
Hari pun berlalu dengan cepat. Komunikasi antara Aydan dan Dira juga berjalan lancar. Sebagai pasangan LDR, komunikasi adalah hal yang penting agar tidak timbu kecurigaan satu sama lain. Sedangkan Fahmi sedang sibuk-sibuknya mengurus proyek baru bersama Agro Company. Walaupun demikian, dia tetap menjalankan tugasnya sebagai Presiden Mahasiswa dengan baik.
Selama itu pula, Fahmi jarang bertemu dengan Dira, jika bertemu pun hanya pada saat pertemuan. Selebihnya dia serahkan semuanya pada Tufail.
Sore nanti, Dira beserta tim kompetisi debat yang lain akan langsung ke Jakarta karena besok adalah kompetisi yang sesungguhnya. Hanya ada 20 tim yang lolos di babak ini termasuk dua tim dari kampus Dira.
Dira meminta tolong kepada Eni untuk mengantarnya ke kampus karena mereka akan menggunakan kendaraan microbus milik kampus. Dengan senang hati, Eni pun menjemput dan mengantarkannya.
“Sudah siap, Ra?” tanya Eni yang saat ini tengah berada di kamar Dira. Ini merupakan kali pertamanya Eni masuk ke pondok pesantren Nurul Huda selama berteman dengan Dira.
“Udah. Ayo kita berangkat!” ajak Dira penuh semangat.
“Okey, let’s go!” jawab Eni tidak kalah semangatnya.
Ketika hendak keluar kamar, mereka berdua berpapasan dengan Putri yang menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Mba Putri, Dira pamit ya, minta do’anya, Mba.” ucap Dira pada Putri. Di kamar itu memang hanya ada Dira dan Putri, karena semenjak kejadian beberapa hari lalu, Mba Amel djemput pulang ke rumah oleh orang tuanya.
Putri hanya mengangguk dan langsung masuk ke kamar tanpa mengucapkan satu kata pun. Dira yang sudah biasa maka tidak diambil pusing, sedangkan Eni yang baru pertama kali melihat Putri merasa aneh dengannya. Idih, ini orang aneh banget deh. Tatapannya horor gitu, abis itu nggak bersuara pula, cosplay jadi mba kunti kali ya, batin Eni bergidik ngeri.
Dira yang seolah paham dengan apa yang dipikirkan Eni pun segera menarik temannya untuk langsung mengantarnya ke kampus. Sebelumnya, Dira sudah meminta izin kepada Ummah, orang tuannya dan Aydan tentunya.
......................
Sampailah mereka berdua di kampus dan ternyata teman-temannya juga sudah berkumpul, walaupun masih ada setengah jam lagi dari yang dijadwalkan. Dan ternyata, microbus kampus yang akan membawa mereka mengalami masalah, akhirnya mereka sepakat untuk menggunakan 3 mobil. Dira hanya mengikuti saja, toh yang penting sampai dengan selamat.
Zaid dan Renata memilih menggunakan mobil Zaid yang hanya muat untuk dua orang saja. Bilang saja mau sekalian kencan, karena ternyata mereka berdua sudah menjalin hubungan berpacaran.
Sisalah Dira, Tufail, Agam, Sekar dan Adam. Beruntung mobil milik Adam merupakan jenis mobil MPV jadi mereka berempat yakni Dira, Sekar, Adam dan Agam bisa dalam satu mobil. Sedangkan Tufail dengan mobil miliknya sendiri.
__ADS_1
Ketika akan masuk mobil, ransel belakang Dira tiba-tiba ditarik oleh seseorang. Ini orang demen banget narik-narik Dira, untung Dira tidak terjatuh. Dira berbalik dan menatap orang yang menarik tasnya dan ternyata benar dugaannya, siapa lagi tukang tarik kalau bukan Fahmi.
“Kenapa, Kak? Ada yag ketinggalan?” tanya Dira pada Fahmi. Perasaan tadi nggak ada ini orang, selalu deh datang tiba-tiba. Gerutu Dira dalam hati.
“Kamu ikut mobil Tufail aja bareng aku,” jawab Fahmi tegas.
“Eh, aku ikut mobil Kak Adam aja, Kak. Lagian kasian Kak Sekar nanti perempuan sendirian. Kalau aku ikut Kakak juga nanti aku perempuan sendirian,” ucap Dira, pikirannya tentu menyalang. Antisipasi boleh dong, walaupun Dira yakin mereka orang baik, tapi tetap saja setan pandai merayukan?.
Sekar yang namanya disebut merasa tidak enak kala Fahmi menatapnya, sebenarnya bukan masalah dia takut nantinya perempuan di mobil itu sendiri, toh Adam adalah sepupunya. Tapi, sebagai perempuan dia paham akan perasaan Dira.
“Kak Fahmi dan Kak Tufail kan orang baik dan berpendidikan, tidak mungkin mereka akan berbuat yang tidak-tidak pada Dira. Tatapan Kak Fahmi seolah ingin Dira bersamanya, entah ada hubungan apa mereka berdua,” lirih Sekar dalam hati sedangkan Agam dan Adam juga terlihat canggung.
“Ya udah, Dir, lo ikut sama Kak Fahmi aja. Gue nggak apa-apa kok, lagian Adam sepupu gue, jadi gue aman,” ucap Sekar.
Mendengar itu, Fahmi pun tersenyum tipis. Dira yang hendak melayangkan protes pun langsung ditarik oleh Fahmi menuju mobil Tufail.
“Eh, kebiasaan banget si ini orang main tarik-tarik aja, udah kaya kucing,” gerutu Dira yang didengar jelas oleh Fahmi.
Interaksi mereka tentunya tidak luput dari pandangan orang sekitar, termasuk Eni. Trending Fahmi dan Dira kemungkinan akan muncul lagi setelah ini.
Melihat sahabatnya ditarik Fahmi membuat Eni juga mendekat ke arah mobil Tufail. Sedangkan tim yang lain sudah lebih dulu jalan.
“Kenapa, Ra?” tanya Eni khawatir pada Dira.
“Eh, kamu belum pulang, En?” bukannya menjawab, Dira justru balik tanya. Pasalnya tadi setelah mengantar Dira, Eni berniat langsung pulang.
“Belum, Ra. Kamu kenapa tadi ditarik sama, Kak Fahmi?” tanya Eni lagi sembari melirik ke arah Fahmi yang hanya diam saja.
“Nggak ada apa-apa, En, hanya sedikit masalah,” jawab Dira tenang, dia tidak ingin sahabat baiknya itu khawatir. Eni yang mendengar itu hanya menganggukan kepalanya.
__ADS_1
“Udah belum ngobrolnya, Mi, Ra? Teman-teman lain udah pada duluan itu,” ucap Tufail yang telah lama menunggu mereka.
Eni yang mendengar suara Tufail lalu mengarahkan padangannya dan tersenyum. Terlihat Tufail juga tersenyum kepadanya. Sementara Dira segera menaruh barang-barangnya di mobil Tufail.
“Ya sudah, En, sekali lagi terimakasih ya udah mau direpotkan. Kamu pulangnya hati-hati ya, aku berangkat dulu. Assalamu’alaikum Eni cantik,” ucap Dira dan segera menutup pintu mobil bagian belakang.
“Wa’alaikumsalam Dira. Hati-hati dan semangat! Jangan lupa kabarin aku nanti ya,” kata Eni sambil melambaikan tangannya.
Tufail membunyikan klaksonnya dan langsug pergi menuju Jakarta. Dira duduk sendiri di belakang sedangkan Fahmi duduk di samping Tufail. Seperti biasa, Dira yang masih sedikit kesal memilih untuk memasang headset dan mulai memutar lagu kesayangannya. Ditangannya ada semacam kitab kecil penggabungan antara Matan al-Ajurumiyah dan Amtsillah Attasrifiyyah yang sering disebut nadhoman untuk lalaran Alfiyah-nya.
Tidak ada pembicaraan dinatara mereka. Tufail fokus dijalan sedangkan Fahmi fokus pada notebooknya, sesekali dia menengok ke belakang untuk melihat Dira yang asik dengan buku kecil miliknya. Benar-benar perjalanan yang membosankan.
Hingga waktu maghrib tiba, Tufail memilih untuk menepikan mobilnya di salah satu masjid yang mereka lewati. Fahmi menengok ke belakang untuk melihat Dira dan ternyata gadis itu justru tertidur dengan kitab masih ditangannya.
Dipandanginya wajah teduh Dira hingga beberapa saat. Benar-benar menggemaskan, batin Fahmi.
“Udah cepet bangunin, Mi. Pandanginnya nanti lagi aja, keburu waktu maghrib abis ini.” ucap Tufail mengingatkan. Mereka berdua lalu keluar dari mobil. Tufail memilih masuk masjid lebih dulu sedangkan Fahmi membangunkan Dira.
“Sya, bangun dulu ayo, kita maghriban dulu,” ucap Fahmi lembut dan berhasil membuat Dira mengerjapkan matanya, bangun.
Pertama kali yang dilihatnya adalah wajah Fahmi dengan jarak yang cukup dekat membuat dia terkejut bukan main. Fahmi yang seakan tahu keterkejutan Dira langsung mundur dan berkata, “Ayo salat maghrib dulu.”
Segera Dira duduk tegak dan menormalkan kegugupannya serta menjawab, “Maaf Kak, aku lagi halangan,”
“Oh ya sudah kamu istirahat dulu aja, aku salat dulu ya. Tidur kamu tadi lucu,” ucap Fahmi langsung pergi sembari terkekeh pelan meninggalkan Dira yang tengah malu.
“Aduh, kok bisa ketiduran si. Apa tadi katanya? Lucu? Ah ya ampun, tadi aku ngorok nggak ya? Ini ada pulau beserta aliran sungainya nggak ya di pipiku? Ah, ya ampun ada belek mata nggak ya? Wah, malu banget.” ucap Dira sembari meraba seluruh bagian wajahnya.
Masih dengan rasa malunya, handphone miliknya berdering tanda pesan masuk. Segera Dira membukanya, namun beberpa detik kemudian dia megerutkan dahinya.
__ADS_1
“Siapa ini? Dan apa maksudnya?”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...