi dingin. Setelah diam beberapa saat, ia tiba-tiba berkata, "Dia sangat membenciku."
Ken menatap Vidrian dengan sangat percaya. “Ya, itu terlihat dari bagaimana dia mabuk dan mengutukmu sampai mati."
__ADS_1