
Perusahaan Diedrich.
Ruby duduk di balik meja kerjanya dengan pikiran rumit.
Bahkan dengan setumpuk dokumen di atas meja, serta predikatnya sebagai penggila kerja, masih tidak cukup untuk membangkitkan kesenangannya membuka dan melihat dokumen-dokumen itu.
Kenyataanya, tidak ada hal lain yang dapat ia perbuat selain merenung dan merenung. Lupakan tentang bekerja, terlalu banyak hal yang mengganggu, dan ia tidak mungkin mengesampingkan itu.
Ketika Lily masuk, Ruby sedang menopang dagu dengan kedua tangan menggunakan siku sebagai tumpuan. Tatapannya yang kosong membuat sebelah alisnya terangkat. 'Apa yang terjadi?' gumamnya pada dirinya sendiri. Mungkin kah ia melewatkan sesuatu? Atau.. mungkinkah sesuatu terjadi tanpa sepengetahuannya?
Lily menatap Ruby lekat.
Dokumen yang ia letakan di atas meja, masih sama, tampak tidak tersentuh sedikit pun. Iblis penggila kerja, sebenarnya sedang mengabaikan pekerjaannya? Haruskah ia bertepuk tangan dan mengadakan pesta untuk merayakannya?
Tidak.
Ini bukan waktu yang tepat untuk mengadakan pesta. Lebih dari itu, daripada bersenang-senang, hal yang setenang ini justru terasa aneh. Seperti masa tenang sebelum badai. Seolah akan ada masalah besar yang akan terjadi cepat atau lambat.
Sungguh mencurigakan.
Namun ia bukan orang yang bisa mencari tahu sesuatu tentang Ruby. Ia tidak berada pada tempat dimana bisa bertanya sesuka hati. Jadi ia hanya bisa menahan rasa penasarannya seorang diri.
"Nyonya," panggil Lily.
Suara Lily menyentak lamunan Ruby.
__ADS_1
Ruby menoleh dan melihat Lily berdiri di depan mejanya. "Ada apa?" tanyanya, lesu. Di saat seperti ini, ia hanya ingin pulang dan mengikat kedua putranya agar tidak pergi kemana pun. Namun, itu hanya rencana. Pada akhirnya ia tidak mungkin merealisasikannya meski sejujurnya ia sangat ingin melakukannya.
Kedua putranya, lebih tepatnya Xavier, dia adalah seorang pemikir. Sesuatu yang dia lakukan atau putuskan, tidak mungkin tanpa alasan. Lebih dari itu, besar kemungkinan ini adalah pilihan terbaik yang bisa di buat untuk saat ini. Bukan memaksakan keinginannya atau demi memenuhi egonya, tetapi untuk kebaikannya, demi kebaikan semua orang.
Setidaknya itulah yang Ruby tangkap dari maksud Xavier yang bersikeras meninggalkannya. Namun meskipun sudah tahu niat baiknya, ia tetap saja tidak bisa menerimanya.
Sebagai seorang ibu yang sudah merawat anaknya selama bertahun-tahun, hal terburuk dan paling menyedihkan adalah di tinggal oleh anak yang sudah di rawat sepenuh hati. Bahkan jika itu untuk kebaikannya, ia masih sulit untuk menerimanya.
"CEO SVN, Vidrian Christensen, meminta bertemu dengan Anda," ucap Lily. Karena tidak ada janji temu sebelumnya, Vidrian masih tertahan di resepsionis. Dan karena tidak ingin membuat kesalahan, ia bergegas menuju Ruby begitu mendapat panggilan dari resepsionis.
Sekarang, ia sedang menunggu instruksi. Haruskah menerima Vidrian atau tidak. Mengingat Ruby sedang berada dalam suasana hati yang buruk, kalau pun menerimanya, ia takut Vidrian hanya akan menjadi karung tinju bagi Ruby.
Jadi alangkah lebih baik jika Ruby menolaknya saja. Itu baik untuk semua orang, termasuk dirinya. Setidaknya ia tidak akan berada dalam situasi yang sulit.
Ruby terdiam.
"Nyonya," Lily kembali memanggil Ruby.
"Usir dia!" ucapnya segera menolak gagasan untuk melenyapkannya. "Aku tidak ingin melihat wajahnya," imbuhnya kemudian. Melihat wajahnya hanya akan membuat kebencian di dalam dirinya semakin besar. Lebih baik untuk tidak melihatnya.
Selain itu, ia baru saja meredam keinginan untuk menghabisinya. Jika ia benar-benar bertemu dengannya, ia tidak yakin masih dapat menyimpan pistolnya tetap aman atau tidak.
"Baik, Nyonya," Lily menimpali. Ia membungkukkan badan kemudian melangkah pergi. Setelah keluar dari ruang kerja Ruby, ia segera memanggil resepsionis dan memintanya untuk mengusir Vidrian secara halus.
Setelah mendapat jawaban 'iya' dari balik panggilan, Lily segera mematikan panggilan dan menyimpan ponselnya lagi.
__ADS_1
Sementara itu di lobi, setelah mendapat instruksi dari Lily agar menolak Vidrian dengan halus, resepsionis berkata dengan suara lembut kepada pria itu, "Maaf, Tuan, Nyonya sedang sibuk. Beliau tidak dapat menerima tamu untuk saat ini. Anda dapat membuat janji temu di lain hari atau Anda dapat membuat janji dengan CEO kami untuk membicarakan bisnis." Daripada membicarakan bisnis dengan Ruby dan mengganggunya, akan lebih baik untuk membicarakannya dengan Grissham. Bukankah begitu?
Setidaknya ini adalah saran sekaligus pengingat agar pria ini tidak mengganggu Ruby lagi.
Vidrian adalah orang yang kaku dan tidak pernah menerima penolakan. Sedangkan apa yang resepsionis katakan tak ubahnya seperti penolakan yang di haluskan. Lalu, apa bedanya? Baik halus atau kasar, toh keduanya sama-sama penolakan. Sesuatu yang paling ia benci.
Mengabaikan resepsionis, Vidrian memanggil Carl, "Carl."
Carl yang berdiri di belakang Vidrian, menyahut, "Ya, Tuan."
"Hubungi Lily, minta untuk bertemu," ucap Vidrian, memberi perintah.
Carl tercengang sesaat sebelum mengambil ponselnya dan segera menghubungi Lily sesuai instruksi.
Lily yang sedang duduk di balik meja kerjanya dengan pandangan fokus menatap layar komputer, tersentak ketika ponselnya berdering. Ia mengalihkan pandangannya dan saat melihat nama yang tertera, sebelah alisnya terangkat. "Orang ini, lagi?" gerutunya, kesal.
Lily mengambil ponselnya dengan enggan dan segera menekan tombol jawab untuk menerima panggilan. "Halo, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya, sedikit kasar, dan langsung ke intinya.
"Bolehkan saya tahu, apakah Nyonya Diedrich mempunyai waktu luang sekarang? Tuan saya ingin bertemu Nyonya Diedrich, kami ada di lobi," sahut Carl dari balik panggilan. Ia tampak gugup saat menunggu jawaban. Namun ia tidak menampakkan kegugupannya dengan jelas.
"Maaf, Nyonya sibuk. Dia tidak punya waktu untuk saat ini." Lily menolak tanpa ragu, juga tidak menyisakan ruang untuk negosiasi.
Carl melirik Vidrian dan seketika kehilangan semua kata-katanya. Sama seperti yang resepsionis katakan, Lily bahkan langsung menolaknya tanpa sedikit pun belas kasihan.
Tahu tidak memiliki harapan lagi, Carl mengucapkan beberapa patah kata lagi sebelum memutuskan panggilan dan menyimpan ponselnya kembali.
__ADS_1
"Tuan." Carl baru akan mengatakan sesuatu namun Vidrian buru-buru menghentikannya.
"Jangan katakan apapun," ucap Vidrian. Ia tahu apa yang akan Carl katakan, penolakan, lagi, dan ia bosan mendengarnya.