Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
Siapa?


__ADS_3

"Aaakhhhh, hantuuu… happ…” teriak Dira yang langsung dibungkam oleh tangan seseorang.


“Shutt Diam! Aku ini manusia, bukan hantu.” bisik orang tersebut.


Dira percaya jika itu orang, karena tangannya masih membekap mulut Dira. Dari suaranya dia tau kalau orang itu adalah laki-laki, tapi siapa? Batin Dira bertanya-tanya. Walau itu orang, justru Dira semakin ketakutan karena biar bagaimanapun, manusia itu lebih menakutkan dibandingkan hantu.


Mendengar bisikan tersebut bukanya diam, Dira malah memberontak dan menggigit tangan itu dan menyikutkan tangannya hingga mengenai perut orang itu.


“Akhhhh, aduhhh sakit sakit aww,” rintih orang tersebut yang tanganya terus digigit oleh Dira.


“Hey, berhenti menggigit!” sambungnya lagi.


Dira yang mendengar itu melepaskan gigitannya dan mendongakan wajahnya untuk melihat siapa orang tersebut. Ternyata gigitan Dira cukup tajam, maklum saja karena dira memiliki gigi gingsul seperti taring dua sehingga membuat tangan itu berdarah.


“Dasar vampire, lihat ini! Kamu harus bertanggungjawab!” hardik orang itu sambil menunjukan gigitan Dira di tangannya.


"Aduh perutku juga sakit banget, kamu kecil-kecil tapi kuat banget si," lanjutnya.


Dira terbengong sesaaat, “kenapa aku harus bertanggungjawab, aku kan hanya melindungi diri. Aneh sekali orang ini,” pikir Dira dalam hati.


“Kamu dengar Tidak!.. esttt,” bentaknya lagi.


Dira yang kaget lalu tersadar dari lamunannya itu.


“Aku dengar Kak, tidak usah pakai teriak-teriak kaya di hutan aja.” jawab Dira tak kalah kesalnya.


“Eh bukannya ini memang di hutan. Ah bodo amat, lagian ngapain ini orang pakai muncul tiba-tiba dan salah sendiri pakai membekap mulutku. Hih.” Ucap Dira kesal dalam hatinya.


“Kamu harus tanggungjawab, ikut Aku!” orang itu menarik tangan Dira dan membawanya pergi.


Dira yang memiliki ukuran badan mungil dan belum siap dengan kejadian ini terseret mengikuti langkah laki-laki itu.


“Eh tunggu kak, aku mau di bawa kemana?” Dira bertanya dan terus meronta minta dilepaskan. Selain takut juga pergelangan tangannya yang terasa sakit.


“Berhenti Kak, tanganku sakit.” ucap Dira lagi sambil menghempaskan tangan itu. Lagi-lagi karena belum siap membuat tubuh Dira malah terjatuh di tanah karena orang tersebut yang mendadak melepaskan genggaman tangannya bersamaan saat dira menghempaskannya tadi.


Dira berdiri dan menatap tajam orang di depannya itu. Bukannya takut, orang itu justru menahan tawa karena ekspresi tajam Dira yang justru terlihat menggemaskan di matanya. Terlebih dia teringat ucapan Dira tadi saat ketakutan.

__ADS_1


“Lucu sekali,” gumam lelaki itu dalam hati.


“Kak Fahmi apa-apaan si, main seret aku kaya kambing gitu. Lagian tadi itu aku hanya menjaga diri. Siapa suruh ngagetin dan bikin aku ketakutan kaya tadi,” geram Dira sambil berkacak pinggang meluapkan kekesalannya pada Fahmi. Iya, orang tersebut adalah Fahmi si Presiden mahasiswa kampus U.


“Terus, Kak Fahmi tuh ngapain tadi di situ? Oh, apa jangan-jangan mau ngintip ya?” tuduh Dira.


Bukannya menjawab, Fahmi justru menyentil kening Dira gemas namun ekspresinya tetap datar. Nah gimana tuh? hehe.


“Aduh, hobi banget si kak, nyakitin aku. Aku salah apa coba? Sakit ini kening, sembarangan banget. Udah di fitrah ini sama Mama Bapak, main sentil-sentil segala. Lagian bukan muhrim kenapa main sentuh aja!” ketus Dira.


Belum sempat menjawab, dari kejauhan Fahmi melihat ada bayangan yang mengarah pada mereka. Segera Fahmi menyeret lengan Dira dan membekap mulutnya sebelum gadis bawel ini bersuara.


“Ikut aku, jangan bersuara kalau kamu mau aman.” Bisik Fahmi pada Dira.


Dira yang seakan mengerti keadaan saat ini hanya pasrah mengangguk dan mengikuti langkah Fahmi untuk bersembunyi di balik pohon besar. Sebenarnya Dira juga merasakan jika ada yang mendekat ke arah mereka.


Langkah seseorang tersebut semakin mendekat hingga bayangannya dapat dilihat jelas oleh Dira dan Fahmi yang mengintip di balik pohon. Seseorang bertubuh besar berdiri dengan pisau tajam di tangan kanannya. Sementara, di tangan kirinya ada semacam karung beras.


“Sh*t! kemana larinya anak ingusan itu?” gumam seseorang tersebut yang masih didengar oleh Fahmi dan Dira. Tidak berapa lama, dering telepon terdengar dari pria itu.


“Bagaimana?”


“Maaf Bos, anak itu sungguh pandai meloloskan diri” jawab orang itu sedikit takut.


“Bodoh! Menangkap anak ingusan saja kamu tidak bisa. Kembali! Cari kesempatan lain dan harus berhasil!”


“Baik Bos. Lain kesempatan aku tidak akan mengecewakan Anda lagi.”


“Siap Bos.”


Panggilan pun berakhir. Orang tersebut lantas pergi entah kemana. Fahmi dan Dira menghembuskan nafas sedikit lega. Namun Dira yang mendengar obrolan singkat itu terlihat syok dan bertambah ketakutan.


“Siapa yang akan dibunuh? Aku atau Kak Fahmi?” gumam Dira risau dalam hati.


“Kak,” panggil Dira dengan suara yang bergetar sembari menatap Fahmi yang tepat didepannya.


“Bukan Kamu, tapi Aku. Rahasiakan ini jangan sampai ada yang tau. Dan maaf sudah melibatkanmu,” jawab Fahmi yang seakan tahu isi hati Dira. Dira yang menerima jawaban hanya mengangguk dan merasa iba dengan Fahmi. Cukup lama mereka terdiam dan saling menatap.

__ADS_1


“Lebih baik kita kembali ke tenda. Ingat! jangan katakan pada siapapun tentang hal ini,” tegas Fahmi yang hanya diangguki oleh Dira dan langsung berdiri diikuti Dira.


“Oya, siapa namamu?" Tanya Fahmi.


“Nadira Arsyakayla.” jawab Dira.


“Baiklah Sya, ingat pesanku jika kamu tidak ingin terlibat.” kembali Fami mengingatkan.


Deg


Jujur Dira cukup terkejut, bukan karena suara tegas atau peringatannya. Melainkan nama panggilannya. Panggilan Sya hanya Aydan yang boleh memanggilnya. Namun karena tidak ingin berdebat, Dira hanya diam dan mengikuti langkah Fahmi kembali ke tenda.


Beruntung suasana sudah sepi dan sepertinya semua sudah tertidur di tendanya masing-masing. Dira segera merebahkan tubuhnya di samping Eni yang tetap nyaman dalam posisinya. Dalam hati, Dira terus berdzikir memohon ampun dan selalu memohon perlindungan pada Allah SWT. Kejadian tadi sungguh membuat hatinya gelisah. Ada hubungan apa Kak Fahmi dengan orang menakutkan itu? Batin Dira terus bertanya-tanya.


“Ck kenapa aku harus memikirkannya. Lagi pula bukan urusanku. Eh tapi kasian juga? Ah sudahlah aku cari aman saja.” Dira justru frustasi sendiri dengan pikirannya itu.


......................


Sementara, di tempat lain. Seorang pria dewasa sedang naik pitam karena rencananya yang gagal.


“Awas kamu anak ingusan. Aku tidak akan tinggal diam, setelah apa yang kau lakukan padaku. Aaahhhh sial, brengs*k. Melenyapkan anak kecil aja tidak becus, dasar bodoh” umpatnya pada seseorang yang dianggapnya musuh itu.


“Dartoooo!” panggil lelaki itu pada anak buahnya.


“Iya tuan.”


“Awasi Dia! Jangan sampai kehilangan jejaknya! Haha bagaimana Darto, apa buayaku sudah makan?" Tanya lelaki itu pada Darto


“Su-sudah Tuan.” jawab Darto sedikit terbata.


“Ah, bagus. Besok jika dia lapar, maka kamu tahu akibatnya Darto.” ujarnya sambil pergi keluar ruangan.


“Mengerikan sekali tuan Martin, persis seperti Psikopat” gumam Darto pada tuannya.


Dia pun lantas pergi mengikuti tuannya itu meninggalkan markas. Markas Martin Govano jauh dari pemukiman warga dan berada jauh di desa terpencil, sehingga banyak yang tidak mengetahuinya, termasuk aparat keamanan negara ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2