Marigold (Kasih Yang Berujung)

Marigold (Kasih Yang Berujung)
Abang Aydan


__ADS_3

Pagi Hari


Dira bangun lebih pagi hari ini. Setelah salat tahajud, Dira memilih menyibukan diri untuk belajar dan mengerjakan tugas. Selain tidak bisa tidur karena memikirkan Aydan juga karena tugas yang menumpuk. Jika dibiarkan saja tak mungkin selesai dengan sendirinya kan? Makanya Dira memutuskan untuk mulai mengerjakannya sembari mengulang materi. Hingga waktu subuh tiba, Dira memilih untuk segera berwudhu dan siap untuk jama’ah di masjid seperti biasanya.


Hari ini jadwal kuliahnya cukup padat mulai dari pagi sampai sore. Kelas pertama akan dimulai jam 8.45 WIB, membuat Dira harus mengantri mandi lebih pagi. Selesai bersiap, Dira langsung saja menuju kampusnya.


Sesampainya di lobi fakultas, Dira bertemu dengan Tufail. Tampaknya mereka sudah lebih akur, karena mungkin sering terlibat urusan bersama akhir-akhir ini.


“Ini buku titipan Fahmi Ra,” ucap Tufail sembari memberikan buku tebal milik Fahmi pada Dira.


“Oh iya, Kak. Terimakasih banyak.” Dira pun menerimanya dengan senang hati.


“Sama-sama. Sebenarnya, ada hubungan apa lo sama Fahmi? Karena engga biasanya dia seperti ini sama perempuan,” Tufail mulai curiga dengan kedekatan antara Fahmi dan Dira.


Belum sempat menjawab, dari arah belakang Dira seseorang memanggilnya.


“Dira, woy!” panggil orang tersebut yang tidak lain adalah Eni dengan sedikit teriak.


“Apa si En, engga perlu teriak-teriak, malu dilihatin orang-orang. Elah.” keluh Dira pada sikap sahabatnya itu.


“Ya maaf Ra, terlalu bersemangat loh hehe. Kamu mau ke kelas kan? Bareng dong, hari ini aku ikut kelas kamu karena kemarin aku engga masuk, jadi diganti ikut kelas kamu.” jelas Eni sambil menggoyang-goyangkan lengan tangan Dira.


“Iya-iya, tapi engga usah digoyang-goyang juga dong lenganku, En. Malu tuh ada Kak Tufail.” ucap Dira sambil menunjuk ke arah orang yang dari tadi memerhatikan mereka.


Eni terkejut dan malu secara bersamaan, dirinya baru sadar jika ada Tuail yang berdiri tak jauh darinya. “Waduh, mati gaya aku,” batin Eni. Segera dia menormalkan perasaannya.


“Eh, ada Kak Fail, maaf Kak tadi tidak lihat,” ucap Eni merasa tidak enak.


“Santai saja, tidak masalah. Ya udah, gue duluan ya. Dan buat lo Ra, lo utang penjelasan sama gue.” Tufail langsung pergi meninggalakn mereka berdua.


“Eh, penjelasan apa Ra maksudnya?” tanya Eni dengan tatapan curiga.


“Bukan masalah besar. Ya udah yuk kita ke kelas dulu, sebentar lagi masuk. Kamu tahu sendirikan galaknya Bu Yani?” Eni mengikuti langkah Dira dengan wajah yang masih menyiratkan tanda tanya. “Ah nanti aja aku tanyain anaknya.” lirih Eni.

__ADS_1


Suasana kelas sudah lumayan ramai dan kehadiaran Eni ditengah-tengah mereka sudah tidak asing lagi karena banyak dari mereka juga mengalami hal yang sama terkadang. Sebelum dosen masuk, Dira sempat mengecek ponselnya, barangkali ada pesan masuk dari Aydan. Benar saja, Aydan mengirimkan pesan untuknya.


“Aku udah nyampai Sya, ini udah di masjid dekat pondoknya Ainun.”_My Aydan.


“Alhamdulillah, jangan lupa sarapan ya. Aku kuliah dulu Dan.”_Nadira.


“Ngapain kamu senyum-senyum gitu, Ra?” tanya Eni yang sejak tadi memerhatikan Dira.


“Oh ya, kemarin kata teman kosku lihat kamu datang bareng cowok, cuma engga jelas karena si cowok pakai helm full face. Wih, siapa tuh Ra? Jangan-jangan, Kak Fahmi ya?” Tanya Eni mode kepo on.


“Sembarangan, bukanlah. Kapan-kapan aku ceritain, tapi yang jelas bukan Kak Fahmi, dia aja lagi keluar kota makanya tadi Kak Tuail yang ngasih buku ini.” jawab Dira santai.


“Okey deh, aku tunggu cerita kamu ya.” jawab Eni sambil tersenyum yang dibales senyum juga oleh Dira.


Saat ini mungkin alangkah lebih baik untuk Dira tidak menceritakan apapun terkait Aydan pada orang lain. Bukan tidak percaya dengan Eni, namun lebih nyaman seperti ini.


Tak lama Bu Yani pun datang, suasana kelas mendadak hening dan mereka lebih memilih fokus untuk belajar saat ini. Jangan sampai nanti kena tegur Bu Yani yang berakibat mendapatkan tugas tambahan.


......................


Setelah numpang mandi dan berganti pakaian di masjid pondok An-Nur, Aydan terlihat lebih segar dari sebelumnya. Sarung hitam dipadukan kemeja panjang warna merah marun, tidak lupa peci hitamnya membuat dia tampak lebih karismatik.


Dengan langkah pasti Aydan memasuki halaman Ndalem untuk sowan terlebih dahulu dengan keluarga Kyai pengasuh pondok pesantren An-Nur, tempat Ainun mondok sekaligus sekolah di yayasan pondok itu.


Kedatangannya tentu disambut dengan suka cita oleh Pak Kyai dan Bu Nyai. Setelah mengungkapkan niatnya, mereka pun dengan senang hati mengizinkan Aydan untuk menjenguk Ainun. Diantarkannya Aydan ke ruang tunggu wali santri oleh salah satu Kakang santri yang diutus Pak Kyai tadi.


Sekitar 15 menit menunggu, akhirnya yang ditunggu datang juga. Adik satu-satunya ini kini sudah ada di depannya, namun anehnya Ainun hanya menunduk tanpa berkata apapun.


“Assalamu’alaikum Dek, apa Adek tidak kangen dengan Abang?” tanya Aydan lembut.


Mendengar itu, Ainun langsung mendongakan wajahnya melihat abang tercinta. Tanpa mengatakan apa pun, Ainun langsung memeluk erat abangnya dan tangisnya pun pecah. Aydan kebingungan, namun secepatnya dia membalas pelukan adiknya sembari menepuk punggungnya menenangkan.


Setelah dirasa puas, Aydan melepaskan pelukannya dan mengajak duduk adiknya.

__ADS_1


“Sudah tenang?” tanya Aydan dan Ainun hanya menganggukan kepala saja.


“Ini nangis saking rindunya sama Abang, apa karena kiriman Abang kurang hemh?” tanya Aydan berusaha menairkan suasana, sebenarnya Aydan yakin bukan dua hal itu yang Ainun rasakan.


Ainun menggeleng sembar tersenyum tipis dan berkata, “Kangen banget Bang, Abang sehat?”


“Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat, Abang baik kalau tidak sehat, tidak mungkin Abang sampai disinikan?” jawab Aydan.


“Iya juga si Bang, syukurlah kalau Abang baik. Ainun senengggg banget Abang jenguk.” ucap Ainun sembari tersenyum. Perkataannya mengungkapkan senang namun dari sorot matanya mengungkapkan kegelisahan.


Aydan yang sudah tidak tahan pun lantas bertanya, “Apakah Adek Abang ini sudah pandai menyembunyikan sesuatu dari Abang? Apa ada hubungannya dengan Ibu?”


Deg


Ainun tercekat, “Bagaimana Abang bisa tahu?” batin Ainun.


Ainun yang tidak pandai menyembunyikan sesuatu pun akhirnya memutuskan untuk bertanya kepada Abangnya, tentang kegelisahan yang dia alami.


“Apa ibu akhir-akhir ini sering menghubungi Abang, M-maksud Ainun, bukankah tahun ini waktunya Abang memutuskan masalah perjodohan itu?” tanya Ainun dengan nada sedikit bergetar.


“Huh, kamu benar. Waktu itu tepat ulang tahun Abang minggu lalu..” baru berkata demikian, namun Ainun dengan cepat memotong pembicaraannya.


“Astaghfirullah, ya ampun Abang maafin Ainun, Ainun lupa belum mengucapkan selamat ulang tahun sama Abang. Barakallah fi umrik Abang Ainun yang saleh, semoga menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin." ucap Ainun penuh semangat dan penuh rasa bersalah. Namun bagaimana lagi, di pondok ini juga dia tidak memiliki ponsel karena memang tidak diperbolehkan.


Aydan hanya menggelengkan kepalanya, gadis 17 tahun ini dapat berubah mood-nya dalam waktu yang singkat. Tadi saja nangis-nangis tapi apa ini? langsung semangat.


“Aamiin. Ya sudah kita lanjut ngobrolnya nanti saja. Sekarang ayo kita cari makan, Abang tadi belum sempat sarapan. Abang udah izinin kamu sama pengurus tadi.” ajak Aydan dan dengan antusias Ainun pun mengikutinya.


......................


Lain halnya dengan Dira yang sibuk dengan kuliahnya hari ini, Aydan yang sibuk dengan adiknya, Fahmi justru sedang berjuang untuk kemajuan perusahaannya.


“Apa-apaan ini?!” ucap seseorang dengan nada suara yang tinggi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2