
Rasa sakit bermula dari satu hal kecil yang menumpuk, kemudian berakumulasi dan akhirnya membentuk ledakan besar yang tidak lagi bisa dikendalikan.
Namun Ruby sudah berhenti menghitung berapa banyak jumlah rasa sakit yang ia alami. Meski kenyataan bahwa ia sudah berdamai dengan keadaan tidak sepenuhnya benar, namun itu juga tidak sepenuhnya salah.
Terkadang, Ruby sampai pada saat titik dimana ia hanya ingin menjalani kehidupan yang damai bersama kedua putranya. Menjadi orang tua yang bahagia dengan melihat kedua putranya tumbuh besar, menikah, dan memiliki keluarganya sendiri.
Hanya itu.
Tetapi kenapa sulit sekali?
Ruby menghela nafas panjang. "Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Itulah yang aku pikirkan dan berkat pemikiran itu aku dapat hidup dengan bangga selama lebih dari delapan tahun." Ruby tersenyum sedikit. "Sekarang setelah aku memikirkannya, aku benar-benar bodoh." Pada saat itu ia dungu, bebal, atau apapun sebutannya. Menikah dengan seorang pria hanya karena hamil. Mengorbankan masa mudanya yang berharga, mengabaikan kebahagiannya, dan setelah semua itu, apa yang ia dapatkan? Bukan kebahagiaan, bukan kata terima kasih, tetapi kebencian dan kematian yang menyakitkan.
"Ruby.." kata Veronica dengan suara rendah.
Ruby memotongnya, "Jangan khawatir, aku hanya memikirkan anak itu. Bagaimanapun, dia berada di perutku dan aku melahirkannya dengan benar-benar mempertaruhkan hidupku. Aku hanya sedikit tidak nyaman melihatnya. Kau tahu, mungkin ini naluri seorang ibu." Ia tertawa getir. Bagaimanapun ia bertahan hidup hanya untuk melahirkannya pada saat itu. Kakinya hampir di amputasi, dan ia kehilangan banyak darah, namun ia masih ingin melahirkan anak itu dan tidak ingin membahayakannya.
Jika ia tidak pernah melihatnya sejak ia meninggalkan sisinya, mungkin ia tidak akan pernah berpikir seperti itu. Tapi begitu aturan dilanggar, itu ditakdirkan untuk menjadi seperti ini.
Ia telah menerima banyak hal dalam hidupnya tetapi juga kehilangan banyak hal. Terkadang ia bahkan tidak tahu apakah ia beruntung atau tidak beruntung. Satu-satunya hal yang ia yakini adalah bahwa kelahiran anak itu adalah keberuntungannya, untuk itu ia bersyukur kepada Tuhan.
Sekarang setelah delapan tahun dan ia melihatnya sudah sebesar itu, jauh di lubuk hatinya, ia merasa sangat terganggu. Ia tahu suatu saat hal seperti ini akan terjadi, namun ia tidak menyangka perasaannya akan sedalam ini. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah mengabaikannya. Dengan itu, seharusnya semua akan baik-baik saja.
"Kenapa kau mengatakan semua ini? Kau adalah korban dan kau tidak salah apapun. Semua kesalahan pria tercela itu. Jika bukan karena dia, kau tidak mungkin mengalami kecelakaan yang hampir merenggut nyawamu, kau tidak mungkin melahirkan prematur, dan kau tidak perlu melarikan diri ke Amerika. Jika ada orang yang harus disalahkan, maka orangnya adalah dia, si manusia terkutuk itu." Veronica tersulut emosi. Setiap membicarakan bajingan itu, kepalanya berasap dan ia menjadi emosional.
Ruby menepuk bahu Veronica. "Kau benar," ucapnya. "Namun, aku masih harus berterima kasih, karena berkat itu, aku mengerti bahwa tidak ada hubungan yang sedalam sekaligus sedangkal pria dan wanita. Sekarang bahkan jika seperti bintang-bintang yang berkelap-kelip indah di langit malam, pada akhirnya semua akan menyebar seperti buih ombak yang menabrak bebatuan." Perasaan manusia begitu mudah tumbuh namun semudah itu pula sirna. Jadi, sangat bagus bahwa setelah melahirkan, ia memilih untuk mengakhiri semuanya. Karena jika tidak begitu, jika ia tidak mengakhiri hubungan yang terjalin hanya karena seorang anak, ia tidak mungkin bertemu Osvaldo dan menikahinya, pria terbaik yang pernah ada.
Setelah Ruby mengatakan apa yang ingin di katakan, ia bangkit lalu berjalan menuju mobilnya.
"Hei, mau kemana kau?" tanya Veronica.
__ADS_1
"Pulang," jawab Ruby.
Melihat Ruby hampir masuk ke mobilnya, Veronica buru-buru mencegahnya. "Kau mabuk. Masuk ke mobilku!" perintahnya.
"Aku tidak mabuk," jawab Ruby.
"Jika ingin mati, tunggu aku menikah dan tunggu kedua anak baptisku tumbuh besar. Kalau kau mati sekarang, mereka berdua akan sedih." Maksudnya adalah Xavier dan Sean, bukan anak lain, bukan anak perempuan sial itu.
Ruby ragu untuk sesaat sebelum mengangguk. "Oke."
***
Sementara itu di tempat lain.
Vidrian membawa Savana pulang dengan perasaan rumit.
Untuk anak sekecil Savana yang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, yang sangat menginginkan kehadiran seorang ibu, jelas patah hati setelah kepergian Ruby yang tiba-tiba. Namun ia bisa apa?
Menggapai Ruby sama sulitnya dengan memetik bintang di langit. Bahkan jika ia memiliki roket dan berhasil naik ke atas, ia masih tidak bisa menjangkaunya. Semustahil itu. Benar-benar tidak mungkin.
Vidrian menghembus nafas kasar. Satu adalah putrinya, sedangkan yang lain adalah dugaan mantan istrinya. Memikirkan kedua perempuan itu, kepalanya menjadi sakit.
"Dad."
Mendengar putrinya memanggil, Vidrian menoleh. "Em?"
"Apakah menurutmu bibi tidak menyukaiku?"
"Ya?" Otak Vidrian berputar selama beberapa saat sebelum berhasil menangkap maksud ucapan Savana. "Mana mungkin?" jawabnya kemudian. Savana adalah gadis yang pintar, meski mustahil membohonginya, ia tidak punya pilihan lain.
__ADS_1
Lagipula, Vidrian cukup yakin Ruby tidak membencinya. Wanita itu hanya tidak terlalu ramah, bukan membencinya.
Savana membuang pandangannya ke luar jendela. "Tapi dia sungguh tidak menyukaiku, Dadd." Helaan nafasnya yang berat membuatnya terlihat seperti orang dewasa yang punya banyak masalah. Padahal, itu hanya tentang Ruby, kenapa ia menjadi seperti ini?
Vidrian menatap Savana sebentar sebelum kembali melihat jalanan di depannya. Menyadari Savana patah hati karena wanita itu, perasaannya bercampur aduk.
Ia benar-benar tidak tahu bagaimana menangani hal semacam ini. Satu hal yang tidak pernah ia lupa, Ruby berbeda. Wanita itu adalah spesies yang ingin di miliki oleh banyak pria di dunia ini. Bukan hanya pria, kenyataannya Savana bahkan menginginkannya. Jika itu orang lain, bahkan jika Savana bersikeras menjadikannya ibu, ia akan menentangnya mati-matian.
Satu-satunya alasan ia bertahan dalam kesendiriannya juga karena alasan ini. Ia tidak rela posisi wanita yang sudah melahirkan Savana di geser oleh wanita lain yang hanya tahu cara mengambil hati Savana.
Tetapi, jika wanita itu adalah Ruby, bahkan jika Ruby hanya tahu cara mengambil hati Savana, ia tidak keberatan. Hanya saja, seperti sudah di takdirkan, wanita itu tidak hanya tidak berniat mengambil hati Savana, wanita itu bahkan menghindari mereka seperti wabah.
Dan malam ini, ia melihat Ruby benar-benar tidak peduli pada mereka. Tidak. Bukan itu. Ia marah karena Ruby mengabaikannya. Daripada mengabaikan Savana, ia lebih tertekan Ruby mengabaikannya.
Ia tidak ingin bertengkar dengan Ruby. Ia hanya kesal, selalu merasa bahwa wanita itu seperti pasir di telapak tangannya, yang bisa terlepas dari genggamannya kapan saja.
Ia tidak suka perasaan kehilangannya. Mungkin karena ia sudah lama menjadi pengusaha, atau karena sifatnya, ia menyukai perasaan bahwa semuanya berada di bawah kendalinya.
Berhenti dari pemikirannya, Vidrian melirik Savana sekilas. "Savana, dengar, bibi itu bukan tidak menyukaimu, dia hanya baru mengenalmu. Dia tidak tahu siapa dirimu, dia tidak tahu apa yang biasa kau makan, dia tidak tahu apa yang kau sukai," jelasnya. Daripada melihat Savana murung, ia lebih suka berbohong sedikit. Berbohong demi kebaikan, seharusnya bukan masalah.
"Apakah menurutmu begitu?"
"Tentu," jawabnya. "Bukankah orang asing yang baru saja bertemu seringkali begitu?"
Meski tidak terlalu yakin, Savana tetap mengangguk. Masalahnya wanita yang biasa mendekati ayahnya tidak seperti itu. Meski baru pertama bertemu, mereka bertindak sok akrab dengannya. Ia tahu untuk apa mereka melakukan itu, untuk mencuri hatinya.
Namun Ruby berbeda.
Ruby tidak seperti wanita-wanita itu. Ruby tidak ingin terlihat baik di depannya, yang berarti, Ruby tidak menyukai ayahnya apalagi dirinya.
__ADS_1