
Dengan santai tapi yakin, Bapak Dira menyampaikan keinginannnya, “Nak Aydan, apa bersedia jika malam ini kamu dan Dira menikah secara agama terlebih dahulu?”
Semua orang yang mendengar itu tentu terkejut tidak terkecuali Dira dan keluarganya. Pasalnya tidak ada rencana ini sebelumnya. Belum selesai keterkejutan mereka, dengan tegas Aydan menjawab, “Saya bersedia, Pak."
Hal itu menimbulkan banyak reaksi. Ada yang terkejut ada pula yang menggoda Aydan seolah-olah tidak sabar untuk menikah. Ayah Aydan hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dengan keputusan putranya itu.
“Hah serius?, malam ini statusku akan berubah jadi istri? Masyaallah,” lirih Dira dalam hati antara bingung tapi juga senang.
Bapak Dira akhirnya memberikan alasannya mengapa beliau memilih untuk menikahkan mereka berdua malam ini. Beliau khawatir jika nanti kalimat khitbah disalahgunakan untuk mereka. Sebab melihat fenomena sekarang, lamaran atau tunangan atau khitbah ini banyak yang salah memahami. Kebanyakan mereka yang sudah bertunangan seakan-akan menganggap seperti sudah menikah.
Perilaku mereka menunjukan seperti pasangan suami istri, bagaikan pengantin baru yang saling mengumbar kemesraan. Selain itu, Dira yang jauh dari pengawasannya karena harus kuliah akan merasa lebih baik jika sudah ada yang menjaga tanpa ada timbul fitnah. Hal itu bertujuan untuk menjaga marwah Dira sebagai perempuan muslim.
Semua orang pun memahami itu, bahkan Dira sampai menitikan air mata begitu haru dengan kasih sayang orang tuannya itu. Dengan dibantu oleh ustadz Arifin, segala persiapan akad pun mulai disusun.
Pada saat ingin mengetahui wali dari Aydan, Ayah Aydan langsung diam. Melihat diamnya Ayah, Aydan berniat untuk menjawab dengan nama beliau karena walaupun belum tahu orang tua kandungnya, yang Aydan tahu Ayahnyalah orang tuanya saat ini.
Belum sempat Aydan menjawab, dengan suara sedikit bergetar, Ayah menjawab, “Muhammad Fatih Aditama.”
Lagi-lagi Aydan dibuat terkejut oleh Ayahnya, sepertinya setelah ini dia akan periksa kesehatan karena terlalu banyak keterkejutan hari ini. “Siapa Muhammad Fatih Adimata, apa beliau ayahku?” batin Aydan.
Tidak hanya Aydan, keluarga Dira yang tahunya Ayah Aydan bernama Rozak Mubasir pun bertanya-tanya. Apalagi pemilik nama yang sama juga tidak kalah terkejutnya.
“Apa maksudmu, Rozak?” tanya pemilik nama itu yang ternyata sudah mengenal Ayah Aydan.
“Maafkan saya, Pak,” ucap Ayah Aydan sembari menunduk.
Maaf? Kenapa Ayah harus minta maaf? Apa ini ada kaitannya dengan Bapak ini? Batin Aydan makin bertanya-tanya dengan raut wajah yang penasaran.
Umi yang juga mengenal Pak Rozak itupun langsung heran dan penasaran. Jantungnya terasa berdebar seperti ada sesuatu yang entah perasaan apa itu. Fahmi jadi bingung sendiri, sebenarnya ada apa ini? Apa Abi mengenal mereka? Pikirnya dalam hati.
“Apa Muhammad Fatih Aditama itu orang yang sama dengan saya?” tanya Abi Fahmi dan Pak Rozak hanya diam menunduk.
__ADS_1
“Jawab Rozak! Apa maksudnya ini?!” ucap Abi Fahmi lagi dengan suara yang meninggi.
Mendengar itu, Aydan merasa tidak terima jika Ayahnya harus dibentak oleh orang yang dia sendiri tidak tahu. “Mohon maaf, Pak. Saya mohon, jangan tinggikan nada bicara Anda dengan orang tua saya,” kata Fahmi tegas.
Situasi semakin memanas karena Pak Rozak hanya diam saja. Namun setelah beberapa saat, akhirnya Pak Rozak memberanikan diri untuk menjelaskan semuannya.
“Aydan adalah putra, Anda,” jawab Pak Rozak.
Semua orang hanya mampu mengespresikan keterkejutan masing-masing. Bagaimana mungkin? Aydan, Fahmi, Abi dan Umi sama syoknya. Apakah ini benar atau hanya memanfaatkan situasi saja?
Perlahan, Ayah Rozka menceritakan semuannya agar semakin jelas. Sekaligus dia ingin memohon maaf kepada kelaurga Abi dan yang lainnya.
Flashback On
Sepasang suami istri sedang berada di fase terpuruk yang membuat mereka terasa tak berdaya. Bagaimana mungkin jika penantian mereka selama 2 tahun usia pernikahan harus dipatahkan dengan vonis dokter yang mengatakan keduanya tidak bisa memiliki keturunan.
“Bagaimana ini, Mas? Apa kita memang tidak ditakdikan untuk memiliki keturunan?” Ucap istri Ayah Rozak yang bernama Hanin, sambil masih terisak dalam pelukan Rozak.
“Apapun vonis dokter, Allah yang lebih tahu. Maka dari itu, tugas kita hanya berusaha dan berdo’a. jangan menangis lagi ya dek, Abang janji bakal selalu bersama Asek hingga maut memisahkan.” Lanjut Pak Rozak meyakinkan istrinya.
Lambat laun, mereka mulai terbiasa dengan keadaan. Hidup berdua dengan penuh suka dan duka. Mereka yang sama-sama anak tunggal dan yatim piatu memutuskan untuk merantau di Ibu Kota hingga memilih bekerja sebagai kuli bangunan dan Hanin bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Aditama.
Waktu itu, Fahmi baru berusia kurang dari dua tahun dan Umi sedang mengandung tua adiknya Fahmi. Hanin adalah orang yang jujur dan cekatan, oleh sebab itu keluarga Fahmi sangat menyukai mereka. Sampai dengan Adik Fahmi lahir, Hanin pula yang membantu mengurusnya. Setiap sore, Hanin akan dijemput oleh suaminya Rozak untuk pulang ke kontrakan mereka.
Hingga kejadian tak terduga terjadi dimana saat mengantar Adik Fahmi untuk posyandu, Abi dan Umi berniat untuk membeli sesuatu terlebih dahulu. Hanin pun ikut bersama dengan memangku Adik Fahmi. Naasnya mereka harus mengalami kecelakaan yang cukup parah.
Abi dan Umi mengalami luka yang cukup berat, sedangkan Hanin hanya mengalami luka ringan dan Adik Fahmi yang dalam dekapan Hanin tidak mengalami apapun. Subhanallah.
“Ya Allah”, desis Hanin yang masih tersadar, sedangkan Abi dan Umi tak sadarkan Diri. Dengan tangis Adik Fahmi yang keras menyadarkan Hanin untuk segera keluar dari mobil itu.
“Astaghfirullah, Maafin Bibi ya, Nak. Cup cup cup, kita keluar dulu ya”, Hanin keluar dengan tetap menggendong Adik Fahmi dan segera mencari bantuan.
__ADS_1
Beberapa warga mulai datang dan membantu Hanin untuk mengeluarkan Abi dan Umi. Setelah ambulance datang, Abi dan Umi langsung mendapatkan perawatan sedangkan Hanin hanya memeriksakan keadaan adik Fahmi menghiraukan luka di tubuhnya. Setelah diperiksa, Alhamdulillah memang tidak ada hal yang dialami si adek bayi.
Dipandanginya lama bayi dalam gendongan Hanin. Entah bisikan apa yang membuat Hanin justru berniat merawat bayi itu sebagai anaknya. Apakah ini namanya penculikan? Mungkin iya, namun Hanin menepis itu, hingga ego mengalahkannya dan membawa Bayi itu pergi.
Tidak ada yang tahu jika bayi itu adalah bayi pasangan suami istri yang kini sedang berjuang hidup. Entah kebetulan apa, ambulance yang Hanin dan Adik Fahmi tumpangi berbeda dengan kedua orang tua Fahmi. Dengan begitu, kemungkinan besar mereka akan menganggap jika keduanya merupakan korban kecelakaan yang berbeda dan Hanin pun menuliskan namanya sendiri pada saat memeriksakan adik Fahmi.
“Maafkan Hanin Pak, Bu. Hanin janji akan merawat adek dengan baik.” Ucap Hanin pergi meninggalkan ruang rawat orang tua Fahmi.
......................
Rozak yang kebetulan sedang libur hari itu, sangat kaget dengan keadaan istrinya yang terdapat bercak darah sambil menggendong seorang bayi.
“Dek, Ada apa ini? Apa yang terjadi? Dan bayi siapa ini?” tanya Rozak beruntun.
“Adek tadi kecelakaan dan ini bayi majikan Adek, Bang.” Jawab Hanin dengan bibir yang bergetar antara takut dan menahan perih.
“Ya Allah, kalau begitu mari Abang bantu buat membersihkan lukannya.” Jawab Pak Rozak panik, dia tidak terlalu memikiran bayi dalam gendongan istrinya itu.
Dengan tanpa kata, Hanin mengikuti perintah suaminya itu. Setelah semua luka terobati, Hanin baru buka suara terkait rencananya. Mendengar itu, Rozak begitu marah dengan istrinya, bagaimana mungkin istrinya justru memisahkan bayi tak berdosa dari orang tuannya.
“Adek ini apa-apaan! bukan begini caranya, Dek! Abang mohon kembalikan bayi ini Dek! Pak Fatih dan keluarga sudah sangat baik dengan kita, apa Adek tega dengan menghianati mereka?” Ucap Rozak yang begitu menggebu mencoba menyadarkan istrinya itu, ini masalah besar dan tindakan istrinya jelas tidak benar.
Entah keberanian dari mana yang membuat Hanin justru melawan suaminya. “Apa Abang bisa memenuhi keinginan Adek?! Bertahun-tahun Adek menginginkan anak, tapi Allah bahkan tidak merestui kita untuk memiliki anak! Ini kesempatan kita, Bang!”
“Ya Allah, istighfar Dek. Allah mungkin belum mengabulkan do’a kita, tetap husnudzon kepada-Nya. Sinikan anak itu biar Abang yang mengembalikan bayi itu.” Rozak berusha untuk mengambil bayi dalam gendongan istrinya.
“Kalau Abang kembalikan bayi ini, maka jangan harap besok akan melihat adek lagi” jawab Hanin berapi-api sambil memegang gunting yang siap menancap ditenggorokannya, entah dari mana gunting itu berada, mungkin gunting yang tadi pergunakan untuk memotong kain kasa.
“Adek!” teriak Rozak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1