Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
Salting


__ADS_3

Pagi Hari di Pondok Pesantren


Setelah semalam lembur tugas yang menumpuk dan belajar untuk perisiapan lomba, membuat Dira menjadi kurang tidur. Hingga seperti saat ini, ketika mengaji pagi Dira justru terlihat terkantuk-kantuk. Posisinya duduk bersila dengan kitab dipangkuan dan bolpoin di tangannya, namun kepalanya menunduk hingga menyentuh kitab tersebut. Dia sudah tidak bisa menahan kantuknya hingga tertidur dengan posisi duduk sampai kegiatan mengaji selesai.


Ketika temannya sudah beranjak dan kembali ke kamar masing-masing, Dira justu masih nyenyak dengan tidurnya. Lutfia berusaha membangunkannya, namun Dira justru semakin terlelap. Terbesit ide nakal untuk menjahili Dira. Lutfia memajukan wajahnya tepat di telinga Dira. Sambil sedikit mengeraskan suaranya, Lutfia mengucapkan, “Asyhadu an laa illaha illallah…”


Sontak Dira terkejut dan langsung bangun gelagapan. Hal itu membuat teman-teman yang melihatnya terkekeh geli dengan sikap Dira. Dira mengusap wajahnya dan terbengong sebentar hingga dia merasa lebih baik.


“Ya Allah Mba Fia, jail banget si. Aku kan jadi kaget, kirain lagi di alam lain tahu” sewot Dira yang hanya ditanggapi dengan tawa kecil Lutfia.


“Haha, maaf, Dek. Lagian kamu dibangunin pelan-pelan malah makin nyenyak, makanya gitu deh hehe” ucap Lutfia sambil tertawa membuat Dira semakin kesal dibuatnya.


“Ya udah jangan cemberut gitu, Dek. Ayuh kembali ke kamar masing-masing” Lutfia bangkit dari duduknya dan langsung keluar masjid menuju pondok putri. Begitu juga dengan Dira yang masih cemberut namun tetap mengikuti langkah Lutfia untuk kembali ke dalam pondok putri.


Dira menghentikan langkah Lutfia ketika ingin masuk ke kamarnya.


“Kenapa Dek?” tanyanya.


“Emm terimakasih ya Mba, tadi udah bangunin Dira”, ucapnya tulus sembari tersenyum.


Kalau tadi tidak dibangunkan Lutfia mungkin dirinya masih tertidur di masjid. Akan sangat malu jika nanti santri putra ro'an (bersih-bersih) masjid, melihat Dira yang tertidur.


Sambil tersenyum pula Lutfia menjawab,” Sama-sama Dek. Lain kali tidurnya jangan terlalu larut malam biar tidak ngantuk kaya tadi. Mba lihat juga sepertinya akhir-akhir ini kamu kaya kurang tidur gitu. Tetap jaga kesehatan ya, Dek.”


“Hehe siap Bulur (Bu lurah)” jawab Dira sembari meragakan gerakan hormat pada Lutfia. Dia senang, walaupun kedua Kakak kamarnya tidak ada, masih ada Mba lutfia yang memperhatikannya.


Lutfia hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Setelah mengucapkan salam, Dira langsung menuju kamar dan segera mengantri mandi jika tidak ingin telat datang ke kampus lagi hari ini.


Setelah mandi, Dira langsung bersiap-siap. Dengan outfit simpel dan sedikit polesan lipstick warna soft, membuat tampilan Dira terlihat manis. Dia meminum air bening dan memakan biskuit untuk mengganjal perut karena tak sempat sarapan.


Ketika menekan starter motornya, entah kenapa motornya tidak mau hidup. Dira kebingungan karena ini kali pertama motornya mengelami seperti ini. Dia sibuk memikirkan cara yang dapat dilakukan, hingga akhirnya dia ingat motor Eni yang kadang susah untuk distarter. Eni biasanya menggunakan kick starter, namun sayangnya Dira tidak kuat jika harus menyetandar tengah.

__ADS_1


Dira terus mencoba namun tetap belum bisa. Tidak ada mba-mba atau siapapun yang bisa dimintai tolong. Gus Tama yang kebetulan keluar dari Ndalem dan melihat Dira yang kesulitan, akhirnya mendekatinya.


“Kenapa motornya Mba?” tanya Gus Tama yang membuat Dira Kaget.


Melihat Gus Tama yang datang, Dira segera menundukan pandangannya dan sedikit menjauh.


“Eh, afwan Gus. Ini motor saya tombol starternya mati dan saya ingin mencoba kick starter tapi tidak bisa menyetandar tengah” jawab Dira jujur dan sedikit malu. Gus Tama yang melihat juga ikut tersenyum manis.


“Boleh saya membantunya?” tawarnya pada Dira.


“Apa tidak merepotkan Gus?” Dira merasa sungkan, apalagi beliau adalah Gus pesantren yang begitu dihormati.


“Tidak, kebetulan urusan saya sudah selesai. Kalau begitu, biar saya bantu, barangkali kamu juga sedang buru-buru” jawab Gus Tama santai. Dira yang memang takut terlambat, akhirnya mengizinkan Gus Tama untuk membantunya.


“Nggeh Gus, silakan. Maaf merepotkan” ucap Dira. Gus Tama lalu menyetandar tengah dan membantu kick starter juga hingga motor dapat dihidupkan.


“Alhamdulillah, sudah nyala. Silakan Mba Nadira, ini motornya" ucapnya sembari masih memegangi motor Dira yang sudah tidak distandar tengah.


“Mba Nadira” panggilnya lembut. Dira seketika tersentak dan betapa malunya dia yang justru salting dengan Gus Tama.


“Eh nggeh Gus. Alhamdulillah udah jadi, syukron atas bantuannya Gus” jawab Dira malu dan langsung mengambil alih motornya.


“Kalau begitu hati-hati, jangan malah bengong dijalan, hehe. Saya pamit ya, Assalamu’alaikum” balas Gus Tama yang membuat Dira semakin malu dibuatnya, karena ketahuan bengong tadi.


“Wa’alaikumsalam Gus” jawab Dira. Jantungnya masih deg-degan karena ini kali pertamanya ngobrol langsung dengan seorang Gus pesantren ini.


“Ya ampun Dira, kamu malu-maluin aja si. Gitu aja udah salting, kan malu ketahuan Gus Tama. Lagian ini ya, walaupun temboknya sama, tapi tiangnya beda jauh. Udah hatinya untuk Aydan aja,” batin Dira sewot sendiri sembari terus melajukan motornya.


Ngomong-ngomong Aydan, Dira jadi ingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnnya. “Ya ampun, hampir lupa. Maafin aku Aydan. Aku akan menelfonmu nanti, semoga kamu mengangkatnya atau paling tidak membalas pesanku” monolog Nadira penuh harap.


Sesampainya di parkiran kampus, Dira bertemu dengan Fahmi yang juga baru sampai. Dira ingin mengindar, namun sayangnya tidak bisa, karena Fahmi lebih dulu menghalangi jalannya.

__ADS_1


“Iya kenapa, Kak?” tanya Dira sambil memaksakan senyumnya.


“Ngga usah senyum, kamu jelek” ejeknya pada Dira yang membuat Dira menampilkan ekpresi tajamnya.


Fahmi tersenyum samar karena gadis ini selalu saja menggemaskan di matanya.


“Kak Fahmi mau apa? Aku ada kelas sebentar lagi” ucap Dira tegas karena memang sebentar lagi kelas akan dimulai.


“Okey. Sehabis selesai kuliah kamu nanti, temui aku di BEM” perintah Fahmi yang mengisyaratkan tidak ingin dibantah.


“Tapi Kak-” belum selesai Dira protes, Fahmi justru pergi begitu saja. Karena tak ingin kesal hari ini, Dira membiarkan saja, toh nanti bisa langsung kabur, pikir Dira. Dia lalu bergegas pergi ke kelasnya.


Sedangkan Fahmi masuk ruang BEM dengan raut wajah yang berseri. Dan hal itu membuat Tufail serta lainnya merasa ada yang berbeda dari Fahmi. Fahmi yang biasanya dingin, kini menunjukan sisi hangat.


“Wah, perasaan temperature AC ruangan tetap, tapi berasa lebih hangat dibanding biasanya ya?” sindir Tufail dan lainnya menahan tawa.


“Kenapa lo Mi? tumben berseri gitu ngga sedingin biasanya?” sambung Tufail lagi. Padahal dirinya pun sama, sama-sama dingin dan datar.


Fahmi segera mengembalikan ekspresinya dan menatap tajam Tufail.


“Brisik. Sekarang kita mulai rapatnya” tapa basa-basi, Fahmi langsung membuka rapat.


Karena nantinya, dia dan lainnya yang semester 7 akan melaksanakan KKN 3 minggu lagi. Otomatis akan banyak kegiatan yang harus dibahas agar nantinya tidak terbengkalai. Semua mendengarkan dan saling mengeluarkan pendapatnya masing-masing.


...----------------...


Di lain tempat, Aydan sedang istirahat, namun pikirannya tertuju pada Nadira. Karena biasanya, gadis itu selalu mengirimkan pesan terlebih hari ini adalah hari ulang tahunnya. Sebenarnya dia hendak menghubungi Nadira terlebih dahulu, namun urung karena masih bingung harus membahas dari mana.


“Bodoh bodoh bodoh kamu Dan, Arsya (panggilan kesayangannya) jelas marah dan kecewa sama kamu. Kamu sudah menyakitinya, dia pasti akan menganggap kamu pengecut. Tapi rasanya tidak pantas jika minta maaf dan menjelaskan hanya lewat telfon. Kalau begitu, aku akan menemuimu Sya. Ya aku harus mengambil cuti beberapa hari sekaligus menyambagi Ainun” monolog Aydan dalam hati.


Dia bertekad akan menyelesaikan semuanya, entah apapun respon Dira nanti, dia akan menerimanya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2